
"Aku mencintaimu Ana..."
Ucapan lembut dan hangat yang keluar dari mulut Ferdinand membuat Anastasia tersenyum tipis. Arah pandangnya sibuk dengan luka Ferdinand, dan tangannya sibuk membersihkan luka Ferdinand.
Merasa tidak mendapatkan respon, Ferdinand mengigit bibirnya dengan gugup dan bingung. Pertanyaan seperti, kenapa Anastasia hanya tersenyum? kenapa tidak menjawab? apa suaranya kurang kuat? apa Anastasia tidak mendengarnya? terus berputar di dalam kepala Ferdinand dan semakin membuatnya gugup.
"An?"
"Hm?"
Bibir Ferdinand terlipat saat mulutnya menjadi kesulitan berbicara. Ada perasaan takut, malu, gugup, dan bingung yang menggerogoti dirinya sekarang. Kenapa rasa menyatakan cinta sesulit ini? Well.. baiklah, mungkin karna ini pertama kalinya untuk Ferdinand menyatakan cinta terlebih dahulu. Ini juga pertama kalinya untuk Ferdinand mengejar seorang wanita. Ini juga pengalaman pertamannya merasakan jika dirinya benar-benar menginginkan atau mencintai sesuatu di luar dari keluarganya.
Akhirnya, Ferdinand hanya bisa menelan kembali semua ucapan yang akan di katakannya, lagi pula dia juga bingung harus memulai dari mana.
"Semua selesai"
Suara Anastasia membuat ekor mata Ferdinand melirik luka di sebelah bahunya. Lukanya yang sudah terbalut perban dengan rapih dan sangat hati-hati.
Ferdinand kembali menatap Anastasia yang mengusapi peluh di dahinya sambil mulai merapikan semua peralatan.
"Apa kau lelah?"
Basa basi busuk Ferdinand membuat Anastasia terkekeh. Dan kekehan itu berhasil membuat Ferdinand tercubit karna, Anastasia benar-benar mengabaikan pernyataan cintanya tadi.
"Aku tidak lelah, tapi sedikit gerah. Musim panas sudah hampir di penghujung, dan biasanya memang akan menjadi lebih panas dari biasanya"
Kepala Ferdinand hanya mengangguk-ngangguk tidak mengerti.
Setelah selesai membereskan dan meletakkan peralatannya kembali ke atas trolly, Anastasia tersenyum sambil menatap Ferdinand. Kakinya kembali bergerak menuju kursi di sebelah ranjang.
"Jadi, apa kita sekarang sudah bisa berbicara serius Dinand?"
Lampu hijau! iya kan? apakah ini lampu hijau dari Anastasia untuk menjawab peryataannya tadi? Di tengah-tengah kegugupan dirinya, Ferdinand mengangguk.
"Berbicara apa?"
"Kenapa kau mencuri?"
Rahangan Fedinand langsung mengatup dengan bibirnya yang mengerucut. Sial! Dia salah dan terlalu percaya diri! Ferdinand menarik nafas dalam-dalam untuk meredam kekecewaannya. Lalu menjawab dengan malas
"Lapar"
Satu Alis Anastasia menukik
"Bukankah kau sudah makan malam?"
"Mana cukup!"
Melihat wajah cemberut dan mendengar nada ketus Ferdinand, sudut bibir Anastasia mulai berkedut geli
"Lalu kenapa tidak meminta lagi?"
Sambil kembali melempar tubuhnya ke atas rajang, Ferdinand mencibik sambil melirik Anastasia dari ekor matanya.
"Apa boleh?"
Anastasia benar-benar menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ferdinand yang ada di depannya sekarang bukanlah Ferdinand yang pernah meneriaki ataupun mengasarinya. Ferdinand yang sedang tebaring itu adalah Ferdinand seperti versi yang pernah di katakan Francesca padanya. Manja, egois, cengeng, dan kekanakan.
"Tentu saja boleh. Kau bisa meminta jika kurang"
Meski hatinya kecewa, tapi ada sececerca rasa bahagia saat mendengar jika dirinya boleh meminta makan lebih. Aahh Ferdinand... bisa-bisanya seorang pangeran Francia sepertimu merasa bahagia ketika bisa mendapat jatah makan lebih.
"Selamat siang..."
Dari ekor matanya, Ferdinand melirik arah suara. Anastasia yang mendengar itu langsung berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah yang datang tapi,
"Mau kemana?"
Langkah Anastasia terhenti saat tangannya langsung di cekal, lalu menatap Ferdinand
"Mengambil makanmu, dan kembali"
Dengan tangan yang masih menahan Anastasia, Ferdinand segera bangkit dari ranjang.
"Jangan pergi"
Ucapan Ferdinand langsung membuat Anastasia melirik Keren, melirik Keren yang ternyata sudah memicingkan matanya menatap Ferdinand dan Anastasia bergantian. Anastasia membuang nafas panjang
"Aku hanya sebenatar"
Dengan cepat kepala Ferdinand menggeleng sambil menarik sedikit tangan Anastasia, yang membuat langkah Anastasia mendekat pada ranjang. Anastasia meringis saat Keren sudah semakin memicingkan matanya menatap mereka. Hingga akhirnya, dengan memasang wajah tidak terjadi apapun, Anastasia berucap pada Keren
"Eren, tolong makan siangnya"
Keren tetap diam sambil terus memicingkan matanya dengan sangat menunjukkan raut wajah curiga. Anastasi memutar bola matanya dengan malas
"Aku akan menjelaskan nanti. ok?"
Walaupun tetap memasang tatapan penuh curiga, Keren tetap menggangguk dan meletakkan tiga nampan makan ke atas meja.
Satu alis Anastasia terangkat saat melihat tiga nampan, lalu menatap Keren
"Kenapa tiga Eren?"
"Kau kan akan makan di sini"
Pernyataan Keren membuat Ferdinand langsung terseyum merekah. Dirinya menatap keren dan mengucapkan 'terimakasih' tanpa suara. Keren yang melihat itu, hanya mengangguk singkat dan dengan cepat langsung menghindari tatapan Anastasia.
Anastasia hanya diam, dan posisi mereka berbalik, karna sekarang dirinya yang sudah menatap Keren penuh selidik. Secepatnya Keren berbalik dan langsung mendorong trolly tanpa ingin menoleh lagi, Keren harus kabur
"Dia kabur"
Anastasia berguman sambil melepaskan tangan Ferdinand dari tangannya, lalu melangkah menuju ke tempat tiga nampan makan. Dengan cekatan, Anastasia mulai meletakkan nampan-nampan milik Solar, Ferdinand, lalu dirinya.
Dengan senyum girang yang terus tercetak di bibirnya, Ferdinand melompat dari atas ranjang dan menarik dua kursi untuk di letakkan di sekiar meja nakas. Anastasia yang melihat itu, terlebih melihat Ferdinand yang sudah duduk di salah satu kursi sambil menepuki kursi yang masih kosong, hanya bisa membuang nafas pasrah. Sudahlah apa boleh buat...
Ferdinand mulai langsung menggengam tangan Anastasia saat mereka sudah duduk berdampingan di depan nampan makan. Dengan cepat Ferdinand memulai doannya, dan setelah selesai, secepat kilat dirinya mengambil kesempatan untuk mencium tangan istrinya. Anastasia tersentak dan langsung menatap Ferdinand dengan tajam, tapi dengan acuh Ferdinand mulai mengankat sendoknya
"Mari makan"
"Sudah ku katakan jangan sembarangan menyentuhku"
Ferdinand mengangguk penuh dusta. Mana mungkin dirinya akan menuruti ucapan Anastasia.
Mereka memulai makan dalam diam, tidak ada yang memulai obrolan. Hanya sesekali Anastasai membuka mulutnya ketika Ferdinand menyodorkan dengan paksaan sendok ke mulutnya, dan sesekali Anastasia mengembalikannya dengan meletakkan makanannya ke piring Ferdinand.
Hingga semua makanan mereka tandas dan Anastasia langsung mengumpulkan piring kotor mereka.
"Solar di mana? makanannya bisa dingin jika tidak segera di makan"
Dengan acuh Ferdinand mengedipkan bahunya dan mulai kembali menuju ranjang.
"Entahlah"
Melihat keacuhan Ferdinand, Anastasia hanya tersenyum sambil menggelengakan kepalanya. Kasihan Solar.
"An"
Setelah Anastasia selesai menumpuk nampan dan piring mereka, Anastasia menoleh pada arah suara.
"Hm?"
"Tidurlah di sini malam ini"
Tanpa ingin mempertimbangkan, Anastasia langsung menggeleng.
"Tidak bisa"
"Ck! kalau begitu aku tidur di kamarmu"
"Tidak ada tempat, kami tidak punya kamar sendiri-sendiri"
"Ayolah..."
Kembali, tanpa ragu Anastasia langsung menolak
"Tidak bisa Dinand"
"Ana!!"
Suara yang tiba-tiba muncul di antara mereka membuat Anastasia langsung menoleh. Di sana Nora sudah berdiri di depan pintu tenda sambil menatap Ferdinand dan Anastasia secara bergantian
"Para pasien sudah tiba"
Dengan cepat Anastasia langsung mendekat pada Nora sambil mendorong trolly-nya.
"Apa banyak?"
Nora melirik Ferdinand sejenak, lalu kemabali menatap Anastasia
"Kereta pertama yang datang membawa sebelas orang. Yang lain belum tiba"
"Baik-"
"Kau mau kemana An?"
Ferdinand langsung melompat dari atas ranjang sambil menyambar bajunya. Nora dan Anastasia langsung menoleh saat Ferdinand yang sedang mengancingkan baju sudah berdiri menjulang di belakang mereka. Dahi Nora mengeryit bingung, lalu melirik Anastasia yang sudah menggaruki pipinya yang tidak gatal.
"Aku ikut An"
"Kau ist-"
"Ayo"
Tubuh Anastasia langsung tertarik, saat dengan cepat Ferdinand sudah menggengagam tangannya sambil menarik Anastasia menuju pintu keluar. Anastasia meringis saat Nora sudah menatapnya dengan tatapan 'kau harus menjelaskan ini!'
--000--
Hari sudah memasuki malam, keadaan malam yang harusnya sunyi sekarang tidak tampak terjadi di sekitar Anastasia. Suara erangan, teriakan, rintihan, bahkan tangisan terus memekakan gendang telinga siapapun.
Sambil sesekali mengusap peluhnya, tangan Anastasia terus melakukan perkerjaannya. Korban-korban yang terluka benar-benar semakin parah semenjak meriam mulai di pakai untuk senjata.
Saat biasanya Anastasia harus menjahit luka dan pembuluh darah karna pedang atau tombak, ataupun memasang penyanggah untuk tulang yang patah. Sekarang luka-luka bakar, dan luka besar hingga menghilangkan bagian tubuh dengan cara yang rusak parah sudah mulai menjadi makanan biasa untuk Anastasia.
"Ana tolong!"
Anastasia langsung menoleh pada arah suara, di sana Keren sedang kesulitan saat seorang pria yang kehabisan banyak darah mengamuk. Tapi bagaimana? Anastasia juga sedang menjahit luka?
Arah pandang Anastasia langsung mengedar saat mengingat sesuatu.
"Dinand!"
Dari balik kain yang menutupi separuh wajahnya, Anastasia berteriak mencari Ferdinand yang sedang menjadi helper untuk membawakan dengan cepat barang-barang medis yang di perlukan.
"Ferdinand!"
Sekali lagi, Anastasai berteriak ketika orang yang di panggilnya belum muncul. Hingga akhirnya Ferdinand yang baru kembali dari mengambil air langsung mengerti dan dengan cepat menuju tempat Keren. Anastasia membuat nafas lega, sambil mulai kembali fokus pada pekerjaannya.
Berjam-jam terus terlewati hingga mereka sudah melewati makan malam tanpa makan. Keadaan di dalam tiap-tiap tenda hampir sama, semua perawat dan suster-suster sudah tampak kelelahan tapi tetap mengejakan semua pelayanan mereka.
Anastasia, Keren, Nora, dan Ferdinand yang baru menyelesaikan tenda mereka langsung menuju ke tenda lain. Lalu setelah selesai, mereka menuju tenda lain berasama perawat yang sudah selesai, semua siklus terus berlanjut hingga akhirnya, mereka beramai-ramai mereka menuju ke tenda Solar dan Bernadeth.
Malam sudah semakin larut, dan perkerjaan sekarang akhirnya sudah selesai. Anastasia dan Ferdinand menjaga beberapa tenda, untuk bergantian menunggu perawat yang sedang membersihkan diri mereka dan makan.
Saat melihat gerombolan perawat dan suster yang mulai datang, Ferdinand melirik Anastasia yang tetap sibuk memeriksa pesien yang baru di obati.
"An, mereka sudah kembali"
"Iya sebentar"
Ferdinand beranjak dari kursi diamnya. Dirinya hanya diam selama berkerja dan juga menunggu giliran membersihkan diri karna, dia sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang di lakukan. Bisa-bisanya pangeran Francia seperti dirinya melakukan semua hal yang baru di lakukannya! Well.. walaupun sebenarnya Ferdinand tidak keberatan selama dirinya bisa terus melihat Anastasia.
"Pergilah Ana! dan jangan lupa makan!"
Nora berucap tegas saat melihat Anastasia yang masih sibuk, di saat harusnya, Anastasia mulai beristirahat sedikit. Anastasia yang melihat jika semua teman-temannya sudah menatap dirinya dengan tegas, akhirnya langsung memberikan semua sisa pemeriksaannya pada Nora.
Dengan cepat Anastasia membuka penutup separuh wajahnya, lalu melangkah menuju Ferdinand yang sudah berdiri di depan pintu tenda
"Ayo Dinand"
Dengan patuh, Ferdinand langsung mengekori langkah Anastasia yang entah akan kemana.
Ternyata, Anastasia membawa langkah mereka ke bangunan tempat Ferdinand mencuri makan. Di sana, ada empat kamar mandi yang pasti untuk para perawat dan suster.
"Bersihkanlah dirimu Dinand"
Kembali, Ferdinand dengan patuh mengikuti semua perintah Anastasia dengan sangat patuh
--000--
Anastasia hanya bisa memejamkan kedua matanya, saat sepasangan tangan besar memaksannya untuk di pijat. Sesekali Anastasia tersentak saat Ferdinand mencuri kesempatan memijat di bawah bagian depan bahunya, sesekali Anastasia berteriak saat Ferdinand sengaja memijatnya dengan kuat. Tapi sebagian besar, Anastasia menikmatinya.
"Feel good?"
Anastasia hanya bisa mengangguk lemah sambil menahan khantuknya. Ferdinand dengan sangat iklas terus bergerak memijat, sesekali dirinya membuat percakapan yang akan di jawab Anastasia dengan acuh, lalu di balas Ferdinand dengan pijatan offside, keluar dari teritori kedua bahu Anastasia agar mendapatkan perhatian.
Senyum Ferdinand terbit saat Anastasia terlihat sudah tertidur dengan tubuh menempel di depan dadanya. Dengan posisi mereka yang sama-sama duduk di atas ranjang Ferdinand. Istrinya pasti sangat kelelahan pikiran dan tenaga
"An?"
Tidak ada jawaban, dan tubuh Anastasia pun sudah menjuntai pasrah. Tanda jika Anastasia benar-benar sudah tertidur. Dengan perlahan, Ferdinand menggeser tubuhnya, dengan hati-hati Ferdinand mulai merebahkan tubuh Anastasia di atas tanjang.
Ferdinand terkekeh halus saat dengkuran lemah Anastasia sayup-sayup terbawa angin terdengar, lalu mulai mendekatkan kursi ke samping ranjang, tempat dirinya akan tidur.
Setelah mengusapi wajah istrinya dengan sayang, Ferdinand mulai meletakkan kepalanya di atas ranjang dengan tangan mereka yang bertaut. Sungguh, Ferdinand sangat merindukan moment mereka yang seperti ini, moment di mana setiap malam Ferdinand bisa tidur bersama isrinya lagi tanpa ketegangan di anatara mereka, meski sekarang dengan keadaan yang lebih menyedihkan.
Dada Ferdinand berdenyut nyeri saat mengingat kembali tentang kebodohannya. Harusnya, jika dirinya dulu bisa berpikir lebih waras, mungkin sekarang mereka sedang tidur dalam kamar mereka di castle dengan nyaman dan tanpa kelelahan. Kelelahan? well.. nanti Ferdinand akan membuat Anastasia tertidur karna kelelahan yang lain, belum sekarang, sabar Ferdinand.
--000--
Pagi ini, suasana di sekitar camp terlihat lebih sibuk dari biasanya yang terlihat oleh Ferdinand. Beberapa pasien yang terluka parah dan tidak bisa makan atau mandi sendiri, mulai di bantu para suster dan perawat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Anastasia hanya bisa terus memutar bola matanya dengan jengah saat Ferdinand selalu melarang siapapun agar tidak meminta bantuan Anastasia di kegiatan mandi memandikan ataupun makan.
"Dinand jangan seperti ini, Ini tugasku"
"Kau kerjakan yang lain"
Ferdinand tetap bersikeras dan lebih rela menggantikan perkerjaan Anastasia. Walaupun dirinya terus mengumpat dalam hati di saat dirinya yang seorang pangeran Francia memandikan seseorang, dan itu pria! para pria! sialan!
Kesibukan mereka yang tidak kenal waktu membuat Anastasia belum bisa menjelaskan apapun pada teman-temannya, dan alhasil, semua perlakuan Ferinand terus membuat dirinya mendapatkan tatapan penuh selidik.
Menit demi menit terus terlewati, berjam-jam terus berjalan, hingga tanpa terasa malam hari kembali lagi.
Sambil memijat tangannya sendiri, Ferdinand menyendetkan punggung di sebuah pohon, sambil menunggu Anastasia keluar dari tenda.
Bibir Anastasia tersenyum hangat saat melihat Ferdinand yang dengan sigap segera mengikutinya
"Kau lelah Dinand?"
"Sedikit"
Sambil terus melangkah menuju tempat makan, Anastasia berguman pelan
"Terimakasih Dinand. Kau baik sekali membantu kami, terlebih untuk hari ini. Kau sudah sangat banyak menyumbang tenagamu meski masih terluka. Jika aku tidak ada, kami sekarang pasti sudah sakit pinggang karna terlalu banyak mengangkat pasien"
Hidung Ferdinand mulai kembang kempis karna bangga dan juga malu. Rasanya benar-benar bahagia dan bangga hingga dirinya melupakan jika selama berkerja, hatinya terus mengumpati para pasien.
\=\=\=💜💜💜
Silahkan jejaknya...