Marrying The Prince

Marrying The Prince
44


Kali ini Ferdinand yang membuang nafas panjang. Jujur saja, dia sendiri tidak mengerti dengan dirinya yang tiba-tiba bisa mengatakan hal seperti itu.


'Suami yang baik' adalah hal sulit di dalam kasusnya. Dia sangat sadar di mana hatinya masih tertuju, dan jujur saja dia juga tidak yakin dengan keputusannya barusan, telebih saat Anastasia meminta penjelasan.


Keteguhannya menjadi ragu tapi, dia juga tidak bisa mengatakannya pada Anastasia yang pasti akan memasang wajah lirih saat dia membeberkan fakta hatinya sekarang.


Sebenarnya apa yang kau inginkan Ferdinand? Yaa.. sebenarnya apa yang dia inginkan? Sekarang, pertanyaan itu terus menggema di dalam kepalanya.


"Ferdinand?"


"Ahh iya..."


Anastasia masih menunggu jawaban Ferdinand, di raut wajahnya yang terlihat baik-baik saja, dia sedang menahan perasaan kecewanya karna membaca raut wajah Ferdinand yang sudah berubah.


Akal pikiran kenyataan Anastasia menggema


"Kau sudah benar ketika bertanya Ana, kau sudah benar untuk tidak langsung bersujut dan menyembah janji manis Ferdinand"


"Ferdinand?"


Kembali, Anastasia mencoba menyadarkan Ferdinand yang kembali terlihat berpikir yang penuh dengan raut wajah.... ragu.


"Maksutku, aku ingin kita saling membantu dan aku akan menjadi suami yang baik, suami yang akan melindungimu dan membantumu, suami yang akan memenuhi kebutuhan dan keinginanmu Ana"


Kedua tangan Anastasia terkepal kuat


"Membantu?"


Ferdinand yang mulai merasakan tekanan ketika Anastasia yang terus mencecarnya dengan meminta penjelasan membuatnya merasa semakin bingung. Sedangkan Anastasia yang melihat Ferdinad yang terus berputar-putar menipiskan bibirnya dengan perasaan yang mulai berkecamuk. Hingga akhirnya, Anastasia kembali membuang nafas panjang sambil berputar untuk menyentuh setangkai bunga


"Ferdinand, apa yang membuatmu bingung?"


"Aku...."


"Jika kau tidak yakin dan tidak bisa mampu untuk yakin, kau tidak perlu menjanjikan sesuatu hanya untuk menjaga perasaanku" Dengan kuat, tangan Anastasia mematahkan setangkai bunga peoni hingga terputus. "Aku tidak memaksamu dan kau juga tidak perlu memaksakan diri, Ferdinand"


Ferdinand menatap punggung Anastasia yang masih berbalik, lalu melirik tangan Anastasia yang sudah meraih setangkai bunga


"Aku-"


"Aku bisa mengerti kebingunganmu Ferdinand, aku juga bisa mengerti kenapa kau bingung dan menjadi ragu" Anastasia berbalik, dan langsung menatap Ferdinand dengan lekat. "Kau tidak perlu memikirkanku" Anastasia menjedah sambil tersenyum lembut dan menatap Ferdinand dengan pandangan yang membuat dada Ferdinand berdenyut. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku tidak akan menuntut apapun padamu" Kembali, Anastasia tersenyum lembut, senyum yang membuat dada Ferdinand semakin nyeri. "Aku juga akan berusaha manjadi istri yang baik untukmu Ferdinand. Jadi, kau tidak perlu khawatir dengan ku, lakukan apapun yang tidak akan membebanimu"


Tangan Ferdinand langsung menyambar kedua tangan Anastasia, kedua bola mata abu-abunya mentap Anastasia dengan lekat.


"Ana, aku tidak bisa tidak khawatir denganmu. Aku juga tidak ingin kau bersedih. Aku juga tidak bisa menyakiti harga dirimu" Dengan lembut, Ferdinand melaikkan satu tangan, membelai lembut wajah Anastasai dengan tatapannya yang melembut. "Aku tidak suka melihatmu bersedih"


Hati Anastasia menghangat, ucapan tulus Ferdinand sampai hingga ke hatinya. Anastasia menatap dalam kedua bola mata sehijau daun Ferdinand, bibirnya kembali tersenyum lembut.


"Aku juga tidak ingin kau menderita Ferdinand, aku hanya ingin kebahagiaanmu" Satu tangan Anastasia terangkat untuk menyentuh tangan Ferdinand yang masih setia membelai wajahnya. "Ayo mencoba Ferdinand, ayo kita coba untuk menjadi sepasang suami istri yang baik, ayo kita coba hingga batasmu, hingga kau bisa memutuskan kemana kau ingin membawa pernikahan ini"


Semua percakapan pasangan suami istri baru itu membuat Carl memutar bola matanya dengan jengah.


"Membosankan"


Lalu memutar langkahnya saat mendengar langkah seseorang yang akan mendekat, mengganggu acara menonton diam-diamnya.


Langkahnya menuju pada seorang penjaga yang berdiri tegap di depan gerbang castle. Dua penjaga yang melihatnya langsung menyapa Carl dengan sopan.


"Selamat pagi kesatria Carl"


Carl mengabaikan sapaan itu dan langsung merogoh sakunya, menyodorkan surat yang sudah di siapkannya.


"Antar ini ke Albany, sampaikan jika ini dari His Majesty"


Pengawal itu dengan patuh langsung meraih surat yang di sodorkan Carl.


"Baik kesatria Carl"


Malam ini, makan malam kedua Anastasia dan Ferdinand terasa sangat berbeda. Para pelayan yang juga bisa merasakan itu, diam-diam mengambil jarak sejauh mungkin dari meja pasangan suami istri baru itu. Mereka berdiri dengan tenang sambil terus saling melempar lirikan, lalu saling menahan senyum geli mereka


Anastasia makan dengan santai dan dengan perasaan ringan, sesekali dirinya menunduk saat Ferdinand yang duduk di depannya terus menatapnya sambil tersenyum


Sebenarnya, Anastasia sudah kenyang bahkan sebelum dia menyendokkan sup asparagusnya. Senyum Ferdinand, senyum itu sudah membuatnya kenyang. Terlebih selama mereka makan, Ferdinand terus menatapnya, memperhatikan gerak-gerik pergerakannya dan terus melempar senyum saat arah pandang mereka bertemu. Anastasia terus-terusan menjadi salah tingkah, wajahnya terasa hangat, jantungnya terus memompa dengan cepat. Oh crab! Anastasia bisa-bisa terkena gagal jantung di usianya yang belum menginjak angka ke dua puluh.


Ferdinand kembali menggigit pipi dalamnya saat Anastasia yang di tatapnya menunduk dengan seburat merah terang merekah di kedua pipinya. Oh sial! Ferdinand sangat gemas! Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menatap Anastasia, dia juga tidak bisa menghentikan dirinya yang ingin terus melihat kedua rona menggemaskan Anastasia. Ferdinand sangat menikmati godaannya.


Setelah isi piring dan mangkuknya tandas, melewatkan acara makannya yang di isi dengan keheningan ala bangsawan, Ferdinand melipat kedua tangannya di atas meja, arah pandangnya mentap lekat gerak gerik Anastasia, lagi. Setelah melihat Anastasia yang sudah selesai, Ferdinand membuka suaranya.


"Lusa kita akan ke Yorksire"


Menarik nafas dalam untuk mencoba menenangkan diri di tengah dobrakan jantungnya, Anastasia membalas tatapan Ferdinand dengan wajah penasaran.


"Yorrsire?" Ferdinand mengangguk dengan bibir yang terus tersenyum tampan. "Itu di mana?"


"Di Albany. Kita akan merayakan ulang tahun seseorang di sana"


Anastasia menegakkan punggungnya karna semakin penasaran


"Siapa yang berulang tahun?"


"Kau akan tahu nanti"


Anastasia mengangguk patuh dengan membalas senyum hangat Ferdinand.


"Kau ingin jalan-jalan keluar atau ingin kembali ke kamar An?"


"Berjalan-jalan sebentar?"


Ucapan Anastasia membuat Ferdinand dengan cepat berdiri dan langsung di ikuti Anastasia.


Sambil mengambil langkah yang beriringan, Ferdinand melirik Anatasia sejenak, untuk menimang apakah dia mengatakan isi kepalanya atau tidak, dan akhir Ferdinand memilih untuk membuka suaranya


"Aku sebenarnya malam ini ingin keluar castle An"


Ucapan Ferdinand langsung membuat kepala Anastasia menoleh, secuil perasaan takutnya mulai bangkit.


"K-kemana?"


Dengan susah payah Anastasia mengeluarkan pertanyaannya sambil terus melangkah. Ferdinand tersenyum, senyum yang masih bimbang.


"Em... aku ingin berkuda" Kali ini, Ferdinand menghentikan langkahnya, Anastasia juga langsung menghentikan langkahnya. Ferdinand melanjutkan ucapannya "Apa kau ingin ikut jalan-jalan sambil berkuda denganku?"


Dengan menekan rasa kecewanya yang mulai akan melambung saat memikirkam jika mungkin Ferdinand ingin bertemu kekasihnya, Anastasia bertanya dengan lembut.


"Kemana?"


"Hanya berkeliling bukit di sekitar istana, jika kau mau. Tapi jika tidak ki-"


"Aku mau Ferdinand! aku mau!"


Satu alis Ferinand tetangkat tinggi dengan sudut bibirnya yang terangkat separuh. Anastasia yang menyadari perubahan raut wajah Ferdinand langsung menutup mulut memalukannya. Bisa -bisanya dia menaikkan suaranya seperti anak kecil yang baru di berikan boneka.


Kekehan Ferdinand menggema di depan pintu castle. Anastasia menekuk bibirnya sambil menahan malu, wajahnya yang terasa panas hanya berani menunduk.


"Aku suka teriakanmu Ana" Anastasia membuang wajahnya ke samping saat Ferdinand berucap sambil mengikuti arah wajahnya yang menunduk. "Apa kau sesenang itu berkuda atau..." Ferdinand mengeser tubuhnya untuk kembali mengejar wajah Anastasia yang terus di buangnya. "Atau kau senang karna hal lain"


Merasa jika Ferdinand akan terus menggodanya, Anastasia melanjutkan langkahnya agar bisa menghidar dari Ferdinand yang terus-terusan ingin melihat wajahnya yang pasti sudah semerah tomat matang.


\=\=\=💜💜💜


Silahkan jejaknya