Marrying The Prince

Marrying The Prince
40


"Selamat datang Your Highness..."


Seorang pelayan pria paruh baya langsung menyapa Ferdinand dan Anastasia saat mereka sudah masuk ke dalam castle. Ferdinand mengangguk singkat padanya sambil menetap seluruh pelayan yang sudah berbaris menunggu kedatangan mereka.


Pelayan itu tersenyum ramah pada Anastasia sambil kembali membungkuk dalam


"Saya Stefanus, kepala pelayan Your Highness Putri Anastasia" Anastasia mengangguk singkat sambil kembali menatap ruang tamu castle. "Saya yang bertanggung jawab dengan segala kebutuhan castle, anda bisa meminta apapun yang anda inginkan pada saya, Your Highness. Dan mari... ijjnkan saya untuk mengantar anda, Your Highness"


"Tidak perlu Stefan" Ferdinand menatap seluruh pelayan. "Aku yang akan mengantarnya. Siapkan makan siang dua jam lagi"


Setelah berucap, Ferdinand melangkah semakin masuk ke dalam. Anastasia dalam diam hanya memandang punggung Ferdinand yang meninggalkannya.


Melihat jika Ferdinand terus melaju menaiki tangga tanpa menjalankan ucapannya, Stefan menatap Anastasia dengan tersenyum miris. Sedangkan para pelayan lain yang masih membungkuk hanya bisa saling melirik.


Dingin... perlakuan Ferdinand sangat dingin pada istrinya. Perlakuan yang bisa di lihat dan di rasakan semua orang, dan itu membuat Anastasia mencengkam kuat gaunnya sambil memasang wajah baik-baik saja.


"Ruth, ayo...."


Ruth yang juga bisa merasakan segala hal yang terjadi mengangguk patuh sambil membawa langkah untuk Anastasia. Untung saja, Ruth dulu sudah sering ke sini bersama Francesca dan dia sangat tahu setiap sudut Castle mewah ini. Dan lebih untung lagi, karna dia tahu letak di bagian mana kamar utama yang akan menjadi kamar Anastasia.


Saat mereka mulai menaiki tangga, Ruth terus menuntun jalan Anastasia dengan dirinya yang mengekori langkah Anastasia.


"Sebelah kanan, Your Highness"


Dengan patuh dan pasrah, Anastasia mengikuti setiap arahan dari Ruth. Hingga mereka sampai pada dua pintu yang ada di samping barat.


Pintu besar dan megah sudah cukup menjelaskan jika itu adalah kamar mereka.


Ruth dengan sigap langsung membukakan pintu yang penuh ukiran bunga-bunga merambat. Sambil melirik para pelayan dan penjaga dari istana yang menyusul mereka untuk membawakan barang-barang, Ruth tersenyum


"Selamat datang di kamar anda, Your Highness"


Dengan arah pandang yang masih terus menatap seluruh bagian kamar barunya, raut wajah takjub tidak bisa Anastasia tahan lagi, kepalanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kamar ini sangat indah dan lebih mewah dari kamarku di istana Ruth. Kamar ini besar dan indah sekali"



Dengan cekatan, Ruth langsung menarik sebuah kursi untuk Anastasia, lalu dirinya langsung menuntun para pelayan dan penjaga dari istana yang membawa barang.


"Yang memilih ranjang dan yang merenovasi ulang kamar anda adalah Her Highness Putri Summer, Your Higness"


"Benarkah? Kapan Putri Summer melakukannya?"


"Saat tanggal rencana pernikahan sudah di tetapkan, Your Highness"


Senyum lembut Anastasia semakin lebar, hatinya yang sempat di hujami balok es mulai menghangat.


"Putri Summer baik sekali"


Setelah para pelayan dan penjaga selesai meletakkan barang-barang, Ruth membuka tirai kamar sambil berucap.


"Putri Francesca juga mempunyai hadiah untuk pernikahan untuk anda, Your Highness"


Kepala Anastasia langsung menoleh untuk menatap Ruth yang sudah membuka jendela, udara musim semi langsung menerbangkan helaian rambut Anastasia. Wajahnya yang berbinar terasa hangat meskipun sedang di terpa angin


"Hadiah?"


Ruth mengangguk sambil tersenyum tulus pada Anastasia.


"Saya akan meminta pelayan untuk menata barang-barang anda, selagi menunggu, apakah anda ingin melihat hadiahnya?"


Dengan cepat Anastasia langsung mengangguk. Ruth tersenyum geli ketika Anastasia langsung menarik tangannya.


"Memang di mana hadiahnya?"


Dengan membiarkan Anastasia menarik-narik tangannya, Ruth menuntun langkah mereka untuk keluar kamar.


Pemandangan rak-rak buku berjajar menyambut arah pandang Anastasia. Hatinya semakin menghangat hingga melupakan rasa dingin yang sempat menghujami perasaannya.


"Her Highness Putri Francesca yang membuat dan merenovasi ulang sendiri perpustakaan tua ini. Lalu memilih dan ngisi sendiri buku-buku yang ada di sini, Your Highness" Sambil semakin melangkah masuk dan membuka tirai, Ruth kembali berucap. "Her Highness Putri Francesca menjamin jika anda tidak akan bosan membaca buku-buku di sini, karna Her Highness juga banyak mengisi rak dengan novel-novel percintaan murahan"


Kekehan halus Anastasia langsung menggema di seluruh sudut perpustakaan sambil mengusapi sudut matanya yang mulai akan tumpah. Ruth ikut terkekeh sambil membawa langkah Anastasia ke balik rak-rak lain



"Di sini tempat buku-buku pengetahuan yang sulit untuk di dapatkan, Your Highness. Sedangkan buku yang di dalam rak ketika menyambut kita tadi hanya buku-buku biasa dan novel-novel percintaan murahan"


Anastasia tidak bisa berkata-kata lagi, hanya tangannya yang terus mengusapi ujung matanya. Mulutnya terasa keluh karna terlalu banyak rasa haru dan rasa terimakasih yang ingin di ucapkannya.


Buku, adalah salah satu hal yang dahulu sangat sulit untuk Anastasia inginkan. Sedari dulu, Anastasia sangat suka membaca tapi dia selalu kesulitan untuk mendapatkan sebuah buku terlebih buku pengetahuan. Dia bahkan pernah pingsan dan pingganya harus di jahit karna di pukuli saat dia ketahuan menyelinap diam-diam di dalam perpustakaan ayahnya.


"Ruth.. aku-"


Dengan suara bergetar, Anastasia tidak mampu lagi menahan tangis harunya. Ruth dengan cepat langsung merengkuh tubuh Anastasia yang sudah bergetar karna terisak.


Suara isakan Anastasia mengisi seluruh perpustakaan. Suara tangis yang penuh rasa syukur, rasa haru, dan rasa terimakasih hingga rasanya seluruh isi dada Anastasia akan memeleleh karna perasaan hangat.


"Jangan menangis, Your Highness..."


***


TOK TOK TOK


Untuk yang kesekian kalinya Ferdinand mengeram kesal saat pintu kembali di ketuk. Dirinya masih sangat mengantuk karna semalaman dia tidak tidur, dan ini semua karna Anastasia! Karna perasaan tidak enak dan tidak nyamannya setelah bersikap kasar pada Anastasia, dia tidak bisa tenang. Dan semua perasaan buruknya semakin parah ketika Anastasia tidak juga membukakn pintu penghubung kamar mereka.


TOK TOK TOK


"Your Highness"


"Iya! aku bangun sialan! Ck!"


Akhirnya, Ferdinand mengangkat tubuhnya dari ranjang. Masih dengan mata menyipit karna mengantuk, Ferdinand menuju ke jendela yang tertutup tirai.


Dengan malas, Ferdinand menyibak tirai merah di kamarnya dan.... Sambutan sinar matahari yang sudah tidak terlalu terang membuat Ferdinand langsung membuka matanya dengan lebar. Sial! sudah sore!


Dengan tergesah, Ferdinand menuju lemari pakaiannya untuk mengambil baju. Lalu melesat keluar dari pintu.


Di koridor, ada dua pelayan yang akan melintas. Mereka langsung menunduk saat melihat Ferdinand yang dengan langkah tergesah berjalan menuju ke dapur.


"Di mana Ana?"


Dengan sopan pelayan itu menjawab


"Sedang ada di taman bersama Ruth, Your Highness"


"Apa dia sudah makan siang?"


Pelayan itu mengangguk singkat sambil saling melirik sebentar


"Her Highness sudah makan siang"


"Ck! kenapa tidak membangunkanku?"


Nada Ferdinand yang sudah sedikit naik membuat kepala pelayan itu semakin menunduk.


"Sebenarnya tuan Stefan sudah membangunkan anda saat makan siang sudah siap dan saat Her Highness sudah menunggu di meja makan, Your Highness" Pelayan itu menjedah sambil untuk menarik nafas, meraup keberaniannya. "Tapi setelah sekian lama membangunkan dan anda tidak juga menjawab, Her Highness mengatakan jika jangan mengangganggu kamar anda lagi, karna anda pasti sedang sangat kelelahan. Dan Her Highness akhirnya makan sedirian terlebih dahulu"


Setelah mendengar penjelasan pelayan itu, Ferdinand langsung melangkah melewari mereka dan menuju taman. Tempat Anastasia berada.


\=\=\=💛💛💛💛


Silahkan jejaknya