
Pepohonan yang selalu berwarna kekuningan sudah di tinggalkan daun-daunya, rerumpuan kering mulai terus basah, tanah yang berdebu mulai terus terasa lembab. Setiap malam, perapian selalu membakar kayu-kayu untuk menghangatkan ruangan. Setiap pagi, cerobong-cerobong asap selalu mengeluarkan asapnya. Setiap siang, orang-orang selalu lebih memilih membatasi aktifitas mereka.
Musim telah berganti, dan harapan baru mulai menanti.
Sedangkan dirinya, masih mengurung diri di dalam kamarnya yang selalu kering, gersang, tanpa berganti, dan tanpa harapan.
Dalam kesunyian dan keheningannya, dirinya masih menatap keluar jendela yang terbuka. Tubuhnya yang sudah mulai pulih terus terduduk di atas lantai dingin samping ranjang tanpa berniat beranjak karna hari belum gelap.
Francesca membuka perlahan kamar yang tidak pernah di kunjungi siapapun itu. Kamar yang selalu hening, sehening pemiliknya yang sudah tidak pernah membuka mulutnya semenjak ayah mereka terakhir kali ke sini. Dalam diam, Francesca menganguk singkat pada Tomy yang langsung melangkah menuju kamar mandi, lalu tidak lama kembali keluar dengan membawa baskom air dan sebuah kain.
Semua pergerakan dan semua suara-suara kecil di dalam ruangan itu, tidak juga mengambil perhatian si pemilik kamar yang selalu tetap fokus pada langit cerah yang terus menjatuhkan salju.
Dalam keheningan, Tomy meletakkan sebuah kursi di samping nakas dan di depan seseorang yang hanya membiarkan segalanya terjadi, bahkan tanpa berniat sekedar untuk melirik.
Francesca mulai mengambil tempatnya, dan pergerakan itu langsung membuat Tomy menjauh untuk berdiri di depan pintu. Arah pandang Francesca menatap lekat adiknya yang selama berbulan-bulan ini selalu ikut membagai isi hatinya. Isi hati yang terkadang membuat Francesca harus menangis diam-diam untuk menggantikan Ferdinand yang tidak bisa menangisi segalanya.
Kedua tangan Francesca terulur, menangkup wajah Ferdinand, yang akhirnya membuat bola mata Ferdinand bergerak ke arah depan, tempat Francesca yang sudah duduk di kursi yang ada di depannya.
"Aku tidak pernah melakukan ini, tapi aku akan melakukannya untukmu"
Setelah berucap, Francesca yang sudah melepas tangannya dari wajah Ferdinand mulai menyelimuti dada atas Ferdinand dengan kain, mengambil pisau lipat yang selalu di selipkannya di paha, lalu kembali menangkup wajah Ferdinand dengan satu tangan. Tangan hangat itu, mulai mengikisi sedikit demi sedikit bulu-bulu lebat yang memenuhi wajah Ferdinand.
Tanpa pergerakan, tanpa perlawanan, dan dengan pasrah Ferdinand membiarkan kakaknya melakukan apapun padanya. Seperti yang selalu Ferdinand lakukan ketika Solar mencukurnya, mengobatinya, menggantikan perban-perbannya, atau menyodorkan sendok dan gelas padanya.
Dalam keheningan, kedua saudara saudari yang selamanya akan selalu berbagi hati dan pikiran itu melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Ferdinand yang pasrah dan Francesca yang mencukur.
Hingga semuanya selesai, Francesca mengambil kain yang menyelimuti dada atas Ferdinand, mengambil handuk kecil di dalam baskom, memeras kain, lalu mulai mengusapi dengan kelembutan wajah Ferdinand.
Tomy dari tempatnya hanya bisa membuang nafas berat saat Ferdinand benar-benar terlihat seperti mayat bernafas yang tidak akan merespon apapun, kecuali saat dirinya yang sering bermimpi buruk di malam hari. Ini sangat buruk, sangat menyedihkan untuk di dengar, termasuk di dengar nonanya yang selalu ikut menerima rasa sakit dan rasa penyesalan yang sanggup menenggelamkan akal pikiran manusia.
Tangan Francesca kembali menangkup wajah Ferdinand, mengusap kedua pipi Ferdinand dengan ibu jarinya, menatap lekat kedua bola mata Ferdinand yang tampak tidak memiliki selera dan perhatian untuk apapun. Hati Francesca teriris perih, dadanya berdenyut sakit saat melihat kehancuran nyata Ferdinand. Inilah yang selalu di takutkannya, jika Ferdinand selalu menekan perasaannya, selalu menekan dengan kuat segala isi hati yang sebenarnya.
Dengan pelan, Francesca menundukkan kepalanya dan memberikan kecupan hangat pada dahi Ferdinand. Lalu meletakkan dengan pelan kepala Ferdinand di atas pangkuannya dengan tangan yang mulai membelai dan mengusapi kepala adiknya. Seperti dulu, seperti yang selalu Francesca lakukan saat Ferdinand sedang menahan tangisnya, menahan air matanya agar tetap terlihat seperti seorang pria.
Tomy yang sudah melihat bagian itu, tanpa ingin membuang waktu langsung membuka pintu dan keluar. Bunyi pintu yang tertutup, membuat Francesca berucap lirih
"Menangislah Dinand"
Detik demi detik berlalu hingga punggung lebar itu mulai bergerak, kedua bahu lebar itu itu mulai bergetar, kedua tangan kekar itu mulai mencengkam kedua sisi paha Francesca, dan suara isakan tidak terelakan mulai memilukan.
Suara isakan terus terdengar, semakin detik berlalu semakin bertambah kuat, semakin menit berlalu semakin bertambah memilukan.
"Aku di sini... aku selalu bersamamu Dinand. Aku tidak pernah meninggalkanmu"
Francesca berucap lirih dengan tangan yang terus mengusapi rambut Ferdinand, dengan kedua mata yang juga sudah siap menumpahkan air mata. Dada Fracesca terasa nyeri, sangat nyeri. Nafasnya sangat sulit, sangat menyesakkan.
"Aku harus bagaimana... aku harus bagaimana.. apa yang harus kulakuan Frans"
Kedua mata Francesca terpejam dengan buliran kristal hangat yang meluncur di kedua pipinya
"Semua akan baik-baik saja Dinand. Semua akan baik-baik saja"
"Maaf... maafkan aku... maafkan aku... tolong maafkan aku...."
Senyum getir tercetak bibir Francesca yang sudah melepas segala topeng dinginnya. Entah pada siapa dan untuk siapa gumanan permintaan maaf itu terus meluncur dari iskan Ferdinand, tapi setiap kata yang di keluarkan Ferdinand ikut menghantam hati Francesca dengan keras, mendobrak dan mengacak-ngacak segala sudut hatinya dengan kejam.
"Tidak apa-apa... menjeritlah... aku selalu bersamamu Dinand"
Tangan Ferdinand semakin mencengkam kedua sisi rok gaun Francesca, tangisannya semakin kuat memilukan, tetesan-tetesan rasa basah semakin membasahi gaun Francesca.
Arah pandang buram Francesca menatap langit cerah di bulan pertama musim salju. Musim salju yang sangat dingin hingga badai-badai kecil hingga besar selalu menyebabkan ketakutan tapi, tidak lebih menakutkan dari badai-badai yang ada di dalam dadanya, terlebih di dalam dada Ferdinand.
Francesca tahu, jika kata 'semua akan baik-baik saja' hanya lantunan doa yang setiap hari dia ucapkan agar Tuhan mendengarnya, agar Tuhan selalu memberikan kekuatan untuk adiknya. Adiknya yang sudah tersesat terlalu jauh di dalam jurang penyesalan panjang, adiknya yang sudah tenggelam di dalam laut kesedihan yang sangat dalam.
"Semua akan baik-baik saja Dinand"
Menit-menit terus terlewati dengan lantunan suara isakan, puluhan menit terus terbuang dengan suara tangis, berjam-jam terus berjalan dengan Ferdinand yang terus menumpahkan semua rasa di dalam hatinya, hingga Francesca sekarang sudah mendekap tubuh Ferdinand. Merendahkan dirinya untuk ikut menyentuh lantai dingin yang mencekam, agar bisa memeluk tubuh adiknya yang sekarang sudah dua kali lipat dari besar tubuhnya
Rok gaun Francesca yang basah sudah mulai mengering, sekarang gaun atasnya yang mulai di penuhi rasa basah tapi, Ferdinand belum juga berhenti. Sebanyak itu segala rasa sesal yang di rasakannya, sebanyak itu perasaan sakit yang terus di tahannya.
"Semua akan baik-baik saja Dinand"
"Semua akan baik-baik saja"
Sekali lagi, Francesca hanya bisa mengucapkan kata-kata penenang dan doanya. Dia tidak bisa menjanjikan apapun, dirinya tidak bisa memberikan harapan apapun, karna ini bukanlah kekuasaannya. Dia tidak memiliki kuasa apapun untuk semua masa depan.
Desiran angin malam yang semakin dingin mulai merasuk ke dalam pori-pori Francesca. Dengan segala perhatian dan rasa sayangnya, Francesca mengeratkan pelukannya, berharap tubuh Ferdinand tetap terjaga hangat meski, itu tidak akan membantu sama sekali untuk hati Ferdinand yang sangat hampa.
Hingga berjam-jam terus kembali terlewati dengan Ferdinand yang masih di dalam dekapan kedua tangan Francesca, akhirnya mulai menghentikan tangisnya.
Francesca yang juga bisa merasakan secuil kelegaan di hatinya yang pasti bagian dari hati Ferdinand, mulai melepas dekapannya, menangkup wajah Ferdinand, mempertemukan arah pandang basa mereka, lalu memberikan senyum hangat yang entah kapan terakhir kali pernah bisa dia berikan selain untuk Ferdinand di masa kecil mereka.
"Apa kau kedinginan?"
Kepala Ferdinand menggeleng lemah sambil menarik pelan kedua tangan Francesca yang berada di sebelahnya untuk ikut duduk. Francesca hanya mengikuti kemana Ferdinand ingin membawanya. Lalu selimut tebal yang di tarik sembarang oleh Ferdinand, mulai menyelimuti Francesca dengan kepala Ferdinand yang terjatuh lemah di sebelah bahunya.
Keheningan masih menyelimuti mereka dengan arah pandang yang sama-sama menatap pekatnya langit malam penuh bintang. Hembusan angin malam musim salju terus berhembus cukup kuat, berhembus di dalam kamar tanpa kayu bakar itu, berhembus menghantarkan rasa dingin ke dalam pori-pori mereka tapi, tidak sampai menerobos hati kembar yang mulai sedikit menghangat itu.
"Apa kau sering kesakitan?"
Senyum lega Francesca terbit saat akhirnya Ferdinand mulai berbicara normal tanpa isakan lagi
"Setiap waktu, dan yang terparah saat malam. Karna itu aku selalu datang saat kau bermimpi buruk"
"Maafkan aku Frances. Terimakasih karna selalu menjaga dan berbagi segalanya denganku. Terimakasih karna tidak pernah meninggalkanku"
"Aku tidak bisa meninggalkanmu Dinand, sekalipun aku ingin tapi aku tetap tidak bisa dan tidak akan mau"
"Senang bisa melihat kembali senyummu, sudah sangat lama senyum manis itu bersembunyi di balik topengmu" Dengan kepala yang masih terkulai pasrah di sebelah bahu Francesca, tangan Ferdinand meraih tangan kakaknya, lalu menautkan tangan mereka. Bibir Ferdinand kembali terbuka dan berucap lirih.
"Keluarga adalah segalanya, kau adalah separuh jiwaku selamanya, aku sangat menyesal telah berpaling dari kalian, aku juga-"
Nada suara menggantung Ferdinand membuat Francesca semakin mengeratkan tautan tangan mereka. Francesca tahu jika sekarang Ferdinand kembali memikirkan 'dia'. Dia yang sudah berhasil membawa separuh hati Ferdinand yang lain, separuh hati yang sanggup membuat adiknya hanya bisa bernafa separuh dan tenggelam di dalam lembah gelap tanpa batas.
"Apa kau ingin mendengar sedikit ceritaku Dinand?" Pergerakan singkat di sebelah bahunya, membuat Francesca kembali membuka suara. "Sebelum menikahkan kalian, sebelum papa membuat pertunangan mendadak kalian, aku adalah orang pertama yang berani mengajukan pertanyaan pada papa karna rasa tidak percaya dan raguku pada keputusan papa tapi-" Francesca menjedah dan ikut menjatuhkan kepalanya ke atas kepala Ferdinand yang ada di sebelah bahunya. "Papa mengatakan jika kalian sudah lama penah bertemu. Dan hingga sekarang, aku tidak mengerti apa maksutnya itu Dinand"
Di tengah-tengah pikiran lelahnya, isi kepala Ferdinand mencoba mengingat apapun yang bisa di ingatnya tapi, hingga berjam-jam terus terlewati kembali dalam keheningan mereka, isi kepala Ferdinand tetap tidak juga menemukan apapun.
Francesca yang bisa menyadari pikiran dan perasaan Ferdinand hanya tersenyum maklum. Entahlah... apa benar yang di katakan ayah mereka itu. Karna Francesca tahu, jika ucapan ayahnya itu sering banyak mengandung makna ataupun sebuah trik tersimpan untuk mendapatkan apa yang ayahnya inginkan.
--000--
Victoria terus mengerutkan alisnya saat melihat suaminya yang mulai tersenyum sambil merentangakan kedua tangannya lebar-lebar. Di mulai dari saat suaminya yang baru menyerahkan sesuatu pada Jeremmy, lalu menerima sesuatu dari Jeremmy. Entah apa yang mereka katakan, tapi itu pasti sesuatu yang hanya menjadi rahasia suaminya dan kesayangan suaminya, Jeremmy.
Hembusan angin malam kembali bertiup membekukan, masuk ke dalam jendela yang tiba-tiba di buka suaminya. Victoria bergindik saat sekarang melihat Fredrick yang terkekeh tanpa sebab.
"Kepalamu habis terbentur Bash?"
Sambil menghabiskan sisa-sisa kekehannya, Fredrick menatap istrinya, lalu mulai mendekat sambil..... melompat-lompat kecil?????
Merasa ngeri melihat kelakuan aneh Fredrick, Victoria langsung berlari menuju pintu penghubung. Fredrick yang melihat istrinya lari tunggang langgang mencibik tidak suka, lalu berteriak ke arah pintu penghubung yang masih terbuka
"Sayang! kau bilang akan tidur bersama malam ini!"
"Aku tidak sudi tidur dengan orang gila!!"
Kembali, Fredrick mencibik tidak suka, lalu berguman pelan
"Ck! padahal aku sedang senang"
Om Fred (Old version)
Tante Vic (Old version)
\=\=\=💛💛💛💛
Silahkan jejaknya....