Marrying The Prince

Marrying The Prince
52


"Kau dalam masalah Ana"


Anastasia bergindik saat bisikan suara Ferdinand memberat, tenggorokannya terasa kering saat melihat Arah pandang Ferdinand terus tertuju pada bibirnya.


"Ka-kau mau apa?"


Ferdinand mengabaikan suara lirih bergetar Anastasia, wajahnya semakin mendekat dengan tatapannya yang membuat Anastasia tersengat. Wajah itu terus bergerak pelahan, mendekat dengan pasti untuk menuju bibir Anastasia. Saat kepala Ferdinand sudah sangat dekat, Ferdinand memiringkan kepalanya dan,


Kepala Anastasia bergerak membuang wajahnya


Bibir Ferdinand yang sudah siap untuk meraih bibir Anastasia mendarat tepat di sebelah pipi Anastasia. Anastasia menolaknya mentah-mentah.


Dengan sedikit rasa kecewa karna penolakan nyata yang di terimannya, Ferdinand meneruskan laju bibirnya untuk memberikan kecupan lembut di tempat pipi memar Anastasia, lalu naik untuk kembali mengecup tempat memar lainnya.


Senyum hangat Ferdinand terbit saat merasakan tubuh Anastasia yang menegang. Dengan sangat perlahan, Ferdinand mengangkat punggungnya lalu bertumpu menjulang di atas Anastasia yang sudah hampir mati karna serangan jantung.


Anastasia masih membuang wajahnya ke samping, tidak berani sedikitpun untuk menatap Ferdinand. Ferdinand tersenyum geli dan dengan gerakan cepat,


Menarik bajunya hingga terlepas.


Lalu membuangnya dengan sembarang. Kedua mata Anastasia membulat ketika wajahnya yang masih dia buang ke arah samping, melihat seonggok baju tidak berdosa tergeletak di lantai. Dengan cepat Anastasia kembali bergerak untuk kabur tapi, cengkaman kuat kedua tangan di pinggangnya membuat Anastasia tidak bisa berkutik.


"Diam, atau aku benar-benar akan melakuakn segala hal yang sedang aku inginkan Ana"


Nafas Anastasia memburu, jantungnya menggila, sekujur tubuhnya tersengat panas, tubuh Anastasia menggeliat pelan saat Ferdinand mengubah cengkaman di pinggangnya menjadi sebuah belaian.


"Diamlah Ana... Tolong diam dan patuhlah"


Berat, serak, dan dalam. Suara bisikan Ferdinand sangat menjelaskan betapa sangat bersemangatnya dia sekarang, dia yang sekarang sedang sangat menginginkan Anastasia.


Tapi, Ferdinand menahan dengan kuat segala sejolak membara keinginnya, menggigit bibirnya dengan kuat sambil menatap Anastasia yang akhirnya mengangguk lemah dan pasrah. Oh sialan! gerak gerik patuh itu malah semakin membakar Ferdinand! isi kepalanya semakin liar terbang bebas membayangkan segala hal panas yang bisa dia lakuakan pada Anastasia.


"Oohh Ana.... ini sangat menyiksa"


Kedua mata Ferdinand terpejam sejenak, lalu tanpa peringatan langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang. Anastasia tersentak dan memutar tubuhnya untuk mencari kemungkinan cela kabur tapi, kembali tidak bisa berkutik saat satu lengan Ferdinand memeluk pingganya dengan kuat.


Ferdinand merapatkan dada polosnnya pada punggung Anastasia, wajahnya mendekat dan bersembunyi di tengkuk Anastasia, kedua matanya terpejam untuk menikmati rasa nyaman tubuh dan aroma menyenangkan Anastasia.


Jantung Anastasia sudah tidak tertolong lagi saat wajah Ferdinand terus bergerak di belakang tengkuknya, nafas hangat memburu terus menghantarkan sengatan ke sekujur darah Anastasia


"Fe-Ferdinand?"


"Aku sangat mengantuk Ana, kau sangat nyaman, biarkan seperti ini..."


Dengan susah payah Anastasia meneguk ludahnya.


"Ta-tapi ini sudah pagi, mereka akan-"


"Tidur Ana"


Tidur katanya? Yang benar saja! Jangankan untuk bisa tidur, untuk benafas dengan benar saja Anastasia tidak bisa. Ya ampun... situasi macam apa ini? dan dia harus bagaimana sekarang?


***


Siang hari cerah di musim semi membuat siapapun ingin menikmati waktu santai mereka. Sama halnya dengan para pria yang sedang ada di meja teras yang mengarah ke pemandangan berwarna ungu, tiga orang pria sedang duduk di satu meja yang sudah terisi kudapan dan cangkir teh hangat. Carl masih terus mengatakan segala hal hasil pemantauannya. Sesekali Fredrick, George, Henry menyesap teh mereka sambil terus mendengarkan ucapan Carl. Edward berdiri dengan tenang sambil terus mengunyah biskuit di tangannya.


"Jadi dia sepanjang malam hanya diam di depan pintu gudang tanpa melakukan apapun?"


George bertanya pada Carl sambil meletakkan cangkir tehnya. Carl mengangguk


"Iya Sir"


"Apa gunanya?"


Henry ikut bertanya yang di jawab Carl dengan gelengan singkat.


"Cucu mu sangat penuh drama membosankan tidak penting George. Pria lambat"


"Anakmu Fred"


Fredrick berdecak malas sambil meletakkan cangkir tehnya. Lalu kembali menatap Carl.


"Setelah melukai istrinya, membiarkan isrinya menangis, kejar-kejaran di waktu dini hari, memanggul istrinya di depan banyak mata yang melihat, hingga sekarang dia masih mengurung istrinya?"


Kepala Carl mengangguk sambil meringis karna menahan tawa, sekuat tenaga Carl menahan tawanya saat Edward, George, Henry sudah terbahak. Fredrick kembali berdecak malas.


"Dia memang sangat dungu seperti keturunan George"


"Kau juga keturunanku Fred"


"Ah! betapa sialnya aku dan Henry"


Ucapan Fredrick langsung di balas dengan tangan George yang menggeplak kepalanya. Dengan cara yang dramatis, Fredrick hanya bisa mengusapi kepalanya sambil meringis dramatis. Henry kembali terkekeh sambil menggelengkan kepalanya dengan geli.


"Kalian memang satu darah"


Fredrick dan George berucap bersama, menyerang Henry yang dengan acuh mengigit biskuitnya.


***


Di sisi lain kerajaan Francia, Elsa masih sibuk dengan para perlanggan yang datang ke kedainya. Sesekali dia datang ke depan meja pelanggan saat Kenna melakukan suatu kesalahan pada pesanan makan pelanggan. Elsa kembali membuang nafas panjang saat melihat Kenna yang terus termenung di dapur.


Keadaan menyedihkan Kenna itu di dukung dengan warna wajahnya yang pucat. Beberapa hari ini, Kenna tidak bisa tidur, tidak enak makan, dan sering kelelahan. Pikiran Kenna yang tidak tenang dan tidak ada yang bisa menenangkannya membuat Elsa semakin bingun dan juga kesal.


Bisa-bisanya Ferdinand hingga sekarang belum datang pada Kenna. Apa yang di lakukan pria itu hingga tidak mengirim pesan satu pun? Telebih karna keadaan sekarang, keadaan Ferdinand yang habis menikah. Harusnya, Ferdinand segera datang pada Kenna untuk menenanggkan dan menegaskan kembali janji mereka agar Kenna bisa tenang.


"Kenna?"


Kenna yang masih termenung dan tidak bisa berkonsentrasi itu tetap diam sambil menatap kayu-kayu bakar persedian yang menipis. Kenna pasti mengingat tugas Ferdinand, tugas kekasihnya untuk mencari kayu bakar. Sekali lagi, Elsa membuang nafas panjang.


"Kenna?"


Kali ini, Elsa mendekat pada kakaknya sambil mengguncang pelan bahu Kenna. Kenna tersentak dan langsung menoleh


"Ada pesanan lagi?"


Elsa mengangguk singkat sambil menyodorkan dua kertas. Dengan susah payah Kenna tersenyum tipis.


"Ok... akan ku kerjakan"


Saat Kenna mulai melangkah menuju panci saus, Elsa langsung menahan tangannya. Kenna kembali menoleh untuk menatap Elsa yang sudah menatapnya dengan prihatin.


"Setelah pesanan ini, kita akan menutup kedai"


Alis Kenna mengerut dalam


"Kenapa?"


"Kau pucat sekali"


Sambil kembali memasang senyum tipisnya, Kenna menggeleng kuat


"Aku baik-baik saja El, kita-"


"Kau juga tidak bisa fokus dan terus melamun. Kau butuh istirahat Ken"


"Tidak El, ak-"


"Istirahat Ken, ingat pesan Dinand untuk mengutakan kesehatanmu"


Nama itu, nama yang di sebutkan Elsa membuat dada Kenna berdesir hingga arah pandangnya mulai buram. Kenna menundukkan kepaanya saat merasa tidak bisa lagi menahan air matanya. Elsa yang menyadari raut wajah kakaknya langsung memeluk kakaknya dengan lembut.


"Tenang lah Kenna. Sebentar lagi Dinand pasti datang dan jika dia sibuk, dia akan mengirim pesan seperti biasa"


Ucapan lembut yang mencoba menenangkan Kenna nyatanya tidak berguna sama sekali saat isakan Kenna terdengar.


"Aku tidak tahu El, tapi perasaanku sangat tidak enak. Dan aku juga sangat merindukannya"


Dengan lembut, tangan Elsa terus membelai punggung kakaknya yang bergetar, tubuhnya dengan sabar menerima setiap lelehan air mata Kenna yang tumpah di atas bahunya.


"Aku mengerti Ken, tapi kita hanya bisa percaya pada Dinand. Statusnya yang baru menikah pasti membuatnya kesulitan untuk keluar"


Kenna masih terus terisak di dalam pelukkan Elsa, hingga sebuah ingatan yang muncul membuatnya dengan cepat melepaskan pelukannya untuk menatap Elsa.


"Aku baru ingat El, dulu Dinand pernah menjelaskan jika setelah kami menikah, kami tidak akan tinggal di istana. Karna hanya Putri mahkota yang bisa tinggal di istana setelah menikah"


Alis Elsa mengerut dalam, arah pandangnya menatap Kenna dengan lekat, mencoba memahami ke mana tujuan pembicaraannya.


"Lalu?"


Kenna mengusap ke dua matanya yang berair sambil tersenyum, raut wajahnya menunjukkan sebuah harapan.


"Berarti sekarang dia tidak akan tinggal di istana. Kita bisa saja mengirim surat di tempatnya sekarang"


Alis Elsa semakin mengerut dalam


"Aku tidak mengerti Ken. Mengirim surat pada Dinand bukan seperti kita yang bisa mengirim surat keluhan ke parlement. Istana hanya memilih surat yang mereka butuhkan. Mereka tidak akan menerima surat yang tidak jelas menurut mereka"


Senyum Kenna semakin lebar, dengan kedua tangannya yang langsung memegang kedua tangan Elsa. Elsa yang melihat raut wajah penuh harapan serta senyum cerah Kenna akhirnya bisa mengerti.


"Maksutmu..."


Kenna mengangguk dengan senyum cerah yang terus menghiasi bibirnya. Sebuah harapan, yang akan membuat Kenna bisa sedikit tenang


\=\=\=💙💙💙💙


Silahkan jejaknya....