Marrying The Prince

Marrying The Prince
86


Pagi ini, di pagi hari yang cerah dan terasa indah ini, Ferdinand baru mulai menyendoki sarapan paginya. Dengan suasana hati yang bahagia dan ceria, Ferdinand dengan cepat memakan sarapannya agar bisa segera menuju tempat Anastasia tapi, pagi indahnya menjadi buruk saat melihat Solar yang masuk ke tenda dengan berlarian panik


"Your Highness!!"


Tangan Ferdinand langsung menyingkirkan piringnya, menghentikan sarapannya, karna raut wajah Solar jelas menunjukkan jika ada sesuatu yang tidak baik terjadi


"Kenapa?"


"Mereka benar-benar datang ke sini"


"Apa?"


Kaki Ferdinand langsung melompat dari atas ranjang dan segera bergerak keluar tenda. Solar dengan cepat langsung mengikuti langkah Ferdinand yang tergesah menuju pintu tenda sambil berucap


"Salah satu pedagang yang kita bayar untuk melihat keadaan dan memantau situasi di pasar mengatakan jika mereka benar-benar datang ke pasar, lalu pergi setelah melihat keadaan pasar"


"Kau yakin itu mereka?"


Solar menggeleng singkat


"Saya dan pedang itu tidak terlalu yakin, tapi mereka datang bersama rombongan berkuda dan bertanya tentang pemasokan berlian"


"Berapa banyak?"


Setelah langkah mereka menuju ke tenda tempat Anastasia dan Bernadeth merawat pasien, Solar memelankan suaranya


"Hanya ada dua belas kuda, dan setelah memeriksa pasar, mereka segera berpencar pergi"


Ferdinand mengangguk mengerti dan langsung memasuki tenda. Langkahnya segera mendekat pada Bernadeth yang baru selesai merawat pasien yang berada di pinggir pintu tenda


"Selamat pagi suster"


"Oh.. tuan Ferdinand selamat pagi"


Ferdinand melirik ke arah Anastasia yang sudah menatapnya, lalu kembali menatap Bernadeth


"Bisa kita bicara sebentar?"


Alis Bernadeth berkerut dalam saat melihat raut wajah serius Ferdinand, dia langsung bisa mengerti jika mungkin ada hal penting yang ingin di katakan Ferdinand.


"Baliklah. Mari kita ke ruangan saya"


Kepala Ferdinand mengangguk singkat, arah pandangnya kembali menatap Anastasia sambil berucap


"An.."


Anastasia yang juga langsung bisa melihat suasana serius dan raut wajah serius Ferdinand langsung meletakkan semua peralatannya. Dirinya langsung berbicara pada Keren, dan segera beranjak menuju Ferdinand dan Bernadeth


"Ada apa?"


Anastasia bertanya sambil menatap Bernadeth yang menjawabnya dengan menggelengkan kepala tidak mengerti.


"Sebaiknya kita pergi sekarang. Mari tuan"


Bernadeth langsung menuntun langkah mereka menuju ke bangunan kecil tempat kamar-kamar dan dapur berada, langkahnya menuntun mereka ke sebuah pintu. Saat pintu sudah di buka Bernadeth, mereka langsung masuk ke dalam ruangan yang penuh rak-rak buku dan ada sebuah meja kursi di sana.


Solar yang melihat pergerakan Bernadeth yang akan menariki kursi-kursi langsung ikut membantu. Hingga tiga kursi yang ada di ruangan itu sudah di letakkan berhadap-hadapan, Bernadeth langsung mempersilahkan


"Silah duduk tuan Ferdinand" Bernadeth menatap Anastasia. "Ana". Lalu menatap Soalr. "Tuan Somi"


"Tidak suster, anda yang harus duduk, saya akan tetap berdiri"


Solar langsung menyerahkan gestur memberi kursi pada Bernadeth yang akhirnya hanya di turuti Bernadeth. Setelah mereka duduk di kursi mereka masing-masing, Ferdinand mulai membuka suaranya


"Bernadeth, ada hal penting yang harus saya katakan"


Anatasia menatap Ferdinand dengan lekat saat Solar memberikan sebuat surat pada Ferdinand.


"Ini, untukmu"


Tangan Ferdinand terulur dan langsung memberikan sebuah surat pada Anastasia. Suarat dari ayahnya.


Sambil menunggu Anastasia membaca surat, Ferdinand mulai membuka suaranya pada Bernadeth yangtampak kebingungan


"Suster Bernadeth, saya akan menjelaskan dari awal pada anda"


Dengan raut wajah penasaran dan bingung, Bernadeth mengangguk singkat


"Silahkan tuan"


"Seperti yang pasti sudah anda tahu, jika perang sekarang semkain jauh lebih brutal" Ferdinand menatap Bernadeth dengan lekat. Benardeth yang mulai merasa mulai cemas mengangguk untuk meng-iyakan ucapan Ferdinand. "Seperti yang anda juga sudah tahu, jika itu di sebabkan karna senjata baru yang sudah banyak di pakai untuk perang, meriam" Bernadeth kembali mengangguk. Ferdinand melirik Anastasia yang masih membaca surat lalu kembali menatap Bernadeth, sambil kembali bersuara. "Perang yang ada di seluruh African adalah perang untuk menahlukkan daerah-daerah yang mempunyai sumber daya alam tinggi. Seperti tambang emas di selatan, dan tambang berlian di barat, di sini"


Dengan alis mengerut dalam, Bernadeth menatap Ferdinand dengan penuh selidik


"Dari mana anda tahu?"


"Karna selain tujuan utama saya yang untuk menjemput kembali Anastasia, saya juga ke sini untuk menyelidiki itu"


Anastasia yang baru selesai membaca surat, langsung merubah gesturnya. Dengan gesturnya yang sudah menegakkan punggung, menegakkan dagu, dan tangan yang bergerak anggun menyobeki kertas, dirinya ikut bersuara.


"Mereka sudah bergerak?"


Ferdinand yang melihat perubahan itu. Pergerakan, cara berbicara, dan tatapan seorang istrinya, ikut menegakkan kedua bahu dengan penuh statusnya.


"Mereka berpencar saat sudah memasuki pasar daerah barat, setelah sebelumnya mereka pasti sudah berhasil memenangkan perang dan menguasai daerah tambang emas"


Anastasia mengangguk paham


"Apa bisa di prediksi kemana tujuan mereka?"


Sambil melirik Bernadeth yang sudah menunjukkan raut wajah semakin bingung, dengan tatapan Bernadeth yang sudah menatap penuh selidik padanya dan Anastasia, Ferdinand menggeleng. Lalu kembali menatap Anastasia


"Tidak. Tapi bisa saja malam ini, atau besok pagi, atau entah kapan saja mereka bisa sampai ke sini"


Alis Anastasia mengerut bingung


"Ke sini?"


Kepala Ferdinand mengangguk yakin.


"Menurutku, mereka yang baru memenangkan perang pasti akan mencari dan mempir ke rumah sakit. Mereka selalu melakukan sesuatu di rumah-rumah sakit yang mereka cari"


"Melakukan sesuatu?"


Kedua Alis Anastasia semakin mengerut bingung. Ferdinand yang melihat raut penuh tanda tanya istrinya kembali menjelaskan


"Itu hanya kebiasaan mereka untuk bersenang-senang. Aku sudah mengamati dan memperlajari setiap pergerakan mereka saat menahlukkan berbagai macam tempat. Dan alasan mereka yang sering mengganggu rumah-rumah sakit adalah.... obat penenang"


Kedua mata Anastasia melebar, bibirnya berguman


"Mereka...."


Ferdinand langsung mengangguk yakin, dan kembali membuka suaranya sambil bergantian menatap Anastasia dan Bernadeth


"Mereka mengunakan obat-obat bius untuk di campurkan pada cerutu atau minumam, untuk membuat kesenangan mereka sendiri"


"Pemabuk gila!!"


Sadar atau tanpa tidak sadar, Anastasia langsung meninggikan suaranya. Ferdinand yang melihat itu langsung menimpali ucapan Anastasia


"Bukan hanya gila. Mereka juga sangat sadis dan kejam An. Mereka sangat berbahaya"


Dengan tangan yang mulai meremasi serpihan puing-puing surat yang baru di robekinya, Anastasia menatap Ferdinand dengan lekat


"Lalu kita harus bagaimana?"


"Tenanglah, ak-"


"Sebenarnya ada apa ini? dan kalian ini siapa tuan-tuan?"


Bernadeth yang sudah semakin bingung akhirnya memuntahkan semua pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Anastasia dan Ferdinand yang menyadari kebingungan luar biasa Bernadeth sama-sama melirik Solar. Solar yang di lirik langsung paham, dan langsung membuka suaranya


"Suster Bernadeth, sebenarnya mereka berdua ini adalah..........."


--000--


Anastasia terus berjalan kesana kemari sambil mengigiti kuku-kukunya. Ferdinand kembali melirik ke arah pintu untuk menunggu Solar yang belum juga kembali saat hari sudah semakin malam. Lalu arah pandangnya menatap Anastasia


"An, tenanglah"


Helaan nafas panjang Anastasia terdengar


"Aku tidak bisa Dinand. Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu pada pasien-pasien ataupun pada yang lain"


Benar... Sebenarnya Ferdinand juga sedang mengkhawatirkan itu, terlebih saat bantuan beberapa minggu lalu yang di mintanya dari Francia belum juga tiba. Dia juga mengkhawatirkan jika yang akan menjadi calon musuh nanti bisa saja sadar dengan keberadaan dirinya, dan situasi itu pasti akan membuat masalah. Karna itu, Ferdinand yang sudah mengeluarkan pedangnya dari tempat penyimpanan, mulai membuka sarung pedangnya sambil berucap tenang.


"Tapi-"


"Tenanglah sayang, aku di sini. Aku berjanji semua akan baik-baik saja"


Dengan tidak bisa meng-iyakan ucapan Ferdinand, Anastasia hanya menatapi Ferdinand yang mulai membersihkan pedangnya. Pedang yang dari dulu selalu terlihat gagah tapi juga cantik di mata Anastasia. Pedang yang tidak pernah di gunakan Ferdinand saat sedang latihan tapi, pedang yang dulu berlumuran darah saat Ferdinand menahlukkan istananya, istana Eden.


Ferdinand yang akhirnya menyadari tatapan istrinya langsung menghentikan pergerakannya.


"Kemarilah"


Dengan cepat Anastasia mendekat. Ferdinand langsung kembali memasukkan pedanya ke dalam sarung.


"Ini pedang khusus kan?"


Pertanyaan Anastasia membuat bibir Ferdinand tersenyum, dirinya menyadari jika Anastasia selalu memperhatikan setiap detail hal-hal yang di lakukan dan di peganganya. Tangannya bergerak terangkat untuk memberikan pedangnya pada Anastasia, sebelah tangannya lagi menarik lengan Anastasia untuk duduk di atas kedua pahanya.


Anastasia yang seperti baru saja di berikan permen yang terus di incarnya hanya mengikuti dengan arah pandang yang terus menatap pedang di tangannya. Ferdinand terdenyum geli sambi meletakkan dagu ke sebelah bahu Anastasia, dengan posisi duduk Anastasia yang sudah duduk melintang di kedua pahanya.


"Itu memang pedang khusus. Aku dan Francesca memiliki pedang yang sama"


Kepala Anastasia mengangguk paham, dan dengan hati-hati membuka sarung pedang. Dirirnya sangat penasaran dengan ukiran yang ada di badan pedang.



"Apa ini artinya?"


Sambil mulai memeluk istirnya, Ferdinand berucap lembut


"Mia psyci"


Tangan Anastasia bergerak meraba ukiran di badan pedang, arah pandangnya tampak sangat fokus menatap pedang yang sudah memotong kepala ayahnya itu


"Apa artinya?"


Sambil ikut menatap jari-jari kecil istirnya yang terus meraba pedang, Ferdinand berucap dengan bibir tersenyum


"Satu jiwa"


Kepala Anastasia mengangguk mengerti, lalu kembali bersuara


"Kau dan Putri Francesca memang satu jiwa. Apa kalian membuat pedang ini bersama?"


"Tidak, ini hadiah ulang tahun dari His Majesty. His Majesty menghadiahkan ini ketika kami memasuki usia dewasa"


Kembali, kepala Anastasia mengangguk mengerti.


"Pedang ini terlihat sangat keras tapi juga cantik Ferdinand"


Ucapan Anastasia membuat Ferdinand terkekeh geli


"Ini pedang pembunuh yang haus nyawa Ana. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa nyawa yang sudah ku habisi saat perang, dengan menggunakan ini" Ferdinand menjedah lalu menatap istirnya. "Apa ini masih terlihat cantik di matamu?"


Sambil kembali memasukkan pedang dengan sempurna kedalam saruang pedang, Anatasia berucap sambil tersenyum tipis


"Pedang ini adalah pedang yang sudah membunuh monster-monter itu, pedang yang juga membuatku bisa keluar dari penjara para monster itu. Pedang ini selalu terlihat indah di mataku"


Sebelah tangan Ferdinand bergerak terangkat, mengusapi rambut istrinya sambil tersenyum.


"Bagaimana dengan pemilik pedang ini? orang yang menyelamatkanmu?. Apa orang itu juga tampak indah di matamu?"


Arah pandang Ferdinand mengerling sambil menatap istrinya. Anastasia yang melihat godaan suaminya hanya terkekeh geli sambil berucap


"Hhmm.. kau bukan menyelamatkanku. Kau membawaku sebagai tawanan. Ingat?"


Anastasia berucap sambil langsung membalas mengerling pada Ferdinand yang juga langsung memeluk erat tubuh Anastasia karna gemas.


"Salah. Aku saat itu sedang menjemput calon istriku"


"Ternyata... Ternyata Dinand"


Ucapan Anastasia membuat Ferdinand terkekeh dan kembali berucap di ceruk leher istrinya


"Yaa.... gadis cantik yang menggunakan gaun lusuh yang ku bawa saat itu 'ternyata' adalah calon istriku"


Sambil menatap jauh keluar jendela, Anatasia yang masih tersenyum berucap geli


"Apa aku secantik itu?"


"Tentu saja, kau gadis paling cantik saat itu. Walaupun tidak secantik Her Majesty"


Dengan bibir yang sudah berubah menjadi tersenyum culas, Anastasia berucap penuh sindiran.


"Bukankah... gadis tercantik untukmu adalah nona Kenna?"


Dan ucapan Anastasia itu, langsung membuat kepala Ferdinand terangkat. Arah pandangnya manatap Anatasia dengan takut-takut, seolah dirinya sedang tertangkap basah karna mencuri pedang ayahnya.


"Tidak... sejujurnya" Ferdinand menekuk bibirnya sejenak karna gugup, lalu kembali berucap dengan kepala menunduk. "Aku.... Aku tidak berbohong jika kau saat itu adalah gadis tercantik yang pernah ku lihat. Hanya saja saat itu aku tidak bisa menerima penilaian jujur diriku sendiri. Karna kau tahu, saat itu aku sudah memiliki seorang wanita"


Jawaban jujur Ferdinand membuat Anastasia tersenyum, tangannya langsung memeluk suaminya dengan nyaman


"Kau membuatku malu Dinand"


Suara pelan dengan kepala Anastasia yang langsung bersembunyi ke ceruk leher Ferdinand, membuat kekehan geli Ferdinand terdengar. Anastasia yang mendengar kekehan itu juga langsung ikut terkekeh hingga suara mereka saling bersaut-sautan di dalam tenda Ferdinand.


Solar yang sudah cukup lama menahan langkahnya agar tidak langsung masuk ke dalam tenda kembali membuang nafas panjang. Dirinya akan tetap membiarkan pasangan di dalam tenda itu menikmati dulu waktu mereka, hingga langkahnya langsung mulai kembali bergerak saat tiba-tiba suara di dalam memanggilnya.


"Mau berapa lama lagi kau di sana. Masuklah"


Suara Ferdinand membuat Anastasia langsung menarik diri dan melepaskan pelukan mereka. Tubuhnya langsung berdiri dari kedua paha Ferdinand. Dengan keberadaan Solar yang tiba-tiba sudan muncul di depan pintu tenda.


Melihat keberadaan mendadak Solar, Anastasia semakin menjauhkan kakinya dan langsung menuju pinggiran ranjang untuk duduk.


Solar yang sudah bisa merasakan suasana serius, langsung menatap Ferdinand yang membalas tatapannya dengan mengangguk singkat. Setelah mendapatkan ijin, Solar mulai membuka mulutnya.


"Dari pernyataan beberapa penduduk di sekitar pasar, mereka memang sedang mencari rumah sakit"


Arah pandang Ferdinand dan Solar langsung sama-sama melirik Anatasia sejenak. Lalu Ferdinand kembali bersuara.


"Lalu?"


"Bisa saja malam ini, atau besok pagi mereka akan menemukan tempat ini, Your Highness"


Ferdinand mengangguk paham.


"Berapa kuda yang mengarah ke sini?"


Dengan yakin Solar menjawab


"Hanya empat kuda, tapi-" Solar menjedah sambil melirik jari Ferdinand saat suara garukan kayu terdengar. "Kuda itu di pimpin oleh Duke Hasting"


Helaan nafas panjang Ferdinand berhembus, dirinya melirik Anastasia yang sudah menatapnya dengan penuh tanya. Ferdinand yang mengerti rasa cemas yang terbalut rasa penasaran istrinya, mulai menjelaskan.


"Ryes Alexander Hasting. Duke Ryes Alexander Hasting, An. Apa kau pernah mendengar namanya?"


Kedua alis Anastasia mengerut dalam sambil menggeleng


"Aku tidak ingat Dinand. Dia siapa?"


Dengan menatap raut wajah istirnya yang tampak masih berpikir, Ferdinand menjelaskan.


"Duke Hasting dari kerjaan Bosnia. Dia yang sudah menahlukkan empat kerajaan bersama pasukannya sendiri, tanpa campur tangan Raja Fero Bosnia"


Isi kepala Anastasia langsung berpikir keras. Dirinya mencoba mengingat-ingat tentang kerjaan Bosnia, Raja Fero, dan Duke Hasting. Hingga akhirnya, kedua mata Anasiasia melebar saat sudah bisa mengingat


"Kerajaan Bosnia yang memiliki tyran penahluk sadis. Tyran dari anak haram Her Majesty mendiang Ratu Bosnia yang mati di tangan putranya sendiri" Dengan kedua mata yan semakin melebar, tangan Anastasi terangkat untuk menutup mulut menganganya. "Putranya, putra haramnya, Ryes Alexander Hasting"


Dan jawaban Anastasia, langsung di angguki Ferdinand dan Solar.


"Dia juga yang waktu itu berani mencoba bermain-main dengan Vancia"


Suara pelan dengan di iringi suara garukan jari Ferdinand pada kursi membuat Anastasia meneguk ludahnya dengan kasar. Lalu membuka mulutnya dengan guguo


"Dia terkenal sangat brutal. Pasukannya juga sangat menjijikkan. Aku pernah mendengar jika mereka suka memotongi tubuh-tubuh musuh mereka, lalu memperkosa para wanita"


Kenapa Ferdinand mengangguk. Solar yang juga bisa melihat raut wajah ketakutan Anastasia, langsung menatap Ferdinand.


"Lalu, kita harus bagaimana, Your Highness?"


\=\=\=💛💛💛💛


Silahkan jejaknya...