
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim berganti musim, tahun berganti tahun. Sampailah pada saat di mana segalanya berubah.
Tutup botol champagne terlontar dan semua orang bertepuk tangan. Para pelayan menuangkan champagne ke gelas masing-masing tamu undangan.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas sutera berwarna biru navy berdiri, lalu mendentingkan garpu ke gelasnya. "Aku ingin mengajukan toast untuk pasangan yang sedang berbahagia ini, Harry dan Jill. Sebagai seorang paman, tentu aku sangat bahagia bisa menyaksikan pernikahan mereka. Aku mengenal mereka sejak mereka berusia belasan tahun. Mereka adalah salah satu bukti nyata dari cinta sejati yang tidak bisa dipisahkan oleh waktu. To Harry and Jill. Congratulations!"
Tepuk tangan kembali meriuh di ruangan besar dan tertutup itu. Musik pun diputar dan sebagian besar tamu turun ke lantai dansa. Pasangan pengantin tak mau kalah. Mereka semua berjoget gembira mengikuti irama musik.
Duduklah sendirian seorang wanita cantik di meja paling ujung dekat pintu keluar. Gaun yang dikenakannya tergolong berani. Bukan hanya karena berwarna putih mutiara, tetapi juga karena potongannya menunjukkan kemolekan tubuh si pemakai. Model mini dengan belahan dada rendah menjadikan wanita itu selalu menjadi target lirikan para pria.
Namun, untuk ukuran suasana pesta, wanita itu terlalu muram. Kecantikannya terasa kurang bersinar dikarenakan ekspresinya yang datar. "Tuangkan lagi," pintanya kepada seorang pelayan di belakangnya.
Pelayan itu memenuhi permintaan sang wanita. Dengan hati-hati, dia menuangkan champagne ke dalam gelasnya yang telah berkali-kali kosong.
Wanita itu minum sampai habis. "Tuangkan lagi. Wait!" sergahnya sebelum pelayan menuangkan champagne. "Berikan saja botolnya."
"Baik. Saya permisi," pamit sang pelayan setelah memberikan botol champagne yang masih setengah terisi kepada wanita itu.
🥂🥂🥂🥂🥂
Mual di dalam perutnya tak tertahan. Segera saja wanita yang sedari tadi menghabiskan 3 botol champagne berlari ke toilet wanita. Sepatu high heels-nya dicopot dan dipegang dalam perjalanan agar memudahkannya berlari.
Dia beruntung toilet dalam keadaan kosong, terlihat dari terbukanya semua pintu bilik, sehingga dia tidak perlu mengantri. Dia masuk ke dalam bilik yang paling dekat dan memuntahkan isi lambungnya di lubang kakus. Terbatuk-batuk, dia berusaha mengambil napas. Air mata dan lendir hidungnya tak tertahankan. Sudah dapat dipastikan make up-nya luntur.
Setelah menekan tombol flush, dia beranjak keluar menuju deretan wastafel di depan cermin besar nan mewah. Dia membersihkan bekas muntahan di sekitar mulutnya, lalu membasuh keseluruhan wajahnya. Warna lipstik merah di luar bibirnya seolah menunjukkan dia habis berkelahi. Tidak peduli dengan lunturan eyeliner yang membuatnya terlihat seperti panda, dia melepaskan jepit cantik berhiaskan zirkon putih dari rambut warna ginger panjangnya. Sekarang dia nampak berantakan.
Dia merogoh saku dress-nya dan mengambil permen mint yang telah dia siapkan sebelum berangkat ke pesta. "Good job, Jane. You look like a slut," gumamnya kepada bayangannya sendiri seraya mengunyah permen, lalu membuangnya ke tempat sampah. Senyum miring disunggingkan di wajahnya. Bukan senyum bahagia, namun getir. Air matanya sebentar lagi tumpah.
Tiba-tiba, Jane mendengar erangan seseorang. Dia terlonjak. Bulu kuduknya langsung naik seperti kucing yang sedang mempertahankan diri. Dia berbalik. Tidak mungkin ada orang lain di sana karena semua pintu bilik terbuka. Tidak mungkin seseorang buang air tanpa menutup pintu, pikirnya.
Erangan kembali terdengar. Kali ini lebih keras daripada sebelumnya.
"Who's there?" tanya Jane waspada. Dia berusaha tetap sadar karena pengaruh alkohol masih ada dalam darahnya. Tidak membawa tas ke dalam toilet, dia melihat hiasan vas bunga berukuran sedang di pojok wastafel dan memutuskan untuk menggunakannya sebagai senjata. Selangkah demi selangkah, dia berjalan menuju sumber suara. Sampailah dia di bilik paling ujung dengan pintu terbuka, namun di dalamnya ada seorang pria yang sedang tertidur pulas.
Posisi pria itu duduk bersandar di atas kakus tertutup. Kepalanya tertunduk lemas. Dia mengenakan setelan jas tidak dikancing warna hitam dan sepatu pantofel hitam. Tiga kancing paling atas kemeja putihnya terbuka, memperlihatkan sebagian bidang dadanya. Kedua tangannya lunglai di samping kiri kanan kakus.
"Sir?" panggil Jane. Masih memegang vas bunga di tangan kanan, tangan kirinya menepuk bahu pria itu. "Sir, are you okay?"
Pria itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. Kedua matanya tidak dapat melihat jelas.
"Sir, ini toilet wani..."
"Aaaaarrrgghhh!"
Teriakan pria itu membuat Jane terkejut setengah mati. Refleks, dia melempar senjatanya ke depan, tepat mengenai dahi kiri pria yang baru saja ditemuinya itu. Vas terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
"Ouch!" Pria itu mengaduh memegangi dahinya. Beruntung vas bunga tidak pecah ketika mengenai kepalanya. "You're crazy! Shit!" Dia tak henti-hentinya mengumpat. Yang dikiranya hantu, ternyata hanya seorang wanita pengganggu.
Jane menutup mulut dengan tangannya sendiri. Matanya terbelalak. "I'm sorry, Sir. Aku tidak sengaja," ucapnya.
Pria itu bangkit. Tak disangka-sangka, tubuhnya tinggi besar setelah berdiri tegak. "Kau menggangguku!" serunya dengan suara berat. Air mukanya mengeras. Matanya menajam.
Jane mundur selangkah. Rasa takut menjalar dalam dirinya karena membayangkan apa yang dapat pria itu lakukan padanya. "I'm so sorry, Sir. Aku tidak bermaksud membangunkanmu, tapi kau berada dalam toilet wanita," katanya cepat.
"Aku sengaja tidur di sini agar tidak ada yang menemukanku."
"Tidakkah kau salah tempat? Para wanita sebentar lagi akan datang untuk memperbaiki make up mereka setelah berdansa. Kalau bukan aku, merekalah yang akan menemukanmu."
Beberapa detik kemudian, terdengar canda tawa para wanita dari luar toilet.
"Benar kan?" tanya Jane.
"Kau salah kalau berpikir aku tidak dapat menghindari mereka," kata pria itu, lalu menarik tangan Jane untuk masuk bersamanya ke dalam bilik. Dia mengunci pintu dan menghimpit Jane ke tembok.
"What are you do..."
Ucapan Jane terhenti oleh ciuman pria yang tidak dikenalnya, tepat pada saat para wanita masuk ke dalam toilet. Napas berbau alkohol dapat tercium di hidungnya.
Pria yang sedang mabuk itu memeluk erat tubuh Jane yang terasa mungil baginya, tidak membiarkannya bergerak sedikitpun. Dia menatap mata Jane dengan penuh intimidasi dan ancaman.
Terpaksa Jane menuruti kemauan pria itu. Dia tidak lagi meronta, berharap pria itu segera melepaskan ciumannya.
Namun, yang terjadi kemudian berada di luar harapan. Salah satu dari wanita itu menemukan sepatu Jane dan mempertanyakannya kepada wanita lainnya. Dimulailah pencarian terhadap pemilik sepatu itu. Satu persatu bilik diperiksa, hingga mereka menemukan pintu bilik terakhir yang tertutup. Mereka mengetuk pintu itu. "Someone there? Kami menemukan sepatumu di luar. Kau baik-baik saja?"
"Hey, look! Dia bersama seseorang," ujar wanita lain. Sesaat kemudian, mereka tertawa. "Kami dapat melihat kaki kalian dari bawah pintu," lanjutnya. "Kalian menjijikan."
Setelah para wanita itu pergi, Jane keluar dari bilik. "Terima kasih karena sudah membuatku menjijikan," ucapnya datar.
"Mereka tidak tahu itu dirimu," balas pria itu sambil mengikuti Jane dari belakang. "Lagipula kau bukan seperti tamu undangan. Kau seperti..."
Jane berbalik. "Apa? Aku seperti apa?" tantang Jane. Make up dan rambut awut-awutan, ditambah dress super mini berdada rendah. Semuanya membuat dia terlihat seperti wanita jalang.
Namun, Thomas tidak mau mengatakannya. Dia mengangkat tangan.
"Jane Watson!" seru seorang wanita yang menyembulkan kepalanya di balik bilik paling luar. Rupanya dia tidak keluar bersama wanita-wanita pesolek lainnya. "Aku tahu itu pasti kau!" Ekspresinya girang sekali seakan-akan telah menangkap seorang penjahat. "And who is this?" Wanita berambut pirang itu bertanya dengan antusias kepada satu-satunya pria di sana.
"My name is Thomas Geller. You can call me Tom," kata pria itu memperkenalkan diri. Dia menjulurkan tangannya.
"I'm Britanny Pearson. Call me Brit. Nice to meet you, Tom," Brit menjabat tangan Thomas. "Kenapa kau diam saja, Jane? Look at you. Oh, maaf, tadi aku mengganggu kalian. Kalian pasti sedang bersenang-senang kan? Aku harus memberi tahu semua orang."
"Kau memang banyak omong, Brit," sindir Jane.
"Cepat bersihkan wajahmu, Jane. Kami punya kejutan untukmu," kata Brit bersemangat. "Apa kau juga tamu undangan?" tanyanya kepada Thomas.
"Maaf, sebenarnya aku tidak ingin menghadiri acara ini, tapi karena aku sudah ketahuan, baiklah, aku akan masuk," jawab Thomas.
"Masuklah duluan, Tom. Kami akan menyusulmu."
🎎🎎🎎🎎🎎
Acara resepsi pernikahan Harry dan Jill masih berlangsung. Jill sedang melempar bunga ketika Tom masuk ke dalam ruangan. Dia segera mencari seseorang yang dikenalnya yang ternyata sedang mengobrol dengan beberapa orang asing. Ketika Thomas datang, orang-orang asing itu pergi karena tidak ingin mengganggu.
"Tom, ke mana saja kau?" tanya seorang wanita paruh baya yang memiliki bentuk mata sama dengannya, besar dan indah.
"Toilet," jawab Thomas singkat.
"Kau sakit perut?"
"Ya," Thomas berbohong. Baginya, acara ini tidak penting. Pria itu bahkan tidak kenal pasangan pengantin yang sekarang sedang berfoto dengan pemenang lempar bunga. Tetapi ibunya memintanya menemani dengan alasan kenal baik dengan ibunda pengantin wanita. "Mother, kenapa kita tidak diundang ke acara pemberkatan di gereja?" tanyanya, ingin membuktikan bahwa ibunya hanya berniat menyiksanya. Mendapati ibunya diam saja, Thomas tersenyum licik. "Biasanya para sahabat turut diundang dalam acara pemberkatan," tambahnya, ingin membuat ibunya kesal.
"Rapikan bajumu, Tom!" perintah ibunya. "Ada apa dengan keningmu?" tanyanya baru menyadari memar di dahi anaknya.
Thomas tidak menjawab. Dia mengancing kemeja, juga jasnya yang memang berantakan.
"Hello, Lady Grace. Aku sangat senang kau bisa datang ke sini," ibunda pengantin wanita memberi salam kepada ibu Tom.
"Natasha, congratulations," Grace memeluk ibu Jill. Keduanya nampak akrab layaknya ibu-ibu arisan yang sudah lama tidak bertemu.
Natasha melirik Tom di sebelah Grace. "You must be Prince Thomas," katanya.
"Yes, this is Thomas. Tom, this is Natasha Watson, the bride's mother," Grace memperkenalkan puteranya kepada wanita seusianya yang sudah dianggap sahabat.
Thomas berjabat tangan dengan Natasha. "Watson?" tanyanya. Dia teringat pada wanita berwajah panda yang tadi bersamanya di toilet.
"Ada apa, Nak?" tanya Grace.
"Nothing. Namanya mengingatkan aku pada seseorang yang kukenal," jawab Thomas.
"Tunggu di sini. Aku akan mencari... Ah! Itu dia," Natasha memandang berkeliling dan menemukan seseorang yang dia cari. "Over here!" serunya sambil melambaikan tangan kepada orang itu.
Dua wanita yang dipanggil Natasha terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya datang bergabung.
Natasha tersenyum, lalu mengambil tangan salah satu dari wanita itu. "Tom, this is my daughter..."
"Jane Watson," Thomas memotong perkataan Natasha. Pria itu mengangguk-angguk seraya mengajaknya bersalaman.
🍦🍦🍦🍦🍦
**bersambung ke chapter selanjutnya!
gimana chapter pertama ini? minta like dan comment yah guys.. semoga kalian suka sama chapter pembukaan ini.. makasih 🙏**