Marrying The Prince

Marrying The Prince
74


Setelah menyebar rasa teror untuk Kenna yang sekarang sudah tampak sangat ketakutan. Seorang pelayan yang sudah melihat kehadiran Francesca langsung menunduk sopan dan tanpa ingin mengulur waktu, segera pergi dari sana.


"Jangan tinggalkan aku"


Tangan Kenna menahan lengan pelayan itu, yang membuat langkah pelayan itu berhenti sejenak, lalu melirik Francesca, dan langsung menyentak kasar tangan Kenna agar terlepas.


Kenna yang melihat penolakan kasar yang di lakukan seorang pelayan, terlebih setelah apa yang terjadi, langsung menatap pelayan itu dengan tajam. Tapi dengan acuh pelayan itu tetap pergi, dan Kenna mulai meneriakinya


"Ku bilang jangan pergi!"


Tapi percuma, karna pelayan itu tetap pergi dan pintu kembali tertutup. Ketakutan Kenna kembali, saat melihat Tomy yang sudah mengunci pintu dari dalam. Tangannya semakin kuat mencengkam selimut dengan arah pandangnya yang menatap Francesca. Francesca yang sedang mengitari ruang kamar Ferdinand.


"Aku tidak akan berbasa basi nona Kenna"


Akhirnya, Francesca kembali membuka suarannya di keadaan kamar yang mencekam. Francesca dengan segala sikap dingin dan datarnya sangat menakutkan untuk Kenna. Bibirnya yang bergetar kembali berguman


"Yo-your Highness?"


Francesca mengambil langkanya untuk mendekat kembali di sisi ranjang, arah pandangnya menatap Kenna dengan dingin, dan bibirnya berucap dingin


"Aku punya pilihan untukmu" Dengan rasa takut di dalam hatinya, Kenna hanya diam menunggu Francesca yang memang belum selesai berbicara. "Bunuh janin itu"


"Apa?"


Mulut Kenna berucap sambil menatap Francesca yang sudah menatapnya dengan tajam. Dan Francesca yang mengerti kebingungan di tengah-tengah rasa takut yang membuat otak Kenna menjadi lambat, kembali mengulang ucapannya


"Aku memberikan kesempatan untukmu membunuh sendiri isi yang ada di rahimmu itu, atau adikmu akan menggantikannya"


Kedua mata Kenna membulat terkejut


"A-apa maksut anda?"


Dengan datar, suara Francesca kembali berucap


"Jika kau tidak membunuh janin itu, adikmu yang akan menerima neraka dari ku sebagai bayaran atas kehadiranmu. Aku pastikan adikmu akan berumur panjang untuk terus menerima segala kesakitan yang ada di dunia ini"


"Apa maksut anda! mana mungkin saya membunuh anak saya sendiri! apa salah saya!"


Francesca yang paling malas untuk berbasa basi itu, mengeluarkan sebuah pita rambut di depan wajah Kenna, pita yang sangat Kenna tahu


"Elsa..."


"Sekarang dia masih baik-baik, tapi jika kau salah memilih, maka neraka akan menunggungnya"


"Jahat! anda sangat jahat! kenapa kalian melakukan ini pada kami!"


Tangan Francesca melempar asal pita di tangannya, lalu menatap Kenna dengan dingin, sangat dingin


"Jika kau memilih adikmu dan membunuh janin itu sendiri, maka His Majesty akan melepas kalian. Tapi jika kau tetap ingin mempertahankan janin itu, maka adikmu, kelanjutan hidup janinmu dan dirimu sendiri akan kami seret ke dalam neraka dunia ini, nona Kenna. Kami akan membuat setiap detik hidup kalian menjerit kesakitan"


Tangan Kenna semakin gemetar, punggungnya menggigil ketakutan, tapi dia tidak akan mudah menyerah. Mana mungkin dia mengikuti tawaran gila seperti itu


"Dinand tidak akan membiarkannya, jika dia tahu apa yang kalian-"


"Ferdinand sekarang sedang sibuk memohon di kaki His Majesty sambil menangis darah agar tidak di pisahkan dengan istrinya" Francesca menjedah dan mendekat pada Kenna yang langsung mencoba memundurkan tubuhnya. "Dia bahkan akan rela memotong lehernya sendiri jika di perlukan. Lalu apa kau pikir dia akan peduli lagi pada janin terkutuk itu?"


Dengan ketatukan yang terbalut rasa kesal, Kenna memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata abu-abu yang sudah menatapnya dengan segala ketidak pedulian Francesca.


"Tidak mungkin! Ferdinand sangat-"


Ucapan Kenna terhenti saat Francesca mengangkat sebuah botol yang berisi cairan bening. Francesca yang melihat kebungkaman Kenna, kembali berucap


"Dan pilihanmu?"


Francesca menjauhkan kembali tubuhnya dari Kenna, tangannya meletakkan botol itu ke atas nakas. Air mata Kenna sudah mengalir dari kedua matanya, arah pandangnya menatap nanar botol itu. Botol yang sedikit banyak dia pahami jika itu berisi sesuatu yang bisa membunuh janinnya, pasti.


"Bagaimana bisa anda membuat seorang ibu memilih untuk membunuh anaknya sendiri? anda juga seorang perempuan, anda pasti mengerti bagaimana kasih sayang seorang ibu pada anaknya"


Kali ini, separuh bibir Francesca kembali tertarik ke atas di wajah super datarnya.


"Aku bukan seorang 'perempuan' nona Kenna-" Francesca menarik kedua bahunya dengan tegap, menautkan kedua tangannya dengan anggun ke depan perut, menaikkan dagunya dengan angkuh ke atas, sambil berucap dingin dengan nada tajam. "Aku adalah Putri Mahkota kerajaan Francia. Jangan lancang dengan menyebutku sebagai seorang perempuan"


Kenna tahu itu, tanpa perlu mengatakan siapa dirinya dengan penuh segala kehormatannya Kenna sudah sangat tahu jika gadis di depannya itu, bukanlah hanya seorang 'perempuan' biasa. Dia adalah manusia yang tidak akan memiliki hati untuk orang-orang yang di anggapnya musuh dan perusak. Dia adalah segala hal yang bisa di lihat Kenna dari Raja Fredrick yang kejam. Karna itu, Kenna yang merasa putus asa semakin menangis. Dirinya menangis untuk meminta sedikit belas kasih, Kenna berharap.


"Tolong Your Highness. Jangan paksa saya dengan pilihan kejam itu. Saya berjanji akan pergi dan menghilang bersama anak ini dan adik sa-"


"Selama ini His Majesty sudah terlalu berbaik hati membiarkanmu untuk mencicipi kebebasan bersama janin dan adikmu. Apa yang kau pikirkan selama ini nona Kenna? apa yang kau pikirkan tentang kami? kau pikir kami ini siapa hingga selama kau merusak segalanya kami hanya diam saja? apa yang kau pikirkan tentang kami ketika kami selama ini sudah menggenggam hidup dan masa depan janin itu? Jangan naif nona Kenna! kami membiarkan kehadiranmu dan kehadiran janin itu agar semuanya berjalan sesuai rencana His Majesty. " Telunjuk Francesca terangkat menunjuk ke arah perut Kenna. "Permainan sudah selesai, kehadiran kalian sudah tidak di perlukan lagi"


Suara isakan putus asa dan ketakukan Kenna semakin kencang mengganggu telinga Francesca, karna itu Francesca kembali berucap.


"Lakukanlah nona Kenna. Ini kebaikan yang kami berikan sebagai sesama manusia"


Kenna menaikkan arah pandangnya saat seseorang mendekat. Tomy mendekat sambil menyodorkan botol itu pada Kenna yang sudah tenggelam di segala rasa keputusasaan dan ketakutan. Kenna menatap Francesca sekali lagi, mencoba meminta belas kasihnya tapi, Francesca sudah berjalan dan hanya menunjukkan punggungnya, menunjukkan ketidak peduliannya


Akhirnya, dengan semua pemikiran buruk yang bisa di lakukan istana pada adiknya, terlebih dia dan janinya yang tidak akan memiliki masa depan bahagia jika Kenna keras kepala. Tangan Kenna mulai terangkat, tangan gemetarnya terangkat menuju ke arah botol yang sudah menggantung di tangan Tomy, di depan wajahnya.


Francesca yang sudah tidak menatap lagi ke arah Kenna dan hanya menatap jauh ke luar jendela, berguman datar


"Pilihan bijaksana"


Kenna tidak pernah membayangkan jika dirinya akan berada di posisi mengerikan seperti ini. Bermimpi dan terlintas sedikitpun tidak pernah di dalam kepalanya tentang bagaimana kekejaman dan kelicikan keluarga Ferdinand yang sebenarnya. Bahkan mereka membiarkannya selama ini untuk tujuan mereka yang entah apa. Padahal dia adalah ibu dari janin yang hidup dari darah Ferdinand. Cucu His Majesty, dan keponakan Her Highness. Tidakkah mereka punya sedikit saja rasa belas kasihan? Kenapa mereka bisa dengan mudahnya ingin melenyapkan darah mereka sendiri? Mereka.... orang-orang yang sangat mengerikan.


Saat tangan gemetar Kenna sudah meraih botol pembunuh janinya, botol pilihannya, botol untuk menyelamatkan adiknya yang tidak bersalah, botol yang akan menjadikannya pembunuh anaknya sendiri. Arah pandang buram Kenna menatap lekat botol itu, dengan sekuat nyawanya, dengan menguatkan segala tekatnya, tangan gemetar itu membuka penutup botol dengan sangat pelan.


Tetesan demi tetesan air mata Kenna terus meuncur membasahi kedua pipinya, suara isakannya semakin memilukan, sekujur tubuhnya berteriak untuk berhenti, tangannya semakin gemetar saat mengangkat botol itu ke bibirnya.


Dan saat itulah, dengan anggun Francesca membalik tubuhnya, dan mulai melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Dengan pelan, tangan cantik itu membuka pintu dan segera melangkah menuju ke tangga. Di sana Stefanus sudah menunggu.


"Your Highness"


"Malam ini dia akan kesulitan. Awasi dia dengan baik, setelah dia sedikit membaik, kirim mereka ke tempat itu"


Stefanus mengangguk paham


"Baik Your Highness"


Langkah Francesca terus turun dari tangga untuk menuju ke ruang tamu, dimana Summer sudah menunggu dan langsung menyambutnya


"Bagaimana Frans? apa dia bersedia untuk pergi dengan cara damai?" Francesca hanya mengangguk sebagai jawaban. Summer yang melihat itu membuang nafas lega dan kembali bersuara. "Lagi pula kemarin kandungannya juga sudah keguguran, apa lagi yang ingin dia pertahankan. Semoga Tuhan memberikan hidup yang lebih baik untuknya"


Sambil melangkah, Francesca hanya diam dengan wajah datarnya yang akan menyimpan dan menyembunyikan apapun hal kejam dan licik dari mata adik kesayangan mereka. Summer terlalu lemah untuk melihat bagaimana gambaran asli istana dan semua Trone rules yang penuh tipu muslihat dan kekejaman mengerikan. Dia dan keluarganya akan menjaga adiknya tetap bersih dan naif, karna hanya Summer adalah harapan mereka untuk bisa melihat seorang manusia dan perempuan normal yang hidup menyandang nama darah yang mengalir dari kekuasaan utama Francia.


Tangan Francesca menggandeng tangan Summer yang langsung membalas genggaman tangan saudarinya. Sambil bersenandung girang tanpa beban, Summer melangkah menuju ke kereta kuda yang sudah di bukakan Lucas dan Keelft.


*


*


*


"His Highness akan sadar, kesatria Solar"


Solar segera mengangguk dan masuk ke dalam pintu. Arah pandangnya langsung tertuju pada ranjang, menatap sesosok tubuh yang penuh perban sedang berusaha beradaptasi dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar.


"Selamat siang, Your Highness"


Setelah bisa membuka matanya dengan penuh, Ferdinand mengejap-ngejap mencoba mencerna sekitar dan mencoba mengingat segala hal yang terlewatkan. Hingga tubuhnya tersentak untuk bangun saat nama seseorang langsung masuk dan ngisi penuh segala isi kepalanya.


"Ana"


Sambil membuang nafas panjang, Solar menahan tubuh Ferdinand yang memaksakan untuk bangun. Mendorong pelan agar tubuh remuk penuh perban itu kembali menempel ke ranjang


"Jangan bangun dulu, Your Highness. Tubuh anda belum pulih. Rusuk anda juga ada yang patah"


"A-na.. Ana.."


Solar mengabaikan gumanan yang terus terucap dari mulut Ferdinand bahkan selama dia belum sadar. Solar lebih memilih mengambil gelas air dan langsung menyodorkan pada Ferdinand


"Aku bilang Ana, bukan air"


Kembali, Solar mengabaikan dan dengan sedikit memaksa menempelkan gelas pada bibir Ferdinand yang masih penuh luka. Ferdinand akhirnya pasrah dan mulai meneguk air karna ternggorokannya juga terasa bagai penuh dengan pasir


Setelah isi gelas tandas, Solar kembali menempelkan punggung Ferdinand pada ranjang dengan hati-hati. Solar masih terus diam meski di dalam hatinya sangat takjup pada tubuh Ferdinand. Setelah mendapatkan pukulan demi pukulan mematikan dari Raja, ternyata Ferdinand masih bisa hidup walaupun ada beberapa tulangnya yang harus masuk ke bengkel perawatan kesehatan.


Ceklek!


Suara pintu yang di buka, membuat kepala Solar menoleh, dan Ferdinand langsung menatap ke arah pintu, berharap jika istrinya yang muncul tapi,


"Masih hidup ternyata..."


Fredrick masuk bersama Jeremmy yang langsung kembali menutup pintu. Dengan wajah santainya, arah pandang tidak bersahabat Fredrick menatap keadaan tubuh Ferdinand. Di dalam hatinya, Fredrick meringis saat melihat jika anak sialan itu memang anaknya! Lihatlah bagaimana Ferdinand yang masih bisa bertahan bahkan bisa di bilang cukup baik-baik saja saat menerima kemurkaannya. Well... berarti Arthur memang tidak pernah menukar putranya dengan bayi lain, sepertinya Fredrick akan kembali di bully saat ke Albany.


Dalam kebungkaman, Ferdinand hanya menatap ayahnya dengan tatapan penuh selidik. Mencoba mencari tahu apa yang di pikirkan ayahnya yang hanya menatap tubuhnya dengan santai.


"Hhmm... harusnya aku menggunakan senjata kemarin. Ternyata tangan saja tidak akan cukup untuk membuatmu setidaknya tidak sadarkan selama berbulan-bulan. Walapun aku berharap kau mati. Ck! targetku gagal"


Fredrick terus berucap sendiri, terus mengeluh sendiri, terus merancau sendiri, terus menyesali sendiri. Seolah dirinya memang tidak senang melihat putranya yang baik-baik saja dan tidak mati. Ferdinand yang mendengar setiap keluhan dan sesal ayahnya hanya diam, apa harusnya dia mati saja? tapi... jika kematiannya membuat ayahnya bahagia, kalau begitu dia tidak akan mati sebelum ayahnya mati.


"Jadi, sudah siap mendengarku?"


Ucapan Fredrick langsung membuat Solar menyingkir dengan sopan, langkahnya langsung menuju ke tempat di mana Jeremmy berdiri. Jeremmy yang juga mendengar itu langsung mendekat para Fredrick. Sedangkan Ferdinand masih diam, bukan hanya karna dia malas untuk membuka mulut, tp juga karna memang mulutnya yang penuh luka terasa sakit. Fredrick yang menyari kesulitan putranya untuk menjawab, hanya mengedipkam kedua bahunya dengan acuh. Lalu menyendekan bokongnya pada pinggiran meja dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Jer"


Tangan Jeremmy langsung merogoh saku mantelnya, dan langsung memberikan apa yang keluar dari mantelnya pada Fredrick. Setelah benda itu sampai di tangan Fredrick, dengan raut wajah santai, tangan Fredrick terayun, melempar keras sebuah perkamen tepat ke wajah Ferdinand.


"Buka dan tanda tangani, oh.. stempel jangan lupa"


Ferdinand tidak perlu bertanya perkamen itu tentang apa, karna di dalam kepalanya, dia sudah mengutuk benda itu, bahkan dia tidak sudi membaca isinya. Dengan susah payah Ferdinand bangkit untuk mengangkat punggungnya. Saat sudah berhasil menyenderkan punggungnya di kepala ranjang sambil meringis dan dengan nafas yang mulai sakit, Ferdinand membuka suaranya.


"Tidak akan pernah"


Satu alis Fredrick menukik tinggi


"Beri tanda tangan dan stempelmu dengan cepat. Kardinal Abraham akan kembali lagi ke Roman besok"


Setelah berucap, Fredrick langsung berbalik dan tidak menoleh lagi tapi,


Brak!


"Walaupun anda membunuh saya sekalipun, saya tidak akan pernah menyetujui pembatalan pernikahan"


Fredrick melirik perkamen yang sudah tergeletak di atas lantai setelah sebelumnya di lempar dengan kuat. Lalu kembali berbalik, menatap Ferdinand dengan santai


"Atas dasar apa kau tidak ingin menyetujuinya? istrimu sudah tidak bersedia melanjutkan permainan rumah-rumahanmu, Vatican sudah menyetujuinya. Apa yang kau punya dan bisa kau janjikan Dinand?"


Dengan kedua tangan yang terkepal karna menahan rasa sakit di dalam dadanya, mulut Ferdinand terbuka sambil berucap lirih


"Saya punya cinta dan akan berjanji untuk memperbaiki segalanya-" Ferdinand menjedah untuk menarik nafasnya yang sesak. "Saya bersumpah demi seluruh hidup saya, demi gelar kesatri saya, saya bersumpah akan menjalankan sumpah pernikahan dengan otak yang waras dan hati yang tulus. Saya bersumpah tidak akan pernah menyekiti Anastasia lagi, tolong Your Majesty....."


Dengusan kasar Fredrick meluncur dari hidungnya, dengan sangat malas, Fredrick kembali membuka suaranya


"Sudah ku bilang, jika Putri Anastasia tidak bersedia lagi bersamamu. Dia sudah menyerah pada pernikah ini"


"Tapi saya tidak, saya tidak akan menyerah"


Fredrick memutar bola matanya dengan malas


"Kau ini tidak mengerti bahasa manusia Dinand? Aku-"


"Tolong panggikan Anastasia ke sini Your Majesty. Saya tahu, jika ini lancang, tapi saya sedang tidak bisa berlari untuk mengejarnya, jadi tolong biarkan saya berbicara padanya"


Dan suara yang penuh dengan permohonan yang di ucapkan dengan susah payah itu, membuat seringai Fredrick terbit. Kedua bola mata abu-abunya menatap Ferdinand dengan penuh hinaan.


"Sayang sekali, Anastasia sudah tidak ada di sini. Walaupun aku juga tidak sudi untuk membawanya untukmu"


Ucapan Fredrick membuat jantung Ferdinand berdegup kencang. Desiran segala rasa takut langsung menyambar setiap sel di dalam darahnya.


"A-apa maksutnya?"


Sambil kembali berbalik untuk menuju pintu yang sudah di bukakan Jeremmy, suara Fredrick terdengar


"Putri Anastasia sudah meninggalkan Francia, atau mungkin Eropan. Atau bahkan sudah ke bulan...?? Entahlah Dinand...."


Dan setelah berucap, Fredrick langsung keluar tanpa menoleh lagi. Tapi suaranya kembali mengisi ruangan


"Ahh iya... jangan lupa perkamennya Dinand, serahkan padaku dengan cepat agar kau bisa juga cepat bisa menikahi wanita itu, aku tidak peduli lagi pada hidupmu. Lakukan apa saja yang kau sukai, dan selamat sudah menjadi seorang ayah"


Saat Fredrick sudah selesai berucap, Jeremmt langsung menutup pintu, dan berguman pelan


"His Highness akan menangis darah"


Sambil mulai melangkah untuk menuju ruang rapat, Fredrick bersenandung girang, membiarkan Jeremmy yang menatapnya dengan raut wajah penuh selidik


\=\=\=💜💜💜💜


Waktu liat Vote ternyata WOW! udah banjir.... makasih ya buat semuanya yang sudah dukung karya ini, terlebih buat semuanya yang masih bertahan di sini sampe skrg, sayang banyak2 buat kalian semuanya...


Silahkan jejaknya...