
Beberapa penjaga Fadar Palace mengenali Jane, sehingga mereka menyapanya ketika wanita itu berjalan masuk ke gedung istana.
Jane berusaha membalas sapaan mereka dan tersenyum agar terlihat ramah. Padahal, dia merasakan pedih di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Apa yang Thomas lakukan sama saja dengan penghinaan terhadap wanita.
Matanya berkaca-kaca kala menunggu Phillip di perpustakaan. Dia segera menyekanya begitu mendengar suara pintu di belakangnya dibuka.
"Jane," panggil Phillip. Pria berambut pirang itu mengenakan pakaian resminya. Wajahnya memancarkan kekhawatiran seraya dia menghampiri Jane.
"Hi, Phillip," sapa Jane kaku.
"Apa yang terjadi?" tanya Phillip cemas dan ingin tahu.
"Kuharap aku tidak mengganggumu. Ini sangat memalukan," Jane tidak enak terhadap pria yang sekarang berdiri berhadapan dengannya. Wanita itulah yang seminggu lalu, dengan tegas, ingin pergi ke Alcaz Palace. Kini, dia juga yang datang lagi ke Fadar Palace.
"Tidak sama sekali," Phillip menggandeng tangan Jane. "Ayo, duduklah dulu." Pria itu mendudukkannya di sofa dan dia sendiri duduk di sebelahnya. Dia tahu Jane sedang gundah, dilihat dari kemerahan di pipi dan hidungnya. Namun, dia mau Jane yang bercerita.
"Jika kau tidak mau menerimaku, aku akan pulang ke New York bersama ibuku dan Jill," kata Jane.
"Mengapa aku tidak mau menerima kalian? Aku senang sekali kalian ada di sini. Waktu kau meneleponku dan bilang mau kembali ke sini, aku langsung menyuruh Carrie menjemputmu," Phillip tersenyum tulus.
"Aku... Aku sudah berhenti bekerja di sana," kata Jane. Dia melihat Phillip menunggunya untuk bicara lebih banyak. Jadi, dia melanjutkan. "Aku akan mencari pekerjaan lain bila kau mengizinkan."
"Of course, Jane. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Aku sadar kau juga manusia. Kau butuh kebebasan. Aku tidak dapat mengurungmu di sini terus-menerus. Ya, aku tahu manusia memang beragam. Mungkin kau termasuk orang yang tidak bisa diam," Phillip tergelak. Dia merasa harus menghibur Jane meski sedikit.
Terbukti, Jane tersenyum. "Thanks, Phillip," ucapnya. Jane agak bingung karena Phillip sama sekali tidak bertanya soal pekerjaan apa yang diberikan Thomas dan alasan mengapa Jane memilih undur diri. Hal itu berarti Phillip bukanlah orang yang mau tahu urusan orang lain.
Phillip sendiri memilih untuk tidak bertanya lebih banyak karena baginya, Jane lebih penting. Pria itu hanya ingin wanita pujaannya nyaman tinggal di istananya.
Cukup lama mereka diam dan saling menatap. Suara ketukan pintulah yang membuyarkan suasana.
"Yes, come in, please," sahut Phillip sambil berdiri, diikuti Jane.
Natasha dan Jill mengintip terlebih dahulu sebelum menghambur masuk. Mereka segera memeluk Jane sebagai wujud rasa kangen. "We missed you!" seru Jill.
"Me too," Jane tersenyum kecil. Tidak dapat dipungkiri, dia memang rindu pada Jill sejak adiknya itu mempersiapkan pernikahan dengan Harry. Jill selalu sibuk mengurus dekorasi, undangan, dan sebagainya hingga mereka hampir tidak pernah bertemu. "Jill, I'm so sorry," ucap Jane.
"For what?" tanya Jill heran.
"Kupikir kau tidak akan peduli lagi padaku setelah menikah dengan Harry. "Karena kesal, aku berniat mengenakan pakaian asal-asalan pada pesta pernikahanmu agar para tamu mengecap buruk keluarga kalian. Tak kusangka kalian tetap mau datang ke sini meski aku melakukannya."
Jill tertawa. "Kau kakakku dan aku akan selalu menyayangimu. Mengenai pesta pernikahanku itu, aku tidak peduli apapun pakaianmu, Jane. Aku sudah senang kau mau datang."
Jane memeluk adiknya karena terharu dan gemas.
"Alright then," kata Phillip di tengah keharuan Jane dan Jill, hitung-hitung balas dendam karena Jill juga mengganggu kebersamaannya dengan Jane tadi.
"I'm sorry, Prince Phillip. Kami terlalu senang," ucap Jill malu.
"Tidak apa-apa," Phillip tersenyum ramah. "Karena kalian sudah datang, aku akan pergi dulu. I'll see you later, Jane. Bye, Jill, Mrs. Watson," pamitnya, lalu meninggalkan ketiga wanita itu.
Jill menaik-naikkan kedua alisnya ke arah Jane.
Menyadari ledekan adiknya, Jane tertawa. "Apa yang kau lakukan?"
"Kau tahu dia menyukaimu," Jill menyolek perut samping Jane. "Mom lebih suka kau bertunangan dengan Tom, tapi aku memilih Phillip."
"Yeah, perkembangan yang buruk. Aku tetap pada keputusanku untuk tidak menerima pertunangan ini," jawab Jane. Dia menjatuhkan dirinya ke sofa empuk di belakangnya.
"Are you out of your mind?" Natasha menatap Jane tajam. "Prince Thomas sudah berbaik hati menerimamu di istananya. Mengapa kau sia-siakan kesempatan itu?"
"Please, Mom. Tidak bisakah aku memutuskan sendiri apa yang menjadi hakku?"
"Aku mengerti hakmu, Jane. Aku hanya memberi saran agar kau sadar. Usiamu di atas Jill. Pada usia berapa kau baru mau menikah?"
Jane berdiri lagi. "Kau bukan memberi saran, Mom, melainkan memaksakan kehendakmu. Aku bukan anak kecil yang bisa kau atur," katanya. "Di Vlada memang tidak ada yang menyenangkan. Semuanya membuatku susah."
Natasha menarik napas dan membuangnya perlahan.
"Mom, pikirkan darah tinggimu," Jill mengingatkan ibunya.
"Mom punya penyakit darah tinggi?" tanya Jane.
Jill mengangguk. "Tekanan darahnya di atas seratus tujuhpuluh," jawabnya.
"Kau tidak pernah tahu, bukan?" sindir Natasha terhadap Jane.
Tetapi Jane malah mendengus. "Pantas saja," ucapnya.
"Jane!" Natasha siap menampar Jane. Wanita itu sudah mengangkat sebelah tangannya.
Namun, Jill menghalangi. "Mom!" serunya. Tamparan cukup keras Natasha mendarat di pipinya hingga dia terhuyung dan terjatuh.
"Jill!" Jane berlutut untuk memeriksa adiknya. "Kau tidak apa-apa?"
Jill mengangguk sembari memegangi pipinya yang mulai memanas.
"Aku tidak sengaja..." Natasha sendiri kaget atas apa yang baru saja dia lakukan. Tangannya telah melukai buah hati yang disayanginya. "I'm so sorry, Jill," ucapnya. Dia berlutut dan memeluk Jill.
"Maafkan aku, Jill. Ini gara-gara aku," sesal Jane.
"It's okay. I'm fine," kata Jill menenangkan ibu dan kakaknya. Dia bangkit berdiri.
"Jill, apa perutmu baik-baik saja? Apa perlu ke dokter?" tanya Jane.
"Pipiku yang menjadi korban, Jane, bukan perutku," Jill sudah bisa tertawa kecil.
"Maksudku, mungkin karena kau menegang, jadi janinmu ikut bergerak," Jane mengangkat bahu. "Bisa saja terjadi, bukan?"
"Janin? Aku tidak sedang hamil, Jane."
🐇🐇🐇🐇🐇
**bersambung!
gimana chapter kali ini? tumben ya aku cepet nulisnya wkwkwk~
semoga chapter berikutnya bisa cepet kyk gini lagi.
minta like dan comment yg banyak yah guys.. semoga kalian sukak 😁**