Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter III - Kidnapped


Jane mampir ke sebuah kedai dan memesan kopi agar pikirannya lebih tenang. Kekesalannya memuncak lantaran habis dipecat dari kantor tempat dia mengabdikan diri selama 5 tahun. Wanita itu tak habis pikir Ally akan memecatnya semudah itu karena disuap. Sungguh atasan mata duitan.


Karena tidak memiliki mobil, Jane harus membawa ke mana-mana kardus berisi peralatan kerjanya yang sudah diungsikan. Dia menaruhnya begitu saja di kursi sebelahnya.


"Aku harus menelepon Mom," gumamnya sendirian. Ditekannya beberapa tombol di ponsel. Setelah menunggu beberapa saat, dia berkata, "Hey, Mom, aku ingin bicara denganmu tentang perjodohan ini."


"Kau menerimanya?" tanya Natasha di ujung line telepon. Nada suaranya terdengar bersemangat.


"No."


"Why, honey?"


"Aku akan ke rumahmu."


Sesampainya di rumah orangtuanya yang berlokasi di Brooklyn, Jane langsung membombardir Natasha dengan omelan dan pertanyaan di ruang tamu.


"Pokoknya kau harus membatalkan perjodohan ini, Mom!" tuntut Jane kepada ibunya. "Lihat ini!" Dia melirik kardus segiempat berukuran 40 sentimeter yang masih berada di tangannya. "Mereka membayar Ally untuk memecatku!"


"Aku tidak bisa membatalkannya begitu saja. Lagipula, bukankah hidupmu akan lebih baik bila menikah dengan Thomas?" Natasha mengambil kotak itu dan meletakkannya di meja tamu.


Jane duduk di sofa, diikuti oleh ibunya. "No, Mom! Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang. Walaupun pekerjaanku di bawah tekanan, tapi gajinya besar. Aku tidak membutuhkan seorang pangeran untuk menghidupiku."


Natasha menggelengkan kepala. "Apa kau akan begini terus? Adikmu sudah menikah. Kenapa kau tidak mau seperti dirinya?"


"Jangan samakan aku dengan Jill!" Jane paling tidak suka dibanding-bandingkan, apalagi dengan Jill. "Kalau dia mau menikah, itu urusannya. Aku sudah kecewa ketika dia mengabarkan akan menikah dengan Harry. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi padanya."


"Jane Watson!" Natasha berdiri. Ditatapnya putri sulungnya dengan tajam. "Kau membuatku tidak ingin membatalkan perjodohan ini. Sekarang kau harus bersiap-siap untuk berangkat besok."


Jane ikut berdiri. "Aku tidak mau!"


"Janganlah seperti anak kecil!"


"Kau yang menganggapku masih kecil! Tidak bolehkah aku mengatur hidupku sendiri?" Jane begitu berapi-api saat melontarkan perkataannya.


Natasha diam, merasa tertohok oleh kalimat Jane. Wanita itu kembali duduk.


"Mom, I'm sorry," ucap Jane. Nada suaranya melunak. Aku bukannya membantah, tapi aku hanya tidak ingin kau mengkhawatirkan aku. Aku manusia, bukan robot yang bisa diprogram seenak pemiliknya." Anggukan Natasha melegakannya.


"Kau tidak suka pada Thomas?" tanya Natasha pelan.


Jane duduk di sebelah Natasha lagi. "Well, aku menganggapnya sebagai pangeran tampan. Akan sangat bodoh bila aku menolaknya kan?"


Natasha tergelak. Dia membelai rambut Jane. "I love you, Jane. Nanti aku akan menelepon Grace," katanya mengalah.


"Thank you, Mom," Jane tersenyum. Dia menghela napas. "Aku akan pulang sekarang dan meratapi nasibku yang sudah dipecat dari pekerjaanku, tapi besok aku akan mulai mencari pekerjaan baru.


"Okay, honey."


🎸🎸🎸🎸🎸


Lelah, atau lebih tepatnya bad mood. Itulah yang Jane rasakan ketika kembali ke apartemennya di Bedford Street. Dia menaiki anak tangga apartemen dengan langkah lunglai.


"Aduh!" Jane mengaduh. Pandangan matanya terhalang kardus yang dibawanya, sehingga kakinya tersandung anak tangga terakhir. Sekarang kardus itu memuntahkan isinya di lantai.


"Shit!" Tanpa memikirkan sakit di tulang keringnya yang terbentur pinggiran anak tangga, dia berjongkok untuk membereskan barang-barangnya. Setelah yakin tak ada yang tertinggal, dia kembali menaiki tangga ke lantai selanjutnya.


Akhirnya, sampailah dirinya di depan pintu unitnya yang bernomor 537. Ditaruhnya kardus di lantai. Dia merogoh saku dan menemukan kunci. Namun, baru saja dia mau memasukkan kunci ke lubangnya, gagang pintu terputar dengan sendirinya.


Daun pintu pun terbuka. Tak cukup rasa terkejutnya, dia masih harus dikagetkan oleh beberapa orang pria yang berada di dalam unit apartemennya. "Siapa kalian?" tanya Jane.


"Get out or I'll call the police!" seru Jane, berusaha berani.


Pria yang tadi berbicara, sekarang mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya dan memberikannya kepada Jane.


"Kalian tidak bisa seenaknya!" kata Jane setelah membaca surat di dalam amplop itu. Terdapat paspor dan tiket juga di dalamnya. "Aku tidak mau ikut kalian ke Kerajaan Vlada. Ibuku telah membatalkan perjodohan ini."


"Ini atas permintaan keluarga Anda, Miss."


"What? Tunggu sebentar," Jane mundur selangkah. "Aku akan menelepon ibuku dulu."


"Tidak ada waktu lagi," pria itu menoleh kepada teman-temannya. Mereka saling mengangguk, lalu mendekati Jane.


Jane berusaha lari dari cengkraman mereka, tapi usahanya gagal. Salah satu dari pria itu menarik lengannya dari belakang. Tenaga besarnya membuat Jane terhuyung.


Beberapa penghuni apartemen, tetangga-tetangga Jane, keluar untuk mengetahui apa yang terjadi karena mereka mendengar kegaduhan di lorong.


"Kami harap kalian kembali ke dalam karena kami tidak menginginkan keributan," ujar sang pria berseragam. "Orang ini melanggar peraturan pemerintah."


Herannya, para penghuni menuruti perkataan itu seolah pria-pria ini adalah agen CIA yang sedang menangkap mafia.


"Help!" teriak Jane di lorong. "Help! Mereka menculikku!"


"Bawa dia," perintah pria lainnya.


Jane dimasukkan ke dalam mobil sedan berwarna hitam, berplat nomor tak dikenal. Aksesoris bendera yang tertancap di ujung kap mobil menandakan bahwa ini adalah mobil resmi Kerajaan Vlada.


Wanita cantik itu diapit oleh dua pria penculiknya dan dua pria lainnya duduk berhadapan dengannya. "Kalian tak berhak menculikku!" serunya.


"Please calm down, Miss Watson. Kami tidak akan menyakiti Anda," kata pria di sebelah Jane.


"Aku adalah warga negara Amerika. Aku tahu apa-apa yang menjadi hakku!"


"King George telah menghubungi presiden Anda untuk meminta izin."


"Aku bahkan tidak memilih presiden gila itu saat pemilu!" protes Jane.


Sopir mobil membawa mereka ke bandara. Di sana sudah bertengger pesawat jet pribadi Kerajaan Vlada di landasan, siap untuk terbang.


"Can I at least call my Mom?" tanya Jane ketika turun dari mobil.


Pria penculiknya memberi izin.


Buru-buru Jane mengeluarkan ponsel dari saku dan menelepon Natasha. Ditunggunya nada sambung telepon selama sepuluh detik, limabelas detik, duapuluh detik.


"You are reaching Natasha's Watson home. Please leave a message," ujar seorang wanita di seberang sana.


"Mom, mereka menculikku! Telepon aku secepatnya! Jangan lupa telepon polisi!" Jane menekan tombol merah. "Damn answering machine!" gerutunya.


"Naiklah, Miss Watson," ajak pria yang mengizinkan Jane telepon.


πŸ›«πŸ›«πŸ›«πŸ›«πŸ›«


**bersambung ke chapter selanjutnya!


gimana chapter ini? minta like dan comment dooonks...


see you! 😊**