Marrying The Prince

Marrying The Prince
51


Di pagi hari, di saat matahari belum bebas untuk naik, di saat semua orang mungkin masih bergulung di bawah selimut dan ranjang mereka yang nyaman, Anastasia sudah selesai merapikan jejak tempat tidurnya. Otaknya mencoba berpikir keras untuk mencari cara agar tidak terlihat mencurigakan. Dia tidak ingin ada seseorang yang mengetahui keadaannya, dia juga tidak ingin ada seseorang yang mendapatinya dalam keadaan yang tidak tidur di kamar.


Anastasia merutuki dirinya yang tidak mengambil gaun saat dia mengambil mantel tadi malam. Jika dia mempunyai gaun sekarang, setidaknya dia bisa mencari cara untuk bersiap dengan gaun baru sambil memasang peran 'keadaan baik-baik saja' tapi... dengan gaun tidur? Oohh tidak.... semua pertanyaan pasti akan menghampirinya saat semua mata menatapnya terlebih, dia harus makan pagi dan berkumpul bersama keluarga


Sambil terus berpikir keras, Anastasia mulai menutup pintu gudang dan melangkah yang entah akan kemana. Dia belum memiliki pencerahan untuk tujuannya, tujuannya yang tidak mungkin kembali ke kamar.


"Your Highness?"


Anastasia tersentak saat seseorang menyapa di tengah-tengah kemelut pikirannya. Dengan menekan rasa terkejut dan juga gugup, Anastasia memasang senyum ramah yang di pakasakan lalu berbalik untuk menatap suara yang menyapanya.


"yaaa?"


Seorang pelayan paruh baya yang menyapa Anastasia mengeryit saat melihat tumpukan mantel di tangan Anastasia, lalu segera menunduk dengan sopan


"Selamat pagi Your Highness... Apa anda membutuhkan sesuatu?"


Masih dengan senyum ramah yang memaksa, Anastasia mengangguk singkat.


"Aku sedang mencari Ruth untuk memintanya melakukan sesuatu-" Anastasia menjedah sambil menatap langit-langit dapur untuk berpikir sejenak, lalu kembali menatap pelayan di depannya sambil terkekeh memaksa. "Tapi aku malah tersesat"


Pelayan yang tadinya menatap Anastasia dengan wajah penuh selidik langsung mengangguk dan tersenyum maklum.


"Kamar pelayan tidak di rumah ini, Your Highness. Kami tidur di rumah depan"


"Ahhh begitu..."


"Apa anda ingin saya memanggilkan Ruth sekarang, Your Highness?"


Anastasia tersenyum lega, dirinya lega karna pelayan itu sepertinya percaya dengan omong kosongnya.


"Apa Ruth sudah bangun?"


Dengan ramah dan penuh kesopanan, pelayan itu menjawab sambil tersenyum lembut


"Sudah Your Highness, sebenarnya sebentar lagi para pelayan mungkin akan datang, tapi saya bisa memanggilkan Ruth sekarang"


Dengan cepat Anastasia menggangguk


"Aku akan menunggu di kamarku"


"Baik Your Highness"


Setelah pelayan itu pergi, Anastasia mulai gusar. Jika Ruth datang ke kamarnya lalu apa? Ohh ya ampun... dia harus bagaimna sekarang.


Dengan kembali berpikir keras, Anastasia kembali melangkah untuk menuju kamarnya, menuju ke kamarnya yang entah untuk apa.


Saat langkahnya sudah berdiri di depan pintu kamarnya, Anastasia berdiri di sana untuk menunggu Ruth. Tidak perlu menghabisakan banyak waktu, sosok Ruth yang terlihat sedikit berlarian langsung terlihat di arah pandang Anastasia.


Anastasia dengan cepat langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir saat Ruth akan membuka mulutnya untuk menyapa. Anastasia mendekat pada Ruth yang sudah menatapnya dengan bingung untuk berbisik.


"Aku tidak ingin ke kamar Ruth, tapi aku juga tidak ingin terlihat seperti tidak dari kamar saat semua orang melihatku. Bagaimana ini?"


Sekarang Ruth bisa menangkap semua hal yang terjadi. Kegusaran dan gerak gerik tidak tenang Anastasia membuatnya bisa mengambil kesimpulan, terlebih dengan tumpukan mantel yang terlampir di tangan Anastasia. Sepertinya, terjadi sesuatu yang tidak baik tadi malam dan Anastasia pasti sedang menghindari seseorang yang berada di dalam kamar mereka, suaminya. Ferdinand pasti melakukan sesuatu yang membuat nyonyannya menjadi takut. Takut? tentu saja, warna membengkak di pelipis dan pipi Anastasia sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semua itu. Ruth membuang nafas panjang.


"Anda ingin saya melakukan apa, Your Highness?"


"Gaun.. aku butuh gaun baru Ruth"


Ruth mengangguk paham


"Saya akan mengambilkan sebuah gaun baru untuk anda, Yo-"


"Masuk Ana"


Tidak hanya Ruth yang langsung terlonjak karna terkejut, Anastasia bahkan sudah hampir terjatuh ke atas lantai saat suara yang sangat mereka kenal itu muncul tanpa pengahalang, muncul tiba-tiba seperti angin yang berhembus, muncul di depan pintu yang terbuka.


Suara Ferdinand dengan tubuhnya yang sudah menjulang tinggi di belakang mereka dengan pintu kamar yang sudah terbuka, membuat mereka hampir terkena serangan jantung. Kenapa tidak ada suara sedikitpun saat dia membuka pintu?


Hanya dengan mendengar suara tidak bersahabat itu membuat Anastasia langsung mencengkam lengan Ruth. Ruth yang masih terkejut kembali sadar dan langsung menunduk sopan pada Ferdinand.


"Se-selamat pagi Your Highness"


"Kau tidak mendengarku Ana?" Ferdinand benar-benar mengabaikan Ruth, arah pandangnya bahkan hanya terus menatap Anastasia yang sudah menunduk dengan tangan yang terus memegangi lengan Ruth. Ferdinand mengusap wajahnya dengan kasar sambil membuang nafas panjang. "Ku bilang masuk Ana. Masuk ke kamar sekarang"


Melihat keadaan yang tidak bersahabat dan raut wajah Ferdinand yang seperti siap untuk kembali memukul Anastasia, Ruth tidak biasa diam. Dia adalah pelayan pribadi Putri Mahkota dan dia di tunjuk langsung oleh Ratu Victoria untuk melayani dan menjaga Anastasia dari apapun dan dalam situasi apapun, jadi Ruth sekarang tidak akan salah jika menjaga Anastasia.


"Maaf Your Highness, tapi Her Majesty meminta saya untuk membawa Her Highness sekarang"


Ferdinand mendengus kasar saat mendengar omong kosong Ruth. Dia pikir Ferdinand peduli?


"Masuk, atau aku akan menyeretmu masuk Ana"


Cengkaman tangan Anastasia semakin kuat, dan Ruth yang merasakan itu semakin tidak akan membiarkan nyonyanya masuk ke dalam kamar itu.


"Yo-"


"MASUK ANA!"


Kali ini, bentakan kuat itu membuat insting Anastasia langsung bekerja. Anastasia segera melepas tangannya dari Ruth, melempar mantel di tangannya, dan... berlari. Berlari sekencang yang dia bisa, berlari dengan semua kecepatan yang dia punya


Ferdinand yang melihat Anastasia berlari, tanpa perlu berpikir langsung mengejar. Ruth sebagai peran figuran di dalam episode drama dini hari itu hanya bisa membulatkan matanya. Apa-apaan ini?


Anastasia pikir, dia bisa kabur karna sudah mengerahkan semua kemampuan kaburnya, Anstasia pikir, dia bisa selamat dari harimau galak yang sedang mengejarnya. Tapi ternyata, dia sangat salah saat tiba-tiba sebuah lengan kokoh menariknya dengan kuat. Anastasia hanya bisa memekik saat tubuhnya melayang lalu berakhir di bahu seseorang, di panggul dengan santai seperti karung gandum, dan hanya bisa meronta-ronta tidak berarti.


Ferdinand berdecak kesal sambil semakin mengeratkan tangannya di pinggang Anastasia saat tubuh yang sedang berada di bahunya itu semakin meronta tidak berarti


"Diamlah Ana, kau hanya membuang tenagamu"


"Lepaskan aku! lepaskan aku!"


"Jangan harap"


"Lepas! Lepaskan aku!"


"Dalam mimpimu"


"Turunkan aku!"


"Nanti"


"Lepaskan aku! atau aku akan berteriak!"


Ferdinand memutar bola matanya dengan malas


"Kau sudah berteriak Ana"


Dengan langkah santai, Ferdinand terus melangkah menuju kamar mereka. Dirinya mengabaikan beberapa pelayan yang melihat mereka dengan raut wajah yang berbeda-beda. Memang dia peduli? ini istrinya, dan dia bebas untuk memanggul istrinya, dia bahkan bebas untuk meletakkan tangan di setiap jengkal tubuh istrinya.


Bukan itu yang ada di pikirkan para pelayan yang melihat mereka, tidak ada sedikitpun mereka memikirkan tentang sentuh menyentuh. Seorang suami yang memanggul istrinya yang terus meronta adalah pertanyaan penting untuk setiap mata yang bisa melihat mereka sekarang, tapi Ferdinand... tetap menjadi Ferdinand yang berputar dengan pemikirannya sendiri.


Saat sudah berada di depan kamar dengan peran figuran yang kembali membulatkan matanya saat melihat mereka. Ferdinand dengan acuh berjalan melewati Ruth dan langsung masuk ke dalam kamar.


Ferdinand langsung menuju ranjang dan melempar tubuh Anastasia ke atas ranjang. Langkahnya segera berputar kembali ke arah pintu, dan untuk yang kesekian kalinya, Ferdinand mengabaikan Ruth dengan menutup pintu, mengunci pintu, lalu mencabut kunci yang langsung dia simpan di dalam sakunya. Tapi, saat dia pikir semua sudah aman, langkah Ferdinand kembali berlari saat melihat Anastasia yang sudah berdiri di depan jendela terbuka sambil mengambil kuda-kuda untuk melompat.


"Ana!"


Kembali, Ferdinand menyambar pinggang Anastasia yang hampir berhasil melompat.


"Lepas! Lepaskan aku!"


Karna semakin kesal dan geram, Ferdinand menyeret kasar tubuh Anastasia untuk kembali ke atas keranjang, lalu secepat kilat kembali memutar tubuhnya untuk menutup jendela, semua jendela.


Kali ini, Ferdinand yakin jika semua pasti sudah aman, dan benar... saat Ferdinand sudah kembali berbalik, Anastasia hanya bisa berdiri di samping ranjang dengan siaga penuh. Sebenarnya... Ferdinand ingin tertawa sekarang, tapi saat melihat tubuh gemetaran Anastasia, dia menahan dirinya. Kakinya kembali melangkah


"Jangan mendekat!"


Baiklah... Ferdinand merasa ini akan menarik, jadi dia akan melayani Anastasia yang sedang mencoba mencari cela untuk kabur, terlihat dari mata Anastasia yang terus bergerak di setiap sudut kamar. Dengan acuh, Ferdinand kembali melangkah. Anastasia yang melihat kembali pergerakan Ferdinand ke arahnya langsung memundurkan kakinya


"Ku bilang jangan mendekat!"


"Memangnya kenapa jika aku mendekat Ana?"


"Aku akan melawanmu Ferdinand!"


Langkah Ferdinand terhenti, satu alisnya menukik dengan kedua tangan yang sudah menyilang sombong di depan dadanya


"Melawan? Dengan tubuh gemetaran?"


Anastasia mencengkam kuat gaunnya, kakinya terus bergerak mundur bahkan saat Ferdinand hanya diam di tempatnya.


"Ya! aku akan melawanmu!"


Dengan susah payah Ferdinand menahan tawanya. Ohh astaga Anastasia... lihatlah bagaimana gadis benalu yang ingin dia bunuh tadi malam dan sekarang, dia malah membuat Ferdinand merasa gemas. Anastasia dengan semua gerak geriknya memang selalu sukses membuat Ferdinand gemas


"Dan... bagaimana caramu akan melawanku dengan tubuh gemetaran Ana?"


Kedua tangan Anastasia semakin mengeratkan cengkamannya


"A-aku tidak akan memberi tahumu"


"Ke-kenapa?"


"Po-pokoknya, jika kau mendekat, aku akan melawanmu!"


"Be-benarkah?"


Dan kembali, Ferdinand kembali bergerak mendekat sambil mengigit pipi dalamnya dengan gemas. Anastasia yang kembali melihat pergerakan Ferdinand langsung berlari ke arah ranjang, dia akan menyebrangi ranjang tapi, tubuhnya kembali mendarat di atas ranjang. Kali ini Ferdinand menahan dan menekan tubuh Anastasia di atas ranjang


"Diamlah Ana, kau hanya akan membuat dirimu sakit"


Anastasia tidak peduli, dia tetap meronta-ronta sekuat yang dia bisa. Mungkin menurut Ferdinand semua yang di lakukan Anatasia cukup lucu dan menggemaskann tapi, untuk Anastasia ini semua seperti sedang berjuang untuk hidup. Seperti masa lalunya, dia harus bisa lepas dan kabur. Karna itu, Anastasia terus meronga sekuat yang dia bisa. Ferdinand mengerang kesal, dia mulai kesal saat Anatasia tidak juga sedikitpun ingin menyerah


"Kau ingin aku menggunakan tenaga hah! diam!"


"Lepaskan aku!!!"


Melihat Anastasia yang semakin menjengkelkan, kali ini Ferdinand tidak akan menahan diri lagi. Ferdinand menarik kedua tangan Anastasia keatas kepala dan mencengkamnnya dengan satu tangan, dengan kuat. Kaki Anastasia yang terus bergerak meronta-rontah langsung berhenti ketika tanpa belas kasih, lutut Ferdinand menekan dengan kuat ke dua paha Anastasia. Anastasia meringis saat rasa sakit tekanan di pahanya semakin kuat.


"Sakit?"


Anastasia hanya menggeliat tanpa arti, kedua matanya terpejam kuat, tubuhnya kembali gemetaran. Ferdinand yang bisa merasakan ketakutan Anastasia membuang nafas panjang.


"Aku bertanya, apa sakit-" Ferdinand menekan semakin kuat lututnya. "Ana?"


"Sakit! Sakit! ampun.. tolong ampuni aku..." Rintihan dan isak tangis itu akhirnya pecah dan membuat Ferdinand tersentak. Anastasia tidak bisa lagi menahan semuanya, Anastasia sudah tidak bisa lagi menahan semua sakitnya. "Ampuni aku.."


Bukan, bukan maksut Ferdinand untuk menyakiti Anastasia seperti ini, tapi dia harus melakukannya.


"Aku akan mengampunimu jika kau tidak melawan" Ferdinand mendekatkan bibirnya ke telinga Anastasia yang terus memejamkan matanya, lalu berbisik. "Jangan mencoba kabur, atau kali ini aku akan mengikatku"


Dengan penuh kepasrahan dan juga keraguan, Anastasia mengangguk lemah. Ferdinand tersenyum tipis, lalu melapas tangannya dengan gerakan yang tetap siaga.


Anastasia terus memejamkan matanya tanpa berani bergerak tapi, usapan lembut di pipinya membuat Anastasia tersentak.


"Ini kenapa An?"


Bibir Anastasia terkunci rapat, kedua matanya masih terus menutup kuat, dia tidak ingin dan tidak berani untuk melakukan apapun. Jemari Ferdinand kembali mengusap warna kemerahan yang tinggal menunggu waktu untuk berubah menjadi warna ungu pekat, di pipi dan di dahi. Warna itu pasti juga untuk menjelaskan sesuatu, rasa nyeri, dahi dan pipi Anastasia itu pasti terasa nyeri


"Ini kenapa Ana?"


Ferdinand masih menunggu dengan sabar jawaban dari pertanyaannya yang belum juga di jawab tapi, Anastasia tetap bungkam dan terlihat pasrah. Kembali Ferdinand membuang nafas panjang dan mulai mengangkat satu persatu lututnya. Dan itu, akhirnya membuat kedua mata Anatasia terbuka perlahan


"Jangan berani mencoba kabur, kau dengar aku?"


Anastasia hanya diam sambil menatap Ferdinand dengan arah pandang yang buram. Ferdinand yang kembali tidak mendapatkan jawaban mendengus kasar.


"Kau ingin membuka mulutmu sendiri, atau aku yang akan memaksa membuka mulutmu dengan mulut dan lidahku?"


Ucapan itu, kali ini langsung membuat Anastasia membuka mulutnya yang terasa keluh.


"I-iya"


Sudut bibir Ferdinand berkedut geli karna gemas


"Good girl...."


Masih dengan posisi mereka, isi kepala Ferdinand yang mulai tenang kembali terbang bebas. Anastasia yang berada pasrah di bawahnya, gaun tidur tipis yang menempel pasrah menyelimuti tubuh menyerah Anastasia, rambut tergerai yang tumpah di atas ranjang, wajah memelas Anastasia, rona merah yang tercetak di kedua pipi Anastasia, Sialan! Anatasia sangat terlihat sensual dan posisi mereka sekarang sangat menghancurkan kewarasan Ferdinand. Ferdinand meneguk ludahnya dengan kasar, Ohh tidak... ini gawat! sangat sangat gawat karna Ferdinand sekarang sangat menginginkan Anastasia, dia membutuhkan Anastasia.


"An...."


Anastasia menatap Ferdinand yang hanya diam dan terus menatapnya dengan lekat, dan saat kedua manik mata mereka bertemu, tatapan mengkilap penuh semangat Ferdinand tertangkap dan membakar Anastasia. Gawat! ini gawat!


"Ferdinand..."


Oohh tidak... entah kenapa suara Anastasia yang sampai di telinga Ferdinand membuatnya semakin membara, seperti panggilan untuk memintanya. Ferdinand kembali meneguk ludahnya dengan kasar, menurunkan kepalanya, lalu mendekatkan bibirnya ke depan bibir Anastasia


"Kau dalam masalah Ana"


\=\=\=💛💛💛💛


2000+ kata.... semoga cukup memuaskan ya guys.... Silahkan jejaknya....