
Anastasia kembali memutar tubuhnya ketika rasa lelap tidak juga menyapanya. Kedua mata Anastasia terasa berat, tubuhnya juga terasa lelah tapi, pikirannya sangat segar dan bersemangat untuk memikirkan banyak hal. Anastasia kembali membuang nafas panjang sambil menatap langit-langit ranjang.
Ferdinand.... kemana dia sebenarnya? kenapa semua orang seolah tidak ada yang ingin bertanya tentang keberadaannya? bahkan hingga acara kumpul keluarga selesai tidak yang bertanya. Hanya George yang pernah menyebutkan nama Ferdinand tapi, itu juga bukan bentuk dari sebuah rasa ingin tahu atau rasa khawatir karna keberadaan Ferdinand.
TOK TOK TOK
Anastasia tersentak saat pintu kamarnya di ketuk dengan kuat. Tamu di jam segini?
TOK TOK TOK
Dengan tergesah, Anastasia segera bangun dari ranjangnya dan langsung meraih mantel.
TOK TOK TOK
"Iya... sabar"
Dengan sedikit ragu, Anastasia memutar kunci dengan perlahan tapi, saat dirinya baru akan memegang gagang pintu, pintu terbuka kuat. Dorongan kuat dan lebar yang membentur Anastasia tentu akan membuat dirinya yang tidak siap mencium lantai
Rasa nyeri di bokong saat mencium lantai, rasa nyeri luar biasa di dahi dan wajahnya membuat Anastasia memekik terkejut.
Tanpa peduli dengan apa yang di lakukannya, tanpa peduli dengan pekikan Anastasia, tanpa peduli dengan akibat dari yang di lakukannya, Ferdinand berlalu bergitu saja melewati Anastasia yang masih terduduk di atas lantai sambil memegangi wajahnya.
Darah.... Anastasia meringis sakit sambil mengusapi hidungnya yang terasa basah. Darah yang ada di kedua tangannya membuat Anastasia segera mendongak untuk menghambat jalan darah keluar.
Kapan terakhir kali hidungnya berdarah seperti ini? Kenapa setelah dengan susah payah dirinya bertahan agar tidak terluka fisik dan mental semua ini terulang lagi? Rasa dingin menyesakan di dalam dadanya bertambah saat mendengar bunyi pintu kamar mandi yang berdegum kencang.
Ferdinad benar-benar tidak peduli, atau mungkin memang sengaja?
Sekarang, bukan hanya alirah di hidungnya saja yang coba Anastasia tahan, tapi juga aliran di kedua matanya yang sudah penuh.
Kepala Anastasia masih mendongak sambil menutup hidung dan menahan tangisnya.
Kasar dan sangat keras.... perlakuan Ferdinand tidak jauh berbeda seperti apa yang di pikirkannya. Apa yang di lakukan Ferdinand kembali menegaskan pada dirinya agar tidak terlena. Untuk selalu sadar jika dia,
Tidak berharga...
Anastasia harus sadar dan harus tahu diri, Anastasia harus menekankan dan mendokrin kembali tentang siapa dirinya.
Dengan susah payah Anastasia mencoba bangun dari lantai, mencari keseimbangan kakinya, lalu melangkah menuju pintu yang masih menganga lebar. Dia harus pergi untuk menangis, dia harus bersembunyi untuk keselamatannya. Karna, seperti pengalamannya, jika dia masih berada bersama seseorang yang membencinya, dia akan terluka lebih parah lagi, dia akan berdarah lebih banyak lagi. Anastasia kabur...
Apa salahnya? apa yang di perbuatnya sehingga dia harus merasakan ini lagi? Kenapa dia harus melihat kembali darah mengalir dari tubuhnya?
Pertayaan itu terus berputar di kepala Anastasia, menemani langkahnya yang entah akan kemana.
--000--
Ferdinand masih merendam tubuhnya dengan kedua mata menutup rapat. Tubuhnya sudah sedikit lebih rileks tapi tidak dengan pikirannya. Kejadian saat kuda kesayangannya yang berdarah hingga mati membuat perasaan Ferdinand terus merasa buruk.
Tidak ada yang bisa di pikirkannya lagi, tidak ada yang bisa di rasakannya lagi selain rasa benci. Rasa benci dengan semua hal yang terjadi padanya.
Ayahnya, adalah seseorang yang sekarang sangat di bencinya. Lalu Anastasia, si benalu yang membuat semua ini terjadi.
Jika Anastasia tidak masuk di dalam keluarganya, jika dia membunuh Anastasia saat itu, pasti hidupnya sekarang masih seperti dulu, pasti dia pasti masih terus meraskan hidupnya yang bebas dan damai.
Dengan malas, akhirnya Ferdinand bangkit dari bak mandi dan langsung membilas tubuhnya. Dengan cepat dirinya menyambar mantel mandi dan segera membuka pintu.
Kosong... keadaan kamar kosong tidak ada siapapun tapi, dia tidak peduli. Dengan langkah gontai Ferdinand melangkah menuju lemari. Memilih piama tidur, lalu melempar kuat tubuhnya di atas ranjang tapi, sialan! Ferdinand tanpa sadar menahan nafas ketika tubuhnya mendarat di atas ranjang. Aroma Anstasia yang menguar kuat di sana mambuatnya kembali kesal.
Ferdinand membuang nafas panjang dengan mata terpejam. Dirinya mencoba mencari ketenangan untuk berpikir jernih.
Bermenit-menit terlewati, puluhan menit berlalu begitu saja, hingga tanpa sadar berjam-jam sudah berlangsung tapi, rasa khantuk tidak juga menyapa Ferdinand. Kedua matanya menyalang segar, isi pikirannya yang sudah tenang mulai berputar dengan cara yang waras lalu.....
Di mana Anastasia?
Pikiran itu mengahampiri Ferdinand. Dengan tubuh yang masih bermalas-malasan di atas ranjang empuknya, ekor mata Ferdinand melirik ke arah pintu kamar. Pintu kamar tempat dia memberikan sedikit kejutan dan pemberitahuan jika dia sedang dalam suasana hati yang buruk. Dia ingin memberi tahu Anastasia jika dia sedang dalam keadaan dan habis melewati keadaan yang buruk.
Kuda kesayangannya mati, ayahnya mulai mengerikan, dia juga harus kembali berkumpul dengan keluarganya besok, belum lagi dirinya yang harus menghadapi George.
"Sial! Sial!"
Ferdinand mengerang kesal ketika ingatannya kembali saat melihat bagaimana Anastasia bersama Michael. Anastasia yang terlihat polos itu ternyata sama saja, seperti gadis yang biasa dia temui, gadis murahan yang gampang dan mudah mendekatkan diri dengan banyak pria padahal, dia sudah sempat berpikir jika dia akan mencoba menjadi pria yang akan setia pada istrinya. Tapi sekarang, apa yang dia dapatkan? Dengan melihat Anastasia yang seperti itu membuatnya berpikir jika Anstasia sama saja, cepat atau lambat Anastasia juga akan memiliki pria lain.
Pernikahan abu-abu mereka ini tidak mempunyai pondasi yang kokoh, dia juga sadar jika dirinya juga belum bisa membangun pondasi itu dan karna itu, Anastasia yang juga tahu hal itu pasti akan memilih jalan lain. Gadis itu pasti ingin mencari pria lain karna dia juga sudah memiliki wanita lain.
Kembali, Ferdinand mengerang kesal. Dirinya tidak akan terima jika ada pria lain di dalam pernikahannya, dia tidak sudi jika gadis yang di nikahinya akan memiliki pria lain. Tidak! tidak! Dia ingin istrinya hanya mempunyai satu pria, dan itu dirinya.
Dengan kasar Ferdinand mengusap wajahnya, tapi tiba-tiba, indra pendengaran dan instingnya yang terbiasa di medan perang membuatnya langsung memejamkan mata.
Dengan sangat perlahan, Anastasia mendorong perlahan pintu kamar. Sangat berhati-hati hingga tanpa sadar Anastasia menahan nafasnya. Dari cela pintu yang sudah terbuka sedikit, Anatasia mengintip ke dalam kamar.
Sesosok pria yang sedang di hindarinnya sudah terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam. Dan pemandangan itu, akhirnya membuat Anastasia bisa membuang nafas.
Masih dengan gerak gerik seperti pencuri yang sedang mengintai di kamarnya sendiri, Anastasia mulai sedikit melebarkan cela pintu. Sangat pelan, sangat hati-hati, sangat mendebarkan untuk Anastasia ketika tubuhnya sudah masuk ke dalam kamar dengan cela pintu yang sangat kecil.
Anastasia mulai berjalan pelan sambil terus menatap ranjang. Arah tujuannya adalah lemari, dia akan mengambil perlengkapannya agar bisa melewati malam yang dingin di luar.
Kembali Anastasia menahan nafasnya saat pergerakan lambat tangannya mulai menarik pintu lemari. Saat pintu sudah terbuka dan thanks God! karna pintu itu tidak berbunyi, Anatasia mulai mengambil tiga buah mantel apapun yang ada di sana.
Dengan masih menahan nafas, Anastasia menutup pelan pintu lemari yang menganga. Lalu berjalan dengan sangat sangat sangat pelan menuju pintu keluar.
Saat sudah di depan pintu, tiga mantel di tangannya membuat Anatasia harus melebarkan sedikit cela pintu. Jantung Anastasia berdegup kencang saat mendengar suara pergerakan di atas ranjang dan crab! Ferdinand dengan mata terpejam memiringkan tubuhnya ke arah pintu, ke arah dirinya. Anastasia merasa seperti sudah ketahuan dan sedang di awasi walaupun, kenyataan yang di lihatnya, Ferdinand masih tertidur lelap.
Baiklah.. Anastasia harus tenang dan harus cepat. Pemikiran itu membuatnya dengan cepat kembali bergerak, membuka pintu, lalu menyelinap di cela pintu. Setelah tubuhnya berhasil melewati cela pintu, Anastasia langsung menutup kembali pintu dengan sangat perlahan dan... selesai, pintu tertutup.
Dengan rasa takut dan gugup yang masih bersisa, seolah dirinya sedang mencuri perhiasan Ratu, Anastasia yang sudah berhasil keluar langsung mengambil langkah seribu. Berlari secepat mungkin ke tempat tujuannya, tempat yang dia temukan untuk bermalam.
Gudang, adalah tempat yang Anastasia cari di rumah itu setelah dirinya keluar kamar sambil menahan darahnya yang terus mengalir. Masa kecil yang di isi dengan kabur dan bersembunyi membuatnya sangat tahu kemana tujuannya untuk menyelamatkan diri, seperti sekarang. Anastasia sudah menumpuk jerami untuk ranjangnya malam ini.
Anastasia membuang nafas panjang sejenak untuk menenangkan dirinya yang masih sedikit gugup karna sehabis mencuri mantelnya sendiri, lalu mulai membentangkan satu mantel ke atas jerami di lantai dan mulai mendaratkan bokongnya di sana.
Tangan Anastasia meraba-raba permukaan jerami sambil tersenyum sendu.
"Hallo jerami... Anastasia yang sering memakai kalian untuk tidur sudah kembali"
Masih dengan tersenyum sendu, Anastasia melebarkan mantelnya dan menumpuk jadi satu kedua mantel yang tersisa. Dengan ruang yang sempit dan terbatas, Anastasia mulai mengambil posisi duduk yang paling nyaman untuknya tidur. Menekuk kakinya, lalu menyelimuti dirinya sambil menyenderkan punggung di tumpukan karung gandum. Persiapan tidurnya sudah selesai dan sekarang, waktunya untuk menangis.
Dengan kedua tangan yang memeluk erat kakinya, bermenit-menit terus terlewati dengan tangis menahan suara Anastasia. Tangan Anastasia yang akan menyeka air matanya sesekali membuat nyeri di bagian wajahnya yang habis terbentur pintu. Dan Anastasia yakin, jika rasa nyeri itu akan membuat warna lain di kulitnya.
Ferdinand yang tadinya hampir kehilangan jejak Anastasia akhirnya bisa mengejar. Sekarang, dirinya masih terdiam di depan pintu gudang yang tertutup. Suara Anastasia yang sedang berbicara dengan jerami, lalu di susul suara tangis tertahannya, membuat tangan Ferdinand terus terasa gatal untuk membuka pintu tapi, dia tetap tidak melakukannya. Dia tetap hanya berdiri terdiam tanpa melakukan apapun.
Dan malam ini... Ferdinand tidak tahu jika dia sudah kembali membuka ingatan dan luka lama seseorang. Masa kelam seseorang yang dulu tidak pernah berujung kembali di koreknya dengan dingin. Ferdinand membuat luka baru di atas beberapa bekas luka Anastasia.
\=\=\=💚💚💚💚
Silahkan jejaknya.....