
BRAAKKK!!
Ferdinand melempar begitu saja tubuh Anastasia hingga mencium lantai kamarnya dengan kuat. Anastasia meringis memegangi tangannya yang sakit sambil berucap datar
"Apa maumu?"
Ferdinand mengabaikan ucapan Anastasia dan memilih untuk mengunci kamarnya. Anastasia yang melihat gerak-gerik Ferdinand langsung berdiri dan memasang tingkat waspada
"Apa maumu!"
Kembali, Anastasia bertanya yang kali ini dengan suara meninggi. Ferdinand memasukkan kunci kamar ke sakunya, lalu berbalik menatap Anastasia yang menatapnya dengan datar. Bibir Ferdinand tersenyum culas
"Bisa-bisanya kau memasang wajah seperti itu padaku, tapi memasang wajah bahagia saat bersama pria lain"
Satu alis Anastasia menukik
"Itu bukan urusanmu"
Dan ucapan Anastasia, semakin membakar bara kemarahan Ferdinand yang memang belum mereda. Ferdinand maju melangkah, mendekat pada Anastasia yang langsung menjauhkan jarak mereka.
Tapi percuma, karna tangan Ferdinand langsung terulur menyambar wajah Anastasia. Tanpa ampun, Ferdinand mencengkam wajah Anastasia dengan satu tangan. Tubuh Ferdinand bergerak mendorong tubuh kecil Anastasia hingga membentur tembok dengan kuat. Anastasia hanya bisa meringis dan semakin meringis saat tangan Ferdinand mencengkam kuat kedua pipinya dengan satu tangan.
Ferdinand yang merasakan jika tubuh Anastasia mulai kembali menggeliat untuk meronta, sekali lagi, mendorong dan menghimpit tubuh Anastasia ke tembok. Wajah Ferdinand maju, mendekatkan wajah mereka dengan seringai mengerikannya
Dan saat itulah, Anastasia bisa mencium aroma pekat alkohol dari mulut Ferdinand, dan kesimpulan itu membuat Anastasia kembali mencoba meronta. Tapi lagi, setiap Anastasia mencoba bergerak, Ferdinand akan menarik sedikit sebelah bahunya, lalu membenturkan tubuhnya dengan kuat ke tembok.
"Sebentar lagi punggungmu akan hancur Ana"
Dengan sekuat tenaga Anastasia menekan dan menahan segala rasa sakit di seluruh tubuh dan ingatannya. Tubuhnya mulai gemetar, arah pandangnya mulai berputar, jantungnya memompa semakin kuat, dadanya mulai sesak.
Dalam menahan ketakutan dan kesakitannya, Anastasia berucap lirih
"Apa salahku?"
Indra pendengaran Ferdinand yang bisa mendengar jelas ucapan Anastasia terkekeh dingin.
"Ku beritahu sesuatu Ana-" Ferdinand mendekatkan bibirnya ke telinga Anastasia sambil berbisik. "Kau itu menjijikkan Ana, jangan terlalu bangga saat mereka mengatakan kau indah, karna mereka belum pernah melihat seberapa menjijikannya tubuhmu-" Sebelah tangan Ferdinand mencengkam kuat pinggang Anastasia. Lalu membali berbisik di telinga Anastasia dengan dingin. "Seluruh tubuhmu ini menjijikkan Ana. Jadi berhentilah untuk merayu para pria. Karna tidak akan ada yang menerima tubuh menjijilkkan ini"
Setelah berbisik, Ferdinand melepas tangannya yang ada di wajah Anastasia dengan kasar. Tubuhnya menjauh, mengambil jarak antara mereka sambil merogoh sakunya
Anastasia yang masih menempel di dinding hanya diam. Dirinya hanya diam dan hanya terus mengulang bisikan Ferdinand di dalam kepalanya, bahkan saat Ferdinand sudah melemparkan sebuah amplop ke wajahnya, amplop ke dua, lalu amplop ke tiga.
"Kau diam-diam mengirim surat ke Vatican untuk merencanakan apa Ana?" Kekehan dingin meluncur dari mulut Ferdinand. "Kau berencana mengajukan pembatalan pernikahan hah!"
Tidak ada respon ataupun jawaban dari Anastasia. Anastasia hanya mematung dengan arah pandang berputar menatap lantai, tempat di mana surat-surat rahasiannya sudah terbongkar
Ferdinand mengeram kesal saat melihat Anastasia yang masih juga belum merepon. Lalu seringai mengerikannya kembali terbit.
"Kau sudah merencanakan ini sejak lama kan? Kau memang berencana membatalkan pernikahan lalu akan melompat ke pria lain? begitu Ana? Karna itu kau tidak ingin melakukan pengesahan pernikahan kan?"
Tidak!
Anastasia ingin berucap, tapi dirinya terlalu terguncang untuk hanya sekedar membuka mulut. Karna Anastasia sangat sibuk untuk mengatur nafasnya, nafasnya yang mencekik dengan semua ingatan masa lalunya yang sudah kembali.
Kekehan dingin Ferdinand kembali menggema di dalam kamarnya, arah pandangnya menatap Anastasia dengan tajam menusuk. Bibirnya berdesis tajam.
"Kau tahu Ana, aku tidak pernah merasa di hina seperti ini. Kau sengaja mempermalukanku dengan datang ke depan publik bersama pria lain. Kau menghinaku dengan diam-diam berkonsultasi tentang pembatalan pernikahan pada Kardinal Abraham. Kau merendahkan ku dengan berulang kali menolakku untuk pengesahan pernikahan SEBAGAI ALASAN AGAR PEMBATALAN PERNIKAHAN BISA DI PERTIMBANGKAN!!"
Tangan Ferdinand kembali menarik lengan Anstasia, menyeret dan melempar dengan kuat tubuh Anastasia ke atas ranjang. Dan kali ini Anastasia tersadar, tubuhnya dengan cepat mencoba bangkit untuk menghindar dari Ferdinand.
Anastasia takut... Dirinya sangat takut... Tolong Tuhan... tolong....
Tapi percuma, karna saat kaki Anastasia baru akan melompat dari atas ranjang, tangan Ferdinand langsung menangkap kakinya hingga tubuh Anastasia kembali mencium lantai dengan tubuh telungkup
"Jangan! Jangan! Tolong jangan!! Ampun... Tolong Ampuni aku... jangan lakukan ini.... Kumohon kumohon..."
Anastasia berteriak, Anastasia menjerit, Anastasia meminta tolong, Anastasia memohon ampun tapi, Ferdinand sudah buta dan tuli.
Kedua tangan Ferdinand terus bergerak, menahan, menekan, mencengkam, menyakiti, dan terus mencoba melepas gaun Anastasia.
Anastasia tidak menyerah, dirinya masih tetap terus melawan dengan semua tenaga yang di milikinya, hingga suara robekan kuat semakin membuat pergerakan Anastasia menjadi.
"Jangan! Tolong jangan! kenapa kau melakuakan ini padaku... kenapa...."
Rintihan penuh permohonan Anastasia nyatanya tidak membuat sebelah tangan Ferdinand berhenti untuk melepas sabuk celananya, arah pandangnya menatap Anastasia sambil menyeringai dingin
"Kau ingin tahu kenapa aku melakukan ini kan?"
Dan......
Saat itu juga Anastasia menjerit kuat, jeritan terkuat yang pernah dia teriakan. Jeritan karna rasa sakit luar biasa, sakit hingga membelah tubuhnya menjadi dua.
Ferdinand yang sudah memulai menanamkan separuh miliknya meringis karna rasa sempit dan milik Anastasia yang belum siap, tapi dirinya yang sudah di selimuti dengan segala bentuk rasa buruk, dengan sangat kuat mendorong kembali tubuhnya, menghujam hingga sedalam yang dia bisa.
Jeritan Anastasia, sudah pada akhir kemampuan dirinya untuk bisa menjerit....
Setelah menamkan semua sesuai keinginannya, suara Ferdinand terdengar
Anastasia hanya menatap kosong langit-langit kamar saat Ferdinand mulai bergerak. Dirinya sudah tidak mampu lagi untuk memberontak. Di tengah-tengah setiap rasa sakit yang mengalir di dalam setiap sel darahnya, ingatan Anstasia kembali di dalam banyak waktu, termasuk saat dahulu dirinya pernah bermimpi akan memiliki malam pertama yang akan menyenangakan untuk di rasakan atau di ingat...... bersama Ferdinand.
Anastasia menggigit kuat bibirnya untuk menahan sakit yang semakin menggila saat Ferdinand semakin memacu brutal pergerakannya. Sekujur tubuh Anastasia sudah tidak bisa lagi mencerna dengan baik segala rasa sakit yang menjalar. Karna, rasa sakit di dalam hatinya sekarang sudah mengalahkan segalanya, bahkan sanggup untuk mengalahkan segala ingatan menyakitkannya.
Menit-menit Anastasia lewati dalam penderitaan, puluhan menit Anastasia jalani dalam kehancuran nyata, tapi semua itu seakan belum cukup untuk Ferdinand, karna saat Ferdinand merasa dirinya akan mencapai pelepasan, Ferdinand mengerang, lalu berbisik
"Kenna....."
Tepat di telinga Anastasia, tepat saat cairan hangat Ferdinand memenuhi Anatasia, tepat saat Anastasia menghancurkan bibirnya sendiri, tepat saat Anastasia menutup kedua matanya dalam kerusakan
Kedua mata Ferdinand masih terpejam, kedua tangannya masih memeluk tubuh Aanstasia dengan erat, wajahnya semakin menyusup di ceruk leher Anastasia, tubuhnya masih menghimpit tubuh Anastasia. Rasanya sangat nyaman, Anastasia sangat nyaman, Anastasia memang selalu membuatnya nyaman.
Hingga saat Ferdinand sudah mulai bisa mengatur akal sehatnya, punggung Ferdinand terangkat. Dirinya dengan pelan melepas dan menatap jejak-jejak darah segar di penyatuan mereka, memasang kembali celananya dengan benar, lalu bangkit, bangkit dari atas tubuh Anastasia yang masih tergeletak di atas lantai untuk beranjak pergi.
Pergi meninggalkan tubuh Anastasia begitu saja, pergi tanpa menoleh lagi, pergi membiarkan Anastasia yang sudah rusak parah.
Solar yang berdiri setia di atas tangga hanya menunduk saat melihat Ferdinand keluar dari dalam kamarnya. Wajah Ferdinand sudah lebih tenang, hawa-hawa ingin menyakiti seseorang sudah tidak ada, entah apa yang terjadi tapi Solar yakin sesuatu yang buruk sudah Ferdinand lampiaskan.
"Panggil seseorang, dan geledah kamar pelayannya"
Dan setelah berucap, Ferdinand melangkah menuju ke arah kamar tamu. Dirinya perlu meredakan rasa sakit ada di dalam dada dan kepalanya.
Ferdinand memilih sembarangan kamar dari dua puluh kamar tamu di castle. Lalu masuk ke dalam kamar mandi, melepas bajunya dan langsung menenggelamkan diri ke dalam bak mandi sambil menatap kedua tangannya yang masih gemetar. Kedua tangan yang benar-benar sudah memberikan hukuman. Hukuman yang pikirannya bisikan jika itu benar, hukuman yang hatinya jeritkan jika semua yang dia lakukan salah
Kedua tangan gemetar Ferdinand terkepal, kepalanya menengadah ke atas, arah pandangnya menatap langit-langit kamar dengan banyak pikiran, lalu menutup kedua matanya saat dia merasa isi dadanya samakin sakit menyesakkan.
Ferdinand tidak segila itu untuk bisa menikmati setiap dan segala hal kasar yang di lakukannya pada Anastasia tadi. Semua itu dia lakukan untuk menghukum Anastasia agar tahu diri dan untuk meredakan rasa marah dan takutnya. Dia tidak ingin kehilangan Anastasia, Anastasia istrinya, miliknya, dan apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan bisa di miliki orang lain apalagi kabur darinya. Tidak akan Ferdinand biarkan!
Saat melihat Ferdinand yang sudah menghilang, Solar menatap ke arah Ruth yang masih terus menangis lalu memberikan anggukan singkat yang langsung membuat Ruth berlari ke depan pintu kamar Ferdinand.
Dengan tangis yang semakin menjadi, Ruth mendorong pintu kamar itu. Dan apa yang tersaji di depan matanya membuat lutut Ruth melemah, tubuhnya luruh di atas lantai, iskannya tertahan, tangan Ruth terangkat menutup kedua mulutnya dengan mata membulat.
Di sana, tubuh Anastasia tergeletak di atas lantai dalam keadaan mengenaskan. Dengan gaun yang hancur, dengan mata terbuka yang hanya mentap kosong ke atas, dengan sekujur kulit tangan dan kaki yang sudah memerah lebam, dengan mulut terkatup dan bibir berdarah.
"YOUR HIGHNESSS!"
Dengan akal yang sudah kembali, Ruth langsung merangkak menuju Anastasia, memeluk tubuh Anastasia sambil terisak kuat.
"Ohh ya Tuhanku... ya Tuhan... tolong nyonya kami... tolong..."
Suara tangis menyesakan Ruth membuat setitik rasa hangat bersarang di dalam hati Anastasia. Anastasia ingin memeluk Ruth, ingin menenangkan Ruth agar tidak menangis, ingin mangatakan pada Ruth jika dia baik-baik saja, jika dia sudah terbiasa, ini hal biasa untuknya jika di hukum dan di lukai seperti sekarang. Jadi Ruth tidak perlu menangis, jangan menangisinya karna Ruth bisa saja di bunuh. Seperti dahulu saat di istana Eden, setiap ada seseorang yang mencoba membantu ataupun bersedih untuk Anastasia, keesokan harinya mereka pasti mengghilang, di bunuh.
Mulut Anastasia ingin mengatakan itu, tubuh Anastasia ingin bergerak menghapus air mata Ruth tapi, dia tidak sanggup. Mulutnya terasa keluh, tenggorokannya penuh kerikil, tenaganya hanya tersisa untuk mengembangkan paru-parunya yang terus terasa sesak.
Solar yang melihat jika Ruth sudah masuk ke dalam kamar Ferdinand, langkahnya langsung menjalankan perintah. Dirinya segera menuju ke rumah belakang castle, untuk menuju ke kamar Ruth.
Dengan terlatih, dalam diam Solar menggeledah dan mencari sesuatu yang hanya berpedoman pada jika sesuatu itu pasti bisa membuat Ferdinand kembali lepas kendali. Dirinya terus mencari dengan rapih tanpa merusak apapun, hingga sebuah amplop putih di dalam sarung bantal membuat Solar menghentikan gerakannya. Arah pandang Solar memastikan amplop putih tidak istrimewa di tangannya, dan saat dirinya menemukan sebuh tulisan, nafas lelah Solar berhembus kuat, lalu berguman.
"Pantas saja"
--000--
Di sisi lain, Francesca mengetuk dengan kuat kamar Summer saat waktu sudah menunjukkan tengah malam. Tangannya yang lain terus mencekam gaun tidur di depan dadanya dengan peluh yang memenuhi pelipisnya.
"Sum... Summer..."
Summer yang sudah terlelap segera menggeliat saat mendengar ketukan pintu yang terus berlangsung, terlebih saat suara di depan pintu terdengar. Dengan cepat Summer menyambar mantelnya dan berlari menuju pintu. Dia yakin sesuatu pasti terjadi.
Saat pintu di buka, Francesca langsung menyerobot masuk ke dalam kamar Summer. Summer menutup dan mengunci pintu, lalu menatap Francesca yang sudah terduduk di atas lantai dengan kedua tangan yang mencengkam gaun di dadanya. Summer yang melihat jika Francesca sedang menahan sakit segera melompat mendekat pada Francesca
"Kau kenapa? Apa yang sakit Frances? Di mana yang sa-"
"Dinand... Dinand sedang kesakitan Sum. Ini sakit sekali Sum"
Summer yang sudah paham langsung memeluk Francesca, memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk tubuh dan perasaan tidak nyaman Francesca.
"Semua akan baik-baik saja Frans, Dinand pasti bisa melaluinya, dia pasti baik-baik saja"
Francesca mengepalkan tangannya, memejamkan kedua matanya, menikmati kehangatan dan kenyaman yang di berikan Summer untuk tubuhnya, meski hanya dia yang tahu jika rasa sakitnya sekarang berbeda. Penyesalan tertahan yang besar sedang di simpan dan di tekan dengan sangat kuat oleh Ferdinand, dan itu membuat gumpalan di dalam dadanya semakin menyesakkan.
"Dinand akan baik-baik saja Frans, semua akan baik-baik saja"
"Semoga saja Sum... semoga saja"
--000--
Setelah Carl mengucapkan dan memberitahukan segalanya, arah pandangnya melirik sesorang yang memakai piaman tidur, yang hanya duduk diam di atas kursi meja kerja kamar Raja. Suara garukan jari di atas meja terus mengalun. Carl menggigit pipi dalamnya saat Fredrick terus diam dan suara garukan semakin kuat.
Carl tidak mengerti, apa yang sebenarnya ada di dipikiran dan hati Fredrick sekarang. Sebenarnya, apa yang sedang di rasakan Fredrick sekarang?
\=\=\=❤❤❤❤
Setelah part inu di revisi berulang kali, Akhirnya ini bisa di terima NT. Semoga masih tetap nge-feel yaaa
Silahkan jejaknya...