
Setelah rasa lelah yang mulai kembali di rasakan Anastasia, dirinya memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Dengan langkah yang sedang di antar Michael, Anastsia untuk yang kesekian kalinya berucap
"Terimakasih Marquess"
Michael terkekeh geli ketika mendengar ucapan terimakasih Anastasia, yang entah sudah untuk yang keberapa kalinya.
"Your Highness... saya benar-benar kenyang dengan rasa terimakasih anda hari ini"
"Ahh... iya..."
Dan mereka kembali terkekeh bersama....
Mereka kembali melanjutkan langkah mereka dan berpisah saat sudah di bawah undakan tangga.
"Selamat beristirahat Your Highness"
"Anda juga Marquess..."
Dengan suasana hati yang sangat baik, Anastasia dengan girang melangkah menuju ke pintu kamarnya. Suasana hati yang baik dan tubuh lelah membuat Anastasia melupakan segalanya. Seperti Ruth, yang tidak di samping dan entah kemana dia pergi, lalu orang-orang yang tidak terlihat satupun, tapi hal yang paling di lupakan Anastasia adalah... Ferdinand.
Anastasia membuka pintu kamarnya dengan pelan dan setelah masuk, ingatannya baru bisa kembali, pada Ferdinand.
"Ferdinand?"
Benar... suaminya itu tidak ada di dalam kamar mereka, kamar mandipun kosong. Anastasia melihat sekeliling yang mungkin meninggalkan jejak Ferdinand dan hanya baju kotornya yang ada di tumpukan baju kotor.
Setelah tidak mendapati keberadaan Ferdinand, Anastasia pun baru ingat tentang Ruth. Dirinya baru teringat tentang Ruth karna dia ingin mandi, dan itu butuh pelayan. Akhirnya, Anastasia kembali keluar pintu dan saat menemukan seorang pelayan wanita, dirinya langsung meminta tolong, meminta siapapun yang di lihatnya karna dia sudah terlalu lelah.
--000--
Anastasia melirik Ruth yang baru selesai memasangkan pernak pernik di rambutnya. Semuanya sudah beres dan sempurna seperti biasa.
Pikirannya setelah bangun dari tidur telelapnya langsung tertuju pada suaminya yang sampai sekarang tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
Kemana Ferdinand? Kenapa dia tidak kembali ke kamar? Dan yang terpenting... bagaimanan sekarang saat dirinya yang harus turun untuk berkumpul bersama keluarga?
Anastasia membuang nafas panjang dan akhirnya memilih untuk menunggu, menunggu Ferdinand datang.
Bermenit-menit terlewati, puluhan menit terbuang sia-sia. Ruth kembali melirik Anastasia dengan pergerakan tangan merapaikannya yang sengaja dia perlambat. Dengan gerakan yang semakin melambat untuk merapikan lemari, Ruth kembali melirik Anastasia. Melirik Anastasia yang duduk terdiam di depan cermin sambil menatap keluar jendela.
"Ruth"
"Iya Your Highness"
Anastasia langsung berdiri dengan keputusan akhirnya. Terlalu lancang untuknya jika terlambat turun, terlalu tidak sopan untuknya jika dia membuat semua orang menunggu jadi, Anastasia memutuskan untuk turun walaupun tanpa Ferdinand. Kepala Anastasia berputar cepat, ketika memikirkan jika pertanyaan muncul, pertanyaan yang akan membuatnya sangat kesulitan, pertanyaan kenapa dia turun hanya sendirian dan.... kemana Ferdinand?
"Aku akan turun Ruth"
Ruth dengan sigap langsung membukakan pintu kamar. Anastasia dengan langkah berat mulai keluar kamarnya.
Berjalan sendirian membuat perasaan Anastasia mendingin. Apa yang salah? kenapa jadi seperti ini? Sungguh sangat menyedihkan jika seorang gadis berada di posisinya sekarang... Sungguh, semua perasaan menyesakan itu membuat Anastasia terus menerus harus menarik nafas, menarik semua ketenangannya.
Saat langkah kaki Anastasai sudah berada di depan pintu ruang keluarga yang terbuka, suara canda tawa, suara kekehan bahagia, suara percakapan hangat langsung menghantam jiwa Anastasia. Anastasia kembali menarik nafas dalam yang entah untuk keberapa kalinya selama perjalanannya yang akan menuju ke ruangan di depan matanya sekarang tapi, satu hal yang Anastasia pelajari dari perjalanan singkatnya.
Dia kembali di tinggalkan...
Dia kembali tidak di hargai....
Anastasia kembali tersadar setelah cukup lama terlena. Sadar jika dirinya memang akan selalu di buang, cepat atau lambat dia memang akan di buang dengan alasan yang sama,
Karna dia tidak berharga...
Seharusnnya dia memang harus berjuang sendiri, dia memang hanya bisa berpegangan pada dirinya sendiri. Berjuang sendiri untuk hidup dan kebahagiaannya sendiri.
Setelah berdiam diri beberapa saat, Anastasia akhirnya kembali melangkah, memasang senyum baik-baik saja, serta memaksakan raut wajah setenang dan sesantai mungkin.
Kedatangan Anastasia membuat semua kepala menoleh padanya. Mereka tersenyum, mereka menatap hangat, mereka menunjukkan raut wajah yang memang seperti sudah menunggu kedatanganya. Dan itu, cukup untuk Anastasia meraup sedikit kehangatan untuk hatinya, sendiri
"Ana! kemarilah" Summer dengan penuh semangat berteriak tidak anggun sambil tersenyum girang, Anastasia mengangguk sambil mendekat pada Summer yang sedang duduk bersama keluarga inti kerajaan, tanpa Ferdinand. "Apa kau terlalu kelelahan Ana?"
"Lumayan Sum, aku baru bisa terlelap saat hari sudah mulai menjelang sore" Anastasia menatap Victoria, Francesca, Summer dan Michael yang ada di meja yang sama. "Maaf karna saya terlambat"
"Tidak ada yang terlambat Ana, ini hanya perkumpulan keluarga, bukan sebuah pesta resmi"
Ucapan lembut dan hangat Summer membuat senyum hangat Anastasia terbit, lalu kembali menatap semua yang ada di meja keluarga inti.
"Ayo kita mulai"
Ucapan Victoria langsung membuat semua suara di sana berhenti. Anastasia menekan segala perasaan dan pikirannya yang bertanya-tanya tentang Ferdinand. Terlebih, saat tidak ada seorangpun yang menanyakannya. Well.. Anastasia juga akan mencoba untuk tidak peduli.
"Michael, panggil pria-pria itu"
Michael yang sudah ikut berdiri saat Ratu berdiri langsung melangkah ke ruang keluarga di balik tembok, tidak lama kembali keluar dengan langkahnya yang sudah di pimpin Fredrick dan si pria tua pembuat Anastasia penasaran.
Tanpa ingin berbasa basi dan dengan gestur yang santai, Fredrick langsung berucap
"Hari ini, hari di mana usia mu sudah menginjak yang ke 76 tahun, semoga selalu bahagia dan sehat... George. Aku tidak ingin mendoakanmu untuk panjang umur, karna orang jahat pasti akan mati lama"
Satu pukulan mendarat di lengan Fredrick, pukulan dari Victoria, lalu kekehan geli semua orang menggema di semua sudut ruangan itu.
Tapi tunggu... George?
Dahi Anastasia mengeryit dengan arah pandangnya yang langsung menatap ke arah sang bintang pesta, si pria tua yang sedang berulang tahun, si pria tua yang terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usianya, si pria tua yang bernama... George?
Anastasia menepis jauh-jauh pemikiran itu, pemikiran jika pria tua itu adalah George yang itu, George yang sudah lama mangkat sehingga Raja Fredrick bisa naik tahta. Sangat tidak mungkin dan tidak masuk di dalam akal Anastasia jika pria tua itu adalah orang yang sama seperti pemikiran Anastasia sekarang.
Tapi, semua tepisan dan penolakan Anastasia tentang siapa pria tua itu langsung lenyap saat arah pandang pria tua itu menatapnya. Dengan tersenyum ramah, dengan raut wajah hangat, dengan tatapan biasa tapi tidak bisa, karna saat arah pandang mereka bertemu, dan kedua bola mata abu-abu itu menatap manik mata Anastasia, Anastasia tahu jika tatapan seperti itu bukan tatapan milik orang biasa.
"Ana..."
Sentuhan lembut dan teguran lembut yang menyapa Anastasia di tengah-tengah perputaran kencang otaknya membuat Anastasia tersentak.
"Iya Sum"
"Kau seperti habis melihat hantu"
Ucapan Summer membuat semua orang kembali terkekeh geli, sama halnya dengan pria tua itu, yang terkekeh geli sambil melangkah mendekat pada Anastasia.
"Hallo Putri Anastasia, selamat datang di dalam keluargaku, cucu menantu ku yang cantik. Perkenalkan, aku George, mendiang Raja George"
Kedua mata Anastasia langsung melebar, semua rasa terkejut merayap di setiap sel darah Anastasia. Tidak mungkin!
"A-anda............."
Anastasia yang akhirnya bisa kembali ke dalam kesadarannya, langsung akan mengambil gestur, kakinya langsung menyilang dengan kedua tangannya yang akan menarik sisi gaunya tapi,
"No! tidak tidak! jangan memberikan gestur itu untukku nak. Aku bukan lagi Raja"
Kembali, kekehan geli semua orang menggema. Anastasia tidak mengerti kenapa semua orang bisa tertawa di saat sebuah rahasia besar keluarga ini di tunjukkan padanya, Ohh bukan! ini bukan hanya rahasia besar keluarga, tapi ini adalah kegilaan kerajaan!
"Santailah nak... santai saja, kau sekarang terlihat sangat pucat"
Dan kembali... semua orang tertawa, yang kali ini terdengar seperti suara tawa di dalam perlombaan tertawa.
--000--
Suara tawa, obrolan, terdengar jelas dari belakang Anastasia, Anastasia yang sedang duduk berdua bersama George di pintu belakang ruang keluarga.
"Apa Dinand baik padamu?
Anastasia menoleh untuk menatap George, orang pertama yang malam ini menyebut nama Ferdinand.
"Dia baik George, sangat baik pada saya"
"Hmm... jika dia baik, dia pasti bersamamu sekarang, bukan bersama wanita lain" Ucapan George jelas langsung membuat Anastasia hanya bisa menundukkan kepalanya. George yang melihat itu tersenyum sambil kembali berucap. "Tenanglah Ana, aku hanya bercanda. Dinand sedang pergi bersama Edward"
Kekehan geli meluncur dari bibir George, tapi Anastasia tetap menundukkan kepalanya. Dia tetap menunduk agar tidak menunjukkan raut wajahnya, karna bisa saja Anastasia menangis sekarang. Rasa terkejut mendengar candaan George seolah memancing kembali rasa dingin di hatinya ketika dia akan ke ruang keluarga. George tersenyum dengan tangannya yang mengusap pelan kepala Anastasia.
"Ana, jika kau tidak kuat, kau tidak akan bisa membuat Ferdinand yang paling nakal itu bertekuk lutut"
Kali ini, Anastasia mengangkat kepalanya, ucapan dan tindakan hangat yang di lakukan George membuatnya semakin ingin menangis. Dan lagi-lagi, George tersenyum hangat. senyum hangat yang membuat perasaan Anstasia menghangat.
***
Di sisi lain, Edward masih menatap tajam seorang pria yang akhirnya dia temukan. Pria yang terlihat hampir mati berdiri karna melihat Edward.
"Keluargamu sedang berkumpul dan kau sedang berusaha kabur?"
"Kenapa kau bisa di sini Ed?"
Edward tidak menjawab pertanyaan itu dengan mulutnta tapi, dengan tangannya. Dengan cepat tangan Edward bergerak menarik pedangnya
SRANG!!
Ferdinand yang melihat jika pedang Edward sudah keluar dari sarungnya tetap berusaha agar terlihat tenang. Edward tidak mungkin mendaratkan pedang itu padanya, yaa... Ferdinand akan meyakini itu, tapi,
"APA YANG KAU LAKUKAN!!!!!!"
Dengan cepat Ferdinand melompat dari punggung kudanya saat kaki kuda kesayangannya itu langsung tumbang ke tanah dengan kaki berdarah dan perut berlubang. Darah terus mengalir dari perut kudanya, kudanya yang menjadi korban pedang Edward. Tangan Ferdinand bergetar, dadanya terasa sesak, kudanya... oh tidak kudanya...
Edward yang melihat jika anak manja yang dulu selalu menempel, dan selalu suka ketika dirinya menarik pedang itu hanya menatapnya dengan datar sambil kembali memasukkan pedangnya. Dengan langah lebar, dirinya segera menaiki kuda coklat kesayangannya.
"Solar"
"Iya Kapt"
"Jika kau tidak membawanya kembali ke tempat dirinya harus berada sekarang, kepalamu akan bernasip sama dengan kuda itu"
Dingin.... ucapan Edward sangat dingin hingga tengkuk Solar bergindik ngeri, mulutnya bergetar hingga tidak bisa berucap.
Suara hentakan kaki kuda Edward yang mulai bergerak menjauh membuat kedua tangan gemetar Ferdinand mengepal, kali ini, dia tahu jika ayahnya tidak akan bermain biasa lagi. Siapa saja bisa bernasip sama dengan kuda kesayangannya, ayahnya tidak akan peduli lagi pada apapun yang di sayangi Ferdinand, ayahnya yang keras dan kejam itu.... sudah benar-benar marah.
"Ayo kembali Solar"
---0000---
Victoria kembali melirik ke arah pintu belakang balkon, tempat di mana Anastasia dan George berbincang. Sesekali arah pandangnya menatap Fredrick yang terus tertawa bercanda bersama Arthur dan Henry, lalu melirik Jeremmy yang duduk di sebrang sofanya sambil menyesap wine.
"Apa yang terjadi Jer?"
Insting tidak nyaman Victoria akhirnya menyuarakan isi kepalanya. Jeremmy yang memahami jika Victoria akhirnya bisa membaca sesuatu meletakkan gelasnya dan dengan sopan menjawab.
"His Majesty sedang marah, Your Majesty"
Penjelasan Jeremmy sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kenapa perasaannya sangat tidak enak, terlebih karna suaminya yang selalu terlihat santai itu, tidak sedikitpun terlihat santai. Hanya Victoria yang bisa membaca dengan jelas isi hati Fredrick, saat Fredrick yang tertawa kencang ketika Arthur sedang mengatakan cerita yang lucu.
Suaminya, pasti sedang menertawakan hal lain
\=\=\=💜💜💜💜
Silahkan jejaknya...