Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter XIX - Swim


"What?" balas Thomas yang sama kagetnya. Tiga kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Dia berani menjamin itu spontan.


"You love me?"


"What?" ulang Thomas.


"You love me!" Gantian, Jane yang menunjuk Thomas.


"No, I didn't-"


"You love me!" Jane kembali tertawa.


"Jane, stop!" seru Thomas, tetapi Jane tidak peduli.


"Did you mean what you said? Oke, aku mengerti. Kau hanya ingin melambungkanku dan menjatuhkannya lagi," Jane masih tertawa karena tidak termakan pengakuan palsu Thomas. Wanita itu pun masih tertawa.


"Jane! Stop it or I'll kiss you!"


Baru Jane menutup mulut rapat-rapat dan melirik Thomas.


"Sebegitu tidak inginnyakah kau kucium?" Thomas merasakan sedikit sakit di hatinya, tetapi memilih tidak membahas itu lagi sebelum kesalahpahaman kembali muncul. Lalu, dia melanjutkan. "Aku minta maaf atas segala kesalahanku dari awal kita bertemu sampai sekarang," Thomas mengulang kata-kata yang sudah dia hafalkan dari kemarin. "Aku telah membuatmu marah. Daisy pun menangisi kepergianmu. Tapi yang paling kusesalkan adalah melihatmu menangis. Aku sudah keterlaluan. Tidak seharusnya aku mempermalukanmu. Forgive me."


Jane mengangguk, lalu tersenyum. "Permintaan maaf diterima," katanya.


Thomas boleh merasa lega karena kebesaran hati wanita di hadapannya. "Maukah kau kuajak ke suatu tempat menyenangkan?"


"Wow, Tom. Sekarang kau meminta izin," Jane tergelak. "Di manakah tempat menyenangkan yang kau maksud?"


"You'll see."


🚘🚘🚘🚘🚘


Thomas menyetir mobil jeep mewahnya menuruni jalan kecil. Jane yang duduk di kursi penumpang, sedikit takut dengan pilihan jalan Thomas. "Kau yakin ini jalan yang benar? Kenapa berbatu-batu seperti ini?" tanya Jane dengan suara bergetar akibat guncangan mobil.


"Tenang saja. Sebentar lagi sampai," Thomas berkonsentrasi melihat jalan di depannya hingga tiba di pinggir Ain River. Dia menghentikan laju mobilnya dan mematikan mesin. "Kau tadi bertanya-tanya bagaimana rasanya tercebur ke sungai itu. Sekaranglah saatnya mencoba."


"What? Are you crazy?" Jane tidak percaya Thomas akan mengajaknya berenang di sungai.


Thomas bahkan membukakan pintu mobil untuk Jane. "Silakan turun, princess," katanya. Kemudian, dia melepaskan long coat, juga sweater-nya. "Ayolah, Jane. Kau pasti ingin melakukannya juga."


Ya, Jane memang suka berenang, tapi kalau di sungai, dia harus memikirkannya lagi. "Apa sungai itu aman?" tanyanya.


"Seratus persen aman," jawab Thomas yang sudah membuka sepatunya. Dia berlari kecil ke bibir sungai untuk merasakan airnya. "Tidak sedingin yang kau kira."


Jane menghampiri Thomas, ingin membuktikan sendiri perkataan pria itu. Dirinya setengah tertarik untuk berenang di sana. Jika benar aman, maka dia akan melakukannya. "Kau yakin tidak dingin?" tanyanya sambil membungkuk dan menjulurkan tangan.


Siapa sangka Thomas akan mendorong Jane ke sungai hingga sepatu dan celananya basah. Pria itu terbahak ketika Jane memperlihatkan bercak air di pahanya.


"Kau!" Jane berniat membalas. Namun, Thomas menghindar.


"Come on, Jane. Aku tidak akan melihatmu," Thomas berbalik memunggungi Jane.


Beberapa detik Jane berpikir, akhirnya dia menanggalkan juga jaketnya. "Jangan mengintip!" perintahnya.


"Tidak, aku tidak akan mengintip," sahut Thomas. Pria itu juga menurunkan celana panjang dan meloloskan boxer-nya hingga telanjang bulat.


Jane hampir berteriak ketika melihat bokong padat Thomas. Dia berbalik membelakangi pria itu karena malu sendiri.


"Aku akan masuk duluan," kata Thomas.


"Apa kataku," ujar Thomas bangga. Dia memutar tubuhnya menghadap Jane.


"Apa kita akan ditangkap bila ketahuan berenang di sini?"


"Mungkin. Yang penting, jika ada kapal yang lewat, kita harus..." Omongan Thomas terhenti karena melihat sinar lampu kapal yang sedang berlayar di sungai. "Cepat sembunyi!" Thomas menarik tangan Jane dan menuntunnya ke balik rerumputan air.


Jane mengintip kapal itu sembari tetap menjaga keseimbangan di dalam air. Tak jarang tangan dan kakinya bersentuhan dengan Thomas karena ruang gerak mereka sempit.


Thomas pun merasakannya. Tak sengaja dia menyentuh pinggang dan paha Jane. Sementara Jane memperhatikan kapal, Thomas sibuk memandangi Jane dari belakang. Rambut ginger Jane tergerai basah. Pundak Jane terlihat mulus berkilauan terkena sorotan lampu. Pria itu teringat penampilan seksi Jane yang berbalut bikini pemberiannya.


"Sudah aman," kata Jane yang berbalik secara tiba-tiba, memberi kejutan kepada Thomas. "Are you okay?" tanyanya karena tampang Thomas menunjukkan kegalauan.


Jarak hidung mereka kurang dari 30 sentimeter. Dalam gelap seperti ini, Thomas dapat merasakan hembusan napas Jane. Entah sejak kapan suara Jane seolah menjadi musik terindah di telinganya. Mendengar wanita itu bersenandung ketika menyiram bunga di taman, suara Jane saat mengajar Daisy, bahkan saat mereka mendebatkan hal-hal tidak penting seperti bikini leopard perusak segalanya itu. "Yes, I'm fine," jawabnya pelan.


Jane bingung. "Hari ini kau tidak seperti biasanya," katanya sambil mengerutkan kening. "Kau tiba-tiba datang, meminta maaf, lalu ingin mengerjaiku dengan berkata kau mencintaiku, mengajakku berenang di sungai, dan sekarang kau terlihat seperti ingin muntah." Dia menyebutkan keanehan-keanehan Thomas. "Kau mau naik duluan?"


"Tidak, tidak," jawab Thomas lantang, membuat Jane tergelak.


"Ada apa denganmu?" tanya Jane seraya mendorong bahu Thomas.


Refleks, Thomas mundur, tetapi wajahnya masih menyiratkan kekaguman atas sosok Jane Watson.


"Maaf. Apa aku terlalu keras mendorongmu?"


Thomas menggelengkan kepala. Semakin Jane berbicara, semakin besar pula keinginan pria itu untuk menciumnya. Sungguh, sekarang Jane terlihat menggemaskan.


"Ayo kita keluar," ajak Jane. Dia berbalik untuk kembali ke tempat semula.


Tidak mau. Thomas tidak mau keluar. Dia masih ingin seperti ini bersama Jane. Tangannya berusaha menggapai lengan Jane agar dapat menahannya. Namun, apa mau dikata, kegelapanlah yang menjadi penyebab kegagalan Thomas.


☕☕☕☕☕


Di sepanjang perjalanan ke Fadar Palace, Jane diam saja. Wajahnya ditekuk karena kesal. Dia bahkan membuang muka ke luar jendela, tidak sudi menangkap wujud Thomas Geller di sudut matanya.


"Jane," panggil Thomas pelan. "Kamu masih marah?" Tidak mendengar jawaban Jane, Thomas melanjutkan, "I'm sorry."


Jane menghela napas, terang-terangan bermaksud menunjukkan rasa kesalnya.


"Aku tidak sengaja menyentuh payuda-"


"Tom!" seru Jane agar Thomas tidak meneruskan kalimatnya. Kedua matanya menyiratkan kemurkaan.


"Kubilang aku minta maaf. Apa yang dapat kulakukan untuk menebus kesalahanku kali ini?"


Jane tidak mempedulikan pertanyaan Thomas. Dia mengeluarkan ponsel yang dari tadi ditinggalkan di mobil selama dirinya berenang. Banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Phillip. "Shit! Aku lupa!" serunya.


🏊‍♀️🏊‍♀️🏊‍♀️🏊‍♀️🏊‍♀️


Bersambung ke chapter selanjutnya!


Makasih buat kalian yang udah nunggu update yah. Nah sekarang aku mau tanya, gimana chapter kali ini? Aneh kah? Lucu kah? Jelek kah?


**semoga kalian suka yah guys...


minta like dan comment (ini wajib) sekalian yah 😁


see ya**...