Marrying The Prince

Marrying The Prince
83


Anastasia kali ini membawa Ferdinand untuk makan di ruang makan perawat yang sepi, di sana tidak ada siapapun, karna perawat dan suster yang lain ada yang sedang bertugas jaga malam, dan ada juga yang mungkin sudah beristirahat tidur.


Kembali mereka makan dalam keheningan, hingga akhirnya selesai, dan Anastasia mulai mencuci piring mereka.


Arah pandang Ferdinand menatap dengan lekat tubuh Anastasia yang sedang mencuci piring


"Pantas saja aku merasa jika kau jauh terlihat lebih kurus An"


"Benarkah?"


Kepala Ferdinand mengangguk yakin. Lalu mulai mengikuti Anastasia yang menuju ke luar dapur, dapur yang juga menjadi tempat dirinya mencuri makanan


"Kita tidur bersama kan?"


Sudut bibir Anastasia berkedut, saat Ferdinand sudah menatapnya dengan penuh permohonan.


Kekehan halus meluncur dari bibir Anastasia. Tangan Anastasia terulur sambil menatap Ferdinand


"Ayo"


Dengan senyum merekahnya yang langsung terbit, Ferdinand langsung menyambut tangan Anastasia.


"Kita kemana?"


Anastasia hanya tersenyum tipis dan terus membawa langkah mereka menuju ke bangunan paling akhir. Di sana ada beberapa pintu yang tertutup, dengan cepat Anastasia langsung membuka satu pintu di sana


Kedua alis Ferdinand terangkat


"Kamar?"


"Hm.. masuklah" Ferdinand langsung mengedarkan arah pandangnya saat sudah masuk ke dalam pintu, di sana ada tiga ranjang yang kosong dan ada tiga lemari dengan satu meja dan kursi. "Nora dan Keren sedang jaga malam. Kau tidurlah di sana" Anastasia menunjuk satu ranjang di dekat jendela. "Itu tempatku"


Sambil terus menilai isi ruangan, suara Ferdinand terdengar


"Kau di mana?"


"Di sini"


Ferdinand mencibik tidak suka saat Anastasia memilih ranjang yang berbeda dengannya. Anastasia yang melihat itu hanya tersenyum tipis, lalu membuka lemari dan mengambil satu gaun


"Kau ingin kemana?"


Sambil melangkah menuju pintu, Anastasia berucap pelan.


"Aku tidak mungkin tidur dengan memakai gaun ini. Tidurlah terlebih dahulu, aku mengganti gaunku sebentar"


Ferdinand kembali mencibik tidak suka sambil berguman keras


"Kenapa memangnya kalau mengganti di sini"


Tapi, Anastasia tetap pergi tanpa ingin menjawab meskipun dia bisa mendengar gumanan itu


Setelah Anastasia keluar kamar, Ferdinand mulai melihat-lihat buku-buku yang menumpuk di atas meja. Lalu melihat-lihat hal lain tanpa berani menyentuhnya. Siapa tahu itu bukan milik Anastasia kan.


Tidak lama pintu kamar kembali terbuka, di sana Anastasia muncul sambil melepas gulungan rambutnya. Ferdinand meneguk ludahnya dengan kasar, sial!


"Tidurlah Dinand"


Sambil melangkah menuju ranjang di sebrang milik ranjang Ferdinand, Anastasia melirik wajah Ferdinand yang sudah mentapnya dengan lapar. Anastasia bergindik ngeri, Semoga dirinya tadi menyesali keputusannya yang membawa Ferdinand ke kamarnya.


Sebenarnya, Anastasia memang berencana membawa Ferdinand ke kamarnya untuk tidur di sana agar Ferdinand yang sudah lelah bekerja membantu mereka, bisa beristirahat dengan tenang. Lagi pula, Ferdinand pasti akan terus memaksanya untuk tidur bersama, dan jika mereka tidur di tenda Ferdinand, kejadian seperti kemarin akan membuat tubuh Ferdinand sakit. Anastasia tidak tega melihat suaminya yang harus tidur dengan posisi yang tidak nyaman hanya karna Frerdinand yang memaksa agar mereka bisa tidur berdekatan.


Sambil mengambil posisi nyaman di ranjang yang penuh dengan aroma Anastasia, Ferdinand melirik Anastasia dari ekor matanya. Di ranjang lain, Anastasia juga sedang mengambil posisi nyamannya.


"An"


Anastasia mulai melempar punggungnya ke atas ranjang


"Hm?"


"Kemarilah"


Rasa gugup tiba-tiba menyerang Anastasia, dirinya hanya berani melirik Ferdinand sejenak


"Tidurlah Dinand"


"Aku ingin memelukmu"


Sialan! Anastasia semakin gugup saat suara lirih dan berat itu mengisi isi kamar.


"Jangan macam-macam Dinand, tidurlah"


"Ranjang di sini jauh lebih tidak nyaman dari ranjang di tenda milikku. Kemarilah An... agar aku bisa tidur"


Sambil menekan kegugupannya, Anastasia membuang nafas panjang lalu mengalah. Baiklah... dia mengalah dan akan mengabulkan permintaan Ferdinand, karna Ferdinand yang hari ini sudah sangat berguna dan bekerja keras.


Melihat pergerakan Anastasia yang mulai bangkit dari ranjangnya, Ferdinand menyeringai.


Dengan sedikit khawatir dan semakin gugup, Anastasia berucap sebelum dirinya semakin dekat dengan ranjang Ferdinand


"Jangan melakukan apapun yang aneh Dinand"


Kepala Ferdinand langsung mengangguk asal, bibirnya terus menyeringai bahkan saat Anastasia sudah berada di sebelahnya


"Ranjang ini sempit, sepertinya aku tidur di-"


"Diamlah dan tidur Ana"


Dengan pasrah, Anastasia langsung mengatupkan mulutnya sambil naik dan tidur di atas ranjang, membiarkan tangan Ferdinand yang langsung melingkar di perutnya tanpa berani menatap Ferdinand. Anastasia berguman saat wajah Ferdinand mulai menyusup di ceruk lehernya


"Kenapa kau datang ke sini Dinand?"


Sepersekian detik keheningan menyelimuti mereka, hingga saat Ferdinand sudah cukup siap untuk mengeluarkan segalanya langsung mengangkat kepalanya. Arah pandangnya langsung menatap dalam kedua manik Anastasia.


"Merindukanmu, meminta maaf, meminta kesempatan, lalu membawamu kembali ke sisiku"


Tangan Ferdinand terulur membelai wajah Anastasia. Anastasia mengigit kuat pipi dalamnya karna desiran di dalam dadanya yang mulai menggila saat Ferdinand berucap lembut dan menatapnya dengan dalam.


"Fer-"


"Maafkan aku Ana, maafkan aku yang selama ini sudah menjadi pria dan suami yang gagal"


Akhirnya, Ferdinand menumpahkan ucapannya dengan penuh sesal. Dadanya mulai terasa berat saat ingatan keburukan dirinya kembali berputar di dalam kepalanya, hingga dirinya harus kembali menyembunyikan wajah di ceruk leher Anastasia.


Senyum tipis Anastasia terbit, Anastasia tersenyum dari hatinya yang berhasil tersentuh karna semua rasa penyesalan Ferdinand. Anastasia tidak perlu menatap wajah Ferdinand untuk mencari ketulusan, dirinya tidak perlu menatap kedua mata Ferdinand untuk melihat kebenaran. Karna rasa tetesan hangat yang tiba-tiba menetes di ceruk lehernya, membuat Anastasia tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca.


Anastasia menggeser tubuhnya untuk menghadap pada Ferdianand yang hanya bisa memiringkan tubuhnya karna ranjang yang terlalu kecil. Tangan Anastasia terulur membelai rambut Ferdinand sambil membiarkan Ferdinand yang masih terus bersembunyi di ceruk lehernya. Bibir Anastasia yang mulai bergerar, berucap lembut


"Aku sudah memaafkanmu sejak lama, aku selalu memaafkanmu, tidak perlu meminta maaf Dinand"


Ferdinand semakin menyembunyikan wajahnya dengan kedua bahu yang mulai bergetar. Anastasia membawa kepala Ferdinand agar semakin merapat, memeluk dengan penuh ke hangatan. Hingga bisikan lirih Ferdinand terdengar dari sela-sela nafas tersengalnya.


"Aku.. aku sangat salah, aku terlalu bodoh. Aku bahkan tidak bisa mengerti perasaanku sendiri, dan lebih bodohnya-" Suara Ferdinand terputus, lalu kembali terdengar dengan suara yang semakin melirih pilu "Aku bahkan tidak mengerti perasaan ku sendiri. Aku... aku mencintaimu Ana. Maafkan semua kebrengsekanku"


Kedua mata Anastasia terpejam kuat, perasaannya benar-benar sangat bekecamuk. Banyak ketakutan, banyak kesakitan, banyak kesedihan, dan juga banyak rasa senang di dalam hatinya tapi, rasa senang saja tidak cukup untuk menutupi semua perasaan buruk lain yang ada di dalam hatinya.


"Kau cengeng sekali"


Kekehan halus meluncur dari bibir Anastasia, menghantarkan rasa hangat ke dalam hati Ferdinand yang berat hingga hati Ferdinand menghangat. Ferdinand mengangkat tangannya, jari-jarinya membelai pipi Anastasia dengan lembut, bibirnya tersenyum hangat, kedua arah pandangnya menatap Anastasai dengan lembut dan hangat


"Aku mencintaimu"


Jantung Anastasia langsung berdegup tidak tahu malu yang membuat sekujur tubuhnya berdesir. Tatapan Ferdinand, sentuhan Ferdinand, suara Ferdinand, telebih ucapan Ferdinand hanya bisa membuat Anastasia membeku dengan perut yang penuh dengan kupu-kupu.


Bahkan, saat tangan Ferdinand mulai menjauhkan tangan Anastasia dari wajahnya, Anastasia hanya diam dan mulai tidak bisa berpikir apapun.


Tatapan Ferdinand berubah, ada segunung rasa rindu yang bergelora di sana, gelora kerinduaan yang juga sudah membekukan pergerakan akal sehat Anastasia. Hingga akhinya, Anastasia hanya bisa membiarkan saat Ferdinand mulai menempelkan bibir mereka dengan sangat lembut tapi juga memercikan api berbahaya


Percikan api yang di mulai Ferdinand, masih berlanjut dan semakin panas saat bibir hangat itu, mulai memangut lembut bibir Anastasia. Terus bergerak dengan lembut tapi juga menjanjikan sebuah kemikmatan.


Anastasia semakin sulit menarik kawarasannya ketika lidah Ferdinand langsung menyusup dan menari di dalam mulutnya. Bahkan dirinya sudah tidak bisa menyadari lagi saat tubuh Ferdinand ternyata sudah berpindah diatasnya


Dengan akal sehat mereka yang sudah sama-sama melayang semakin menjauh, akhirnya membuat Anastasia ikut terhanyut dalam gelombang bergelora yang di berikan Ferdinand.


Pergulatan lidah dan bibir mereka semakin menjadi, hingga nafas Anastasia mulai kesulitan untuk menarik oksigen dengan benar. Ferdinand yang menyadari itu menghentikan gerakannya. Dengan nafas memburu penuh gelora, Ferdinand menatap Anastasia dengan bernafas yang tidak jauh lebih baik darinya.


"Ferdinand..."


Lirihan Anastasia kembali mencambuk segala gelora kerinduaan Ferdinand. Membuat Ferdinand kembali memangut bibir istrinya, kembali menyusupkan lidahnya, dan semakin memperdalam pangutannya. Anastasia hanya bisa membalas sebisannya saat pegulatan mulut mereka sudah semakin berbahaya.


Dengan pelan tapi pasti, Anastasia kembali kesulitan menghirup oksigen. Dan Ferdinand yang juga bisa kembali menyadari itu, dengan lembut dan menjanjikan menurunkan bibir panasnya. Menempel dan mengecupi rahang, leher, hingga ke dada atas Anastasia


Kedua mata Anastasia terpejam dengan tangan yang hanya bisa mengepal. Anastasia yang sudah benar-benar tenggelam dalam gelora, sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menyelamatkan diri.


Pelan tapi pasti, bibir Ferdinand memberikan pergerakan lembut yang penuh janji kenikmatan, janji-janji yang membuat Anastasia terseret semakin jauh dari kesadaran dan akal sehat. Terlebih, saat tangan Ferdinand yang sudah mulai menyusup ke dalam gaunnya.


Tangan panas itu ikut bergerak saat Ferdinand kembali mempertemukan bibir mereka. Anastasia mengerang pelan di dalam mulut Ferdinand saat jari-jari Ferdinand menyentuhnya, menyentuh 'di sana'.


"Ana...."


Anastasia tahu, dirinya tahu bagaimana keadaan Ferdinand sekarang. Dirinya bisa melihat gelora kebutuhan, keinginan, dan semangat kerindungan di kedua bola mata menggelap Ferdinand. Karna dirinya juga sama, dia juga sangat membutuhkan dan menginginkan Ferdinand sekarang.


"An..."


Erangan pelan Anastasia semakin terdengar saat jari Ferdinand semakin bergerak liar


"Di-Dinand"


"Katakan Ana... katakan saja sayang..."


Katakan katanya? yang benar saja! arah pandang Anastasia saja sekarang sudah tidak bisa melihat dengan jelas, lalu apa yang bisa di katakannya selain mulutnya yang hanya bisa mengerang dan mend***h saat jari-jari Ferdinand terus bergerak lincah di dalam gaunnya, di dalam miliknya


Hingga entah sejak kapan Ferdinand sudah membuka baju atasnya, dengan gaun atas Anastasia yang juga sudah membuka seluruh dadanya. Anastasia meneguk ludahnya dengan susah payah, saat tangan Ferdinand menarik diri dari miliknya, dan mempertemukan miliknya dengan milik Ferdinand, milik Ferdinand yang sudah sangat kokoh.


Rasa terbakar, rasa merinding, rasa berdesir terus berputar di sekujut tubuh Anastasia. Ferdinand menatap Anastasia dengan penuh keinginan, kebutuhan, kerinduan, dan permohonan.


Anastasia yang mengerti hanya bisa mengangguk pasrah.


Dengan ijin yang sudah di kantonginya, tanpa ingin membuang waktu, Ferdinand mulai bergerak untuk tenggelam di dalam Anastasia.


Anastasai mengerang saat Ferdinand mulai mendorong dirinya dengan sangat perlahan dan lembut, memperlakukannya dengan sangat hati-hati bagaikan porslen mahal yang rapuh.


Ferdinand berdesis ketika rasa sempit, hangat, dan basah istrinya langsung menyelimutinya


Erangan Ferdinand dan des***n Anastasia mulai saling bersaut sautan, mengisi isi kamar saat Ferdinand mulai bergerak pelan seirama. Terus bergerak, dan terus menaikkan temponya dengan hati-hati dan penuh rasa sayang.


--000--


Anastasia langsung membuka matanya dan tersentak dari posisinya. Tubuhnya hampir jatuh dari atas ranjang jika saja tidak ada tangan Ferdinand yang melingkar di perutnya.


Kedua mata Anastasia mengejap, mencoba menyerap seluruh nyawanya. Hingga saat nyawanya sudah benar-benar terkumpul, Anastasia langsung bangkit dari atas ranjang.


Dirinya meringis saat melihat keadaan kacau di sekitar ranjang. Ooh ya ampun... dirinya benar-benar gila semalam.


Dan yang membuat Anastasia menjadi kehilangan akalnya adalah pria yang masih tertidur dengan tubuh polos di balik selimutnya, sebelah tangannya masih berada di perut Anastasia, cara tidurnya yang damai menunjukkan jika Ferdinand benar-benar sedang manikmati kenyamannya.


"Bangun Dinand!"


PLAKK!


Ferdinand tersentak saat dahinya di pukul dengan kuat. Kedua matanya mulai berbuka saat tangannya di singkirkan dengan kasar.


Dengan nyawa masih setengah sadar, Ferdinand tersenyum menyebalkan saat sudah bisa mencerna keadaan, mencerna pemandangan keadaan Anastasia yang sedang kesulitan mencari gaunnya.


"Ck! sungguh pagi yang romantis!"


Suara sindiran menyebalkan dari Ferdinand, membuat Anastasia langsung menatapnya dengan tajam sambil terus menutupi tubuhnya dengan baju Ferdinand


"Dimana gaunku?"


Dengan acuh dan santai, Ferdinand membuka selimutnya sambil menunjuk ke arah bawah. Dan dengan polosnya, Anastasia mengikuti jari telunjuk Ferdinand yang mengarah pada gaunnya, gaun tidak berdosanya, gaunnya yang melilit di sebelah paha Ferdinand, paha Ferdinand yang tidak mengenakan apapaun


Anastasia yang terkejut langsung membuang wajahnya ke samping, menjauhkan arah pandangnya dari pemandangan tidak baik itu


"Bajingan!"


Dan umpatan kesal Anastasia, langsung membuat suara tawa menggelegar mengisi suara di dalam kamar.


Anastasia mengabaikan suara terbahak Ferdinand, dan lebih memilih mencari gaun apa saja di dalam lemarinya


"Bangunlah Dinand"


Masih dengan sisa-sisa tawa gelinya, Ferdinand melirik Anastasia yang baru saja selesai memasang gaun.


"Sekarang?"


"Tahun depan"


Dengan malas, Anastasia memutar bola matanya sambil melangkah menuju pintu. Meninggalkan Ferdinand yang kembali terbahak.


Saat tanggannya sudah membuka kunci, Anastasia membuka pintu dengan waspada lalu mengintip ke luar sejenak. Di luar, keadaan dini hari masih gelap dan itu membuat Anastasia membuang nafas lega.


Kepala Anastasia menoleh, untuk menatap Ferdinand yang ternyata sudah mengangkat kepalannya dengan satu tangan yang menyanggah kepalanya. Di atas ranjang, tubuhnya yang hanya sedikit tertutupi selimut, sudah miring ke samping sambil mengarah pada Anastasia dengan tatapannya yang langsung mengerling saat arah pandang mereka bertemu. Anastasia kembali memutar bola matanya dengan malas. Apa dia pikir dia sexy apa hah!!


"Bangun dan bereskan semua kekacauan itu Dinand, aku harus mandi dan bersiap"


"Kenapa hanya aku yang membereskannya? kan bukan hanya aku yang membuat kekacauan ini"


Anastasia yang sudah semakin kesal langsung membuaka pintu, dan menjawab Ferdinand dengan bantingan pintu yang kuat.


Ferdinand kembali terbahak geli. Oh lihatlah istrinya yang sangat menggemaskan itu.


\=\=\=💛💛💛💛


Pada ga jelas ya jadwal up-nya? maapken yaa soalnya akhir bulan bikin muket guys


Silahkan jejaknya....