Marrying The Prince

Marrying The Prince
64


"Jadi, kapan kita akan menikah, Dinand?


Kedua alis Ferdinand terangkat tinggi, raut wajahnya kembali menatap Kenna penuh selidik, dirinya cukup terkejut saat mendengar pertanyaan itu meluncur dari mulut Kenna, pertanyaan yang selama ini tidak pernah Kenna pertanyakan padanya. Dulu, Ferdinand memang pernah menjanjikan itu pada Kenna tapi sekarang, hingga rumput yang bergoyang di Francia-pun tahu jika dirinya sudah menikah dengan Anastasia.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu Kenna?"


Meski Kenna bisa melihat dengan jelas jika tidak ada raut wajah antusias atau bahkan hanya senyum penuh janji yang tercetak di wajah Ferdinand, Kenna tidak bisa mundur lagi


"Kau tidak ingin kan anak kita kelak, akan di cap sebagai anak haram selama hidupnya? Lagi pula, ini memang rencana kita, janjimu, karna kau mencintaiku, karna kita saling mencintai"


Nafas panjang Ferdinand berhembus. Benar, dia tahu jika Kenna pasti akan membahas ini, lalu bagaimana cara Ferdinand untuk menjelaskannya pada Kenna. Menjelaskan pada Kenna tentang pernikahan sebuah anggota kerajaan terlebih, tentang kemauannya sendiri? Akhirnya setelah beberapa saat terjadi keheningan, Ferdinand mulai kembali membuka suara


"Aku sudah menikah Kenna"


Dahi Kenna mengeryit


"Aku tahu Dinand"


Kembali Ferdinand membuang nafas panjang, sambil mulai melangkah untuk membuka jendela kamarnya.


"Jika kau tahu, kenapa bertanya Kenna?"


Karna Kenna tidak mengerti dan butuh kepastian. Itulah yang ada di pikiran Ferdinand, dia sangat tahu itu tapi entah kenapa dia tetap bertanya. Kenna sudah mulai mengepalkan tangannya sambil menatap punggung Ferdinand, dia tidak akan menyerah. Sudah Kenna katakan, jika dia butuh kelegaan dan kepastian, jadi dia tidak bisa mundur lagi


"Jika ada pernikahan berarti bisa ada perceraian Dinand, bukan begitu? lagi pula, sampai kapan kau akan memiliki rumah tangga bersama wanita yang tidak kau cintai? bagaimana kau bisa memiliki anak dari wanita yang tidak kau cintai? bagaimana ka-"


"Pernikahan kerajaan tidak bisa ada perceraian"


Bagai tersambar petir, Kenna membulatkan kedua matanya dengan mulut yang masih menganga karna belum selesai berucap. Kakinya tanpa sadar langsung berdiri kasar


"Mustahil Dinand! Kau tidak mung-"


"Itu benar Kenna. Vatican tidak akan mengijinkan perceraian apapun yang terjadi. 'Hingga maut yang memisahkan' dan 'apa yang sudah di satukan Tuhan tidak bisa di pisahkan manusia' Sumpah itu ku ucapkan saat pernikahaku"


"TIDAK MUNGKIN!!!"


Ferdinand masih berdiri sambil menatap keluar jendela. Dirinya terlalu pengecut untuk menatap Kenna, rasa menyesal di dirinya yang pernah berjanji untuk menjadikan Kenna istrinya membuat Ferdinand tidak sanggup untuk menatap Kenna. Tapi dia bisa apa, karna sekarang Ferdinand memang sudah menikah terlebih, dia juga tidak ingin bercerai. Bercerai dalam artinya kehilangan Anastasia? Hell no! Ferdinand tidak mau itu terjadi


"Itulah kenyataannya Kenna"


Brakkk!!


Kenna melempar kotak kayu di atas meja dengan penuh amarah. Seumur hidupnya, Kenna tidak pernah merasa semarah ini, dirinya merasa sangat tertipu


"Kau menipuku Dinand! kau membual ketika mengatakan semua janjimu!"


Bentakan, kekasaran, dan makin Kenna membuat Ferdinand langsung menoleh dan menatapnya dengan tajam


"Aku memang pernah berjanji saat itu, aku mengakuinya. Dan ku ingatkan padamu, saat itu, saat aku mengatakan semua janji dan rencana masa depan kita, aku mengatakannya dengan tulus, aku tidak perbah menipu apapun padamu. Tapi sekarang semua tidak semudah itu Kenna, aku sudah menikah"


Belum cukup Kenna merasakan jika hatinya di tusuk, sekarang dia bisa merasakan jika bisa saja semua mimpi dan angan-angannya akan hancur. Terlebih anaknya, apa yang akan terjadi pada anaknya nanti? Dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca, Kenna menatap Ferdinand dengan penuh permohonan


"L-lalu... bagaimana denganku nanti? bagaimana dengan anak kita? Apa kau tega membiarkan anak kita di hina sebagai anak haram selama seumur hidupnya bahkan hingga dia meninggal nanti?"


Kedua mata Ferdinand terpejam sejenak karna kepalannya mulai berdenyut, dan saat dirinya mulai tenang, Ferdinand kembali bersuara.


"Aku sedang membutuhkan waktu hingga keadaan mulai tenang, hingga Ana tenang"


"Ana?"


Kepala Ferdinand mengangguk, sambil menatp Kenna yang menatapnya dengan bingung dan kedua pipi basah.


"Iya. Saat Ana sudah mulai tenang, aku akan membujuknya untuk menerima anak itu"


Kenna semakin tidak bisa mengerti arah dan maksut ucapan Ferdinand, guratan kebingungan sangat jelas tergurat di wajahnya


"Aku tidak mengerti"


Akhirnya, Ferdinand membulatkan tekatnya untuk menjelaskan rencananya. Rencana yang sebenarnya belum ingin dia katakan pada Kenna tapi, jika bukan sekarang, dia yakin jika Kenna tidak akan berhenti


"Aku berencana meminta Ana menerima dan mengangkat anak itu sebagai anak kami. Dengan begitu, setidaknya anak itu tidak akan di cap sebagai anak haram, dan aku juga bisa membesarkannya dengan baik. Setelah itu, aku akan menjamin kehidupanmu dan Elsa juga"


Tidak sedikitpun, tidak cuilpun, tidak setitikpun Kenna pernah membayangkan jika Ferdinand akan mengatakan hal seperti itu padanya.


Jadi sebenarnya, maksut Ferdinand yang mencarinya, membawanya, memberikan perhatian itu apa? apakah Ferdinand memang tidak peduli lagi dan menyerah dengan janji-janji mereka? apa Ferdinand setakut itu pada ayahnya hingga rela melupakan dan melepaskan cintanya pada Kenna? Apakah seberat itu kesulitan Ferdinand? Apakah sekejam itu peraturan kerajaan terlebih istana? Jika begitu Ferdinand pasti sangat tersiksa. Yaa... pasti begitu, pasti karna itu Ferdinand menjadi begini dan terpaksa melakukan ini. Peraturan kerajaan, istana, dan Raja pasti membuat Ferdinand menderita dan terjepit, karna itu Ferdinand hanya bisa memiliki jalan keluar seperti itu.


Baiklah jika begitu, setelah berpikir beberapa menit, dengan penuh perhatian dan pengertian, Kenna akan menahan ego-nya, karna Kenna berpikir jika Ferdinand juga terpaksa seperti ini, terpaksa untuk tetap menjalankan pernikahannya, terpaksa mengubur janji dan mimpi-mimpinya bersama Kenna.


Kenna Menarik nafas dalam sambil mengusap kedua pipinya yang basah


"Baiklah Dinand, aku akan menerima rencanamu"


Sebenarnya, Ferdinand sudah siap untuk menerima amukan Kenna lagi saat dia sudah mendeklarasikan rencananya yang terdengar sedikit kejam tapi, Kenna menerimanya? Ferdinand sekarang bingung harus berkata apa


"Kau menerima?"


Sambil tersenyum lembut, Kenna mulai melangkah mendekat pada Ferdinand


"Iya, karna semua ini demi kebaikan bersama kan? Demi anak kita dan juga kita. Walaupun kita tidak menikah, kita tetap bisa bersama karna, aku mengerti jika kau terpaksa melakukan ini, aku akan selalu mencoba pengertian Dinand" Kenna menjedah dan langsung memeluk Ferdinand yang masih berdiri membatu dengan wajah yang menunjukkan sejuta rasa binging, rasa bingung yang Kenna anggap sebagai kebingungan karna Kenna yang terlalu pengertian, Ferdinand pasti terkejut "Aku tidak masalah jika memang kita tidak terikat pernikahan, ini lebih baik karna kita bisa menjadikan status pernikahanmu sebagai dinding pelindung hubungan kita. Aku mencintaimu Dinand"


"Anak kita ingin pergi bersama, Dinand. Ayo keluar berdua"


--000--


Fredrick masih menatap lekat ke luar jendela yang menunjukkan pemandangan awal di mulainya musim gugur. Sesekali bola mata abu-abunya melirik ke arah taman belakang istana, dimana para Putri dan menantunya sedang duduk santai menikmati teh sore mereka.


Fredrick menatap Anastasia sejenak, lalu kembali menatap jauh ke depan. Ingatannya kembali saat di mana pertemuaan pertamannya dengan Anastasia. Saat Anastasia yang hampir menyerah di atas punggung kuda, saat Anastasia yang bisa saja merenggang nyawa jika saja Ferdinand tidak melihat dan menolongnya. Dan satu tahun setelah itu, ada sebuah surat tidak di kenal yang datang pada Fredrick. Surat dengan tulisan rapih tapi tetap terlihat seperti tulisan anak kecil yang baru mahir menulis.


Surat yang berisi tentang tawaran.... Penahlukkan kerajaan dan pembunuhan keluarga kerajaan.


Saat itu, Fredrick tidak mungkin bisa percaya dengan semua isi surat tentang keamanan, ekonomi, perputaran politik rahasia kerajaan Trancia yang di tulis secara mendetail di dalam surat itu. Fredrick bahkan mengabaikan dan tidak menganggap sama sekali surat itu. Hingga setiap dua bulan sekali, surat itu terus berdatangan dengan isi yang menjelaskan setiap perputaran, kestabilan, dan pergerakan rahasia di dalam kerajaan Trancia.


Dengan masih membawa rasa tidak percaya, tapi juga penasaran, Fredrick meminta Gregory untuk menyelidiki surat itu. Dan apa yang di dapat Gregory adalah, jika ada seorang pedagang keliling dunia yang juga bisa menjadi agent pengantar surat lah yang sudah menyalurkan surat-surat itu dengan sangat rapih dan rahasia. Seorang pedagang yang juga masih kerabat mendiang Ratu Marry, ibu dari Anastasia. Anastasia, si pengirim surat pengkhianatan dan pembunuhan untuk kerajaan dan keluarganya sendiri.


Fredrick yang mendapati fakta itu merasa semakin tertarik, dirinya terus mencari tahu tentang Anastasia. Anastasia si Putri Mahkota yang tidak di inginkan, si Putri Mahkota yang ingin di hapuskan, si Putri Mahkota yang tidak memiliki pendukung kuat, dan si Putri dari seorang ayah yang membenci bahkan tidak menganggap dirinya sebagai anak sendiri.


Bertahun-tahun surat itu terus datang, Fredrick menerima dan mempelajari dengan baik, hingga di tahun ke lima isi surat berubah. Surat yang tadinya hanya berisi informasi berubah. Tidak hanya tentang pengkhianatan kerajaan, tapi juga tentang tawaran rencana pembunuhan seluruh keluarga kerajaan Trancia, tanpa pengecualian. Bahkan, di dalam surat itu, si pengirim menggambarkan dengan jelas bagaimana dia menginginkan cara setiap anggota keluarganya di bunuh nanti. Saat itu, Fredrick yakin jika Anastasia yang sudah bertekat untuk membunuh seluruh keluarganya belum genap berusia lima belas tahun.


Nafas panjang Fredrick berhembus saat mengingat bagaimana dirinya yang mengkhianati dan menipu Anastasia. Di dalam surat perjanjian itu, perjanjian yang di tawarkan Anastasia padanya, Anastasia ingin jika dirinya membantu Anastasia untuk naik ke atas tahta, dan jelas Fredrick menolak. Fredrick tidak se-santai itu untuk mengurus dan mengasuh Putri kerajaan orang lain. Terlebih, jika dia menyerang Trancia, dia ingin menggengam kerajaan itu. Tidak ada alasan khusus untuknya, hanya saja, tidak mungkin Fredrick membantu Anastasia tanpa bayaran.


Dan karna penolakannya, perjanjian baru dibuat. Anastasia kembali membuat tawaran dan perjanjian baru pada Fredrick. Anastasia siap untuk melepas kerajaannya, asalkan Anastasia di bantu untuk kabur dengan tujuan yang sesuai dengan keinginan Anastasia. Tawaran yang lebih dari kata menggiukan untuk Fredrick itu langsung di setujui Fredrick tapi, di sanalah keserakahan manusia dan kelicikan seorang Castalarox timbul.


Mengetahui, mengenal, dan mempelajari seluruh hidup Anastasia membuat Fredrick ingin menggenggamnya. Karna, dengan menggenggam Anastasia, tidak hanya bisa memiliki Trancia dengan aman tanpa perlu khawatir jika suatu hari akan ada keributan merepotkan di Trancia. Tapi juga dengan memiliki Anastasia, Fredrick bisa memberikan pion yang berguna untuk masa depan Francesca. Anastasia juga akan berguna di saat Francesca kelak, harus menjalankan ataupun ingin merombak semua isi Trancia. Pion, Fredrick sangat ingin menjadikan Anastasia sebagai pion.


Pion yang harus dia rayu dan iming-imingi agar tetap tenang dan bersedia menjadi pion dengan suka rela setelah di seret ke Francia. Dan sekarang, melihat bagaimana Anastasia sangat menyayangi para Putri, istri, dan keluarganya, Fredrick sudah mendapatkan hati Anastasia tapi, yang menjadi masalah sekarang adalah putranya.


Karna sebuah kehancuran di hati Anastasia, bisa membuat semua rencana Fredrick gagal. 'Semua' termasuk rencana untuk memperbaiki putranya.


Meskipun Fredrick sudah menutup rapat apapun yang berhubungan dengan politik milik keluarga mendiang Ratu Marry agar tidak bisa memberikan sentuhan pada Anastasia tapi, Anastasia yang terbiasa menahan siksaan, bisa melakukan apa saja untuk hidup. Termasuk kabur sejauh mungkin hingga lenyap tanpa jejak seperti keinginan awal Anastasia sebelum Fredrick berhasil menyeretnya ke Francia.


Pemikiran itu, membuat Fredeick kembali menatap Anastasia sambil berguman


"Watchout Dinand... Atau kau akan kehilangan"


--000--


Anastasia baru saja menginjakkan kakinya di castle Chasembord saat langit sudah mulai gelap. Hari ini dia cukup puas setelah bermain bersama para Putri di istana.


Langkah Anastasia terus berjalan menuju ke arah kamarnya dan mengabaikan beberapa pelayan yang menyapanya.


Setelah sampai di depan pintu kamarnya, Anastasia teringat perkataan Lucas yang mengatakan jika Ferdinand pergi saat hari menjelang siang dan belum juga kembali saat Anastasia akan pulang dari istana. Hanya Solar dan Carl yang mengantarnya pulang, tanpa Ferdinand.


Entah kemana Ferdinand pergi bahkan tanpa membawa Solar. Dan karna itu, Anastasia berpikir mungkin Ferdinand sakit?


Well.. sebaiknya Anastasia cari tahu langsung. Dengan cepat tangan Anastasia mengetuk pintu kamar Ferdinand, tapi tidak juga ada jawaban. Hingga seorang pelayan datang


"His Highness belum kembali, Your Highness"


"Oh baiklah..."


Anastasia pikir, mungkin Ferdinand keluar bersama Michael atau pergi mengerjakan sesuatu yang penting hingga meninggalkan pekerjaannya di istana pada Solar tapi, langkah Anastasia terhenti saat pelayan yang memberitahukannya tadi, kembali bersuara pelan


"Maaf Your Highness. Saya ingin memberitahu jika His Highness tadi siang menjemput nona Kenna ke sini, lalu mereka pergi bersama dengan kereta kuda. Dan sepertinya mereka akan bermalam di luar"


"Apa?" Pelayan itu langsung menundukkan kepalanya dengan gelisah. Anastasia kembali berucap. "Apa nona Elsa juga ikut?"


Dengan ragu dan dengan kepala yang masih tertunduk, pelayan itu menggeleng


"Nona Elsa ada di kamarnya"


Sambil memasang senyum terbaiknya, Anastasia mengangguk mengerti. Lalu kembali untuk menuju pintu kamarnya.


Ruth yang terus mengekori Anastasia hanya diam, tidak tahu harus bagaimana menghibur nyonyanya. Karna jelas, saat sudah masuk ke dalam kamar, raut wajah Anastasia langsung berubah muram.


"Aku ingin mandi sekarang saja Ruth"


Setelah selesai dengan gaunnya, Anastasia meminta Ruth untuk mengantarkan makan malam nanti di kamarnya. Anastasia tidak ingin makan malam berdua dengan Elsa, terlebih Michael yang entah akan pulang pukul berapa.


--000--


Di sini lain, Ferdinand dan Kenna baru menyelesaikan siang dan sore mereka. Ferdinand akan membawa Kenna berjalan-jalan di sekitar sebuah penginapan yang mereka tempati, daerah yang terletak di pinggir ibu kota dekat pegunungan.


Saat sudah sampai ke tempat yang ingin di tunjukannya, Ferdinand melirik Kenna yang tampak berbinar saat melihat matahari terbenenam.


"Ini cantik Dinand"


Kepala Ferdinand mengangguk setuju, lalu tubuhnya sedikit tersentak saat Kenna langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Ferdinand sambil menempelkan bibir mereka. Setelah memberikan ciuman singkat yang di balas Ferdinand, Kenna menik kepalanya untuk menatap dalam kedua manik Ferdinand sambil tersneyum dan berbisik


"Aku mencintaimu"


Ferdinand ikut tersenyum, sambil merapikan rambut Kenna yang berterbangan karna angin. Dirinya kembali berpikir dan merenung. Sangat jelas jika dirinya masih mencintai Kenna, walaupun dia menyayangi Anastasia, dan karna itu Ferdinand tidak ragu untuk menghabiskan waktu bersama Kenna di luar. Meski Ferdinand tahu, mungkin saja hal ini akan membuat hubungannya dan Anastasia semakin merenggang.


Tapi Ferdinand pikir... dia pasti bisa memperbaikinya nanti.


\=\=\=💛💛💛💛


Silahkan jejaknya...