Marrying The Prince

Marrying The Prince
56


"Apa kau baik-baik saja?"


Untuk yang keseribu kalinya Ferdinand terus menanyakan hal yang sama. Anastasia kembali tersenyum geli sambil kembali mengangguk.


Ferdinand membuang nafas panjang dan kembali menatap Anastasia dengan lekat.


"Kau tidak apa-apa Ana?"


"Iya Ferdinand... aku baik-baik saja. Berhentilah bertanya"


Dengan gusar Ferdinand mengusap tengkuknya lalu menatap ke arah dada Anastasia, lagi. Kali ini, Anastasia mencubit pinggang Ferdinand dengan kesal


"Jangan menatapku seperti itu"


Ferdinand mendekat ke ranjang Anastasia, ranjang pribadi Anastasia yang ada di castle.


"Aku tidak percaya Ana" Sambil menekuk kedua lututnya di depan Anastasia yang sedang duduk pada bibir ranjang, Ferdinand mengerling. "Tanpa melihat sendiri aku tidak percaya"


Kembali satu cubitan mendarat di bahu keras Ferdinand yang sudah terkekeh geli sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Anastasia. Tangan Anastasia terulur dan mengusap lembut rambut pekat Ferdinand.


"Kembalilah ke kamarmu Ferdinand, kau pasti lelah karna sepanjang perjalanan terus bertanya"


Kekehan halus kembali meluncur di bibir Ferdinand, Anastasai ikut terkekeh geli.


*


*


*


Sudah satu bulan mereka kembali dari Yorksire yang berarti sudah hampir dua bulan pernikahan Ferdinand dan Anastasia. Pernikahan mereka berjalan dengan harmonis, hubungan mereka semakin dekat dan manis.


Tidak ada lagi hal-hal yang membuat Anastasia menangis, tidak ada lagi perbuatan Ferdinand yang membuat Anastasia bersedih. Semua terlihat baik dan romantis.


Sering kali Ferdinand membawa Anastasia untuk keluar bersama untuk menikmati waktu mereka berdua dengan manis. Beberapa kali mereka berkunjung ke istana untuk berkumpul bersama keluarga.


Anastasia dan Ferdinand sudah sepakat akan menjalankan pendekatan mereka dengan perlahan setelah kejadian Ferdinand yang hampir lepas kendali setelah membawa Anastasia ke atas ranjangnya.


Dengan penuh penghargaan dan penuh pengertian Ferdinand menerima keputusan Anastasia yang belum ingin mengesahkan pernikahan mereka di atas ranjang meski, hingga detik ini dia sering kesulitan mengendalikan libidonya.


Seperti sekarang, Ferdinand terus menghimpit tubuh Anastasia di atas ranjangnya. Mulut dan lidahnya bergerak cekatan untuk menyesap, memangut, bergerak, dan menikmati setiap rasa manis Anastasia.


Anastasia yang terus di sudutkan hanya bisa pasrah dan membalas semampunya, sesekali erangan Ferdinand membuat dirinya membiarkan tangan suaminya untuk berjelajah bebas di tempat-tempat tersembunyi miliknya tapi, dengan pengendalian diri yang luar biasa, Anastasia akan langsung membatasi saat tangan besar dan hangat itu mulai melewati batas.


Seperti sekarang, tangan mahir Ferdinand sudah hampir menyusup ke balik rok dalam Anastasia. Anastasia yang merasakan tangan memabukkan itu hampir menyentuh tempat paling rahasianya, dengan gemetar langsung menahan sekuat tenaga tangan Ferdinand agar berhenti. Mulut mereka yang masih terjalin dengan Ferdinand yang terus menggoda dengan janji kenikmatan sangat menyulitkan Anastasia.


Munafik, jika Anastasia mengatakan dirinya tidak terlena. Penipu, jika dirinya mengatakan dia tidak pernah terhanyut dalam janji-janji kenikmatan di setiap belaian Ferdinand tapi, dengan sekuat nyawanya dan keteguhan hati sekokoh benteng istana, Anastasia masih bisa lolos dari godaan kenikmatan memabukkan itu.


"Ana..."


"Tidak sekarang Dinand..."


"Tolong..."


Anastasia menggigit bibirnya saat Ferdinand terus mengerang menderita di ceruk lehernya. Brengsek! mana mungkin Anastasai tidak terbuai, mana mungkin Anastasia tidak menderita, dia pun sama. Dia juga menderita tapi,


"Maaf Dinand... maafkan aku, tolong maaf"


Ucapan lirih yang syarat dengan rasa penuh menyesal Anastasia membuat Ferdinand membuang nafas panjang. Kepalanya terangkat perlahan sambil menatap hangat kedua mata Anastasia yang sudah hampir tumpah.


"Jangan menangis Ana. Jangan menyesal. Kita sudah sepakat dan aku akan menunggu" Tangan Ferdinand mengusap lembut pipi Anastasia dengan tersenyum tulus. "Seperti janjiku yang akan menghargai dan menghormatimu. Aku akan menunggu dengan sabar. Jangan menangis Ana"


Sambil mengusapi matanya sendiri, Anastasai mengangguk lemah. Melihat Anastasia yang mulai tenang, Ferdinand langsung menegakkan tubuhnya dan segera melompat dari atas ranjang. Tangan Ferdinand dengan lembut membawa Anastasia untuk duduk.


Anastasia yang di perintah secara halus untuk duduk menatap Ferdinand dengan penuh tanda tanya, dan raut wajah Anastasia yang terbaca jelas oleh Ferdinand membuatnya tersenyum hangat. Dia mengerti apa yang di khawatirkan Anastasia.


"Kita tidak bisa satu ranjang untuk malam ini Ana, seperti biasa, aku harus menenangkan semangatku"


Setelah berucap, Ferdinand terkekeh geli sambil menuntun Anastasia yang sudah menunduk malu sambil tersenyum malu untuk turun dari ranjang. Layaknya gentleman sejati, dengan lembut Ferdinand membawa Anastasai untuk melangkah menuju pintu penghubung mereka.


"Kau tidak harus mengantarku Ferdinand"


Langkah mereka berhenti di depan pintu, Ferdinand dengan sigap langsung membukakan pintu sambil menjawab


"Tapi aku harus mam" Ferdinand menatap Anastasia, menempelkan bibirnya di pelipis Anastasia sambil berbisik. "Selamat malam Anastasia"


"Selamat malam Ferdinand"


Sebelum terpisah dari pintu, mereka masih saling melempar senyum sesaat, lalu terpisah saat Anastasia menutup pintu penghubung.


Setelah Anastasia menghilang dari balik pintu, Ferdinand membuang nafas panjang sambil menggaruki kuat kepalanya yang tidak gatal. Arah pandangnya turun ke tempat miliknya yang tersimpan dan tersembunyi dengan baik. Ferdinand meringis saat di tempat itu masih terasa berdenyut nyeri dan berdiri


"Sabarlah boy... jangan memaksa, sabar saja dulu. Tenangkan dirimu dan diriku... jangan memalukan..."


Setelah berucap dan mencoba berkomunikasi penuh nasihat dengan 'miliknya', Ferdinand segera menuju kamar mandi. Dia butuh air super dingin untuk mendinginkan akal sehat dan meredam segala gelora panas di dalam tubuhnya, seperti biasa.


Puluhan menit Ferdinand habiskan untuk meredam segala gejolak di tubuhnya hingga kembali tenang. Dan sekarang, dirinya sedang duduk di kursi meja kerjanya sambil berdiam diri menatap ke jendela yang masih terbuka lebar.


TOK TOK TOK


"Your Highness"


"Masuklah"


"Selamat malam Your Highness"


"Katakan Solar"


Tanpa ingin berbasa basi busuk Ferdinand langsung menodong Solar untuk segera memberikan hasil yang di perintahkannya. Solar mengangguk patuh dan melangkah mendekat pada meja Ferdinand sambil merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah amplop surat, lalu meletakkannya di atas meja Ferdinand.


"Semua benar, Your Highness"


Jantung Ferdinand berdugup cepat, arah pandangnya menatap Solar dengan tajam


"Kau yakin?"


Solar mengangguk yakin dan membalas tatapan Ferdinand dengan tegas


"Selama beberapa ini, saya sudah menyelidikinya dengan baik mengikuti perintah anda, dan hasil yang saya dapatkan, semua yang ada di dalam surat ini memang benar, Your Highness"


Tangan Ferdinand terangkat untuk memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut hebat


"Tidak ada yang tahu kan?"


Kembali, Solar mengangguk yakin


"Saya bisa pastikan jika tidak ada seorangpun yang tahu ketika saya mengerjakan perintah anda, Your Highness"


"Keluarlah Sol"


Dengan patuh, Solar mengangguk sambil menunduk sopan


"Selamat malam Your Highness"


Setelah Solar keluar dari pintu kamarnya, Ferdinand semakin kuat memijat pelipisnya yang semakin berdenyut hebat. Kepalanya sangat sakit dengan isi dadanya yang terus berdebar kencang


"Apa yang harus ku lakukan..."


--000--


Pagi ini, di penghutung musim semi, sepasang suami istri sedang sibuk dengan sendok dan garpu mereka hingga semua yang ada di dalam piring mereka tandas.


Anastasia dengan cepat menyelesaikan table manner-nya, lalu menatap Ferdinand yang sudah menunggunya sambil menautkan tangan di atas meja.


"Apakah aku hari ini bisa ikut bersamamu ke istana?"


Satu alis Ferdinand menukik, menatap Anstasia dengan penasaran


"Kalian ingin keluar bersama lagi?"


Dengan tersenyum girang, Anastasia mengangguk antusias


"Francesca ingin keluar dan berbelanja"


Nafas panjang Ferdinand berhembus. Ekor matanya melirik Ruth dan pelayan lain yang seperti biasa berdiri siap untuk memenuhi perintah mereka


"Aku hari ini akan langsung ke ibu kota untuk memeriksa bendungan An-" Ferdinand menjedah sambil tersenyum berat. "Aku tidak akan langsung ke istana"


Dengan penuh pengertian, Anastasia mengangguk paham. Bibirnya tersenyum lembut


"Ok... aku akan di antar Carl"


Dengan pasrah, Ferdinand mengangguk dan langsung berdiri dari kursi. Anastasia dengan sigap ikut berdiri dari kursi, untuk mengantar Ferdinand yang akan berangkat kerja, seperti biasa.


--000--


Fredrick masih berdiri sambil menatap ke luar jendela ruang kerjannya. Francesca yang juga ada di sana sedang tenggelam di dalam duniannya sendiri karna mengerjakan tumpukan perkamen. Victoria yang juga sedang ada di sana, akhirnya melepas semua pekerjaannya, dirinya segera berdiri untuk mendekat pada suaminya yang belum juga melepas arah pandangnya dari luar jendela.


Dengan anggun, Victoria melangkah medekat dan berdiri di sisi Ferdinand. Arah pandangnya ikut menatap ke luar jendela, ke arah meja taman yang di isi Putri dan menantunya.


Diana, pelayan Summer, dan pelayan Anastasia sesekali terkekeh saat Summer dan Anastasia mengatakan sesuatu. Summer terus memegang buku di tangannya, Anastasia sibuk membuka mulutnya seolah sedang bercerita. Pemandangan itu, membuat Victoria tersenyum kecut dan berbisik pelan, sangat pelan.


"Kau sengaja membuat Frances sibuk di sini agar mereka tidak bisa keluar istana kan?"


Dengan acuh, Fredrick mengedipkan kedua bahunya


"Aku tidak"


Jawaban acuh Fredrick membuat Victoria melirik Francesca yang sedang asik menikmati dunia pekerjaannya.


"Apa akan terjadi sesuatu Bash?"


Arah pandang Fredrick masih terus menatap keluar jendela, tangannya meraih tangan kiri Victoria, memainkan cincin pernikahan mereka.


"Musim bunga bermekaran sudah di penghujung. Musim semi akan selesai....."


Victoria terus menunggu ucapan lain dari mulut Fredrick tapi, hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Fredrick. Victoria kembali melirik Francesca, lalu kembali menatap apa yang sedang di perhatikan suaminya. Arah pandangnya menatap Anastasia dengan lekat.


Meski apapun yang Victoria berikan selama ini memang karna 'sesuatu' tapi dia juga memberikannya dengan tulus, tulus karna menyayangi gadis itu, menantunya. Tangan lain Victoria mengusap pelan tangan suaminya yang masih memainkan cincin di tangan kirinya, dengan penuh doa dan harapan, Victoria berucap pelan


"Aku harap saat musim gugur tiba, taman bunga bisa tetap bertahan dan terlihat indah"


\=\=\=❤❤❤❤


Silahkan jejaknya....