Marrying The Prince

Marrying The Prince
85


Matahari sudah kembali terbit, suara burung-burung bernyanyi sudah kembali terdengar, pekatnya langit malam sudah pergi tergantikan dengan langit pagi yang indah.


Tapi semua keindahan itu tidak bisa di rasakan Anastasia yang sudah kembali berkerja. Sambil mulai membersihkan luka seorang pasien yang kehilangan kakinya, pikiran dan perasaan Anastasia terus melayang entah kemana.


"Nona, anda terlihat pucat"


Suara pasien yang sedang di rawatnya, membuat Anastasia menatapnya sambil memasang senyum diplomatis.


"Benarkah?"


"Iya, pagi ini bahkan kedua lingkaran di bawah mata anda mulai menghitam"


Anastasia terus menggerakkan tangannya dengan cekatan dalam hanya diam sambil tersenyum. Beberapa hari ini dirinya memang tidak bisa tidur karna terus terngiang bagaimana raut wajah Ferdinand saat malam itu.


Hingga akhirnya, luka pasien sudah selesai di balutnya kembali dan Anastasia kembali bersuara.


"Anda masih ingat kan tentang apa yang harus dan yang tidak boleh anda lakukan selama masa pemulihan?"


Pasien itu mengangguk yakin, lalu berucap


"Saya akan selalu mengingatnya nona, karna saya ingin sembuh dan segera kembali pada istri saya"


"Apakah istri anda tinggal di ibu kota?"


Kembali, pasien itu mengangguk sambil tersenyum.


"Kami memang tinggal di perbatasan ibu kota. Dan saya harap, semoga istri saya tidak kecewa dengan kecacatan saya"


Sambil merapikan semua peralatannya, Anastasia tersenyum dan bersuara


"Tentu saja tuan, istri anda pasti bangga memiliki suami gagah berani seperti anda. Sekarang dia pasti sedang terus menunggu kepulangan anda"


Anastasia berucap lembut, dan menatap pasiennya dengan penuh keyakinan. Pasien itu tersenyum malu-malu sambil menatap jauh kedepan.


"Anda benar, istri saya memang selalu menunggu saya. Dia tidak pernah absen untuk mengirim surat"


Kepala Anastasia mengangguk mengerti sambil mulai bergerak untuk mendorong trolly, dan suara pasien itu kembali terdengar


"Istri saya juga mengatakan jika seburuk apapun dan serusak apapun keadaan saya sekarang, dirinya pasti akan tetap menerima saya. Karna dia sangat mencintai saya"


Pergerakan Anastasia terhenti sejenak, arah pandangnya menatap pasiennya yang sudah mencetak bibir penuh senyum bangga. Bibir Anastasia yang entah kenapa menjadi terasa keluh, berucap lirih


"Iya, karna istri anda... mencintai anda"


--000--


Solar melirik Ferdinand yang sedang membaca surat balasan dari Francia. Raut wajah Ferdinand entah kenapa dari tadi kemarin selalu membuat perintah di Solar hanya berisikan 'berhati-hati'


Solar tahu sesuatu pasti terjadi, terlebih garis besar segalanya raut wajah buruk Ferdinand itu pasti karna Anastasia. Tidak perlu di ragukan lagi, karn semenjak satu tahun kehilangan istrinya, raut wajah seperti ini yang sering Solar hadapi. Dan raut wajah itu kembali dalam beberapa hari ini.


"Satu minggu lagi terlalu lama"


Akhirnya, suara Ferdinand terdengar. Dan Solar kembali melirik Ferdinand dengan takut-takut sambil berucap dengan hati-hati, sangat hati-hati.


"Apa saya perlu mengecek ke daerah konflik?"


Tangan Ferdinand bergerak, meraih pemantik, dan mulai membakar surat


"Tidak perlu, tunggu saja di sini"


Sambil menatap kertas yang mulai terbakar, Solar mengangguk patuh


"Baik, Your Highness"


"Sol"


"Iya??"


Solar menatap Ferdinand yang langsung berdiri ke depan jendela, arah pandangnya mentap langit malam yang pekat.


"Aku adalah pria egois yang saat sudah menginginkan sesuatu, tidak akan pernah menyerah. Meski aku harus menghabiskan seluruh hidupku untuk meraihnya"


Kedua mata Solar mengejap-ngejap, dirinya menatap Ferdinand dengan bingung


"Pardon Your Highness?"


Tiba-tiba, suara kekehan dingin Ferdinand meluncur dari bibirnya, dan itu membuat Solar langsung bergindik.


"Aku hanya belum sempat mengatakan itu kemarin malam"


Setelah berucap, Ferdinand langsung melangkah pergi. Meninggalkan Solar yang hanya bisa menatapnya dengan kebingungan.


Langkah Ferdinand langsung menuju tenda-tenda para pasien, dirinya mencari satu persatu keberadaan Anastasia di dalam tenda. Hingga siapa yang di carinya ketemu, dan Ferdinand langsung tersenyum saat Anastasia menatapnya.


"Kau belum merawatku"


Tanpa memperdulikan tatapan pasien yang menatap langkahnya, Ferdinand berucap santai sambil menuju ke tempat Anastasia.


"Iya, sabar ya.... sebentar lagi ya"


"Ok"


Dengan sabar, Ferdinand menarik sebuah kursi untuk dirinya menunggu di sana. Arah pandang Ferdinand terus mentap setiap gerak gerik Anastasia, terlebih raut wajah istrinya.


Beberapa menit hingga puluhan menit Ferdinand menunggu, akhirnya Anastasia menyelesaikan pekerjaannya dan langsung mendorong trolly


"Ayo"


Ajakan Anastasia membuat Ferdinand dengan patuh langsung mengikutinya. Kali ini, langkah Anastasia membawa Ferdinand ke kamarnya. Satu alis Ferdinand menukik saat melihat arah langkah mereka. Anastasia yang menyadari tatapan penuh tanya Ferdinand berucap pelan.


"Setelah ini aku ingin langsung beristirahat"


Kepala Ferdinand mengangguk paham


"Tentu saja"


Setelah masuk ke dalam kamar, Ferdinand langsung menuju ranjang Anastasia dengn Anastasia yang langsung menuju jendela. Tangan Anastasia bergerak untuk membuka jendela sambil berucap


"Aku ambil peralatan dulu"


Ferdinand mengangguk dan langsung melepas sepatunya, melempar tubuhnya ke atas ranajang Anastasia, sambil mengendusi setiap aroma menyenangkan yang ada di atas ranjang.


Tidak lama Anastasia kembali muncul sambil membawa nampan peralatan. Dirinya yang baru saja meletakkan nampan menatap ke arah ranjang, di mana di sana Ferdinand terlihat sedang memejamkan kedua matany. Senyum hangat Anastasia terbit, dirinya mandaratkan bokongnya ke sisi ranjang sambil berucap lembut


"Apa kau ingin tidur dulu?"


Dengan kedua mata yang masih terpejam, Ferdinand mengangguk singkat


"Aku sangat lelah. Rasanya sangat sulit untuk tidur beberapa hari ini"


Tangan Anastasia terulur untuk mengusap rambut Ferdinand


"Kalau bergitu tidurlah dulu"


Dengan kedua mata yang masih terpejam, kepalanya menoleh untuk mengarah pada sisi ranjang


"Tidurlah juga" Ferdinand menggeser tubuhnya, membuat ruang di sebelah ranjangnya. "Kau terlihat sangat pucat Ana"


Anastasia kembali tersenyum hangat, tangannya berpindah untuk mengusap pelan wajah Ferdinand. Ferdinand yang belum mendapatkan jawaban untuk tawaran tidurnya, berucap sambil membuka sebelah matanya



Beberapa saat mereka saling menatap, hingga akhirnya Anastasia membuang nafas panjang dan menarik tangannya dari wajah Ferdinand. Kaki Anastasia bergerak untuk melepas sepatunya dan mulai mengambil gerakan untuk naik ke atas ranjang.


Ferdinand semakin menggeser tubuh kekarnya, memberi ruang yang cukup untuk istrinya. Setelah dirinya yakin jika ranjang kecil itu sudah memberikan ruang cukup nyaman untuk istrinya, Ferdinand meletakkan sebelah tangannya ke perut Anastasia.


Anastasia hanya diam saat tangan lebar Ferdinand mulai mengusapi perutnya dengan lembut, sambil menyusupkan wajah ke tengkuk Anastasia.


Saat semakin lama merasakan usapan lembut dan hangat di perutnya, entah kenapa tiba-tiba rasa nyeri mulai merayap di dalam dada Anastasia. Anastasia menggigit bibirnya untuk menahan rasa nyeri itu tapi, semakin dirinya menahan rasa nyeri itu, rasa nyeri itu malah semakin menyesakkan. Hingga mulut Anastasia berucap lirih


"Jika aku tidak salah hitung, usianya saat itu tiga belas minggu"


Tangan Ferdinand terhenti. Berhenti mengusap perut Anastasia dan semakin menyusupkan wajahnya ke tengkuk Anastasia dengan memberikan pelukkan erat. Anastasia membuang nafas panjang dan kembali bersuara.


"Saat itu, selama dua minggu perjalanan dari Naderland ke African. Setelah melewati dua minggu lebih perjalanan yang melelahkan dan tidak nyaman, kami tiba di African. Dan saat tiba, ternyata kedatangan kami langsung di sambut dengan kedatangan banyak pasien perang yang baru tiba. Kami yang baru tiba tidak bisa langsung beristirahat dan langsung bekerja. Berhari-hari pasien selalu datang, yang membuat kami tidak bisa beristirahat bahkan hanya sekedar untuk memejamkan mata. Di hari ke empat kedatangan kami, saat aku baru akan menuju kamar, kata suster Bernadeth aku sempat pingsan. Dan saat aku bangun, suster Bernadeth mengatakan jika aku mengandung, tapi-"


Ferdinand yang mulai merasakan guncangan di kedua bahu Anastasia, akhirnya membuka suara.


"Tuhan hanya lebih sayang padanya An, itu bukan salahmu"


"Tapi, jika saja aku tahu. Jika saja aku mengerti tentang perubahan suasana hati dan tubuhku, aku pas-"


"Sstt... jangan menyalahkan dirimu. Ini salahku, semua di mulai karna aku"


Ferdinand langsung menyambar ucapan Anastasia dengan dada yang terasa sesak, tangannya semakin mengeratkan pelukkannya pada Anastasia. Anastasia mengigit bibirnya dengan kuat untuk menahan tangisnya, hingga saat merasa jika dirinya sudah sedikit mulai tenang, Anastasia kembali bersuara.


"Maafkan aku Ferdinand, maafkan aku yang tidak bisa menjaganya"


Akhirnya, setelah susah payah menahan tangisnya, isakan Anastasia tetap meluncur juga dari mulutnya.


Dan suara isakan itu ikut membuat dada Ferdinand semakin nyeri. Segala rasa sesal di dalam hatinya semakin merayap hebat di dalam perasaannya, segala perasaan menyesal membuat kedua mata Ferdinand ikut menggenang.


"Karna itu Dinand, aku tidak bisa kembali lagi. Aku tidak-"


"Diamlah Ana, diam dan tidurlah. Kau membuatku jadi tidak bisa tidur"


Sekuat tenaga Ferdinand berucap dan membuat suara datar di dalam ucapannya. Dirinya harus membuat Anastasia berhenti menangis dan berucap, karna jika tidak dirinya juga pasti bisa ikut menangis.


--000--


Langit malam ini cukup indah karna taburan bintang. Ferdinand kembali melirik ke arah jendela yang terus memberikan angin malam. Sesekali tangannya bergerak mengusap punggung telanjang istrinya, dan sesekali bibirnya mendarat di sebelah bahu atau kepala Anastasia.


Bibir Ferdinand tersenyum penuh kemenanangan saat mengingat bagaimana dirinya yang berhasil menggoda dengan di bumbui sedikit paksaan pada istrinya. Istrinya yang akhirnya mengalah dan pasrah di dalam serangan menggebu birahinya.


Bibir tersenyum penuh kemenangan itu berubah menjadi seringai, saat dirinya mengingat bagaimana liarnya dia saat menyenangkan istrinya. Istrinya Anastasia yang akhirnya hanya bisa terus memekik dan mengerang puas karna dirinya.


Tangan Ferdinand kembali mengusap lembut punggung halus penuh bekas luka samar Anastasia. Rahangnya mengetat ketika membayangkan jika Anastasia kecil yang manis itu, bisa terus mendapatkan siksaan hingga semua jejak luka di tubuhnya tidak bisa menghilang dengan benar.


Apa ini bekas luka cambukan? ya.. itu pasti cambuk karna jejak-jejak itu jelas terlihat seperti guratan dari bekas pemukul kerbau.


Tubuh Anastasia menggeliat pelan, yang membuat Ferdinand semakin mengusap punggung Anastasia, berharap jika istrinya bisa kembali tidur, tapi


"Oh sialan!!"


Anastasia mengerang saat dirinya baru akan menggerakkan kakinya, tubuhnya, dan pinggulnya. Yaa Tuhan.. rasanya sangat pegal dan lelah. Dan semua rasa tidak nyaman di tubuhnya itu, akhirnya membuat Anastasia bisa mengingat semuanya. Semua hal yang siang tadi mereka lakukan.


"Kenapa?"


Suara berat dan bibir yang mendarat di sebelah bahunya, membuat Anatasia kembali mengerang. Kali ini, suara erangannya sangat tersirat mengandung rasa kesal. Sialan Ana! siapa yang ingin kau salahkan hah! kau sendiri yang akhirnya mengalah karna tidak tega melihat wajah penuh kebutuhan dan wajah penuh permohonan suamimu.


"Sialan!"


Umpatan Anastasia yang kembali terdengar membuat sudut bibir Ferdinand tertarik ke atas. Istirnya pasti sudah bisa kembali mengingat semuanya.


"Kenapa mengumpat sayang?"


Ferdinand bertanya dengan nada menyebalkan, dengan tangan yang mulai mendarat di bokong polos istrinya. Anastasia yang merasakan tangan besar yang mulai mer*m*si bokongnya tersentak, dan langsung mencoba melompat dari atas ranjang tapi, Ferdinand langsung menahan pinggang Anastasia


"Mau kemana?"


"Lepas Dinand, sebentar lagi Nora dan Keren pasti kembali"


"Sebenar lagi"


Anastasia tidak mendengarkan permintaan Ferdinand, dirinya tetap bergerak untuk mencoba membalik tubuhnya yang sedang dalam posisi bertelungkup. Saat sudah berhasil membalik tubuhnya dengan susah payah, Anastasia berhenti bergerak untuk menghela nafas panjang karna tubuh pegalnya dan terasa cukup sulit bergetak. Ekor matanya melirik Ferdinand yang sudah mengangkat kepalanya dengan satu tangan, arah pandang Ferdinand terus menatapnya


"Kenapa?"


Ferdianand bertanya, sambil menggerakkan sebelah tangannya ke sebelah dada Anastasia, dengan tidak berdosa menangkup sebelah dada Anastasia.


"Ayo bangun, aku lapar"


Mendengar ucapan Anastasia, senyum geli Ferdinand terbit. Benar... mereka memang belum makan siang dan malah bekerja keras tadi.


"Oke"


Anastasia memutar bola matanya saat kata 'oke' Ferdinand tidak sesuai dengan ucapannya.


"Singkirkan tanganmu jika oke"


Akhirnya, dengan sangat enggan Ferdinand terpaksa menyingkirkan tangannya. Dengan perlahan Anastasia mulai mengangkat tubuhnya dan well... seperti tebakannya, jika sekujur tubuhbnya sangat kaku karna telalu pegal.


Rasa kasihan Ferdinand tibul saat melihat Anastasia yang meringis saat mulai bergerak, pergerakan tubuhnya juga sangat terlihat kesulitan.


"Apa yang sakit?"


"Hmm.. hanya terasa pegal"


Dengan hati-hati Ferdinand membantu Anastasia yang sudah mulai memasang gaunnya, tangannya ikut membatu memasangkan kancing-kancing gaun Anastasia.


"Apa aku tadi terlalu berlebihan?"


Anastasia yang di tanya hanya melirik ke depan, pada wajah Ferdinand yang tampak sangat fokus pada tali-tali gaun di dadanya.


"Apa menurutmu tidak?"


Ferdinand mengerling menyebalkan saat Anastasia sudah menatapnya dengan satu alis menukik.


"Sebenarnya tidak, tapi jika kau tidak suka, lain kali aku akan bermain pelan dan lembut"


Ucapan Ferdinand membuat Anastasia harus berdehem beberapa kali karna malu. Sialan! Anastasia yang memulai pertanyaan tapi dirinya sendiri yang menjadi malu hingga wajahnya terasa memanas.


Satelah selesai memasangkan tali-tali gaun Anastasia, Ferdinand yang melihat wajah bersemu merah istrinya terkekeh, dan langsung mendaratkan ciuman gemas di sebelah pipi Anastasia.


"Jangan malu-malu... kau terlihat sangat menggemaskan"


Anastasia langsung mendorong dada Ferdinand untuk menjauhkan jarak mereka, lalu mulai kembali bergerak untuk turuh dari ranjang sambil berucap


"Bangunlah Dinand"


Dengan gerakan malas, Ferdinand segera bangkit dan merenggangkan otot-ototnya sejenak, lalu langsung melompat begitu saja dari atas ranjang. Tubuh polosnya dengan tidak tahu malu berkeliling mencari baju dan celanannya. Anastasia yang melihat itu ikut mencari baju dan celana Ferdinand sambil menahan matanya agar tetap bisa fokus untuk mencari. Sial! suaminya memang tidak punya rasa malu!


\=\=\=❤❤❤❤


Setelah absen berhari-hari akhirnya bisa balik mikir.... Badan eike masih greges-greges pegel guys, tapi flu-nya sudah baikan. Makasi doa dan semua saran-nya yaa... komen2 dukungan kalian sangat membangkitkan semangat eike.


Silahkan jejaknya...