Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter II - Fired


Jane telah merapikan rambut dan make up-nya, sehingga dia boleh sedikit sombong karena terlihat lebih cantik daripada di toilet tadi. Tetapi dia malas meladeni pria yang telah menghinanya secara tidak langsung. Dia memberikan tangannya asal-asalan.


Namun, yang Thomas lakukan adalah mencium punggung tangan Jane, membuat wanita itu terlonjak. Pria itu lalu melemparkan senyuman menawan yang sejak tadi sama sekali tak terlihat di wajahnya.


Jane melongo memandangi Thomas yang ternyata sangat tampan. Bulu-bulu halus di rahang dan sekitar bibir Thomas membuatnya terlihat maskulin. Belum lagi alis tebal dan hidung tinggi mancungnya menyempurnakan semuanya. Sorot mata tajam yang tadi diperlihatkan Thomas di toilet seakan menghilang. Jane seolah terhipnotis oleh ekspresi nakal Thomas yang menggoda. Tapi dia harus segera kembali ke bumi.


"Wonderful!" seru Natasha, mengagetkan Jane. "Aku suka pria gentleman seperti anakmu, Lady Grace."


Brittany, yang dari tadi berdiri di belakang Jane, tak tahan untuk tidak mengumbar berita terbaru. "Tadi aku memergoki mereka sedang bermesraan di toilet!" katanya cepat tanpa jeda dan salah kata.


Perlu beberapa detik bagi kedua ibu untuk mencerna kalimat Britanny. Seketika itu juga mereka tertawa, bahkan mensyukuri kejadian tersebut.


"Ternyata mereka saling menyukai," kata Natasha lega.


"Kalau begitu rencana perjodohan ini telah berhasil tanpa perlu campur tangan kita," sambung Grace.


"Perjodohan?" tanya Jane bingung. "Dengan dia?" Keningnya berkerut seraya menatap jijik pada Thomas, mengingat pria itu telah sembarangan menciumnya di toilet.


"Hey, lady, jangan melihatku seolah aku virus mematikan," protes Thomas.


"Kau pria kurang ajar, mister!"


"Aku tidak menginginkan keributan di pesta adikmu, Jane," Natasha memperingati putri sulungnya. "Bersikaplah sopan!"


Thomas berdehem. "Mother, aku selalu berusaha menjadi anak yang baik dengan menuruti semua perintahmu dan perintah Kakek, tapi untuk rencana perjodohan ini, tanpa mengurangi rasa hormatku, aku menolaknya," katanya elegan.


"I beg your pardon? Thomas...," Grace terkejut oleh perkataan anaknya.


"Kau kira aku mau dijodohkan denganmu? Jerk!" umpat Jane penuh kekesalan.


"Jane Watson!" panggil Natasha. "Beraninya kau bersikap seperti itu kepadanya." Kedua mata wanita itu melotot menyeramkan.


"Huh... Memangnya dia siapa?" Jane tersenyum sinis. Lengannya dilipat di depan dada, tanda kesombongannya telah menembus Planet Asgard.


"Lady Grace adalah anak ketiga dari King George Arthur Freinsted, Raja dari Kerajaan Vlada, dan Prince Thomas Geller adalah puteranya. Kau harus menghormati mereka!" tegas Natasha.


Napas Jane tercekat. Dia dijodohkan dengan seorang pangeran dari sebuah kerajaan yang namanya baru saja dia dengar. Sungguh keanehan luar biasa. Tapi muncullah ketakutan, khawatir dirinya akan ditangkap bila menghina keluarga kerajaan. "I'm so sorry, Your Highness. Aku tidak bermaksud menghina Anda," ucapnya seraya menekuk lutut dan membungkuk.


Thomas tak dapat menahan tawanya.


Jane kebingungan sekaligus kesal. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Thomas juga Grace.


Grace tersenyum. "Tom, sebaiknya kau memberikan jasmu kepadanya. Dia pasti kedinginan," ujarnya lembut.


Sumpah serapah diucapkan Jane di dalam hati. Dia telah mempermalukan dirinya sendiri karena sebagian besar dadanya pasti terlihat ketika dia membungkuk. Dia melirik Natasha, ibundanya, yang sedang memutar bola mata. Perlu diakui, dia salah memilih gaun.


Thomas melepas jasnya, lalu memakaikannya di pundak Jane yang diam saja.


Rasa hangat dan aroma tubuh Thomas langsung dirasakan Jane. Nyaman. "Thanks," ucapnya pelan.


"No problem," Thomas tersenyum.


"Kalau begitu, akan kita atur pertemuan selanjutnya," Grace angkat bicara. "Jika sudah saling mengenal, tentu mereka akan menyetujui perjodohan ini."


"Mother, bukankah aku sudah..."


"Kita bicarakan ini nanti," potong Grace, membuat Tom urung protes. "Lebih baik kita pamit terlebih dahulu."


Natasha menarik napas. "Okay. Sampai jumpa lagi, Lady Grace, Tom. Kami senang kalian sudi menghadiri acara ini. Terima kasih," ucapnya sebelum mencium pipi kanan-kiri Grace, sahabat lamanya.


"Kami akan menghubungi kalian."


🧥🧥🧥🧥🧥


Suara ketikan terdengar dengan jelas dari laptop yang dipakai oleh seorang wanita cantik berambut ginger. Tak ada yang membuatnya lebih kesal saat ini daripada permintaan atasannya untuk membuat surat penawaran harga yang ditujukan kepada salah satu customer.


"Kau kenapa?" tanya Britanny yang mejanya hanya berjarak 5 meter, berseberangan dengan meja Jane.


"Aku sedang tawar-menawar dengan customer pelit kita," jawab Jane.


"Let me guess. Bruce?"


"Siapa lagi?" Jane memutar bola matanya. "Ini sudah ketiga kalinya aku membuat surat penawaran harga untuknya."


"Jane," panggil atasan Jane, seorang wanita setengah tua yang masih menyisakan kecantikan luar biasa dengan dandanan ala selebriti Hollywood. Rambut putihnya model bob dengan gulungan beach wave. Setelan kerjanya sangat elegan, tanpa kusut sedikit pun.


"Yes, Ally," sahut Jane sebelum bergerak menuju kantor atasannya yang terletak di sebelah meja kerjanya.


Ally tidak pernah menutup pintu ruangannya agar dengan mudah dapat memanggil asistennya, Jane Watson, kapan saja. Baginya, Jane lebih mudah dipanggil daripada Britanny. "Kau sudah selesai membuat surat penawaran harga?" tanyanya begitu melihat Jane. Kacamatanya sengaja diturunkan. Kedua matanya menatap Jane dengan tajam.


"Sedang aku kerjakan, Ally," jawab Jane.


"Sure." Jane kembali ke mejanya. "Aku pasti sudah menyelesaikannya jika kau tidak memanggil," gerutunya sendiri.


"I heard that, Jane!" seru Ally.


"Sorry!" ucap Jane.


"Kau harus menemaniku belanja hari ini sebagai hukuman!"


Jane mengendus. "Okay!" Tawa cekikikan Britanny membuatnya semakin kesal. Tiga menit kemudian, dia selesai dengan surat jahanam itu. "Ally, akan kukirimkan email surat penawaran harga untuk Bruce padamu," katanya. Dia meng-klik tombol mouse dan email langsung terkirim.


Sedetik kemudian, sebuah notifikasi email muncul, baik di komputer maupun ponsel Jane. Begitu pula di komputer Britanny. Kedua wanita itu membuka email tak dikenal yang berjudul "Notice."


"Jane! Oh my God!" seru Britanny girang. Wanita cantik itu buru-buru menghampiri meja Jane yang sedang bingung. "Aku mendapatkan email dari Kerajaan Vlada yang memintaku menggantikanmu di sini!"


"What-the-****!" ucap Jane.


"I heard that, Jane!" sahut Ally.


"Sorry!"


Britanny mengguncang-guncang pundak Jane. "Kau akan pergi ke Kerajaan Vlada!" ujarnya senang bukan main.


"Seenaknya saja mereka menyuruhku libur! Akan kutolak undangan ini," kata Jane.


"Jangan!" cegah Britanny. "Mereka mengundangmu ke istana sebagai tamu kehormatan, Jane! Bukankah ini berita terbaik yang pernah kudengar?"


"Mereka akan membuatku dipecat! Berlibur di sana selama sebulan? Aku mau makan apa? Dan dari mana mereka tahu alamat email kita?"


"Mereka pasti punya intel," Britanny tergelak. "Kudengar Vlada adalah penghasil anggur, susu, dan minyak. Kau tidak akan kekurangan makanan di sana."


"Bukan itu maksudku! Sebulan kemudian, aku akan menjadi penggangguran ketika kembali ke sini, bodoh!"


"Bukankah kau akan menikah dengan Prince Thomas?"


Wajah Thomas kembali memenuhi Jane. Ya, dia memang sedikit menyukainya karena ketampanan yang dimiliki pangeran itu. Namun, apakah mungkin Thomas tidak mempunyai calon pendamping lain yg pastinya lebih cantik dan lebih terhormat? Jane sangat tidak percaya diri mengingat status mereka yang bagaikan langit dan bumi.


Britanny menepuk bahu Jane. "Dengar! Kau bilang ingin menikah seperti adikmu, Jill. Kalau menikah dengannya, kau akan tinggal di istana dengan taman yang luas, punya baju-baju bagus, mungkin juga anjing-anjing lucu. Kau akan memiliki segalanya!" Mata Brit membelalak. "Ditambah, suamimu itu adalah idaman para wanita. Kau tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini kan?"


Jane terdiam. Perbedaan usia hanya satu tahun dengan Jill membuat mereka sangat akrab. Meskipun memiliki hobi yang berbeda, mereka saling menjaga. Bahkan, Jane pernah memukul pacar Jill yang berselingkuh. Kakak beradik ini juga pernah berjanji tidak akan menikah sebelum usia 30 tahun. Namun, semua itu berubah ketika Jill menerima lamaran Harry tepat pada ulang tahunnya yang ke-25. "Tapi aku merasa..."


"Nyaman dengan hidupmu?" sambung Britanny sebelum Jane selesai. "Jane, kesempatan ini belum tentu datang lagi."


"Jane," panggil Ally, membuyarkan obrolan kedua sahabat itu.


"Yes, Ally," sahut Jane, lalu bergegas masuk ke kantor atasannya. Dilihatnya Ally tidak berkata apa-apa, malah tersenyum penuh arti. "Anything I can do?" tanyanya ragu.


"Aku mendapatkan sebuah email," kata Ally.


"Ya. Aku telah mengirimkan surat penawaran harga untuk Bruce."


"Bukan email itu yang kumaksud, tapi email dari Kerajaan Vlada."


"Kau juga?" Jane menghela napas. "I'm so sorry, Ally. Aku tidak tahu mereka akan mengganggumu dengan email itu. Aku akan meminta mereka untuk berhenti."


"No, Jane. Tidak usah," kata Ally.


"Okay?"


"You're fired!" ucap Ally tegas dan lugas.


"What?" Seperti hantaman ke jantungnya, Jane terkejut bukan main. "Jika aku melakukan kesalahan, aku akan memperbaiki..."


"No need, Jane. Mereka membayarku sangat besar untuk memecatmu. Aku akan mengirimkan uang pesangonmu malam ini juga."


Jane tergagap. "Kau tidak dapat memecatku hanya karena dibayar orang! Aku tidak bersalah!"


"Yes, I can. Now, scoot!" Ally mengusir Jane begitu saja tanpa basa-basi. "Brit, kau yang akan menemaniku belanja nanti," perintah Ally.


"****!" umpat Britanny tanpa suara. "Yes, Ally," sahutnya terpaksa.


🧩🧩🧩🧩🧩


**bersambung ke chapter selanjutnya!


gimana chapter 2 ini? semoga kalian suka yah. aku minta like dan comment please...


see you**~