Marrying The Prince

Marrying The Prince
58


Bukan tanpa alasan Anastasia menjadi ragu, bukan tanpa alasan dirinya menjadi gelisah dengan hanya mendapatkan sedikit saja perubahan. Semua itu, adalah bentuk dari hal yang sebenarnya sudah dia perhitungkan dan selalu dia khawatirkan.


Tangan Anastasia kembali bergerak, menarik sebuah laci rahasia yang ada di perpustakaannya. Saat laci itu sudah terbuka, sebuah kotak dari kayu berornamen tersimpan rapih di sana. Anastasia tersenyum kecut saat membuka isi kotak di dalam sana.


Ada begitu banyak surat yang sudah lebih dari satu bulan ini dia simpan, surat dari orang yang sama, dan surat untuk orang yang sama. Dengan dada yang mulai kembali sesak, dirinya membuka sebuah surat yang Anastasia yakini jika itu akan menjadi surat terakhir yang di kirim ke castle mereka, karna sebuah surat pasti akhirnya sudah sampai juga pada tujuan yang sebenarnya.


Anastasia pikir, dirinya sudah beruntung karna saat pulang dari Yorksire, Stefanus mengantarkan surat-surat yang masuk ke castle ini pada dirinya terlebih dahulu. Hingga Anastasia bisa menemukan surat-surat yang langsung membuatnya tidak bisa meyakini dirinya tentang semua hal manis di pernikahannya.


Tangan Anastasia mulai bergerak merobeki satu surat ketika ingatannya kembali saat setelah dirinya menerima dan melihat isi surat-surat itu. Saat itu, dirinya langsung mengambil keputusan untuk menyimpan dan merahasiakan surat-surat itu pada pemiliknya bahkan, Anastasia juga sudah memberikan perintah jika ada surat 'asing' dan untuk semua surat yang masuk ke castle, semuanya harus berikan pada Anastasia terlebih dahulu.


Dirinya pikir, suatu hari surat itu akan berhenti datang jika tidak ada balasan, dengan harapan jika tidak akan surat yang bisa sampai pada pemilik surat. Tapi Yaa... harapan hanya tinggal harapan karna ternyata, melihat dari perubahan Ferdinand selama satu minggu ini padanya sudah cukup menjelaskan jika ada sesuatu yang terjadi, mungkin akhirnya ada surat yang sampai pada Ferdinand, atau yang paling Anastasia takutkan adalah jika Ferdinand tahu dirinyalah yang selama ini menyembunyikan dan melenyapkan semua surat-surat yang tertuju untuknya, surat dari orang yang sama.


Dan jujur saja, setelah membaca isi surat yang datang dua minggu lalu, surat paling terbaru yang Anastasia simpan, dia menjadi yakin jika surat-surat itu tidak akan pernah menyerah untuk berhenti. Pengirimnya tidak akan berhenti mengirim surat karna alasan yang tidak pernah terbayangkan oleh Anastasia.


TOK TOK TOK


"Your Highness"


Suara Ruth yang terdengar dari balik pintu membuatnya segera menyembunyikan semua serpihan dan surat-surat yang masih utuh ke dalam kotak, lalu dengan cepat menutup laci penyimpanan rahasia di sana.


Setelah semua sudah kembali tersembunyi, Anastasia menarik nafas dalam untuk meraup semua ketenangannya, lalu memasang senyum terbaiknya


"Masuklah Ruth"


Pintu segera terbuka dan Ruth langsung masuk dengan sopan


"Sudah saatnya makan siang Your Highness"


Dengan senyum terbaik di bibirnya, Anastasia mengangguk singkat sambil melangkah menuju pintu keluar


"Apa menu hari ini Ruth?" Gerak gerik Ruth yang terlihat tidak nyaman membuat Anastasia menatapnya. "Ada apa?"


"Em... hari ini, ada banyak sekali menu Your Highness"


Alis Anastasia mengerut


"Banyak?"


Kepala Ruth hanya mengangguk singkat sambil melirik Anastasia


"Iya Your Highnesss"


"Kenapa?"


"Maaf Your Highness, saya belum bertanya pada tuan Stefan"


Langkah Anastasia terus berjalan menuju ke ruang makan, hingga langkahnya berhenti saat sudah tiba di ruang makan yang terasa lebih penuh dari biasanya.


Anastasia segera menuju ke meja makan dan mengabaikan dahulu segala pertanyaan di dalam kepalanya. Hingga arah pandangnya menemukan sesuatu yang berbeda di atas meja makan.


"Kenapa ada empat piring?"


Stefan yang sedang mengatur menu-menu dengan sedikit berlarian mendekat pada Anastasia sambil menunduk sopan.


"Ini perintah dari His Highness, Your Highness. Hari ini ada dua tamu yang akan makan siang dan menginap di castle"


Kedua alis Anastasia mengerut sangat dalam hingga menaut, raut wajahnya jelas menunjukkan banyak tanda tanya


"Siapa?"


"Maaf Your Highness, His Highness tidak mengatakan apapun tentang itu. Saya hanya di perintahkan untuk menyiapkan meja makan untuk penyambutan tamu siang ini, dan juga menyiapkan dua kamar untuk tamu menginap"


Nafas pasrah Anastasia berhembus. Bagaimana bisa Ferdinand membuat semua ini tanpa memberitahunya? tanpa memberi tahu dirinya sebagai tuan rumah lain di castle mereka, sebagai penanggung jawab castle, dan sebagai istrinya.


"Your Highness... ada kereta kuda yang baru memasuki gerbang"


Ucapan seorang pelayan yang tiba-tiba datang membuat Anastasia segera melangkah menuju pintu castle.


Dan benar, ada sebuah kereta kuda sederhana yang baru masuk melewati gerbang dengan kuda Ferdinand dan Solar yang memimpin. Anastasia memasang senyum ramahnya, hatinya cukup senang karena sudah cukup lama dia tidak menyambut Ferdinand yang datang ke castle untuk makan siang. Ferdinand yang selalu repot-repot kembali ke castle hanya untuk menemaninya makan siang meskipun kali ini, Anastasia tahu jika Ferdinand datang bukan untuknya.


Ferdinand segera melompat dari kudanya sambil membuang wajah dari Anastasia yang sudah berdiri di depan pintu castle, menyambutnya dengan tersenyum hangat.


Solar segera mengikuti Ferdinand, turun dari kuda, menunduk sopan pada Anastasia, lalu segera menuju ke pintu kereta kuda.


Masih dengan senyum terbaik yang bisa di berikan Anastasia untuk menyambut kedatangan suami dan tamu yang entah siapa, Anastasia mulai melangkah dari undakan tangga depan pintu castle untuk menyambut para tamu


Tapi,


Dalam seketika, kaki Anastasia terhenti, senyum terbaik yang sudah berusaha dia cetak di bibirnya lenyap, lenyap seketika ketika Solar membantu Elsa keluar dari pintu kereta. Belum cukup membuat rasa tidak percaya semua orang di sana, Ferdinand layaknya gentleman sejati, membantu seseorang lagi untuk turun.


Kenna


Dengan raut wajah ramah dan senyum semeringah, Kenna yang tangannya masih terus di gandeng dengan penuh perhatian oleh Ferdinand menatap Anastasia dengan ramah.


"Selamat siang Your Highness"


Sapaan ramah dan sopan Kenna tidak bisa masuk dengan baik ke dalam indra pendengaran Anastasia. Anastasia hanya terdiam sambil menatap Ferdinand, menatap suaminya yang masih juga tidak ingin menatapnya.


Tidak ada kata-kata yang bisa Anastasia jelaskan tentang perasaannya sekarang. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana rasa yang ada di dalam dadanya sekarang.


"Stefan, antar mereka ke kamar"


"Baik Your Highness" Arah pandang Stefan menatap Kenna dan Elsa lalu menunduk sopan. "Mari saya antar nona-nona... Silahkan..."


"Ferdinand-"


"Istirahatlah sebentar Kenna, setelah itu kita makan siang"


Kepala Kenna mengangguk patuh, lalu segera manggandeng tangan Elsa yang semenjak kedatangannya hanya menatap kagum seluruh bentuk castle lalu, menatap Anastasia dengan lekat.


Anastasia masih membatu dan membeku di tempatnya, isi kepalanya tidak bisa berjalan dengan baik, akal pikirannya belum juga bisa mencerna kenyataan apa yang sedang di hadapinya.


Hingga Ferdinand mulai bergerak melangkah mengikuti dari belakang langkah Stefan dan tamu-tamunya. Terus melangkah hingga langkahnya berhenti saat sudah berada di sebelah Anastasia. Dirinya tanpa menatap Anastasia yang hanya terus menatap ke depan sambil berdiri membatu, berbisik pelan


"Mereka akan tinggal di sini. Kurasa dari surat-surat yang selama ini sudah kau sembunyikan, kau sudah pasti tahu apa yang menyebabkan aku harus membawa mereka ke sini"


Dan setelah berucap dengan dingin, Ferdinand kembali melangkah melewati Anastasia. Melewati tubuh Anastasia yang masih terdiam membeku di tempatnya, melewati Anastasia yang sudah meneteskan cairan hangat di kedua pipinya, melewati Anastasia yang sudah mencengkam kuat gaun di dadanya.


"Your Highness?"


"Aku baik-baik saja Carl" Dengan tangan gemetar Anastasia mengusap kasar kedua pipinya. "Aku baik-baik saja" Kembali, Anastasia mengusap pipinya sambil terkekeh. "Kau sudah mengatakan padaku jika penyebab perubahannya karna dia memang sudah kembali pada kekasihnya. Aku sudah siap Carl... aku sebenarnya su-"


Anastasia tidak bisa meneruskan lagi ucapannya saat Ruth, dengan raut wajah yang sedang menahan sejuta perasaan menggenggam tangan Anastasia.


"Ayo kita masuk, Your Highnesss"


Anastasia menelan semua ucapannya, menelan dengan kasar perasaannya sambil mengangguk singkat.


Ruth segera mengikuti langkah tegar Anastasia yang sudah berbalik menuju pintu masuk. Carl yang masih ada di sana menatap beberapa pelayan yang masih ada di sana, mereka semua tampak bingung dan tidak bisa mencerna apapun.


"Kalian semua, jaga Her Highness dengan baik jika tidak ingin 'mulut' Her Majesty terbuka untuk kalian"


Semua palayan di sana langsung membungkuk dalam dengan patuh, mereka semua sangat mengerti tentang ucapan peringatan Carl


Carl kembali menatap ke arah pintu masuk dengan raut wajah datar, lalu melirik Solar yang baru kembali ke depan pintu saat sudah selesai mengawasi pekerjaan pelayan yang sedang mengangkut barang-barang 'tamu' tuannya, jumlah barang-barang yang jelas menunjukkan jika para tamu itu tidak hanya akan hanya tinggal untuk semalam atau hanya dua malam.


"Luar biasa dungu"


Hanya tiga kata itu yang Carl ucapkan sebelum dirinya berjalan melewati Solar yang sudah menunduk dalam sambil memejamkan matanya dengan kuat


--000--


Anastasia dalam diam terus mengiris daging rusa panggang pilihan yang sudah di hidangkan sebagai menu utama siang ini. Dirinya hanya terus bungkam saat suasana di meja makan yang biasanya hening itu, menjadi ramai seperti keramaian di kedai murahan.


Ruth yang berdiri bersama para pelayan di sana hanya bisa menatap Anastasia dengan prihatin. Sudah berulang kali Ruth mengatakan jika Anastasia tidak harus makan di meja makan tapi, saat Anastasia mengatakan jika cepat atau lambat dia juga akhirnya akan tetap menghadapi situasinya sekarang, Ruth hanya bisa pasrah. Keputusan nyonyanya sudah bulat dan dia hanya bisa menahan semua gejolak amarah yang semakin membara saat melihat pemandangan di meja makan.


Ferdinand dengan acuh dan tenang menikmati makanannya dengan sesekali menyambut perbincangan cerita dua orang tamunya. Bahkan Ferdinand tidak ingin repot-repot memakai urutan table manner-nya, dia juga tidak melakukan tatakrama di atas meja, dia juga tidak segan menunjukkan kedekatannya pada Kenna.


Entah apa rasa makanan yang sedang di kunyah Anastasia dengan cara yang anggun di sana tapi, setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya, terus terasa hambar dan terus menyebar rasa nyeri menyesakkan di dalam dadanya


"Your Highness... anda sangat anggun. Sebenarnya tadi saya sudah ingin memperkenalkan diri tapi, saya cukup bingung bagaimana cara memperkenalkan diri dengan cara bangsawan. Apakah anda tidak masalah jika kita langsung saja Your Highness?" Dengan suara girang dan senyum merekah, Elsa segera berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Anastasia. Menyodorkan tangannya yang melayang di atas meja makan yang penuh piring-piring "Saya Elsa adik Kenna, Your Highness"


Hening...


Tidak ada jawaban atau sekedar niat Anastasia yang ingin mengubah arah pandangnya dari piring. Detik-detik hingga menuju menit, tangan Elsa masih melayang di atas meja. Hingga Kenna yang melihat jika Anastasia tidak akan menerima sikap ramah adinya segera menarik tangan Elsa dan berbisik


"Duduklah El"


Elsa berdecak kesal sambil menatap Anastasia dengan kesal


"Tidak sopan sekali mengabaikan keramahan orang lain yang su-"


"Saya sudah selesai Your Highness. Dan ijinkan saya untuk pamit terlebih dahulu"


Anastasia memotong cepat ucapan kurang ajar Elsa, dan tanpa berniat untuk menerima injin dari Ferdinand, dirinya segera mengusap anggun sudut bibirnnya lalu berdiri.


Elsa yang merasa jika Anastasia sangat tidak sopan pada seorang tamu mereka, kembali membuka suaranya dengan lantang


"Apakah begini perlakuan tuan rumah pada tamu Dinand"


"Duduk Elsa"


Kenna yang sudah mendengar jika Ferdinand tidak akan membela adiknya kembali menarik tangan Elsa hingga bokong Elsa mendarat kuat di atas kursi.


"Diam dan duduklah El"


Suara tegas Kenna membuat Elsa berhenti mengangkat bokongnya, tapi tidak dengan mulutnya yang terus mengoceh


Denyutan nyeri di kepalanya membuat Ferdinand membuang nafas panjang. Ekor matanya terus melirik Anastasia yang sudah berlalu pergi tanpa peduli dengan semua ucapan dan kekacauan di atas makan siang mereka.


Kacau? jelas.... ini bukanlah makan siang yang pantas untuk di lakukan bangsawan seperti mereka terlebih.... Ferdinand melirik Kenna yang terus mencoba membuat adiknya diam, terlebih... karna di atas meja makan ini dia sudah membawa tamu super spesial.


Tamu yang Ferdinand tidak pernah pikirkan, jika suatu hari bisa saja akan membuat dirinya kehilangan segalanya, mungkin.... suatu hari nanti.


\=\=\=\=💛💛💛💛


Sudah pada mulai membara kah kalian??? Wkwkwk...


Silahkan jejaknya...