Marrying The Prince

Marrying The Prince
60


Dalam dua hari ini Kenna terus bisa melihat senyum cerah adiknya. Elsa terus berlarian kesa kemari dengan wajah berbinar bahagia. Kenna yang melihat itu ikut tersenyum sambil sesekali mengusap perutnya.


Seperti sekarang, Elsa sedang memegangi karangan bunga besar yang di susunya dengan cantik, bunga-bunga segar yang baru di petiknya dari kebun bunga indah yang ada di taman castle.


"Ini sangat indah Kenna"


Kenna tersenyum hangat sambil mengusap lembut kepala adiknya


"Kau harusnya meminta ijin dulu untuk memetik bunga-bunga itu"


Dengan malas, Elsa memutar bola matanya


"Ken, tempat ini juga sudah menjadi rumah kita. Lagi pula mereka pasti tidak akan perduli jika sekalipun aku membuat botak kebun bunga itu, Dinand pasti dengan mudah bisa membuatnya kembali"


Benar... Kenna yang sekarang, tidak akan menjadi Kenna yang dulu. Dirinya mulai sekarang akan lebih berani dan lebih menunjukkan diri karna dia percaya, semua tempat di setiap sudut castle adalah milik Ferdinand dan Ferdinand adalah ayah dari calon anak yang ada di perutnya, yang sama artinya dengan jika semua yang di miliki Ferdinand adalah miliknya juga.


Dalam beberapa hari ini, Kenna sudah mulai mempelajari gerak gerik, kebiasaan, dan cara bangsawan hidup. Seperti sekarang, dirinya sedang melakukan kebiasaan bangsawan yang duduk tenang sambil menikmati teh pagi dengan anggun, menikmati hidup santai tanpa perlu memikirkan besok mereka akan makan apa, atau besok mereka harus bekerja sekeras apa.


Semua pemandangan di sana membuat Anastasia tersenyum kecut. Dirinya masih berdiri di depan jendela perpustakaannya sambil menatap ke arah taman. Sudah dua hari dirinya mengurung diri di perpustakaan terutama jika Ferdinand sedang ke istana. Dirinya hanya akan keluar untuk makan di meja makan, atau saat dirinya yang harus mengecek dan mengatur keperluan castle.


Jujur saja, Anastasia sudah tidak peduli lagi dengan semua hal di dalam castle ini. Jujur saja, Anastasia mulai membenci semua hal yang ada di castle ini. Ahh benar juga... Jika dia sudah tidak peduli, lalu untuk apa menjaganya lagi? kalau begitu lenyapkan saja kan?


"Ruth"


Ruth yang sedang membaca sebuah buku di perpustakaan untuk menemani Anastasia segera meletakkan dengan pelan bukunya, dan langsung berdiri sopan.


"Iya, Your Highness"


"Katakan pada Carl, jika aku ingin meratakan kebun bunga di taman"


Kedua mata Ruth mengejap-ngejap bingung


"Pardon, Your Highness?"


Anastasia yang bisa mengerti kebingungan Ruth, segera berbalik untuk menatap Ruth dengan tersenyum


"Ratakan hari ini juga. Aku tidak ingin saat musim gugur tiba, guguran bunga-bunga di sana membuat taman menjadi kotor. Habisi hingga tidak bersisa Ruth"


Masih dalam kebingungan, Ruth mencoba menatap Anastasia dengan lekat. Mencoba mencari tahu apa yang sedang di pikirkan nyonyanya tapi, Ruth tidak menemukan apapun di sana, di wajah lembut dan senyum lembut Anastasia. Ruth segera menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Baik, Your Highness"


Setelah Ruth keluar dari pintu, Anastasia kembali duduk di kursinya untuk menikmati buku-buku kesukaannya. Buku, adalah sesuatu yang sekarang bisa menyejukkan hati dan pikirannya.


Berjam-jam mulai di jalani Anastasia yang terus larut dalam bacaannya hingga suara teriakan seseorang dari luar, membuat alfabet-alfabet yang sedang di nikmati Anastasia terhenti. Anastasia meletakkan bukunya ke atas meja, lalu mulai menegakkan kakinya untuk menuju jendela, asal suara teriakan yang di dengarnya tadi.


Dengan raut wajah datar, Anastasia menatap lekat ke arah taman, sumber di mana keributan terjadi.


Arah pandangnya menangkap apa dan siapa yang menyebabkan keributan di sana, Elsa. Gadis yang usianya pasti lebih muda dari Summer itu terus meneriaki beberapa penjaga dan pelayan yang sedang melakukan perintahnya. Sudut bibir Anastasia berkedut saat mereka benar-benar 'meratakan' semua bunga di sana. Mereka benar-benar mencabik-cabik bunga-bunga yang masih indah di sana dengan sadis bahkan, dia melihat Carl yang sudah mengeluarkan pedangnya untuk menebas segala warna-warni yang tampak indah melayang di udara, lalu berakhir menggenaskan di atas tanah.


Dalam diam Anastasia terus menatap dari jendelannya, dirinya menikmati setiap kehancuran keindahan di sana. Rasanya, entah kenapa kehancuran di sana memberikan rasa lega untuknnya, rasa puas, dan tentu saja rasa bahagia. Sambil mengetuk-ngetuk jarinya yang bertaut anggun di depan perut, Anastasia sedikit tersentak saat Carl dengan tiba-tiba menoleh dan menaikkan arah pandangnya pada Anastasia, lalu dengan cepat penunduk singkat sambil kembali meratakan hingga ke akar kebun bunga-bunga malang di sana.


--000--


Hari ini, Ferdinand kembali untuk memeriksa camp kesatria. Dirinya tetap mencoba fokus melatih dan mengurus para kesatria di sana, meski saat ini pikirannya terus tertuju pada castle.


Hal seperti ini terus terjadi semenjak pertengkaran dirinya dan Anastasia. Ada banyak kegelisahan yang di pikirkan Ferdinand. Seperti bisa saja Kenna yang akan terluka di castle, atau saat dia pulang, bisa saja Francesca atau bahkan ibunya tiba-tiba ada di sana sambil menenteng kepala Kenna yang sudah terpisah dari tubuhnya.


Pemikiran itu selalu membuat Ferdinand bergindik, semua pemikiran kejam itu bisa saja terjadi, bukan tanpa alasan Ferdinand bisa berpikiran seperti itu karna dia sangat tahu dengan jelas, Putri pertama Castalarox terlebih Ratu Castalarox yang tidak akan segan atau tidak akan setengah-setengah untuk melengapkan sesuatu yang mereka anggap kotoran. Terlebih kehadiran Kenna di castle yang sudah melebihi dari kata menantang untuk dia kibarkan pada kehormataan istana.


Bukan Ferdinand tidak sadar dengan apa yang dia lakukan, bukan Ferdinand tidak tahu akibat apa yang bisa saja dia dapatkan tapi, jika dia tidak membawa Kenna dan menjaganya dari dekat, Kenna pasti akan di lenyapkan. Cepat atau lambat ayahnya pasti akan mencium segalanya dan... Raja kejam itu pasti tidak akan suka jika ada serangga yang merusak keindahan tahtanya. Karna itu, setelah akhirnya dia bisa menemukan Kenna dan selama berhari-hari menyembunyikan mereka, Ferdinand segera mengambil keputusan untuk meletakkan Kenna di dekatnya, di rumahnya, di castle Chasembord.


Tapi, ada satu hal yang berada jauh di luar perhitungan Ferdinand, Anastasia. Perubahan Anastasia yang langsung berubah seratus delapan puluh derajat selama dua hari ini padanya.


Dingin, acuh, datar, dan menghindar selalu menjadi peelakuan yang di terima Ferdinand dari Anastasia. Ferdinand membuang nafas panjang. Baiklah... Anastasia sedang marah padanya, dan dia yakin jika keadaan sudah tidak terlalu panas lagi, saat kemarahan Anastasia mereda, dia akan berbicara dari hati ke hati dan akan memohon agar Anastasia bisa menerima kehadiran Kenna, termasuk anaknya dan Kenna nanti.


Karna jujur saja, Ferdinand tidak bisa melepas Anastasia, dia peduli pada Anastasia, dirinya sudah terlanjur sangat menyukai dan nyaman pada istrinya. Karna itu, nanti saat keadaan sudah mulai lebih sejuk, dia akan memohon ampun untuk maaf dan memohon agar Anastasia bisa percaya padanya lagi.


"Your Highness"


Seorang kesatria dengan nafas terengah datang masuk ke ruang santai di camp, yang membuat Ferdinand dan lamunanya terhenti


"Kenapa?"


Sambil mengatur nafas, kesatria itu membuka suara dengan gusar


"Kesatria Solar mengatakan jika His Grace Monalisa, Lady Charlotte, dan Lord Michael datang ke Castle, Your Highness"


Dahi Ferdinand mengeryit. Kenapa apa para penghuni Castle Albany itu datang ke castle-nya? Ferdinand hampir segera beranjak dari kursinya tapi dia langsung ingat jika pekerjaannya belum selesai.


Isi kepala Ferdinand berputar, memikirkan kembali, apakah dia harus kembali atau tidak tapi, Duchess Monalisa dan Lady Charlotte bukanlah para wanita yang akan masuk dalam daftar 'bahaya' dalam pikirannya sekarang. Akhirnya, Ferdinand membuang nafas panjang


"Solar di mana?"


"Bersama kesatria Keelf sedang memeriksa semua peralatan, Your Highness"


"Baiklah. Keluarlah"


Dengan sopan, kesatria itu langsung menunduk dan segera pergi.


Ferdinand juga langsung kembali menyelesaikan semua agenda dan catatan senjata yang harus dia perbaiki atau perbaharui. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain, lagi pula seperti permikirannya tadi, istri Arthur dan aunty-nya itu bukanlah para wanita berbahaya yang bisa menyakiti orang lain


---000---


Monalisa, Charlotte, dan Michael langsung melangkah menuju pintu masuk saat kaki mereka sudah menginjak tanah halaman castle Chasembord. Para penjaga yang melihat segera mendekat dan langsung membungkuk sopan pada mereka


"Selamat siang Your Grace Monalisa, Lord Michael dan Lady Charlotte"


Monalisa menganggukkan kepalanya singkat sambil mengedarkan arah pandangnya. Menatap semua bentuk sekitar castle yang tidak berubah sedikutpun.


"Silahkan Your Grace, My Lord, dan My Lady"


Pengawal yang sudah mempersilahkan mereka, membuat Monalisa mengambil langkah terlebih dahulu.


Saat mereka sudah masuk, beberapa pelayan berlarian mendekat pada mereka, termasuk Stefanus yang memacu kaki tuanya dengan cepat saat mendengar kedatangan mendadak para tamu penting itu.


"Selamat siang Your Grance, My Lord, dan My Lady"


Monalisa tersenyum ramah sambil mengangguk


"Stef, carikan kami kamar terbaik. Hidangkan teh sekarang juga"


"Kami harus meletakkan teh di mana, Your Grace?"


Monalisa melirik Charlotte sejenak, Charlotte yang di lirik mengedipkan kedua bahunya dengan acuh sambil melangkah menuju ke ruang tamu. Monalisa kembali menatap Stefanus


"Sesuai permintaan Lady Charlotte, Stef"


Stefanus yang langsung paham segera mengangguk paham


"Baik Your Grace. Kalau begitu, kami segera menyediakan semuanya dan-" Stefanus menjedah dan menaikkan arah pandangnya untuk menatap ke tiga tamu. "Selamat datang di Chasembord"


Michael terkekeh sambil menepuk-nepuk sebelah bahu tua Stefanus, wajahnya mendekat pada Stefanus untuk berbisik


"Aku melihat sebuah kelegaan di raut wajahmu Stef"


Stefanus hanya bisa tersenyum geli. Benar jika dirinya cukup lega karna yang datang bukanlah orang-orang 'berbahaya' seperti pesan tuannya. Dan juga, sebenarnya dia masih sedikit trauma ketika mendengar jika ada tamu yang datang dari jauh. Bisa saja kan jika tuannya yang gila itu membawa simpanan lain lagi ke tempat mereka?


Dengan tergesah, Anastasia terus melangkah untuk menuju ke pintu castle. Kabar dari Ruth jika ada tamu yang datang membuat senyum d bibirnya terbit, terlebih karna siapa saja tamu yang datang


"Selamat siang"


Anastasia berucap lembut pada tiga orang yang masih berdiri sambil merapikan sedikit gaun mereka.


"Ohh... halo sayang"


Lottie segera maju menerima sambutan hangat Anastasia


"Halo Ana"


"Halo aunty Mona"


Dengan sopan Anastasia langsung memberikan anggukan singkatnya. Hingga Michael juga ikut maju sambil menyodorkan tangannya yang menegadah. Anastasia cukup bingung dengan gerakan Michael, lalu melirik para aunty-nya yang tampak tidak ingin melihat?


Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Anastasia berpikir jika tidak mungkin dirinya menolak salam sopan Michael. Sambil tersenyum lebut, Anastasia langsung memberikan tangannya yang langsung di kecup Michael.


"Halo Your Highness"


"Halo Marquess Michael" Setelah tangan Anastasia terlepas dari Michael, arah pandang Anastasia menatap bergantian ketiga saudara Raja dan Ratu itu. "Silahkan duduk aunty dan Marquess"


Mereka tanpa segan segera mengambil posisi duduk masing-masing, dan tidak lama para pelayan yang sudah mendorong trolly mulai menghidangkan teh dan kudapan di atas meja ruang tamu.


"Bagaimana kabarmu Ana?"


Monalisa bertanya sambil mengangkat cangkirnya.


"Baik aunty. Aunty apa kabar?"


"Seperti yang kau lihat Ana, kebahagian rumah tangga membuat kami bahagia"


Sambil berucap Monalisa mengerling pada Anastasia yang hanya bisa tersenyum sendu. Charlotte yang menyadari itu segera bangkit dari duduknya dan langsung mengambil tempat di sebelah Anastasia, tangannya yang hangat mengusap pelan punggung Anastasia.


"Sebenarnya kami ingin menginap beberapa hari di sini? Bagaimana Ana?"


"Tentu saja aunty. Kalian bisa menginap selama yang kalian inginkan. Ini juga rumah kalian"


"Ohh.. kau baik sekali Ana"


Dan obrolan merekapun berlanjut. Mereka mulai membuka percakapan biasa dan santai, sesekali suara kekehan anggun ataupun gerak-gerik tawa sopan memenuhi ruang tamu hingga, dua orang masuk dan dengan terkejut menatap mereka semua.


Monalisa yang terlebih dahulu melihat dua orang itu menaikkan satu alisnya, Charlotte yang sedang mengunyah biskuit tersenyum anggun sambil menatap mereka dengan lekat, sedangkan Michael tampak acuh sambil menyesap tehnya


"Siapa mereka?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Charlotte membuat Anastasia langsung mengikuti arah pandang Charlotte. Anastasia menatap Kenna dan Elsa sejenak, lalu menyesap tehnya tanpa menjawab


Keterdiaman Anastasia membuat Monalisa dan Charlotte langsung bisa menyimpulkan, jika inilah wanita yang beberapa hari ini selalu mereka bicarakan dengan cara yang tidak baik


"Apa ini pelayan baru?"


Suara Monalisa terdengar sambil tersenyum ramah. Charlotte terkekeh anggun dan ikut bersuara, menjawab ucapan Monalisa


"Sepertinya begitu Mon" Lalu menatap Kenna dengan lekat. "Iya kan?"


Pertanyaan atau pernyataan dari Charlotte membuat Kenna tersenyum kecut sambil menggenggam kuat tangan Elsa. Memberikan pesan agar Elsa tidak boleh membuka mulutnya, karna dia yang akan membuka mulut


"Maaf nyonya, tapi kami bukan pelayan karna kami adalah 'tamu' His Highness"


Semua telinga yang bisa mendengar ucapan Kenna bisa menyadari itu. Penekanan dan juga penolakan yang beraroma rasa tersinggung di setiap nada dan tatapan Kenna. Tatapannya yang jelas berani menatap dengan pandangan penuh penilaian pada dua wanita anggun di depannya yang tidak Kenna ketahui siapa


Charlotte dan Mona saling melirik, lalu sama-sama melirik Anastasia yang sudah memulai obrolan dengan Michael, seolah dua orang yang masih di depan pintu itu hanyalah angin berhembus


"Tamu? Lalu... siapakah anda para tamu His Highness?"


Dengan ikut membalas senyum ramah dua wanita di depannya dengan senyum yang tidak kalah ramah, Kenna kembali membuka mulutnya.


"Saya Lady Kenna dan ini adik saya Lady Elsa"


Michael hampir menyemburkan teh yang baru saja mengalir di tenggorokannya saat mendengar ucapan Kenna. Tangan Anastasia yang baru akan meraih biskuit di atas piring terhenti dan melayang di udara. Monalisa dan Charlotte menahan kedutan di sudut bibir mereka.


Oohh... Ya ampun... Lelucon apa ini? Yang benar saja... dan apa katanya tadi, 'Lady'????


Dengan anggun Charlotte memasang kembali raut wajah ramahnya sambil menahan diri untuk tidak tertawa saat Monalisa yang duduk di sofa yang berada di depan dirinya, sengaja menyenggol kakinya.


"Aahh.. Lady Kenna dan Lady Elsa ternyata, kalian dari mana?"


Dengan penuh percaya diri, Kenna menjawab lugas


"Ibu kota nyonya"


Dan untuk yang kedua kalinya, sudut bibir kedua wanita anggun itu berkedut kuat. Michael hampir tersedak biskuit di mulutnya, sedangkan Anastasia hanya diam dan kembali melanjutkan mengunyah biskuit di mulutnya yang sempat terhenti karna jawaban Kenna.


"Lady Kenna" Monalisa akhirnya ikut berbicara, dirinya melirik Charlotte sejenak, lalu kembali berucap. "Ibu kota memiliki banyak bangsawan. Anda tidak perlu menyebut letak rumah anda, karna anda hanya cukup menyebut nama keluarga atau gelar keluarga anda. Dengan itu, kami pasti tahu di mana letak rumah anda atau bahkan sejarah keluarga anda, Lady Kenna"


Penjelasan dengan nada lembut dan raut wajah ramah Monalisa nyatanya tidak memberikan hal baik untuk Kenna. Kenna tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui jika sekarang dirinya sedang di lempari sampah secara lemah lembut dari Monalisa, terlebih dari Anastasia yang sedari awal tidak sedikitpun mencoba menjelaskan siapa Kenna


\=\=\=💚💚💚💚


Silahkan jejaknya....