Marrying The Prince

Marrying The Prince
47


Yorksire... sebuah desa kecil di Abany. Tempat yang selalu berhasil membuat siapaun takjub dengan keindahannya. Tidak hanya pemandangannya yang membuat setiap mata mengejap takjup tapi, aroma di sana juga sangat membuat nyaman, tenang, dan juga... lapar.


Arah pandang Anastasia masih terus terpesona memandang setiap jengkal Yorksire. Pemandangan warna warni bunga-bunga, pepohonan hijau subur yang penuh buah, serta warna ungun lavender terus mengalihkan perhatian Anastasia.


Anastasia menghirup dalam-dalam aroma segar pagi di Yorksire. Perjalanan jauh yang baru di tempuhnya cukup membuat tubuh lelah tapi sekarang, semua rasa lelah Anastasia terasa hilang tidak bersisa.


Aroma segar rerumputan bercampur dengan aroma lavender yang membentang membuat tubuh lelah Anastasia menjadi rileks. Aroma roti yang di bakar bergandengan dengan aroma keju samar, membuat Anastasia menjadi lapar.


Kereta kuda mereka berhenti, tanda jika perjalanan mereka telah usai. Summer yang masih tertidur dengan kepala yang masih di atas pangkuan Francesca mengejapkan matanya saat kusir mengatakan jika mereka telah sampai di tujuan.


Francesca membelai sambil merapikan rambut Summer saat kepala adiknya itu mulai terangkat dengan malas.


"Nanti lanjutkan di dalam Sum" Summer menjawab ucapan Francesca dengan mengangguk lemah sambil mengusapi matanya. Francesca menatap Anastasia yang tidak pernah melepas arah pandangnya dari jendela saat mereka baru masuk di Yorksire. "Ayo Ana"


Suara Francesca membuat Anastasia mengalihkan perhatiannya pada dua Putri di depannya. Senyum merekah Anastasia terbit.


"Di sini sangat indah"


Ucapan Anastasia di setujui Francesca dengan anggukan singkat, dan Summer menyetujui ucapan Anastasia sambil tersenyum ngantuk.


"Your Highness"


Suara Tomy dari depan pintu langsung membuat Anastasia membuka pintu kereta, dan dengan anggun segera menerima tangan Tomy yang dengan sigap membantunya untuk turun.


Setelah Francesca turun, Anastasia membiarkan Summer yang masih mengantuk untuk turun terlebih dahulu. Lalu mulai bergerak untuk turun saat Summer sudah mendaratkan kakinya ke tanah dengan bantuan Carl.


Saat Anastasia hampir memberikan tangannya pada Carl, tangan lain langsung menyambar tangan Anastasia.


"Ayo An"


Carl hanya mengedipkan kedua bahunya dengan acuh dan segera pergi, meninggalkan Ferdinand yang entah kapan sudah menunggu untuk menyambar tangan Anastasia.


Anastasia tersenyum lembut pada Ferdinand saat kakinya sudah mendarat ke tanah.


"Terimakasih"


Ferdinand mengangguk singkat dan langsung membawa tangan Anastasia ke sikutnya.


"Kau lelah?"


Sambil membiarkan Ferdinand membawa langkahnya, Anastasia kembali melebarkan arah pandangnya ke segala arah.


"Tadinya Ferdinand, sebelum kita masuk ke Yorksire" Anastasia kembali tersenyum lembut dengan arah pandang yang sudah menatap rumah sederhana di depannya. "Di sini indah, sangat indah hingga rasa lelahku hilang"


"Selamat datang di Albany dan selamat datang di Yorksire Ana"


Masih dengan tersenyum lembut, Anastasia menatap Ferdinand yang terus menatapnya.


"Sebuah keberuntungan aku bisa melihat dan berada di desa seindah ini"


Ferdinand mengangguk singkat sambil tersenyum hangat dan kembali membawa langkah mereka untuk masuk ke dalam.


"Kita mungkin akan menghabiskan waktu beberapa hari di sini Ana, semoga kau betah"


"Ohh tentu saja Ferdinand, siapapun akan sangat betah berada di tempat seperti ini"


Setelah mereka melewati pintu masuk, tidak ada pelayan yang berjajar menyambut mereka, tidak ada perabotan-perabotan mewah dan karpet beraroma banyak koin emas di dalam rumah sederhana di sana. Hanya rumah sederhana tapi di tata dengan hangat. Atmosfir sederhana yang membuat nyaman, langsung menyapa Anastasia.


"Di sini sangat nyaman Ferdinand"


"Dulu gama Emylis yang menata tempat ini, dan hingga sekarang tetap tidak ada yang berubah"


Alis Anastasi mengerut


"Gama Emylis?"


Sambil terus membawa Anastasia untuk menuju ke ruang keluarga, Ferdinand mengangguk singkat.


"Mendiang ibu Her Majesty, grandma Emylis kami. Kami sedari kecil sulit menyebutkan grandpa atau grandma, jadi hingga sekarang kami tetap memanggil para kakek dan nenek dengan gapa dan gama"


Aahhh.... begitu ternyata... mendengar penjelasan Ferdinand membuat Anastasia langsung menatap Ferdinand dengan pikirannya yang kembali membayangkan Ferdinand kecil yang menggemaskan. Tatapan Anastasia membuat satu alis Ferdinand menukik


Dengan sedikit malu karna tertangkap basah, Anastasia hanya menggeleng singkat.


Langkah mereka sudah sampai di ruang keluarga. Di sana sudah berkumpul para keluarga serta beberapa pelayan dari istana yang mulai berlalu lalang membawa barang-barang untuk di tata di kamar mereka masing-masing


Victoria dan Francesca sudah duduk bersebelahan dengan Summer yang kembali meletakkan kepalanya yang kali ini di atas pangkuan ibunya. Fredrick dan seorang pria tua duduk di arah keluar pintu belakang sambil mengobrol yang entah apa. Lalu Dominic dan Michael yang sedang mengobrol bersama seorang pria tua yang Anastasia ingat itu adalah Earl Albert, uncle Ratu Victoria yang juga seorang Arathorn.


Ferdinand membawa Anastasia ke sofa lain yang ada di sana, dan langsung mendaratkan bokong mereka yang lelah.


"Kalian lapar?" Pertanyaan Victoria membuat Ferdinand langsung mengangguk, Anastasia hanya tersenyum malu karna semenjak aroma roti dan keju mendarat samar di hidungnya sepanjang perjalanan, Anastasia memang sudah menahan laparnya. Victoria tersenyum dan kembali berucap "Tunggulah sebentar lagi, Fredrick sedang berbicara dengan gapa mu"


Gapa? berarti pria tua yang di lihat Anastasia adalah grandpa mereka yang berarti ayah dari Victoria? but wait... bukankah mendiang Duke Wiiliam Arathorn sudah tiada? atau pria itu adalah saudara dari mendiang Duke William?


Ok baiklah... sekarang isi kepala Anastasia sudah penuh dengan pertanyaan dan juga rasa penasaran.


Sambil meletakkan tangannya dengan santai di bahu Anastasia, Ferdinand yang menyadari kebingungan Anastasia mendekatkan wajahnya pada telinga Anastasia dan berbisik.


"Tahan dulu rasa penasaranmu An"


Dengan pasrah, Anastasia mengangguk singkat lalu kembali melirik ke arah pintu belakang. Tempat di mana Raja Fredrick sedang berbicara dengan pria tua yang berhasil membuat Anastasia penasaran. Tidak lama seorang pelayan membungkuk sopan pada Fredrick lalu, Fredrick dan pria tua itu beranjak dari kursi mengikuti pelayan yang berbicara dengan mereka.


"Your Majesty, makan pagi telah siap"


Seorang pelayan yang sudah memberitahukan jika sarapan mereka sudah siap membuat Victoria mengusap rambut Summer agar segera bangun, lalu segera berdiri yang langsung di ikuti semua orang.


"Ayok kita makan. Aku sudah sangat lapar"


Victoria membawa langkah mereka semua yang ada di sana untuk mengikuti pelayan tadi. Mereka akan menuju ke ruang makan.


Di ruang makan, Fredrick sudah duduk di kursi pemimpin. Di sebelah kanannya sudah duduk pria tua yang membuat Anastasia penasaran. Victoria langsung mengambil tempatnya di sebelah kiri Fredrick, dan yang lain langsung mengambil tempat mereka masing-masing. Urutan duduk yang menunjukkan urutan status mereka.


Kekeluargaan dan kesederhanaan memang selalu Anastasia rasakan ketika keluarga Castalarox dan Arathorn sudah berkumpul tapi, mereka tetap tidak pernah lupa dengan kesopanan dan tata cara bangsawan mereka.


Dan itu selalu membuat Anastasia takjub ketika mereka bisa bercanda sambil mengejek Raja, tapi tetap tahu siapa dan di mana tempat mereka. Mereka tetap akan sangat menjunjung dan menghormati darah bangsawan mereka ketika mereka memang harus melakukannya. Dan karna mengingat itu, sekarang Anastasia semakin bertanya-tanya, siapa pria tua yang bisa duduk di sebelah kanan Raja, posisi yang lebih terhormat dari Ratu?


Terlalu asik dengan pikirannya, membuat Anastasia sedikit tersentak saat Ferdinand yang ada di samping kananya, dan Dominic yang ada di samping kirinya meraih tangan Anastasia. Anastasia dengan cepat mengedarkan arah pandangnya untuk menilai keadaan. Ternyata semua tangan sudah bertaut, mereka akan berdoa.


Setelah Fredrick memimpin doanya yang penuh dengan doa untuk dunia, kerajaan, rakyat, serta seluruh keluarga dan teman mereka, acara makan di mulai dan di selesaikan dalam keheningan.


"Kalian istrirahlah"


Ucapan Fredrick membuat semua kepala mengangguk patuh. Saat Fredrick sudah berdiri dan semua orang segera ikut berdiri, Anastasia menyempatkan matanya untuk melirik pria tua yang sekarang semakin membuatnya penasaran. Tapi sayang, dia tidak sempat karna Francesca dan Fredrick langsung membawa pria tua itu pergi.


"Ayo An"


Anastasia mengngguk patuh saat Ferdinand mulai membawa langkah mereka yang mungkin akan segera ke kamar. Anastasia kembali melirik punggung pria tua itu, dan akhirnya menyerah saat Ruth mengatakan jika mereka harus menaiki tangga.


Saat sudah sampai di depan sebuah pintu, Ruth dengan sigap langsung membukakan pintu. Dengan rasa mengantuknya yang mulai timbul, Anastasia segera masuk ke dalam kamar yang terbilang sederhana tapi sangat nyaman.


Dahi Anastasia mengeryit saat baru menyadari jika Ferdinand juga ikut masuk ke dalam kamar. Ferdinand yang sadar jika terus di perhatikan dengan aneh oleh arah pandang Anstasia, mengulum senyum geli dan dengan acuh membuka sepatunya.


"Ferdinand?" Sudut bibir Ferdinand berkedut mengabaikan suara Anastasia dengan gerakannya yang sudah selesai melepas sepatu. Masih dalam kebisuannya, Ferdinand mulai membuka kancing atas bajunya. Kedua mata Anastasia membulat "Kenapa kau di sini? kenapa kau membuka bajumu?"


Dengan tangan yang terus membuka kancing bajunya, Ferdinand menjawab dengan acuh


"Aku ingin berendam air hangat, lalu apa masalahnya jika aku membuka baju?"


Saat Ferdinand sudah membuka bajunya, mulut Anastasia yang masih terbuka karna ingin mengatakan sesuatu langsung kembali mengatup. Arah pandangnya langsung membuang arah, menatap tembok yang ada di belakang Ferdinand. Ohh Tuhan.... situasi macam apa ini?


"Maksutku, kenapa kau mandi di sini? Ini kamarku Ferdinand?"


"Kamar kita Ana" Rasa terggelitik karna gemas dengan gerak gerik gelisah dan wajah panik Anastasia membuat Ferdinand semakin ingin menggoda Anastasia. Ferdinand membuka sabuk celananya dan membiarkan sabuk itu menggantung terbuka, lalu langkanya mendekat pada Anastasia yang wajahnya sudah berubah pias.


"Ayo kita mandi besama Ana"


\=\=\=💚💚💚💚


Silahkan jejaknya....