
Jejak-jejak bekas kemurkaan semalam masih bersisa jelas. Perpustakaan masih hancur tanpa ada yang berani membenahi, botol-botol minuman di atas meja ruang tamu baru di bersihkan di waktu dini hari yang masih gelap, keheningan dan ketakutan masih mengisi suasana Chasembord. Semua pelayan diam, bergerak mengerjakan tugas mereka dalam kehati-hatian yang sangat luar biasa. Sama seperti yang di rasakan Stefanus, dirinya bergerak dan menjalankan pekerjaannya di castle dengan suasana hati yang tidak baik-baik saja
Di dalam sebuah kamar tamu, Ferdinand terus memejamkan kedua matanya dengan denyutan kepala yang tidak juga mereda. Dan di sebuah kamar utama castle, Ruth masih terisak tertahan sambil menjaga nyonyanya yang terus bermimpi buruk, sangat buruk.
Solar yang masih berdiri di undakan tangga, kembali membuang nafas panjang saat merasakan suasana Chasembord. Mencekam, adalah pilihan kata yang di pilih Solar untuk menggambarkan suasana di waktu dini hari untuk memulai mengawali hari.
Akhirnya, dengan langkah ragu Solar melangkah menuju sebuah kamar tamu. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu dengan ragu.
TOK TOK TOK
"Your Highness"
"Masuklah"
Dengan sopan, Solar segera melangkah masuk, arah pandangnya mencari di mana Ferdinand, Ferdinand yang ternyata sedang di atas ranjang dengan kedua mata terpejam.
"Kenapa?"
"Saya menemukannya, Your Highness"
"Ada yang penting?"
Dengan yakin Solar mengangguk
"Surat ini bukan tertuju untuk Kardinal Abraham, tapi untuk father Pope langsung"
Ucapan Solar membuat kedua mata Ferdinand terbuka, lalu membuang nafas panjang dan berucap
"Hm... bakar saja"
Tangan Solar yang baru saja akan mengeluarkan amplop terhenti saat Ferdinand berucap. Dan benar-benar mengeluarkan tangannya dari saku mantel saat Ferdinand bangkit dari ranjang.
"Apa mereka masih di kamarku?"
Kepala Solar mengangguk yakin, langkahnya langsung bergerak mengikuti langkah Ferdinand yang sudah menuju pintu keluar. Dengan sangat hati-hati, Solar mengeluarkan pertanyaannya sambil membukakan pintu
"Apa anda akan ke istana hari ini, Your Highness?"
Jelas saja Solar bertanya. Karna dirinya yakin jika Ferdinand sudah terjaga semalaman, belum lagi saat melihat Ferdinand yang terus meringis sambil memijat pelipisnya, tapi yang paling membuatnya harus bertanya adalah karna langkah Ferdinand yang sudah menuju kamar utama.
"Katakan pada Stefan untuk mengganti pintu penghubung. Ganti dengan yang tidak memiliki kunci dan terbuka dari arah kamarku"
Solar hanya bisa membuang nafas panjang saat pertanyaannya tidak di jawab, terlebih karna langkah Ferdinand yang sudah berlalu pergi masuk ke dalam kamar.
Saat pintu kamar terbuka, Ruth tersentak dan langsung berdiri dari kursi di sebelah ranjang.
"Selamat pagi Your Highness"
Arah pandang Ferdinand langsung menatap ke ranjang, lalu mengabaikan sapaan Ruth. Langkahnya terus berjalan untuk segera meraih tiga amplop yang sudah di pungut dan di letakkan Ruth di meja kerja Ferdinand. Ruth tahu jika seharusnya dirinya harus pergi sekarang tapi, dia tidak ingin melakukannya. Meninggalkan nyonyannya berdua bersama pria di depannya ini? Big no! Ruth tidak akan sanggup jika harus melihat sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Anastasia.
Ferdinand hanya diam dengan tangannya yang mulai bergerak menghidupkan lilin, ekor matanya melirik ke arah Ruth sejenak, karna menyadari gerak gerik penuh perlindungan Ruth.
"Aku tidak akan melakukan apapun Ruth. Keluarlah"
Kepala Ruth langsung tertunduk gugup. Bukan hanya karna dirinya yang sudah berlaku lancang, tapi juga karna melihat Ferdinand yang sudah mulai membakar amplop ke api lilin. Melihat Ruth yang masih juga tidak ingin bergerak, Ferdinand membuang nafas panjang.
"Aku ingin mandi dan berganti pakaian, apa kau masih ingin di sini?"
Ferdinand berucap sangat pelan saat melihat kepala Anastasia yang sedikit bergerak, dia tidak ingin membangunkan Anastasia yang sepertinya baru terlelap. Ruth yang sudah di beri ultimatum jelas, dengan sangat terpaksa mengangguk sopan.
"Baik Your Highness tapi-" Ruth menjedah sambil membukuk sangat dalam. "Her Highness terus bermimpi, dirinya baru terlelap setelah saya memberikan obat penenang. Tolong Your Hi-"
"Aku tahu Ruth"
Dan sekali lagi, suara Ferdinand membuat Ruth dengan sangat terpaksa harus melangkah untuk keluar kamar.
Saat Ruth sudah menutup pintu, dan semua surat sudah menjadi abu, Ferdinand segera melepas bajunya, lalu melangkah menuju ranjang. Dengan perlahan, sangat hati-hati dirinya masuk ke dalam selimut, memiringkan tubuh Anastasia, mulai mengambil posisi nyaman, lalu membawa tubuh Anastasia ke dalam dekapannya.
Tubuh Anastasia terasa nyaman, aroma Anastasia membuat tenang, menatap wajah Anastasia meringankan kepala Ferdinand. Semua hal itu membuat bibir Ferdinand tertarik ke atas, sambil menatap wajah Anastasia lekat dengan senyum hangat di bibirnya, jemari Ferdinand mengusap bibir Anastasia yang terluka cukup dalam.
Luka itu pasti karna Anastasia mengigit bibirnya dengan sangat kuat untuk menahan sakit. Tentu saja Ferdinand tahu itu, karna dia juga tidak merasa nyaman saat menjalani 'pergerakannya'. Memasuki seorang yang masih gadis dengan miliknya yang belum siap, bahkan dengan paksaan, tidak ada kenikmatan sedikitpun untuk Ferdinand. Tapi dia tidak akan meminta maaf, karna itu adalah hukuman agar Anastasia tidak bisa melepaskan diri darinya dan juga agar Anastasia selalu mengingatnya. Walaupun jika itu bukan ingatan yang menyenangkan.
Ferdinand tidak peduli dengan segalanya, dia hanya peduli tentang dirinya yang harus membuat Anastasia selalu mengingatnya, dan selalu menjadi miliknya.
"Semalam aku banyak berbohong padamu Ana. Aku minta maaf karna berbohong jika kau menjijikkan, dan maaf karna aku-" Bisikan lirih Ferdinand terhenti, tangannya mengusap sangat lembut tangan Anastasia yang mulai akan menunjukkan warna lain karna tarikan dan cengkamannya. "Sangat kasar pada ini, dan juga-" Ferdinand kembali menjedah, tangannya berpindah mengusap pelan punggung dan bahu Anastasia yang entah bagaimana kabarnya. "Menyakiti ini"
Dan setelah berguman sangat pelan, rasa khantuk yang sudah mulai menerpa Ferdinand membuat kedua matanya tertutup.
--000--
Kenna dan Elsa pagi ini makan dalam diam. Mereka berdua terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi malam tadi, terlebih Elsa. Dia sangat suka melihat kemarahan Ferdinand pada Anastasia. Jadi, haruskah lain kali dia melakukan sesuatu agar castle ini lebih sering menjadi ramai?
"El, menurutmu jika kita pergi ke taman apa Dinand akan marah?"
Kenna bertanya dengan banyak pertimbangan karna pesan yang di dapat setelah semalam, jika mereka hanya boleh keluar kamar untuk makan. Belum ada ijin yang lain, seperti jika mereka sudah bebas untuk kembali berkeliaran di manapun kecuali di tempat-tempat ruang pribadi Anastasia
Sambil mengunyah potongan sayur di mulutnya, Elsa menggeleng.
"Ku rasa tidak, lagi pula Dinand sedang di istana"
Dengan ragu Kenna mengangguk. Elsa yang melihat jika kakaknya sudah setuju segera melihat sekeliling. Seperti biasa, tidak akan ada pelayan yang akan menunggu mereka makan, lalu mencondongkan tubunya ke arah Kenna dan berbisik
"Lord Michael tidak ada"
Arah pandang Kenna ikut berputar memeriksa sekitar, lalu ikut mencondongkan tubuhnya
"Aku tidak sengaja mendengar pelayan bercerita saat mereka akan menarik piring-piring lain, mereka mengatakan jika sudah dari tadi malam Mike kembali"
"Seperti yang ku katakan semalam Kenna. Jika Her Highness itu pasti selingkuh, dan aku juga yakin jika semalam pasti Dinand marah besar"
Kenna termenung beberapa detik mendengar ucapan Elsa, lalu tersenyum.
"Dia seperti pelacur"
"Kau benar Ken"
Dan suara kekehan geli mereka saling bersaut-sautan di dalam ruang makan. Hingga Elsa meletakkan sendoknya dan kembali berbisik.
"Kau harus menggunakan kesempatan ini untuk melakukan sesuatu Ken"
Sedangkan Elsa yang melihat raut wajah penasaran Kenna hanya tersenyum misterius.
--000--
Terpaan sinar matahari yang terasa hangat dan menyilaukan membuat Ferdinand lagi-lagi mengerang kesal. Dirinya masih sangat ingin tidur, tapi manusia sialan mana yang sudah berani membuka jendela kamarnya?
Tangan Ferdinand meraba-raba sekitar karna ingin mencari selimutnya tapi, sebuah ingatan melintas di dalam kepalanya.
ANA?
Kedua mata Ferdinand langsung terbuka, tubuhnya tersentak bangun dan menatap sekitar yang ternyata kosong, Anastasia tidak ada.
Dengan cepat kakinya melangkah untuk menuju pintu penghubung, tapi kembali berputar saat ingat jika pintu itu sudah lama terkunci.
Saat dirinya baru akan menuju ke pintu sebelah, ke kamar Anastasia, langkahnya terhenti saat melihat orang yang di carinya. Nafas panjang Ferdinand berhembus dan menatap Anastasia dengan lekat
"Dari mana?"
Anastasia menatap Ferdinand sejenak lalu menjawab
"Merapikan perpustakaan"
Aahh benar... dia sempat lupa jika dirinya sudah menghancurkan tempat itu. Sambil menggaruki kepalanya yang tidak gatal sama sekali, Ferdinand berucap dengan ragu
"Apa.. em.. apa kau ingin mencari buku-buku baru?"
Satu alis Anastasia terangkat
"Mungkin nanti"
Dengan sangat lekat Ferdinand menatap Anastasia yang tampak sangat biasa, seperi semalam tidak terjadi apapun. Bukankah itu aneh?
"Apa kau merencanakan sesuatu?"
Kembali, satu alis Anastasia menukik semakin tinggi
"Rencana apa?"
"Hmm.. tidak" Tangan Ferdinand kembali menggaruki kepalanya dengan bingung. Lagi pula apa gunannya bertanya, mana mungkin juga Anastasia menjawab jika dia memang sedanh merencanakan sesuatu. Sambil menatap Anastasia dengan lekat, Ferdinand mendekat. Anastasia yang melihat pergerakan Ferdinand hanya diam, apa yang di inginkan suami sialannya itu?
Tangan Ferdinand terulur, dan itu membuat ingatan melintas di dalam pikiran Anastasia. Hingga Anastasia dengan waspada, sedikit menjauhkan wajahnya, menjauhkan wajahnya dari tangan yang menuju wajahnya, seperti semalam. Tapi ternyata, tangan itu hanya mengusap pelipisnya dengan lembut.
"Apa lelah?"
Menyadari jika Ferdinand hanya mengusap pelipisnya yang penuh peluh, Anastasia diam-diam merasa lega
"Hm.. lumayan"
Ferdinand tahu jika Anastasia sangat waspada sekarang, dia juga sangat memaklumi itu. Tapi Ferdinand yang hanya punya sedikit rasa tahu diri itu, tetap terus meletakkan tangannya di wajah Anastasia sambil berucap lembut
"Kau belum mandi?"
Ahh benar... Anastasia memang masih memakai gaun tidurnya. Anastasia melirik Ferdinand yang juga masih bertelanjang dada dan memakai celana tidur.
"Kau juga"
Sambil menurunkan tangannya dari wajah Anastasia, Ferdinand mengerling tidak tahu diri
"Ayo mandi bersama?"
Dan pertanyaan Ferdinand membuat Anastasia bergindik. Sebenarnya dia sudah sekuat nyawa untuk terlihat biasa, tapi membayangkan dirinya bersama Ferdinand, terlebih mandi bersama, membuat sekujur tubuh Anastasia mulai menggigil takut. Ferdinand menyadari itu, dia melihat perubahan raut wajah dan gerak-gerik Anastasia. Baiklah... dia mengerti kenapa Anastasia seperti itu.
"Aku hanya bercanda. Mandilah dan ayo makan siang"
Setelah berucap, Ferdinand segera memutar langkahnya untuk menuju ke kamar. Anastasia yang sudah melihat kepergian Ferdinand ikut masuk ke dalam pintu kamar yang sudah di bukakan Ruth.
Saat sudah masuk ke dalam, Ruth berucap pelan.
"Apa buku itu harus saya sembunyikan, Your Highness?"
Anastasia mulai merentangakan tangannya saat Ruth memulai pekerjaannya untuk membuka gaun Anastasia
Kepala Anastasia menggeleng.
"Semakin sebuah benda di sembunyikan, maka semakin mencurigakan. Lagi pula itu hanya buku novel romansa murahan kan?"
Anastasia mengerling pada Ruth yang menganggukkan kepalanya dengan dramatis. Setelah gaunnya terbuka, Ruth mulai meraih kain untuk menggosok tubuh Anastasia sambil berucap
"Anda seperti sudah sangat terbiasa menyimpan surat, Your Highness. Bahkan anda sudah memperhitungkan jika mereka pasti datang pada amplop lain"
Ucapan Ruth membuat Anastasia tersenyum tipis, arah pandangnya menatap jauh ke dapan, sangat jauh.
"Aku menghabiskan selama hampir seluruh usiaku untuk membuat, menyembunyikan, dan mengirim surat rahasia bahkan surat berbahaya, Ruth. Ketika surat rahasiaku di temukan, mereka pasti akan mencari surat lain padamu, itu hanya perhitungan sederhana karna, jika aku menjadi mereka aku juga akan melakukan hal yang sama"
Sambil menggosok dengan sangat hati-hati tangan Anastasia dan melewakan bagian tangan yang mulai berubah warna, Ruth kembali membuka suara
"Jadi kapan surat itu harus saya kirim, Your Highness?"
"Belum saatnya, karna mereka sekarang sedang sangat waspada. Berhati-hatilah selalu Ruth"
"Seperti yang sedang anda mainkan sekarang?" Senyum kecut Anastasia membuat Ruth menunduk. "Maafkan saya Your Highness"
Anastasia mengabaikan ucapan Ruth. Dirinya hanya kembali menatap jauh ke depan. Benar... dia harus menahan diri dan menahan segalanya agar semua tampak normal, agar Ferdinand cepat melupakan dan berhenti waspada. Lagi pula dia harus membalas semua hal terlebih dahulu, lalu melakukan apa yang di katakan Raja Fredrick, janji Raja Fredrick sebelum pernikahannya.
Setelah selesai dengan mandi dan gaunnya, Ruth langsung membukakan pintu kamar. Waktu makan siang sudah datang, dan Anastasia harus makan setelah nyonyanya itu melewatkan sarapan pagi karna terlalu terlambat bangun. Bangun dari tidur yang hanya beberapa jam.
Saat Anastasia baru keluar pintu, ternyata Ferdinand sudah di sana, menunggunya sambil tersenyum hangat.
"Ayo An..."
Meski Anastasia bingung dan tidak nyaman, tapi dirinya tidak bisa menolak. Seperti yang di katakannya, dia harus tampak sealami mungkin dan bergerak seperti tidak pernah terjadi apapun, bahkan saat tangan Ferdinand yang sekarang sudah melingkar di pinggangnya.
\=\=\=💚💚💚💚
Baru balik kerja n kepala cenat cenut bgt guys... ga bsa mikir. Segini dlu gpp ya, eike mau bobok sore dulu, ntr bangun bosor baru up lagi, semogaaa ni otak bsa maksimal n mikir sesuatu yg menarik... heheh
Silahkan jejaknya..