Marrying The Prince

Marrying The Prince
88


"Apa yang anda katakan tuan! Jangan berucap tidak sopan pada seorang gadis milik Tuhan!"


Seorang perawat menjerit kesal pada ucapan bajingan Ryes. Ryes yang di teriaki hanya kembali mengedipkan kedua bahunya dengan acuh, lalu kembali menatap Teresa


"Apa anda juga ingin meneriaki saya, suster?"


Tangan Ryes memegangi pedangnya, memberikan ancaman sangat jelas untuk Teresa. Teresa yang sudah di ancam dengan sangat jelas, hanya tersenyum lembut dan kembali menatap Ryes dengan tatapan kasihan.


"Saya memilih hidup untuk melayani dan mengabdi. Saya memberikan seluruh hidup saya untuk mengikuti perintah Tuhan dengan hidup menjauh dari kehidupan daging. Jika memang hidup tidak abadi saya ini bisa membuat banyak nyawa terselamatkan, silahkan pergunakan saya tuan-" Teresa menjedah, dan menatap Benji, Basco, dan Ryes secara bergantian. "Silahkan pergunakan saya saja, dan tolong lepaskan teman-teman saya, tuan-tuan"


Basco dan Benji yang mendengar ucapan panjang lebar Teresa langsung memutar bola mata mereka dengan malas. Ryes yang sudah mulai jengah, terlebih saat terus menerima tatapan penuh rasa kasihan Teresa mulai kehilangan kesabarannya.


Dengan cepat tangan Ryes terulur untuk meraih leher Teresa dengan satu tangannya. Dengan di ingiri semua suara-suara pekikan perempuan di sana, Ryes mencengkam kuat leher Teresa. Arah pandangya menatap Teresa dengan tajam dan serius. Kali ini, tatapan menusuk itu akhirnya sanggup membuat rasa takut merayap cepat ke dalam dada Teresa.


"Jangan banyak berbicara omong kosong suster. Kau dan aku sama-sama manusia penuh dosa yang akan sama-sama bertemu di neraka" Ryes mendekatkan wajahnya, hingga wajah mereka semakin dekat. Kedua bola mata sebiru langitnya mengkilap tajam. "Berhenti menatapku dengan tatapan itu, atau aku akan merobeki semua mulut orang-orang di sini dengan tanganku sendiri, langsung di depan mata indahmu ini suster"


Dengan kedua mata menutup dan tangan yang terkepal menahan rasa takut, Teresa berucap samar


"Baik tuan"


Ucapan Teresa langsung membuat Ryes melepaskan tangannya dengan kasar hingga tubuh Teresa bertemu dengan tanah. Ryes mulai bergerak, mengambil langkah menjauh dari Teresa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya mulai mencetak senyum mengerikan lalu menatap sekitar


"Aku ingin sedikit hiburan"


Suara Ryes langsung membuat Anastasia semakin mengepalkan kedua tangannya. Dia tahu, jika si bajingan bedebah Ryes itu sangat suka bermain-main dengan hal yang mengerikan dan menjijikan


"Suster, buka kerudung di kepalamu sekarang"


Benarkan... Baru saja Anastasia memilikirkan ingatannya tentang cerita yang pernah di dengarnya, sekarang ucapan Ryes sangat jelas menunjukkan betapa menjijikkannya kelompok mereka.


"Jangan tuan! tolong ampuni kami tolong... kami sudah memberikan keinginan anda, jadi tolong jangan lecehkan dan rendahkan teman kami. Tolong tuan"


Bernadeth terisak dengan menautkan tangannya penuh permohonan pada ketiga bajigan tamu mereka. Benji dan Basco yang masih memegangi Nora dan Keren hanya terkekeh mengerikan saat bisa melihat dengan jelas rasa putus asa, dan rasa penuh permohonan Bernadeth.


Dengan santai dan tenang, Ryes mengabaikan semua suara. Langkahnya kembali mendekat pada Teresa yang masih di atas tanah dengan Anastasia yang sudah menutupinya.


"Bangun"


Suara datar dan dingin Ryes membuat Anastasia bergindik ngeri, dirinya tetap memeluk Teresa dengan keras kepala. Hingga pergerakan Teresa membuat Anastasia melepaskan pelukannya dan menatap Teresa yang sudah tersenyum padanya.


"An"


Kepala Anastasia menggeleng kuat


"Jangan suster"


Tapi penolakan Anastasia tetap membuat Teresa bangkit dari tanah. Arah pandangnya kembali menatap Ryes dengan tegas


"Silahkan lakukan sendiri tuan. Karna saya akan keras kepala menolak perintah anda"


"Ooh..."


Benji berguman saat mendengar ucapan tegas dan keras kepala Teresa, sedangkan Basco langsung terkekeh menjijikan sambil ikut mendorong Nora pada Keren yang terlebih dahulu sudah di dorong Benji ke atas tanah.


Keheningan mengisi lapangan saat Ryes hanya diam dan sudah kembali melipat kedua tangannya di depan dada. Arah pandangnya menatap Teresa dan Anastasia bergantian, lalu tidak lama, suara tapak kaki kuda yang mendekat membuat Benji langsung mencari sebuah kursi untuk kapten mereka.


Benji kembali datang saat sudah mendapatkan sebuh kursi dan langsung memberikan kursi pada Ryes. Masih dengan mulut yang masih diam, Ryes segera duduk yang bertepatan dengan kedatangan sembilan pria lain. Sembilan pria dengan tampang dan penampilan yang sama banditnya dengan ketiga pria di sana.


Teman-teman Ryes yang lain sudah datang setelah di jemput....


"Kapt, apa kami terlambat?"


Masih dengan menutup mulutnya, Ryes tidak menjawab pertanyaan seorang bawahannya yang baru tiba. Basco dan Benji yang bisa melihat jika kapten mereka tidak berniat membuka mulut, langsung saling melirik dan segera menatap teman-teman mereka yang sudah ikut memenuhi lapangan, terlebih pada seorang pria yang terlihat jauh lebih muda di antara mereka.


"Your Highness, apa anda ingin kursi juga?"


Benji bertanya sopan di tengah-tengah ketakutan semua para perempuan di sana. Bertanya pada seorang pria muda dengan surai coklat ikal yang memakai mantel mahal


"Tidak perlu, aku menonton saja"


Ryes yang juga bisa mendengar jawaban itu, langsung menatap Anastasia sambil bersuara


"Your Highness, di sini ada ibu muda yang cantik"


"Yang mana?"


Jari Ryes langsung menunjuk ke arah Anastasia.


'Pangeran' yang terus di ajak berbicara di sana langsung mendekat pada Anastasia, mengikuti arah telunjuk Ryes sambil tersenyum aneh. Kedua bola mata liarnya menatap Anastasia dengan lekat lalu berucap


"Halo nyonya... pekenalkan, saya adalah Pangeran Richard dari kerajaan Bosnia"


Anastasia tersentak saat mendengar nama itu. Dirinya ingat sekarang, jika pangeran yang di sebutkan oleh tamu mereka itu adalah Pangeran Richard. Pangeran kedua dari Bosnia yang sering di kabarkan jika sedikit gila dan sangat suka menyiksa.


Dengan wajah yang kembali di pasangnya dengan datar, Anastasia menatap Richard yang terus menatapnya dengan aneh


"Apa yang anda inginkan?".


Akhirnya, Richard yang bisa mendengar suara Anastasia terkekeh geli. Kekehan aneh yang membuat alis Anastasia mengerut dalam. Pangeran di depannya ini memang terlihat sangat aneh.


"Hemm.. kau cantik sekali nyonya. Malam ini, kau temani aku ya? Kita bersenang-senang"


Bulu kuduk Anastasia langsung merinding karna jijik. Apa-apaan bocah ingusan itu, bisa-bisannya dia mengatakan hal vulgar pada seorang wanita yang jauh lebih tua darinya. Karna seingat Anastasia, jika usia Richard baru menginjak angka empat belas tahun.


Melihat Anastasia yang hanya diam dan menatapnya dengan tajam, Richard mencibik lalu kembali menatap Ryes.


"Dia keras kepala Rai"


Kepala Ryes mengangguk, untuk meng-iyakan ucapan Richard. Dengan arah pandang yang terus menatap Anastasia, Richard kembali bersuara pada Ryes


"Mana permainannya?"


Ucapan Richard membuat Ryes kembali bangkit dari kursinya, dan langsung melangkah mendekat ada Teresa yang sudah kembali menatapnya


"Jadi kau tidak ingin melepas sendiri kain di kepalamu ini suster?"


Anastasia yang dengan hati-hati terus mencari keberadaan Ferdinand dan Solar, mulai putus asa saat apa yang di carinya tidak juga muncul. Dirinya ingin melawan tapi, apa yang bisa di lakukan para perempuan seperti mereka untuk menghadapi dua belas pria bengis itu?


Dan pemikiran itu, membuat kedua mata Anastasia mulai buram, terlebih saat tangan Ryes sudah menarik kerudung Teresa hingga rambut pekat Teresa berterbangan.


Kekehan para pria di sana saling bersaut-sautan dengn suara iskan para perempuan. Anastasia benar-benar tidak menyangka jika Ryes dan kelompoknya benar-benar seorang bajingan hina yang bahkan tidak segan melecehkan seorang biarawati.


"Sekarang, buka bajumu"


Belum juga Anastasia dan teman-temannya yang lain bisa menenangkan rasa keterkejutan dan kekesalan mereka, kali ini ucapan luar biasa kurang ajar Ryes membuat mereka mulai hilang kesabaran.


Tapi percuma, karna seperti yang sudah di katakan Anastasia, jika mereka tidak akan bisa melawan dua belas pria bengis itu. Karna sekarang, para pria itu sudah memegangi dengan kurang ajar tubuh-tubuh para perempuan agar tetap diam di tempat, semuannya, tanpa terkecuali.


Dan pemandangan itu, membuat Anastasia menekankan dirinya untuk harus diam jika tidak ingin ikut di pegangi dengan kurang ajar, terlebih karna dirinya yang bisa melihat jika Richard terus menatapnya dengan aneh.


"Apa kau juga tidak ingin melepas sendiri bajumu suster?"


Teresa yang sudah meneteskan air mata terhinannya menggeleng yakin. Kedua mata basahnya menatap Ryes dengan lembut, tanpa dendam, tanpa kekesalan, tanpa kemarahan, tanpa ketakutan. Dan tatapan itu, berhasil membuat Ryes mengerang kesal. Sialan! Ryes benar-benar benci di tatap dengan penuh rasa kasih seperti itu.


Dengan kekesalannya yang sudah memuncak, langkah Ryes langsung melangkah maju. Dirinya tidak akan menahan diri lagi, dirinya akan membuat wajah Teresa menjadi seperti apa yang di inginkannya, menjerit takut dan menangis ketakutan, tapi,


Lagkahnya terhenti saat seorang pria yang entah datang dari mana langsung memblokir langkahnya.


Semua pria bajingan di sana juga ikut sama cukup terkejutnya seperti Ryes, saat melihat Solar yang sudah memblokir langkah Ryes. Berdiri kokoh di depan Teresa, menutupi Teresa di belakang punggungnya


Satu alis Ryes menukik


"Emm.. siapa kau?"


"Sebaiknya kalian pergi"


Suara lain yang muncul membuat semua kepala langsung berputar ke arah suara. Di mana, di arah suara, Ferdinand tiba-tiba muncul dengan sebelah tangan memegang pedang terbukanya.


Semua pria yang bisa melihat kehadiran Ferdinand. Kehadiran tenang tidak bisa, kehadiran yang bukan seperti seorang pria biasa, kehadiran yang jelas menunjukkan jika pria kuat itu sangat haus untuk membunuh, membuat mereka langsung melempar tubuh-tubuh para perempuan yang tadinya terus mereka pegangi.


Ryes dengan tenang menatap Ferdinand. Dengan Richard dan yang lain yang sudah menarik keluar pedang mereka.


Anastasia akhirnya menumpahkan begitu saja air mata leganya saat Ferdinand sudah tiba. Ferdinand yang melihat air mata istrinya, langsung mengulurkan tangannya, mengusap kepala Anastasia dengan lembut sambil berucap


"Bawa yang lain pergi"


"Mana bisa! Jangan sentuh wanitaku brengsek!"


Richard yang tidak terima ketika Anastasia di sentuh suaminya sendiri, langsung berteriak dan menatap Ferdinand dengan tajam. Satu alis Ferdinand menukik sambil memaminkan ujung pedangnya ke tanah.


"Wanitamu?" Ferdinand terkekeh dingin. "Sejak kapan istriku menjadi wanita dari bocah yang bahkan belum menumbuhkan dengan sempurna bulu-bulu k*m*luannya heh??"


Suara luar biasa menghina Ferdinand membuat sudut bibir Anastasia berkedut sambil memejamkan kedua matanya karna menahan geli. Baiklah... Ferdinand memang akan cocok untuk berhadapan dengan bocah cabul dan gila seperti Richard, karna mereka sama-sama kenakan, dan sama-sama tidak tahu malu.


"KAU-!!"


Ryes langsung menahan tubuh Richard yang akan melangkah untuk menyerang Ferdinand. Arah pandang Ryes menatap Ferdinand dengan lekat, menilainya dengan penuh selidik


"Apa kita pernah bertemu?"


Ferdinand membuang wajahnya ke sebelah tanpa berniat menjawab pertanyaan Ryes. Dirinya lebih memilih membisikkan sesuatu pada Anastasia dan langsung memberikan kecupan di pelipis istrinya, sambil menatap Richard dengan seriangi penuh provokasi.


Dan semua yang di lakukan Ferdinand itu, langsung membuat Benji dan Basco harus maju untuk menahan Richard yang mulai menggila


"Bedebah miskin kau! berani sekali kau menantangku hah!!"


Keributan yang di buat Richard membuat Ryes menarik pedangnya


Srangg!!


Suara pedang Ryes membuat Richard langsung terdiam. Basco dan Benji yang sudah mengerti dengan peringatan Ryes melirik Richard yang mau tidak mau, harus langsung diam sambil mengeram kesal. Suasana yang sudah kembali tenang membuat Ryes kembali bersuara pada Ferdinand


"Kita pernah bertemu kan?"


Ferdinand melirik ke arah Solar yang masih berdiri di depan Teresa yang sedang memperbaiki kerudungnya, lalu menatap Ryes sambil menjawab acuh


"Entahlah... mungkin saja. Karna aku memang pedagang yang sering berkeliling di banyak kerajaan dan benua"


Sudut bibir Ryes tertarik separuh


"Omong kosong. Mana ada pedagang yang bisa memiliki pedang yang di tempa dengan sangat spesial seperti itu"


Ucapan Ryes membuat Ferdinand ikut menatap pedang Ryes. Saat arah pandangnya bisa melihat dengan jelas pedang Ryes, bibir Ferdinand ikut tertarik separuh


"Bandit tidak bermoral seperti kalian ternyata bisa memegang pedang spesial juga, Duke Ryes"


Duke? Ucapa Ferdinand membuat kedua alis Ryes terangkat. Arah pandangnya kembali menatap penampilan Ferdinand yang tampak biasa, meski jelas, wajah dan tubuh sempurna Ferdinand itu bukanlah gambaran seseorang yang lahir dari keluarga biasa. Terlebih saat mendengat Ferdinand yang berani menyebutnya 'Duke'. Itu adalah panggilan sopan yang hanya bisa di sebutkan seseorang yang mempunyai status lebih tinggi dari Duke. Karna bangsawan yang berada di bawah Duke, terlebih untuk orang bisa, harus menyebut gelar mulia seorang Duke dengan 'His Grace'


"Emm... apa anda seorang bangsawan?"


Dengan rasa penasarannya yang semakin menggebu, Ryes kembali bertanya dan kembali di acuhkan Ferdinand. Karna Ferdinand lebih memilih membuka mulutnya pada Richard.


"Bermimpi saja kau bocah. Pangeran bocah cabul sepertimu tidak akan pernah bisa menyentuh istriku"


"Hei sialan! berani sekali kau hah!"


Dan sekali lagi, semua ucapan, cara bicara, dan gerak gerik Ferdinand kembali membuat Ryes bisa menyimpulkan sesuatu.


"Kau pangeran dari kerajaan mana?"


Kepala Ferdinand kembali menatap Ryes


"Kau terlalu banyak berbasa basi Duke Ryes"


"Hhmm..." Ryes tekekeh geli sambil ikut memainkan pedangnya yang sudah keluar dari sarung. "Kau terlalu sombong. Apa kau tidak tahu siapa kami? atau..." Ryes menghentikan kekehannya dan langsung menatap Ferdinand dengan tajam. "Atau kau memang sebenarnya sudah tahu siapa kami, dan karna itu sekarang sudah banyak orang yang mengelilingi kami?"


\=\=\=💙💙💙💙


Silahkan jejaknyaa