Marrying The Prince

Marrying The Prince
39


Di pagi hari yang terasa buruk ini, Anastasia hanya duduk berdiam diri di kamar yang akan di tinggalkannya. Para pelayan masih sibuk berjalan kesana kemari untuk mengangkut kotak-kotak baju dan semua keperluannya.


"Your Highnesss"


Ruth mendekat pada Anastasia yang di lihatnya masih termenung


"Iya Ruth?"


"His Majesty memanggil anda"


Ucapan Ruth, membuat Anastasia langsung menegakkan bokongnnya untuk segera melangkah.


Sambil berjalan ke arah pintu, Anastasia yang menjadi sedikit gugup karna mendengar Raja memanggilnya melirik Ruth


"Kira-kira, kenapa His Majesty memanggilku Ruth?"


Ruth menjawab dengan gelengan kuat. Dan Anastasia hanya bisa menerka-nerka apa yang ingin di katakan Fredrick padanya.


Tapi, saat Anastasia sudah di depan pintu keluar kamar, sesosok manusia yang membuat perasaan Anastasia buruk pagi ini membuat dahinya mengeryit.


Ferdinand dengan tersenyum canggung sudah menunggunya.


"Ayo An"


Anastasia mengangguk pasrah, dan saat Ferdinand sudah memberikan sikutnya, dirinya hanya diam dan lebih memilih terus melangkah.


Mengabaikan Ferdinand....


Dengan gusar, Ferdinand membuang nafas panjang. Dia tidak akan heran jika Anastasia akan memberikan gestur canggung dan penolakan seperti sekarang padanya. Dia memang cukup kelewatan semalam, dan saat dirinya sadar dengan kelakuannya, Anastasia sudah menghilang masuk ke kamar. Bahkan, saat Ferdinand mengetuk pintu penggubung kamar mereka dengan menjatuhkan seluruh martabatnya, pintu itu tidak pernah terbuka.


Ferdinand mengejar langkah Anastasia yang tetap anggun walaupun Ferdinand tahu, jika langkah yang di ambil Anastasia adalah langkah paling lebar yang bisa di gapai kakinya. Anastasia pasti ingin menghindarinya.


"Setelah ini, kita harus berbicara An"


Ucapan Ferdinand hanya di jawab Anastasia dengan anggukan singkat dan acuh. Bahkan Anastasia tidak ingin repot-repot menatapnya.


Ferdinand kembali gusar....


Dengan berjalan sejajar tapi penuh dengan jarak, akhirnya langkah mereka sudah sampai di depan ruang kerja Raja Fredrick. Ruth yang sedikit kesulitan karna mengikuti langkah cepat dua orang di depannya dengan sedikit terlambat menuju pintu ruang kerja Fredrick. Untuk memberitahukan kedatangan Anastasia dan Ferdinand


TOK TOK TOK


"Your Majesty, ini His Highness dan Her Highness"


"Masuklah"


Suara perempuan yang menjawab membuat Ruth langsung membukakan pintu.


Anatasia langsung memberikan Ferdinand langkah terlebih dahulu. Dan setelah masuk, ternyata di dalam ruangan itu ada banyak orang.


Fredrick, Victoria, para Putri, Jeremmy, Tomy, Carl, Lucas dan Solar.


Fredrick mengangguk pada mereka yang langsung melangkah menuju kursi di meja panjang. Anastasia langsung duduk saat Jeremmy sudah menarik kursi untuknya, duduk di sebelah Ferdinand yang langsung menggeser kursinya ke samping untuk mendekat pada kursi Anastasia.


Dahi Anastasia mengeryit.


Ferdinand duduk tenang dan mengabaikan semua tatap aneh padanya. Karna sebenarnya, dia juga tidak tahu kenapa dia melakukan tindakan 'penggeseran kursi' itu. Ferdinand melirik Anastasia yang terlihat terganggu dengan aksinya, tapi sekali lagi, Ferdinand tidak peduli.


"Putri Anastasia, sudah saatnya kau memilih kesatria yang akan kau bawa" Fredrick menatap Ferdinand. "Solar ku kembalikan padamu"


Senyum merekah langsung tercetak di bibir Ferdinand. Fredrick yang melihat senyum itu hanya melengos dan kembali menatap Anastasia yang tampak bingung.


"Pilihlah siapapun yang kau inginkan Putri, kecuali Jeremmy"


"Dan Tomy"


Francesca langsung ikut berbicara menimpali ucapan Fredrick. Fredrick hanya tersenyum geli sambil melirik istrinya yang hanya menggelengkan kepalanya. Lagi pula, Fredrick juga tidak akan merekomendasikan kesatria super datar seperti Tomy untuk Anastasia.


Dengan bingung, Anastasia menatap semua wajah di depannya kecuali Fredrick. Lalu berpikir sejenak dan melirik Carl sebentar.


"Maaf... saya... emm... saya.. tidak tahu Your Majesty"


Victoria yang melihat kebingungan Anastasia ikut membuka suara


"Atau kau ingin melihat dulu kesatria emas angkatan Solar? Mereka juga ada yang seusia dengan mu. Kau bi-"


"Ma...."


Ferdinand langsung menyerobot ucapan Victoria. Victoria menaikkan satu alisnya sambil menatap Ferdinand dengan lekat


"Kenapa?"


"Lebih baik kesatria emas senior"


Lagi, alis Victoria menukik lebih tinggi sambil menatap Ferdinand penuh selidik.


"Kenapa?"


"Hanya...." Ferdinand yang juga tidak tahu kenapa, menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Hanya lebih baik jika itu kesatria emas senior"


"hhhmmmmm"


"Kau benar Vic, kesatria untuk Putri Anastasia nanti akan selalu bersamanya. Selain menjaga dan melakukan tugas dari Putri Anastasia dia juga pasti akan menjadi orang yang menemaninya. Jadi memang lebih baik jika usia mereka tidak terlalu jauh"


Dengan santai Fredrick berucap sambil melirik istrinya yang mengangguk-nganggukan kepala dengan cara dramatis. Lalu melirik Ferdinand yang jelas sekali ingin kembali menolak, tapi dia hanya bisa menelan semua penolakkannya karna Fredrick yang sekarang sudah berbicara.


Anastasia menggigit bibirnya sambil kembali melirik singkat ke arah Carl yang hanya berdiri diam.


"Jika boleh, saya ingin berkenalan dan melihat kesatria emas yang sama dengan Solar, Yo-"


"Carl, Carl saja An"


Mulut Anastasia yang belum menyelesaikan ucapannya kembali mengatup sambil menoleh pada Ferdinand. Pada Ferdinand yang memotong ucapannya dengan tidak tahu diri.


"Kenapa kau selalu ikut berbicara Dinand?"


Kali ini, Summer ikut berbicara sambil menatap Ferdinand dengan sinis. Ferdinand mencibik dan memilih mengabaikan Summer untuk menatap Fredrick.


"Karna Ana terus melirik Carl, papa. Tapi Ana pasti tidak akan berani meminta Carl, karna Carl adalah 'kesayangan' mama"


Ucapan Ferdinand langsung membuat Carl meringis. Sialan! Ferdinand benar-benar membuat masalah untuknya!


Dan benar, karna sekarang Fredrick sudah menoleh pada Carl sambil menatapnya tajam.


Victoria dan Jeremmy langsung memutar bola mata mereka dengan malas. Francesca menipiskan bibirnya. Summer terkekeh geli. Ferdinand menyeringai penuh kemenangan.


Dan Anastasia hanya menatap bingung semua raut wajah setiap orang.


"Sebenarnya ada apa ini?"


"Bersiaplah Carl"


Mutlak! Dua kata dari Fredrick sudah memberikan keputusan sepihak untuk semua orang. Telebih untuk Anastasia yang harusnya menyuarakan keinginannya sendiri.


Dan ini... kemenangan untuk Ferdinand. Dia sangat tahu jika ayahnya yang pecemburu buta itu akan sangat mudah di sulut api.


Setelah menetapkan pilihan kesatria yang di pilih.... Raja. Mereka berbincang santai layaknya sebuah keluarga bersama para kesatria yang ada di sana


Sesekali mereka saling menyudutkan, sekali mereka saling melempar kekesalan, sesekali mereka terbahak, dan sesekali mereka saling beradu argumen tapi, hanya Francesca yang tidak ikut berbicara ketika Ferdinand membuka percakapan.


Francesca dan kekecewaanya, tidak akan mudah untuk memaafkan.


Dan semua orang sangat tahu itu, terlebih Ferdinand. Ferdinand yang hanya bisa terus menahan perasaannya saat Francesca tidak menyambut candaannya. Bahkan, Francesca tidak ingin sedikitpun menatapnya.


Anastasia yang melihat kehancuran nyata pada dua saudara kembar itu hanya terus melirik Ferdinand yang terus memasang wajah baik-baik saja. Meski semua orang juga tahu, jika perasaan Ferdinand tidak sedang baik-baik saja.


---000---


Di perjalanan kereta kuda untuk menuju castle Chasambord, Anastasia terus melirik Ferdinand yang hanya diam sambil menatap keluar jendela. Sesekali Ferdinand memejamkan matanya dan kembali menatap keluar jendela, sesekali Ferdinand membuang nafas berat dan kembali menatap keluar jendela. Dan pemandangan itu, akhirnya membuat Anastasia mengalah dan mengabaikan rasa marahnya yang masih tersimpan.


"Suatu hari nanti, Putri Francesca pasti akan kembali pada anda"


"Kapan?"


Masih dengan menatap jendela, Ferdinand bertanya dengan lirih.


"Saat rasa kecewanya sudah hilang. Saat anda juga kembali kepadanya"


Kali ini, Ferdinand menatap Anastasia yang menatap keluar jendela.


"Aku.... Aku tidak pernah pergi darinya"


Bibir Anastasia tertarik hingga bibir ranum itu menipis. Menandakan jika dia sedang menahan kekesalan.


"Benarkah?"


Ucapan Ferdinand yang di jawab Anastasia dengan satu kata penuh makna membuat Ferdinand tertengun. Jauh di dalam lubuk hatinya, jauh dari ego-nya, Ferdinand tahu kesalahannya tapi....


Ya tapi dan tapi.... Ferdinand akan selalu memiliki 'tapi' untuk semua kesalahan nyata yang di perbuatnya.


Dan Anastasia yang melihat keterdiaman Ferdinand hanya bisa menelan perasaannya. Ferdinand, tetap akan mempertahankannya,


Kenna... Ferdinand tidak akan pernah mengorbankan Kenna. Ferdinand akan tetap memilih Kenna, meski dia harus menukarnya dengan segala hal. Di mulai dengan, Ferdinand yang sudah menukar separuh jiwanya.


Anastasia menggigit pipi dalamnya ketika kenyataan itu kembali menghantam hatinya.


Setelah ucapan akhir Anastasia yang tidak lagi di jawab Ferdinand, keheningan kembali menyelimuti di dalam kereta kuda yang hanya terisi Anastasia dan Ferdinand. Hingga tanpa terasa, pergerakan kereta kuda berhenti dan kusir mengatakan jika mereka sudah tiba di tujuan.


Ferdinand dengan sigap langsung keluar dari kereta kuda saat Solar sudah membukakan pintu untuk mereka. Layaknya gentleman sejati, Ferdinand menunggu Anastasia untuk keluar dan membantunya.


Anastasia menapaki kakinya di tanah halaman castle Chasembord. Arah pandangnya menatap bangunan megah yang menjadi castle terbesar dan termegah ke dua di Francia itu.


Dengan perasaan berkecamuk, Anastasia mulai merapalkan doanya. Doanya agar Tuhan selalu memberinya kekuatan karna setelah ini, dia akan kembali berjuang untuk meraih impiannya. Anastasia menoleh pada Ferdinand yang juga masih menatap bangunan castle.


Mimpi dan masa depannya.....



\=\=\=❤❤❤❤


Silahkan jejaknya....