
"Kau tidak harus sekeras itu Ana"
Anastasia hanya melirik sekilas raut wajah Ferdinand yang sedang menatapnya dengan lelah. Sudah Anastasia katakan, jika dia tidak peduli. Dia tidak bisa peduli lagi dengan raut wajah lelah Ferdinand, dia tidak bisa peduli lagi saat Ferdinand mengatakan jika malam ini dia ingin berbicara tanpa saling menarik urat leher.
"Dia lancang"
Ferdinand membuang nafas panjang. Dia tahu jika Elsa memang sudah lancang saat berani masuk ke sana karna jelas, dirinya sendiri juga sudah mengingatkan Kenna dan Elsa untuk tidak sembarangan berkeliaran lagi, terlebih berkeliaran di tempat-tempat kesukaan Anastasia.
"Dia bilang dia tidak sengaja. Dia belum dewasa dan punya rasa ingin tahu yang tinggi Ana"
"Dia menyentuh barang-barang pemberian Putri Francesca"
Kali ini, Ferdinand mendengus kasar dan kesal
"Kau sangat menjaga pemberian Frances tapi menghancurkan pemberianku"
Kembali, Anastasia melirik Ferdinand sejenak
"Musim gugur akan tiba, dan bunga-bunga di sa-"
"Aku tahu kau hanya beralasan Ana" Mulut Anastasia mengatup, tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Ferdinand sudah memotong dan meneruskan ucapan dengan benar. Ferdinand yang melihat keterdiaman Anastasia kembali berucap. "Kau kesal dan marah padaku. Karna itu kau menghancurkan pemberianku"
Kembali, Anastasia hanya diam. Arah pandangnya sudah kembali menatap ke langit-langit kamar Ferdinand. Ferdinand yang kembali melihat keterdiaman Anastasia menatap Anastasia dengan lembut, dirinya kembali membuka suara dengan tidak kalah lembut.
"Jika aku meminta maaf, kau pasti tidak akan menerimanya begitu saja. Karna itu Ana, katakan, apa yang harus ku lakukan untuk mendapat maafmu"
Arah pandang Anastasia bergerak kembali menatap Ferdinand, menatap lekat dan dalam kedua manik gelap di kedua mata sewarna hijau daun yang sialnya, masih menjadi warna mata terindah untuk Anastasia. Senyum lembut Anastasia terbit.
Ferdinand yang akhirnya bisa melihat kembali senyum itu, senyum yang selama beberapa hari ini tidak pernah di dapatnya lagi, merasa sudah mendapatkan lampu hijau.
"Katakan Ana. Apa yang harus ku lakukan untuk maafmu"
"Beri mereka uang yang banyak, lalu buang mereka jauh-jauh dari hidupmu"
Tapi Ferdinand salah, senyum lembut Anastasia bukanlah sebuah lampu hijau tapi... sebuah kesempatan terakhir yang di berikan Anastasia. Anastasia memberikan kesempatan terakhir untuk Ferdinand, meski Ferdinand tidak tahu jika sekaranglah nasip dari semua kelanjutan hubungan mereka akan berlayar. Apakah ke arah perbaikan, atau ke arah kehancuran.
Keheningan masih menyelimuti mereka, arah pandang mereka masih bertabrakan, manik mata mereka masih saling menyelami. Anastasia mengunci rapat mulutnya saat Ferdinand menatapnya dengan dalam, dan Ferdinand membuka mulutnya saat pandangan Anastasia mulai akan menggoyahkan janji-janjinya
"Aku tidak bisa Ana. Mereka tanggung jawabaku, terlebih Kenna. Aku sudah lama mengenalnya dan kami sudah melalui banyak hal agar bisa bersama. Aku mengenalnya jauh sebelum mengenalmu walaupun sekarang kau istriku. Jujur saja, aku menyayangimu Ana, aku~~~"
Ucapan panjang lebar Ferdinand terus mengalun lembut di telinga Anastasia, mengalun tanpa bisa di cerna lagi di dalam otak Anastasia. Anastasia hanya diam sambil terus menatap Ferdinand yang terus membuka mulutnya, entah apa yang terus di ucapkan Ferdinand tapi, Anastasia sudah mendapatkan jawabannya. Dia sudah tidak perlu kata-kata atau omong kosong Ferdinand lagi.
Setelah melihat mulut Ferdinand kembali mengatup dan suara yang terus menabrak telinganya berhenti. Anastasia kembali tersenyum lembut, menegakkan kakinya, menggeser tubuhnya keluar meja, menyilangkan kakinya sambil menarik kedua sisi gaunnya.
Ferdinand yang melihat gerak gerik tiba-tiba Anastasia segera bangkit dari kursinya, perasaannya benar-benar sangat terasa tidak nyaman, rasa yang tidak di mengertinya
"Ana?"
"Selamat malam, Your Highness"
"Ana!!"
Selebar yang kakinya mampu, secepat yang kakinya mampu, Anastasia segera menuju pintu penghubung tanpa ingin menoleh lagi.
Ferdinand memegangi dadanya yang terasa terhimpit dan sangat terasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman yang tidak di kenalnya, sebuah rasa dan perasaan yang entah kenapa membuat Ferdinand takut.
Saat Anastasia sudah menutup dan mengunci pintu kamarnya, Anastasia mencabut kunci itu lalu melangkah menuju jendela, membuka jendela lebar-lebar dan...... melempar jauh kunci penghubung kamar mereka tanpa keraguan. Arah pandang Anastasia masih menatap jauh keluar, sebutir, dua butir kristal bening meluncur dengan cepat dari kedua matanya.
"Baiklah Ferdinand"
Setelah berguman lirih, Anastasia kembali menutup jendela dan menuju lemarinya. Mencari sebuah kotak yang sudah dia simpan selama separuh hidupnya. Anastasia mendaratkan bokongnya ke atas lantai, lalu membuka kotak penyimpanan kenangannya.
Dengan kembali meneteskan air mata, Anastasia menatap lekat sapu tangan kusam, sobek, dan terikat memanjang yang sudah termakan usia. Sapu tangan yang sangat berarti untuknya. Dengan tersenyum getir, Anastasia membuka mulutnya
"Aku sudah mengenalmu lebih lama, aku kehilangan cita-citaku saat ayahmu mengkhianati dan menipuku, aku kembali berani menatapmu saat ayahmu menyodorkan harapan padaku, aku kembali berani mencoba merajut impian yang hanya ingin ku pendam saat melihat tawamu, aku bersedia melepas dengan suka rela kerajaanku agar bisa bersamamu. Apa itu semua masih kurang, Ferdinand?"
Cairan bening hangat kembali tumpah, meleleh dari kedua mata Anastasia
"Kenapa mencintaimu rasanya sekejam ini? Kenapa mencintaimu rasanya semenyesakkan ini? Kenapa Ferdinand?"
Dan malam ini... Anastasia sudah pada keputusannya. Dia sudah mengambil keputusannya. Keputusannya yang akan dia perjuangkan bahkan jika dia harus terus berlari dan berlumuran darah. Lari, bersembunyi, dan menghilang dengan seluruh tubuh penuh luka dan darah menetes bukanlah hal baru untuk Anastasia. Karna gadis penuh luka itu, sudah tidak peduli pada apapun lagi.
--000--
Setelah mengantar kepergian para aunty, Aanstasia membuang nafas panjang sambil menatap bangungan castle. Setelah ini, dirinya akan kembali menjalani kehidupan seperti yang sudah-sudah, dan tentu saja setelah ini juga dua pengacau itu akan bisa kembali berkeliaran, lepas kembali dari kandang mereka. Tidak ada lagi alasan untuk mengunci mereka, tidak ada lagi hal yang membuat Ferdinand untuk menahan mereka.
Saat baru saja Anastasia memikirkan sumber kerusakan rumah tangganya, dua orang yang sangat tidak di inginkannya muncul. Muncul sambil tersenyum pada Anastasia
"Selamat siang, Your Highness"
Anastasia hanya diam dan mulai mengambil langkahnya untuk masuk tapi, langkahnya terhenti saat Kenna menutup jalannya, jalannya yang akan menuju pintu masuk. Sambil terus tersenyum ramah, Kenna menatap lekat wajah sembab menyedihkan Anastasia sambil berucap
"Jadi mereka adalah saudari ipar Her Majesty dan saudari kandung Her Majesty yang datang dari Albany?"
"Apa maumu?"
Wow! Kenna terkekeh geli saat ucapan ramahnya di balas dengan dingin oleh Anastasia. Dia tahu jika Anastasia sekarang sudah sangat membencinya, tapi harusnya Anastasia tahu posisinya kan? Dia memang istri Ferdinand, tapi Kenna adalah ibu dari calon anak Ferdinand dan yang terpenting, Kenna adalah wanita yang sangat di cintai Ferdinand
"Anda terlalu tidak ramah Your Highness"
"Tidak perlu banyak berbasa basi nona. Katakan apa maumu"
Kekehan geli Kenna kembali meluncur dari bibirnya. Dirinya menatap Anastasia yang terus menatapnya dengan datar
"Saya hanya ingin kita berteman, Your Highness. Ayo kita mulai dari saling memanggil nama?"
Kali ini, kekehan geli meluncur dari bibir Anastasia. Luar biasa tidak tahu malu!
"Kau terlalu percaya diri nona. Lagi pula, aku tidak suka berteman dengan pelacur"
Ucapan Anastasia hampir membuat Elsa yang selalu setia menemani kakaknya itu maju, dan ingin membalas Anastasia dengan dorongan kuat tapi, Kenna langsung menarik lengan adiknya.
"Hati-hati dengan mulut anda Your Highness"
Kekehan halus dan anggun kembali meluncur dari bibir Anastasia
"Apa ada yang salah dari ucapanku?"
Dengan penuh kesabaran, Kenna kembali memasang senyum lembutnya, senyum yang mengikuti senyum Anastasia. Anastasia tahu itu, karna dia selalu menyadari jika Kenna terlalu terang-terangan mempelajarinya lalu langsung mengaplikasikan apa yang dia pelajari, sekali lagi, secara terang-terangan
"Anak yang saya kandung ini adalah Anak His Highness Pangeran Ferdinand kerajaan Francia, karna itu saya mengingatkan anda untuk berhati-hari dalam berucap. Janin yang ada di dalam perut saya ini keturunan seorang Castalarox"
Dan saat itulah, suara tawa samar tertahan, suara tawa yang tidak ingin menahan diri terdengar dan berhembus terbawa angin yang mendarat di indra pendengaran Kenna. Suara-suara yang berasal dari para pelayan, penjaga dan juga Carl. Carl yang sedang bersembunyi di balik pohon lah yang mengeluarkan suara tawa paling kuat, Ya Tuhan.... Isi perut Carl rasanya ingin melompat keluar saat ucapan Kenna membuat sekujut tubuhnya tergekitik geli.
"Carl"
"Maaf Your Highness. Tapi.... ini sangat lucu"
Dan Carl, kembali terbahak kuat
Anastasia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli karna kelakuan Carl, lalu kembali mengingatkan Carl
"Jangan tertawakan Carl, wanita seperti ini jelas tidak mengerti apapun"
"Baik Your Highness. Maafkan saya"
Tidak hanya Carl yang akhirnya menekan tawa dan rasa gelinya, semua pelayan dan penjaga di sekitar mereka juga langsung menutup rapat mulut mereka.
Sedangkan Kenna, mencengkam kuat gaunnya, rahangnya terkatup kuat, guratan amarah tergurat jelas di setiap garis wajahnya. Anastasia yang melihat amarah membara Kenna tersenyum maklum tapi juga geli, lalu kembali bersuara
"Apa kau tahu kenapa mereka semua tertawa nona Kenna?"
Senyum culas Kenna terbit, dagunya terangkat tinggi sambil menatap Anatasia dengan tajam.
"Aku memang tidak tahu, tapi aku tahu apa yang anda semua tidak ketahui"
"Ohh apakah itu, nona Kenna?"
Senyum culas Kenna berubah menjadi seringai.
"Hal yang tidak akan anda dapatkan, Your Highness... Bukankah-" Kenna menjedah, dan mengikuti Anastasia yang sedang menautkan tangan di depan perut dengan anggun. "Bukankah, anda tidak pernah di sentuh oleh Your Highness?"
Anastasia menegang, tangannya yang sedang bertaut saling mencengkam. Bukan, bukan karna apa yang di katakan Kenna benar seluruhnya, tapi tentang kenapa Kenna bisa tahu? siapa yang memberitahunya? dari mana dan kapan tepatnya dia tahu?
Dengan penuh rasa terkejut dan isi kepala yang penuh pertanyaan, Anastasia memasang senyum terbaiknya
"Well... Apakah hanya itu keunggulan anda nona Kenna?" Anastasia menjedah, menatap Kenna yang menatapnya dengan raut wajah menunggu, lalu kembali berucap. "Sangat sesuai, keunggulan anda sangat mencerminkam anda-" Kembali Anastasia menjedah, lalu terkekeh lembut sambil berucap. "Seorang pelacur?"
"Kenna bukan pelacur! dia kekasih Dinand! Kenna dan Dinand sudah menjadi kekasih sebelum di paksa menikah denganmu! Dinand juga sudah melamar-"
"Kau selalu menyebut 'Dinand' dan 'Dinand' nona Elsa" Elsa bungkam, dan Anastasia mengubah arah pandangnya pada Kenna. "Kenapa kalian selalu memanggilnya dengan Dinand, atau jangan-jangan kalian tidak tahu siapa namanya?"
"Ferdinand Castalarox!"
Elsa menjawab kuat dengan suara melengking menyebalkannya. Senyum Anastasia terbit
"Aahh... Jangan-jangan nona Kenna selama ini, selama menjadi kekasih His Highness hingga di hamili tidak tahu nama pria yang menghamili anda, kekasih anda right?"
Jelas Kenna hanya bisa bungkam, Anastasia tahu itu. Nama lengkap seorang putra dan putri kerajaan akan sangat jarang di perkenalkan dan di sebut di depan umum. Orang-orang luar tidak akan bisa mendengar nama panjang mereka selain Raja, Ratu, atau orangnya sendirilah yang menyebutkan namanya di publik, dan ketika orang itu menyebutkan namanya sendiri, itu pasti saat di sumpah pernikahannya.
Anastasia yakin jika Raja dan Ratu pernah menyebutkan nama panjang Ferdinand di depan umum tapi, meski Kenna mendengarnya sekalipun dirinya yakin jika Kenna tidak akan mengingatnya. Nama anggota keluarga inti kerajaan pasti lebih dari tiga nama bersama nama keluarga, dan hal itu cukup menyulitkan untuk di ingat terlebih karna sangat jarang di sebutkan. Anastasia yang melihat kebungkaman Kenna dan Elsa, sudah mendapatkan kebenaran dari perhitungannya.
"Nona Kenna, jika saya menjadi anda, saya harus tahu terlebih dahulu nama jelas kekasih saya baru saya akan bersedia untuk di tiduri, maksut saya..." Anastasia menjedah sambil mulai bergerak melangkah menuju pintu masuk. "Saat saya, sudah mendengar kekasih saya menyebut namanya di sumpah pernikahan" Anastasia mengubah arah pandangnya untuk menatap Elsa "Dan kau, jangan pernah lupakan untuk meletakkan 'His Highness' dengan sopan setiap waktu saat di depan umum, karna dirimu tidak lebih atau setara dari statusnya, jika tidak kau lakukan, itu sama saja kau sedang menghina dan merendahkannya"
Sambil terus melangkah, Anastasia teringat sesuatu, lalu menghentikan langkahnya sejenak untuk berucap
"Oh.. aku hampir lupa nona Kenna. Satu lagi, hal yang paling penting. Anak anda hanya bisa menjadi seorang Castalarox jika dia ada karna pernikahan, itu adalah hukum mutlak sebuah keluarga kerajaan. Jadi, jika anda tidak di nikahkan His Majesty Raja Fredrick" Seringai Anastasia terbit sambil menatap wajah Kenna yang sudah merah padam. "Anak itu selamanya, hingga kematiannya, hanya akan menjadi anak haram. Karna itulah semua orang di sini menertawakanmu, nona Kenna"
Anastasia tidak perlu lagi bermain lembut, bermain anggun, dan bermain elegant. Anastasia lakukan dan ucapakan saja apa yang ada di dalam benakknya, Anastasia tinggal mengeluarkan saja semua perasanya saat menghadapi Kenna. Karna dari sudut, titik, panjang, siku, bagian, diameter, kelipatan manapun, Kenna akan tetap terlihat dan terdengar lebih hina. Itulah pesan para aunty saat mereka baru tiba dari Albany, dan Anastasia, akan menjalankan dengan patuh permintaan para aunty-nya mulai sekarang.
--000--
Kenna terus gelisah dan tidak bisa tidur karna terus memikirkan ucapan Anastasia. Awalnya dia sudah sangat yakin jika semuanya akan berjalan lancar, tapi ucapan Anastasia tadi siang membuatnya butuh sebuah kepastian, hanya untuk memastikan. Karna itu, sekarang Kenna sudah berada di depan pintu kamar Ferdinand. Dirinya terus melirik sekitar, takut-takut ada seseorang yang lewat, karna Kenna sangat ingat pesan Ferdinand untuk tidak mendekati kamarnya. Hingga Kenna sudah merasa aman, tangannya mulai mengetuk pintu
TOK TOK TOK
Ferdinand yang baru saja selesai merapikan kertas-kertas di meja kerjannya menunggu suara dari balik pintu yang di ketuk, dan karna tidak ada suara, dengan bersemangat kakinya segera melangkah menuju pintu, dia pikir itu adalah Anastasia. Karna jelas hanya Anastasia manusia di castle-nya yang tidak perlu memberitahukan kedatangan saat akan berkunjung ke kamarnya.
Tapi sayang, harapan Ferdinand meleset karna Kenna lah yang muncul saat dia sudah kembuka pintu.
"Kenapa Kenna?"
Kenna menggigit bibirnya sambil menatap Ferdinand dengan ragu
"Bisakah kita bicara Dinand?"
Alis Ferdinand mengerut bingung, tapi tetap mengangguk, karna sepertinya ada hal penting yang akan di katakan Kenna.
"Masuklah"
Setelah masuk ke dalam kamar, Kenna memperhatikan seluruh bentuk, perabotan, peralatan, lemari, kursi, karpet, dan semua hal mewah bernuansa merah di dalam kamar. Kamar yang jelas lebih mewah dari kamarnya.
"Ada apa?"
Penilaian Kenna terhenti saat Ferdinand sudah bersuara sambil menatapnya. Kenna melirik kursi yang ada di sana
"Boleh aku duduk?"
Ferdinand dengan langkah malas menarik sebuah kursi, dan kembali bersuara
"Duduklah Kenna. Ada apa?"
Setelah bokong Kenna mendarat di atas kursi, Kenna menarik nafas dalam sejenak, lalu mulai memberanikan diri untuk memperjelas kegusarannya
"Aku mendengar jika anak kita hanya bisa menjadi seorang Castalarox, ketika kita menikah?"
Arah pandang Ferdinand menatap Kenna dengan penuh selidik
"Siapa yang memberitahumu?"
Kedua tangan Kenna terkepal, siapa yang memberitahu katanya? berarti bisa saja itu benar? dan pemikiran itu membuat Kenna semakin ingin memperjelas segalanya.
"Jawab saja Dinand"
Kepala Ferdinand mengangguk dengan yakin
"Benar"
Ahh... Ternyata Ferdinand selama ini tidak pernah memberitahukan hal ini padanya, atau memang sengaja? Jika begitu, dia harus melakukan sesuatu. Kenna menatap Ferdinand sambil memasang senyum lembutnya, dia harus memperjelas masa depan anaknya terlebih dirinya sendiri
"Jadi, kapan kita akan menikah Dinand?"
\=\=\=💙💙💙💙
Silahkan jejaknya....