Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter XVIII - Disturbed


Aileen berlari kecil menghampiri Phillip. Namun, dia tersandung dan hampir saja jatuh mengusruk ke aspal jembatan.


Melihat Phillip tidak bergerak, Jane yang mendekati gadis itu. "Mari kubantu," katanya sambil memegang lengan Aileen. Telapak tangannya merasakan kehalusan bahan jaket wool yang dikenakan Aileen.


Aileen tersenyum. "Terima kasih. Maaf, aku agak ceroboh," ucapnya halus.


"Tidak apa-apa." Setelah Aileen berdiri tegak, Jane mengajaknya ke tempat Phillip yang sedari tadi berdiri saja seperti manekin tampan.


"Phillip," panggil Aileen. Senyumnya sumingrah ketika bertemu muka dengan pangeran itu. Namun, yang tidak disangka, dia memeluknya erat-erat. "Aku rindu sekali padamu," katanya.


Phillip terkejut, lalu melirik Jane yang juga sedang melotot. Pria itu salah tingkah, antara mau membalas pelukan Aileen atau melepaskan diri. Jadi, dia diam saja.


Aileen mundur selangkah dari Phillip. "Bagaimana kabarmu?"


"Kuharap sebaik kabarmu," jawab Phillip.


"Yeah," Aileen mengangguk-angguk. Rambut pirang panjangnya berkilau memantulkan cahaya lampu dan membuatnya nampak seperti seorang putri kerajaan.


"Dari mana kau tahu aku ada di sini?"


"Cukup mudah menemukanmu," Aileen mengangkat bahu. "Aku dalam perjalanan ke Fadar Palace ketika melihat para penjagamu di sekitar sini."


Jane baru menyadari keberadaan para penjaga yang mengenakan setelan jas, sama dengan orang-orang yang dulu menculiknya di apartemen.


"Boleh aku tanya siapa dia?" tanya Aileen, merujuk kepada Jane.


"Oh!" Jane tahu dirinyalah yang dimaksud Aileen. "I'm Jane," ujarnya seraya mengulurkan tangan.


Aileen menyambutnya ramah. "Just Jane?"


"Jane Watson."


"Hi, Jane Watson. I'm Aileen Saoirse Durrant from London."


Bagaimana kau mengejanya, batin Jane. "Nice to meet you, Aileen," Jane berusaha sama ramahnya.


"Nice to meet you too, Jane. Aku minta maaf bila kalian terganggu dengan kedatanganku."


"Tidak, tidak sama seka-"


"Kenapa kau datang ke Vlada?" potong Phillip yang menganggap kedua wanita ini hanya berbasa-basi.


Jane kaget pada perubahan sikap Phillip. Biasanya pria itu sopan dan ramah. Mengapa sekarang nada bicaranya terkesan ketus?


"Aku datang untuk menemuimu," jawab Aileen biasa saja.


"Ada apa?"


Aileen melirik Jane. "Bisakah kita bicara di tempat lain?"


Jane menundukkan kepala karena tidak enak. "Kalian duluan saja," katanya.


"Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian di sini," cegah Phillip.


"I'll be fine."


"Tunggu dulu. Memangnya sepenting apa hal yang ingin kau bicarakan sampai aku harus ikut denganmu?" tanya Phillip kepada Aileen.


"Phillip, kau mau saja orang asing mendengar apa yang kita bicarakan?" protes Aileen.


"Dia bukan orang asing," debat Phillip.


"Lalu, siapa dia?"


"Aku bukan siapa-siapa," jawab Jane sebelum Phillip membuka mulut. Tak ada yang bisa dia lakukan selain melerai mereka. Lagipula, dia pun tidak ingin mendengar kalau-kalau ada rahasia kerajaan yang barangkali tak sengaja terucap dari salah satunya.


Jawaban Jane membuat Phillip dan Aileen terdiam.


"Sepertinya kalian sudah lama tak bertemu. Mungkin banyak sekali yang mau Aileen bicarakan denganmu, Phillip. Kau pasti juga kangen dengannya, bukan?" Jane tersenyum.


"Are you sure?" tanya Phillip, ingin meyakinkan bahwa Jane akan pulang dengan aman meski sendirian.


"Yeah. Aku sudah terbiasa pulang malam di New York," Jane tergelak.


"Okay."


Aileen segera mengaitkan lengannya pada lengan Phillip, lalu mereka berbalik meninggalkan Jane. Masih terdengar dia bertanya kepada Phillip seraya mereka berjalan menuju mobil. "Siapa dia? Kenapa dia memanggil namamu seenaknya?"


👢👢👢👢👢


Jane menghela napas. Baiklah, kedua pangeran yang tadinya memperebutkan dirinya kini tak lagi tersisa. Thomas sudah dipastikan mundur dari pertandingan dan agaknya Phillip ternyata telah memiliki pasangan.


Merasa dibohongi, dia pun tersenyum sendiri seperti orang bodoh di jembatan berkilauan itu, memandangi orang berlalu begitu saja tanpa melihatnya. Wanita itu hanyalah seseorang di antara kerumunan, bukan siapa-siapa.


"You're wrong, Jill. Aku memang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Kesempatanku sudah lewat," gumamnya sendirian.


Dia sadar waktu tetap berjalan. Sudah setengah jam dia di sana. Jane menatap kegelapan Ain River di bawahnya, mengira-ngira seberapa dalam dasarnya. "Bagaimana ya rasanya tercebur ke sungai itu?"


"Kau mau mencoba?" tanya seorang pria yang secara tiba-tiba sudah berdiri di samping Jane. Pria itu tersenyum cemerlang.


Jane kaget dan menoleh. "Tom!" serunya.


Thomas muncul entah dari mana dan sejak kapan. Dia mengenakan long coat tebal, dipadukan dengan celana panjang dan syal. "Terkejut?"


Jane mengangguk, tetapi segera melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari para bodyguard pangeran. "Mengapa tidak ada?"


"Kau menunggu seseorang?"


"Tidak," jawab Jane. "Kau sendirian?"


"Aku tidak ingin diganggu."


Jane mendengus. "Bukankah setiap anggota keluarga kerajaan harus memiliki penjaga atau asisten yang siap menemani ke mana saja?"


"Tidak denganku," Thomas mengikuti Jane menatap Ain River. Dia diam selama beberapa detik. "I'm sorry, Jane," ucapnya sebelum menunduk, lalu menegakkan kepalanya kembali menatap mata Jane. Helaan napas wanita itu menambah penyesalannya. "Dengarkan aku dulu."


"Aku sudah memaafkanmu, Tom," kata Jane, yang lebih tidak mau memikirkannya daripada memaafkan.


"Kau mungkin memaafkan aku, tapi kau pasti masih membenciku."


"Ya, aku sangat membencimu sampai ingin menelanmu bulat-bulat," Jane menunjukkan taringnya.


"Aku minta maaf atas semua sikapku selama ini. Dari awal, mungkin aku tidak pernah sopan padamu."


"Mungkin?" Nada suara Jane meninggi.


"Oke! Aku memang tidak sopan!" seru Thomas. Dia harus mengatur napasnya agar dapat menjaga emosi.


"Well, Prince Thomas. Kau yang meminta maaf, tapi kau lebih galak daripada aku," Jane tertawa saking herannya.


"Kau sungguh pintar merusak momen. Aku sudah mempersiapkan kata-kata untuk ini," protes Thomas.


Tawa Jane bertambah keras dan tidak bisa berhenti.


"Hei, hati-hati tersedak," Thomas memperingatkan. Karena Jane tidak mau diam, pria itu ikut tertawa.


"Kenapa kau ikut tertawa?" tanya Jane saat berhasil mengambil napas.


Thomas menunjuk wajah Jane. "Kau yang mulai," jawabnya sambil tersengal-sengal. "You're so funny. I love you."


Air muka Jane langsung berubah. "What?" Dia terkejut bukan main. Apa dia tidak salah dengar? Wanita cantik itu harus mendengarnya sekali lagi agar lebih yakin.


🐮🐮🐮🐮🐮


Bersambung ke chapter selanjutnya!


**hai guys..aku balik lagi nih. semoga yang kali ini cepet update nya hehehe..


gimana chapter yg ini? minta saran atau kritik yah supaya cerita ini makin bagus. semoga kalian suka yah~


minta like dan comment juga seperti biasa. wajib yah cuy 😂


see ya**...