Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter V - The Prince


Ruangan luas itu memiliki rak buku yang menempel di keempat dindingnya, tinggi menjulang sampai ke langit-langit. Terdapat tangga kayu beroda yang bisa dinaiki untuk mengambil buku di rak atas.


Sepasang sofa kulit memanjang, mengapit meja kopi di tengah-tengah ruangan. Meja bar yang berisi botol-botol minuman berwarna-warni di sebelah meja kokoh pria itu seolah mengundang untuk minum. Jendela besar di sisi belakang membuat ruangan itu lebih benderang.


Pria tak dikenal itu berdiri dan tersenyum menatap Jane. Jas resminya disampirkan di sandaran kursi, sehingga dia hanya mengenakan kemeja lengan panjang. Bentuk wajahnya lebih pendek daripada Thomas, tetapi hidungnya lebih mancung tajam. Rambutnya pirang, tak seperti warna rambut Thomas yang hitam legam. Namun, ukuran badan mereka kurang lebih sama. "Good morning, Jane Watson. How's your flight?" tanyanya ramah.


"Good?" jawab Jane ragu. Dia memandang berkeliling. "Who are you?" tanyanya lagi.


Pria itu mengangkat bahu. "You can call me Phillip," jawabnya.


"Apa kau... seorang pangeran?"


Phillip mengangkat bahu. "Bisa disebut begitu. Aku sepupu Tom," jawabnya. Dia melangkah menghampiri Jane. "Kau suka istana ini?" tanyanya sambil melirik langit-langit.


"Ya. Aku suka tamanmu yang luas itu."


"Apa kau mau tinggal di sini?"


"Aku..." Jane tidak bisa menjawabnya. Kalau ditanya mau tinggal di istana atau tidak, tentu saja mau. Siapa yang tidak mau tinggal dalam kemewahan seperti ini? Tapi mengingat bahwa Kerajaan Vlada telah berbuat seenaknya, dia segera menghempaskan keinginan itu.


Phillip kembali tersenyum. Dilihat dari dekat, mata Phillip berwarna biru cerah. Sepasang alis tebal membingkai mata tajam itu. "Aku sadar bahwa menjadi keluarga kerajaan bukanlah hal mudah. Apalagi kau merupakan rakyat biasa. Ada banyak sekali aturan yang harus kau jalankan bila sudah resmi menjadi bagian dari kami."


Jane diam saja mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Phillip. Melihat pria itu membasahi bibir, membuat Jane terus memperhatikannya.


"So, Jane," lanjut Phillip, membuat wanita itu kembali ke bumi. "Apa kau yakin mau menikah dengan Tom?"


Jane mengerutkan kening. "Omong-omong, di mana dia?" tanyanya tanpa menjawab.


Phillip tergelak. "Tom selalu sibuk dengan kegiatan amalnya. Dialah yang paling rajin untuk urusan itu."


"Wait a minute!" Jane menyadari sesuatu. "Jadi, bukan Tom yang menculikku kemari?"


Phillip menundukkan kepala dan menghela napas. "Aku ketahuan," ujarnya.


"Kau? Untuk apa?"


"Aku mendengar soal perjodohan itu. Jadi kupikir, kenapa tidak langsung membawamu ke sini?"


"Jangan bilang bahwa kau juga yang membayar Ally untuk memecatku!"


Phillip menutup mulutnya, tapi dia mengangguk.


"You're crazy!" seru Jane. "Aku sudah bertahun-tahun bekerja di sana. Gajinya cukup besar untuk memenuhi kebutuhanku. Sekarang aku adalah pengangguran dan itu semua salahmu!" Sedetik kemudian dia tersadar bahwa dirinya sedang berbicara dengan seorang pangeran. Buru-buru dia mundur, mengantisipasi kalau-kalau Phillip berniat membentak atau memukulnya.


Namun, yang Phillip lakukan adalah meminta maaf. "I'm sorry. Aku tidak tahu pekerjaan itu begitu penting bagimu."


"Bagi orang yang kebetulan adalah keturunan raja, kurasa pekerjaan adalah hal terakhir yang kau inginkan," ujar Jane sinis. Sengaja dia menekankan kata 'kebetulan'.


"Maafkan aku, Jane. Tapi kau akan menikah dengan Tom, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan soal uang."


Phillip beranjak dari hadapan Jane ke sofa. Pria itu mempersilakan Jane duduk.


"Aku berdiri saja," kata Jane ketus.


Phillip mengangkat alisnya dan tidak jadi duduk. "Kau ingin minum sesuatu? Mungkin untuk menurunkan darah tinggi?"


Jane baru sadar napasnya memburu karena marah-marah. "Sorry, Your Highness," ucapnya pelan, membuat Phillip tersenyum lagi. Wanita itu tetap waspada, tidak ingin lengah oleh pelayanan yang ditawarkan. Dia menganggap dirinya sedang digoda oleh setan bernama Phillip.


Sang pangeran tentu dapat melihat ketidaksukaan Jane terhadap perjodohan dan penculikan ini. "Begini saja. Akan kuperintahkan para pelayan untuk menyiapkan air mandi. Setelah itu, kau boleh beristirahat atau jalan-jalan di sekitar istana. Kau adalah tamu istimewa, Jane. Jadi, para penjaga tidak akan menangkapmu atau mengusirmu. Kusarankan kau menginap satu malam di sini. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang. Bagaimana?"


Jane memang butuh semua itu. Badannya lengket dan bau. Dia juga baru tidur 3 jam di mobil. Dipikir-pikir, seorang pangeran tidak akan mencelakainya karena bila terendus media, maka pihak kerajaan mungkin akan mencoret namanya dari daftar calon raja. Karena itu, Jane mengangguk setuju.


πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›πŸ›


Jane diajak oleh beberapa gadis berparas cantik menuju lantai 2. Di sana telah menunggu 2 gadis lainnya yang mengantar ke sebuah ruangan yang akan menjadi kamar tidurnya.


Kamar itu memiliki ranjang queen size berkelambu dengan 4 tiang di setiap sudutnya. Sprei halus motif bunga berwarna salem, senada dengan warna gorden di jendela besar samping ranjang. Sebuah meja rias cantik dengan cermin bulat berukiran malaikat kecil mempercantik dekorasi kamar di bagian pojok.


Jane diarahkan ke ruangan sebelah, yaitu kamar mandi. Sebuah bak mandi di tengah ruangan menjadi perhatian utama Jane karena terbuat dari marmer tebal. Di sudut terdapat area shower untuk pembilasan yang tertutup pintu kaca. Di dindingnya dipasang lemari kaca dan rak susun untuk meletakkan perlengkapan mandi.


"Kau tahu di mana aku bisa mengisi baterai ponselku?" tanya Jane kepada salah satu dari para gadis.


"Akan kuambilkan charger untukmu, Miss Watson," jawabnya, lalu segera keluar dengan langkah seribu.


"Silakan melepaskan pakaian Anda, Miss Watson," ujar gadis lainnya. "Akan kucucikan untuk Anda."


Kemarin Jane tidak sempat menginjakkan kakinya di apartemen, sehingga dia masih mengenakan pakaian kerjanya. Agak aneh baginya mendapatkan pelayanan seperti ini. Bahkan, di hotel bintang 5 pun para tamu harus melakukan semuanya sendiri. "Biar aku saja," cegahnya begitu ada tangan lain yang ingin mencopot kancing kemejanya. "Tolong isi baterai ponselku saja. Tadi aku menaruhnya di meja rias."


"Baik. Panggil kami jika sudah selesai."


☺️☺️☺️☺️☺️


Kehangatan air yang telah disediakan di bak mandi marmer menyerbu saraf kulit Jane. Dirinya segera mendapatkan kenyamanan luar biasa. Wangi sabun menyeruak ke dalam hidungnya, membuatnya merasa seolah sedang berada di taman bunga. Dia memejamkan mata, terbuai untuk merasakannya lebih dalam lagi.


"Miss Watson! Are you okay, Miss? Miss!" Para gadis pelayan Jane berseru memanggil-manggil namanya. Namun, tidak ada jawaban. Ketukan demi ketukan di pintu kamar tak juga menerima respons.


"Ada apa?" tanya Phillip yang mendengar keributan di lantai 2. Pria itu segera naik menghampiri para pelayan.


Mereka semua menekuk lutut dan menunduk untuk memberi hormat. "Yang Mulia, kami meninggalkan Miss Watson di kamar mandi karena dia ingin mandi sendiri. Dia memintaku mengisi baterai ponselnya, jadi aku keluar untuk mengambil charger. Tetapi dia mengunci pintunya dan tidak menyahuti kami sama sekali," jawab seorang pelayan.


🐏🐏🐏🐏🐏


**bersambung ke chapter selanjutnya?


minta like dan comment yah guys.. semoga kalian suka chapter ini πŸ™


see ya**...