
Betapa terkejutnya Jane sampai dia langsung melirik ibundanya, Natasha, yang kini tergagap. "Mom? Bisa kau jelaskan semuanya?" tanya Jane.
"Y-Ya... Aku bisa menjelaskannya..." Natasha mundur selangkah. Air mukanya berubah ketakutan.
Jill bingung, tidak mengerti maksud Jane meminta penjelasan ibunya. "What's wrong?" tanyanya kepada 2 orang di depannya.
"Mom, kau bohong padaku. Kau bilang Jill sedang hamil, tapi ternyata tidak," Jane sangat tegas untuk urusan kejujuran.
"Benar. Jill tidak sedang hamil. Aku telah membohongimu. Aku minta maaf, Jane."
"Untuk apa kau melakukannya?"
"Aku hanya ingin memotivasimu supaya kau segera menerima perjodohan ini."
Jane mendengus. "Sudah berapa kali aku bilang, Mom. Ini hidupku. Aku berhak menentukan siapa yang akan menjadi suamiku nanti. Apa kau mau aku tidak bahagia?"
Natasha berusaha mendebat. "Tidak semua orang bahagia dengan pasangan pilihannya, Jane. Kalau kau tidak mau menerima perjodohan ini sekarang, tidak apa-apa. Tapi aku minta kau tinggal dulu di sini sampai saatnya kau benar-benar memutuskan akan menikah dengan Tom."
"Mom, aku mengerti posisimu sebagai kawan baik Lady Grace, tapi Tom sendiri tidak mau dijodohkan. Lalu, untuk apa kau berusaha sebegitu besarnya supaya aku mau menerima ini?"
Menyadari tepukan Jill di pundaknya, Natasha menarik napas dan menghembuskannya pelan. "Aku tenang, Jill, tidak perlu khawatir," katanya, lalu beralih kembali ke Jane. "Baik, Jane. Semua terserah padamu. Kau mau menerima atau tidak perjodohan ini, keputusan berada di tanganmu. Kurasa tugasku sebagai ibu sudah selesai. Kau bisa berbuat sesukamu tanpa memikirkan aku," Natasha mengangguk. "Sekarang aku mau keluar. Aku tidak mau membahas soal ini lagi, tapi aku ingin mengingatkanmu bahwa aku tak lagi muda. Permisi," ucapnya. Wanita anggun itu keluar ruangan dengan gaya angkuh.
"Phew! Akhirnya pembicaraan ini selesai!" seru Jane. "Aku akan pulang ke New York. Kau mau ikut?" tanyanya pada Jill.
"Jane, apa kau tidak mau memikirkannya lagi?" tanya Jill. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Kupikir apa yang dikatakan Mom ada benarnya."
"Kau membela Mom sekarang?" tanya Jane datar.
"Bukan begitu. Mom sudah berusia limapuluh tahun, usia rentan penyakit. Yang tadinya belum terasa sakit, kini mulai menjadi hambatan meski semangatnya masih ada. Dia jadi mudah stres karena belum menerima penyakitnya, dan itu akan memperparah tekanan darahnya."
"Apa yang ingin kau katakan?" Jane masih tidak menangkap maksud adiknya.
"Kau jangan marah dulu," kata Jill mengantisipasi.
"Tidak, aku tidak marah," Jane mengangkat bahu.
"Begini. Aku setuju dengan Mom. Ini bukan soal uang yang seolah-olah kau dijual ke Kerajaan Vlada. Aku tahu sekarang kau nyaman dengan hidupmu. Kau memiliki pekerjaan bagus, masih bisa berkumpul dengan teman-temanmu, dan sebagainya. Tapi, apa yang akan kau lakukan jika semua temanmu menikah dan meninggalkanmu? Menurutku, kau pun berhak bahagia seperti mereka nantinya, dengan seseorang yang sudah pasti menyayangimu. Mom hanya ingin kau merasakan kebahagiaan yang orang lain rasakan."
"Apa kau mengerti arti kata 'tidak sekarang'?"
"I know, I know. Maka dari itu Mom memberikan waktu padamu untuk mengenal para pangeran itu. Siapa tahu kau benar-benar jatuh cinta pada salah satunya," Jill tersenyum. "Mom juga tidak gila hingga menyuruhmu menikah besok."
Jane tergelak. "Nasihatmu lebih bisa dimengerti daripada ocehan Mom," ujarnya.
"Kadang-kadang kupikir kau lebih cocok jadi adikku."
Perkataan Jill membuat Jane tertawa. "Come here," dia memeluk adik satu-satunya erat.
"Jangan lupa, Jane! Mom memintamu mendekati Thomas, tapi aku lebih suka Phillip."
Jane melepaskan pelukannya. "Kenapa harus mereka berdua yang menjadi pilihannya? Bisa saja aku nanti menyukai salah satu penjaga istana."
"You're kidding, right? Kita jauh-jauh ke sini hanya untuk bertemu dengan penjaga istana?"
"I'm outa here," Jill sudah berbalik pergi meninggalkan Jane.
"Hey, wait!"
🥦🥦🥦🥦🥦
Tidak dapat dipungkiri dan Jane tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa dia betah di Fadar Palace. Semua orang di sana baik padanya. Apalagi, dia dilayani bak putri istana.
Kalau dipikir lagi, selama ini Jane bekerja keras demi mengisi perut dan belanja segala kebutuhannya. Di Fadar Palace, seluruh keinginannya terpenuhi. Namun, tanpa dia sadari, hal itu membuatnya menjadi bosan.
Hubungannya dengan ibunya, Natasha, berangsur baik. Mereka tak lagi berdebat soal perjodohan. Natasha membiarkan Jane memutuskan sendiri masa depannya dan Jane sedikit menuruti kemauan ibunya untuk memikirkan soal laki-laki.
Phillip tak selalu ada di istana. Setelah sarapan, biasanya pria tampan itu segera melaksanakan tugas negaranya sebagai seorang pangeran. Terkadang dia harus menyeberangi lautan dalam rangka kunjungan negara. Dia juga sering mengadakan rapat dengan beberapa staf pemerintahan.
Jane mengirim pesan kepada Phillip. Dia hanya ingin meminta izin untuk keluar rumah bersama ibu dan adiknya. Wanita itu tidak ingin mengganggu Phillip dengan menelepon. Ya, siapa yang tahu apa yang Phillip lakukan. Bisa saja pria itu sedang bertemu Donald Trump atau Joko Widodo kala ponselnya berbunyi. Jane tidak mau mempermalukan Phillip di hadapan petinggi penting dunia, tetapi dia harus menunggu lama untuk menerima balasan pesannya.
"Yes! Thank you, Phillip!" seru Jane yang segera bangkit dari tempat tidurnya. Dia keluar untuk mencari Jill. Ditemukannya adiknya itu sedang bersama Harry di taman belakang. Jane menghampiri mereka. "Hey, Jill, Harry," sapanya.
"Hello," balas Harry, suami Jill yang tidak pernah sekalipun mengobrol dengan Jane selama ini. Penampilan pria itu sungguh biasa, rambut coklat, mata hitam, badan kurus. Bahkan, dia nampak seperti ayah yang ada dalam film keluarga. Apalagi dia sekarang mengenakan polo shirt. Entah apa yang menarik dari pria ini di mata Jill.
"Kulihat kalian sedang bersantai sambil minum teh, tapi apa kalian mau keluar?" tanya Jane. Tadinya dia hanya mau mengajak Jill, tapi apa ruginya menambah satu orang.
Jill menoleh pada suaminya. "What do you think, babe?"
"Okay," jawab Harry.
"Kami akan bersiap-siap. Apa Mom ikut?" tanya Jill.
"Aku baru saja mau ke kamarnya. Sepuluh menit lagi?"
"Yeah," Jill mengangguk.
Jane beranjak ke lantai 2, di mana kamar Natasha berada. Dia mengetuk pintu beberapa kali. Karena tak ada jawaban, dia memutar gagangnya. "Mom," panggilnya sambil menyembulkan kepalanya ke dalam. Dia segera terkejut ketika melihat Natasha sedang memperhatikan foto seorang pria. Dia mengenali foto itu. Segera saja dia mendekati ibunya. "Mom, what are you doing?" tanyanya.
🎭🎭🎭🎭🎭
Bersambung ke chapter selanjutnya!
Hayo foto siapakah itu? Hehehe...
Kalian suka cerita kayak gini nggak sih? Aku sih nulis2 aja, siapa tau ada yg suka wkwkwk~
Menurut kalian, gimana karakter Jane, Phillip, dan Thomas? Kalian suka karakter siapa?
minta like dan comment yah! wajib comment lhooo! biar aku bisa perbaiki kalo ada salah 😎
Semoga aku bisa lanjut nulis secepatnya yah. Doakan saya supaya rajin 😁
Makasih yah guys.
See ya...