Marrying The Prince

Marrying The Prince
53


Setelah melewati makan malam tanpa para pria parlement termasuk Arthur yang harus segera kembali ke parlement. Keluarga itu sekarang sudah kembali berkumpul di ruang keluarga. Para pria sedang bermain gambling di meja terbesar di sana. Sesekali tawa menggelegar para pria menggema hingga keluar rumah, sesekali umpatan kasar ala pria bar membuat Victoria dan Charlotte harus berdehem sangat kuat untuk menegur.


Anastasia dan Summer kembali terkekeh saat Fredrick kembali mendapat deheman sangat kuat dari Victoria, sama halnya dengan George yang sudah mendapat bantal terbang dari Francesca yang mulai muak.


Keributan di meja besar membuat Charlotte mulai muak, dirinya yang sedang menceritakan sebuah buku pengetahuan tentang Vasco Dan Gama akhirnya ikut melemparkan bantal terbang pada Michael dan Henry. Mereka yang juga sudah ikut mendapat bantal terbang hanya saling melirik lalu kembali menebak dadu mereka.


Anastasia kembali terkekeh dan kembali menatap Charlotte


"Lanjutkan saja aunty, aku masih penasaran"


Victoria kembali melirik Francesca yang juga sudah meliriknya. Mereka terus diam sambil memperhatikan semua hal yang terjadi. Sekali lagi, semua hal yang terjadi.


Di mulai dari Ferdinand yang kembali tanpa dosa dengan Anastasia yang terus di tempelinya tanpa bisa lepas, lebam di pipi dan dahi Anastasia, keceriaan Anastasia yang sudah kembali dan, yang paling menarik perhatian ibu dan anak itu adalah Anastasia yang terlihat lebih acuh pada Ferdinand. Acuh dan terlihat lebih diam seolah malas untuk melihat wajah Ferdinand walaupun, pinggangnya selalu di lilit lengan Ferdinand.


Sudut bibir Victoria berkedut saat lagi-lagi Ferdinand yang duduk di meja para pria melirik ke arah Anastasia yang sekali lagi, terlihat acuh dan tidak berminat untuk sekedar menoleh padanya.


Hmm... apa yang terjadi sebenarnya? Victoria sangat ingin tahu.


"DASAR BEDEBAH KAU DOM!!!"


"Kau salah!"


"AKU YANG DULUAN MENEBAK!"


Satu bantal lagi akhirnya terbang, bantal dari Summer untuk Ferdinand. Charlotte yang sedang bercerita kembali harus diam saat suara-suara memuakkan itu mengisi seluruh suara di dalam ruangan.


"Lain kali saja An, aku jadi tidak bisa mengingat dengan baik"


Dengan pasrah, Anastasia mengangguk.


"Iya aunty"


"Mereka memang mengganggu"


Summer ikut memimpali sambil mendengus dengan tidak anggun dan kembali melempar dua bantal ke arah Edward dan Jeremmy yang sudah hampir saling melayangkan bogem.


"Ayo besok berkuda"


Ucapa Victoria membuat semua wanita dan gadis di sana menatapnya.


"Ayo mama! yeah!"


Summer dengan girang menyambut ucapan Victoria. Charlotte hanya terkekeh sambil menarik tangan Summer yang hampir melompat dengan cara tidak anggun, Francesca mengangguk singkat, dan Anastasia tersenyum sambil mencengkam gaunya dengan kuat.


Setelah waktu menunjukkan hampir tengah malam, mereka semua yang memang sudah merasa mengantuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan Ferdinand masih di sana bersama George yang sesekali menyesap isi cangkir herbalnya dan Edward yang berdiri diam di belakang kursi George.


Berpuluh-puluh menit terus berlalu dengan George yang masih diam dan hanya diam. Dan keheningan itu, membuat Ferdinand semakin gugup hingga dirinya terus bergerak gusar di atas kursinya.


"Kau sangat gelisah"


Tiga kata pertama akhirnya keluar dari mulut George. Ferdinand mengangguk singkat sambil menatap Geroge dengan raut wajah memelas.


"Ada apa gapa? Apa yang ingin kau katakan?"


"Katakan apa alasanmu yang kabur di hari ulang tahunku?"


Dengan susah payah, Ferdinand meneguk ludahnya. Ekor matanya melirik George yang masih tetap menatap ke depan, lalu melirik Edward yang dengan santai ikut menatap apa yang di lihat George. Entahlah... Ferdinand tidak mengerti apa yang menarik dari taman bunga yang gelap.


"A-aku... emm.. aku..."


"Menghindari seseorang?"


Binggo! ucapan Edward membuat kepala Ferdinand langsung mendongak untuk menatapnya, lalu kembali menurunkan arah pandangnya pada meja berantakan bekas tempat mereka bermain gambling.


"Iya"


George kembali mengangkat cangkirnya dengan suaranya yang kembali terdengar


"Siapa dan kenapa"


Dan lagi, Ferdinand meneguk ludahnya dengan susah payah.


"Emm... Mike"


Jawaban dengan suara lemah dan kecil Ferdinand membuat Edward menekuk bibirnya untuk menahan tawa. George kembali meletakkan cangkirnya sambil berucap


"Kenapa?" Tangan Ferdinand mulai menggaruki kepalanya yang tidak gatal sama sekali, dia mulai bingung dan juga malu untuk menjelaskan perasaannya pada George. George yang menangkap itu kembali menekan Ferdinand. "Jelaskan kenapa Dinand"


Nafas pasrah Ferdinand berhembus. Baiklah.. dia akan buka mulut karna percuma jika dirinya tetap diam. George dan Edward pasti tidak akan melepaskannya hingga ke dalam lubang nereka sekalipun.


"Aku kesal pada Mike karna membawa Anastasia pergi. Mereka pergi begitu saja tanpa meminta ijin dariku gapa. Anastasia adalah seorang gadis yang sudah menikah dan harusnya dia tahu jika pantang untuk gadis yang sudah menikah berjalan bersama pria lain bahkan tanpa pendamping, mereka hanya berdua gapa"


Kepala George mengangguk paham. Edward yang mendengar ucapan cepat dengan nada menggebu Ferdinand ikut mengangguk dengan dramatis. Sambil memainkan cangkirnya George yang belum puas dengan jawaban Ferdinand kembali membuka suara


"Lalu?"


Sambil menyenderkan punggungnya ke kursi dan ikut menatap ke arah taman gelap, Ferdinand sudah siap menumpahkan segala isi hatinya.


"Aku kesal, aku marah. Aku tidak ingin melihat Mike saat itu, karna itu aku kabur untuk menenangakan diri. Aku juga kesal dan marah pada Ana, dia tidak menghargaiku sebagai suaminya dan dia juga melupakan statusnya gapa. Dia istri orang, tapi sangat liar"


"Hhmm... liar yaaa"


Kepala Ferdinand mengangguk lemah saat mendengar suara George. Geroge melirik Edward sejenak, lalu kembali berucap.


"Apa kau mau mendengarkan jika aku menjelaskan sesuatu Dinand?"


Dengan pasrah dan dengan tidak memiliki pilihan lain, Ferdinand hanya bisa menganguk. George tersenyum.


"Mike adalah keluargamu, sepupumu, yang artinya dia juga sudah menjadi keluarga Ana"


"Aku belum selesai Dinand"


Mulut Ferdinand langsung mengatup. George yang melihat jika Ferdinand sudah kembali menutup rapat mulutnya melanjutkan.


"Mereka memang saudara ipar tapi, tidak ada yang salah untuk Ana sekedar berjalan keluar bersama Mike. Kecuali, jika Ana bersama Mike berdua di dalam sebuah pondok terpencil di dalam hutan atau, ketika Ana sedang bermalam berdua di rumah Mike. Aku tidak akan mengucapkan apapun ketika sekalipun kau ingin membunuh mereka jika itu terjadi. Karna kau adalah Pangeran Ferdinand, suami Ana"


Ucapan penuh penjelasan dan juga syarat akan sindiran kental dari George membuat Ferdinand hanya bisa semakin mengatup rapat-rapat mulutnya. Dan Edward, bisa mendengar suara skakmate menggema di dalam kepalanya


"Dinand, kau beruntung karna aku masih hidup. Karna jika tidak ada aku, malam itu tidak hanya kudamu yang akan mati. Fredrick dan pergerakannya tidak akan ada yang bisa menebak telebih, ayahmu itu tidak suka banyak bicara dan banyak mengancam sepertiku. Dia hanya akan mengatakan sekali dan saat dia sudah berkata, itu adalah sebuah ultimatum yang harus selalu kau ingat di dalam setiap nafasmu" George menjedah sambil kembali meraih cangkirnya, lalu kembali berucap. "Masa muda Fredrick jauh lebih liar dan lebih parah darimu Dinand" George menyesap isi cangkirnya dan setelah itu kembali melanjutkan. "Jangan mengkadali buaya Dinand. Terlebih buaya air asin seperti ayahmu. Kau tidak akan bisa membayangkan apa saja yang sudah di ketahuinya, apa saja yang sedang dia susun di dalam kepalanya, dan kau juga tidak akan pernah bisa melawan saat dia sudah berkata 'tidak'..."


Ferdinand sadar dan sangat tahu kemana arah ucapan George tertuju. Jika George saja bisa tahu tentang gubuk rahasianya, tidak akan sulit untuk George tahu tentang hal-hal yang coba di sembunyikan Ferdinand. Dan jika George sudah tahu segalanya... berarti...


Dengan cepat kepala Ferdinand menoleh pada George saat sebuah pemikiran melintas di dalam kepalanya. George yang di tatap tersenyum sambil mengangguk singkat


"Fredrick pasti sudah punya rencana kejam dan daftar nama untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang menganggunya" Masih dengan senyum yang tercetak di bibirnya, George menoleh untuk menatap Ferdinand. "Camkan itu Dinand, dan ku ingatkan padamu, jangan sentuh kesukaan ibumu yang bisa berujung akan menyakiti ibumu. Kau tidak ingin kan membangkitkan seekor monster Dinand?"


"Iya gapa"


Tangan George terulur untuk menepuk sebelah bahu Ferdinand saat kepala cucunya itu hanya bisa tertunduk. George tersenyum sendu sambil menatap langit malam yang pekat


"Dinand, jadilah pria dan suami yang baik sebelum semuanya terlambat. Atau penyesalan akan selalu menghantui dan terus memelukmu selama kau masih bernafas"


--000--


Puluhan menit terus terlewati setelah George yang di antar Edward kembali duluan ke kamarnya untuk beristirahat. Ferdinand di dalam keheningan masih duduk termenung di kursi, sendirian. Arah pandangnya terus menatap cangkirnya yang sudah terasa dingin. Pikirannya terus berputar mengingat dan mencerna segala ucapan nasihat dari George.


Benar apa yang di katanya George, dia beruntung karna George masih hidup dan bersedia membuang waktu untuk memberikan nasihat dan teguran untuknya. Untuknya yang selama ini, baru Ferdinand sadari, jika dirinya memang sangat naif.


Bisa-bisanya dia berpikir jika dirinya akan mampu menentang Fredrick, bisa-bisanya dirinya berpikir jika selama ini Fredrick hanya mendiamkan semua sepak terjang masa muda bebasnya, bisa-bisanya juga dia berpikir jika Fredrick mungkin saja tidak mengetahui beberapa hal yang di sembunyikannya, dan bisa-bisanya juga dia berpikir jika keterdiaman Fredrick sekarang, bukan karna dia tidak meliliki alasan.


Malam ini Ferdinand baru sadar, jika setiap langkah yang di tapakinya, jika setiap nafas yang di hirupnya, semua selalu di bawah pengawasan dan juga sudah di genggam ayahnya.


Ferdinand membuang nafas panjang sambil menyenderkan punggungnya ke kursi dengan kepala menengadah. Otaknya tidak bisa lagi berpikir sedikitpun tentang masa depannya, jalan pikirannya buntu dengan semua rencana untuk masa depan yang akan di pilihnya sendiri. Karna semuanya, pasti sudah ada di dalam genggaman Raja.


Bermenit-menit terlewani hingga akhirnya, Ferdinand menegakkan kakinya dan mulai berjalan menuju kamar. Kemelut di dalam kepalanya butuh penyegaran dan sekarang, dia tidak perlu keluar untuk mencari udara. Karna dia sudah punya Anastasia yang selalu bisa membuatnya gemas. Dan semoga, Anastasia bisa sedikit meringankan sakit kepalanya.


--000--


Di sisi lain, Anastasia masih duduk di depan meja riasnya. Perasaannya tidak tenang karna rencana berkuda, dan juga bagaimana caranya untuk melewati malam ini dengan 'aman' di kamar mereka.


Ferdinand yang selama ini di kenal Anastasia semakin hari semakin menjadi, terlebih saat kejadian mereka yang tidur sepanjang hari tadi. Anastasia memegangi dadanya yang tiba-tiba jadi berdegup kencang saat mengingat tangan nakal Ferdinand yang ternyata selama dia tidur, tidak mendarat di pinggangnya tapi di dadanya. Ohh Tuhan.... rasanya sangat memalukan dan menyebalkan! Ferdinand juga tidak langsung melepaskannya saat mereka sudah harus turun dan segera memintaa maaf pada yang lain, karna mereka sudah absen dua kali di meja makan


"Kau belum tidur?"


Suara yang tiba-tiba muncul itu membuat Anastasia tersentak, tanpa sadar tangannya langsung mengeratkan mantel yang di pakainya.


Ferdinand yang masih berdiri di depan pintu menaikkan satu alisnya sambil menatap pantulan gerak gerik Anastasia dari cermin


"Kau kedinginan Ana?"


Crab! Anastasia mulai salah tingkah saat menyadari jika Ferdinand terus menatap mantel serta pergerakan gugup tangannya. Anastasia menarik nafas dalam, dirinya mencoba tenang untuk menjawab sealami mungkin


"Tidak. Eh, Iya"


Dengan sudut bibir yang berkedut geli, kepala Ferdinand mengangguk-ngangguk dengan cara yang dramatis. Kakinya mulai melangkah untuk semakin masuk ke dalam kamar.


"Kau mau ke mana?"


Satu alis Ferdinand menukik, dengan langkahnya yang terus bergerak, mengabaikan pandangan Anastasia yang menatapnya dengan aneh.


"Ganti baju lalu tidur"


"Ahh iya... kau benar"


Benar.... Jelas saja Ferdinand dengan santai berjalan di dalam kamar ini, karna ini memang kamar mereka. Anastasia merutuki dirinya yang dengan bodoh bertanya tapi, untung saja Ferdinand mengartikan hal lain dari maksut pertanyaannya.


"An, ambilkan piama tidurku"


"Hah?"


"Aku ingin mencuci wajah, jadi tolong siapkan piama tidurku"


Ferdinand hampir terkekeh saat melihat raut wajah Anastasia. Langkahnya yang akan menuju lemari berputar untuk menuju kamar mandi. Baiklah... mulai sekarang dia akan memanfaatkan Anastasia untuk menyiapkan kebutuhannya. Karna Ferdinand memang tidak ingin memiliki pelayan pribadi, dia lebih suka menyiapkan dirinya sendiri tapi sekarang, dia memiliki Anastasia.


Sambil menatap lemari Ferdinand, dengan tangan yang terus menggaruki pipinya yang tidak gatal, Anastasia berpikir keras tentang pilihan piama yang akan dia siapkan. Kepalanya berpikir keras hingga tidak bisa menyadari sekitarnya


"Mana?"


Tubuh Anastasia menegang, saat tanpa ada aba-aba suara Ferdinand sudah muncul di belakangnya terlebih, aroma Ferdinand yang sangat dekat dengannya. Sudah pasti! tubuh Ferdinand sekarang tepat berada di belakangnya. Dengan susah payah Anastasia mencoba mengulurkan tangannya untuk meraih setelan piama tidur.


Saat setelan itu sudah berhasil di raihnya, tanpa berani berbalik, Anastasia mengulurkan tangannya ke belakang


"I-ini"


Ferdinand menahan mati-matian rasa menggelitik yang ingin di muntahkannya. Gerak gerik gugup dan malu Anastasia benar-benar memancingnya untuk terus menggoda Anastasia.


"Bantu aku untuk memakainya An"


Kedua mata Anastasia membola, tubuhnya yang masih memunggungi Ferdinand semakin tidak ingin berbalik, tangannya yang masih melayang di udara semakin gugup.


Ferdinand yang melihat jika Anastasia hanya mematung, mendekatkan dada polosnya yang memang hanya berjarak sedikit dari punggung Anastasia. Kepalanya menunduk untuk mendekat pada telinga Anastasia.


"Bantu suamimu ini memakai baju, istriku.."


\=\=\=❤❤❤❤


Silahkan jejaknya....