
Hari ini, dengan karpet merah yang sudah membentang di seluruh istana hingga ke luar taman istana, sudah menunjukkan jika hari yang di tunggu telah tiba. Hari pernikahan Pangeran Francia dan Putri Trancia.
Setelah gaun dan riasan wajahnya selesai, para pelayan dan para bridesmaid kembali membantu Anastasia untuk memakai perhiasan serta tiara kerajaan Tancia. Tiara dengan bentuk mahkota itu membuat tangan Ruth sedikit gemetar.
Tiara yang terpasang berlian unggulan serta mutiara yang paling terbaik itu membuat siapapun yang mengangkatnya bisa merasakan berat dari batu-batu yang menjadi pameran utama, untuk menunjukkan jika tiara itu adalah tiara turun temurun milik setiap mempelai mantan Ratu pemimpin Trancia terdahulu.
Tidak ada keraguan dan tidak ada penyesalan di raut wajah Anastasia saat dia akan memakai tiara itu untuk hanya menjadi Putri pendamping, bukan untuk mengikuti takdir dirinya yang seharusnya menjadi The Great Queen of Trancia.
Tiara yang cukup terasa berat itu dengan sangat hati-hati di pasangkan di atas kepala Anastasia. Wajahnya yang sudah seperti setengah bidadari yang turun dari Trancia, menjadi semakin indah bagai sebuah gambaran mahakarya lukisan ketika terpasang tiara mewah warisan kerajaannya.
Anastasia menatap tiara milik kerajaannya, tiara yang pernah terpasang di semua pernikahan mantan para Ratu pemilik tahta mutlak Trancia.
Meski wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun penyesalan tapi tetap, ada sedikit rasa kecewa ketika dia memakai tiara itu untuk menikah dan hanya menjadi Putri pendamping.
Tapi Anastasia sudah memutuskan semua ini. Semua ini adalah jalan yang di pilihnya sendiri meski hasil yang di terimanya, tidak benar-benar berjalan sesuai dengan keinginannya. Tidak seluruhnya karna Raja Fredrick. Raja yang ternyata jauh lebih cerdas dan licik dari perhitungannya
"Sempurna"
Suara Ruth membuat Anastasia tersenyum dan kembali sedikit menekuk kakinya, karna Ruth akan kembali membenarkan vail penutup wajah Anastasia
Setelah semua selesai, para bridesmaid yang juga para kerabat Raja dan Ratu ikut merapikan gaun panjang Anastasia yang menyapu lantai. Dan sesuai perhitungan, pintu sudah di ketuk.
Seorang pelayan langsung menbukakan pintu. Dan di sana, Henry sudah muncul dengan setelan Pangerannya. Henry sebagai kerabat Raja akan membawa dan mendampingi Anastasia untuk menuju altar.
Dengan kebaikan hatinya, Raja sendiri lah yang menunjuk adiknya untuk menjadi wali Anastasia menuju altar.
"Anda sangat cantik, Putri Anastasia"
Anastasia tersenyum haru sambil menatap Henry yang sudah meraih tangannya, dan dengan pelan menepuk-nepuk punggung tangannya dengan tulus.
"Terimakasih Pangeran Henry"
Henry membalas senyuman haru Anastasia dengan kembali menepuk punggung tangan Anastasia.
"Sudah siap?"
Kepala Anastasia mengangguk singkat dan langsung meraih buket bunga yang di berikan Ruth.
Henry dengan sigap, langsung melingkarkan tangannya dan Anastasia langsung menggamit lengan Henry. Sebelum memulai langkahnya untuk menuju pintu keluar kamar rias, Anastasai menatap semua pelayan dan bridesmaid-nya. Dengan tersenyum penuh perasaan, Anastasia berucap tulus
"Terimakasih banyak"
Ucapan terimakasih Anastasia membuat semua pelayan langsung membungkuk dalam sambil menggeleng tegas. Sedangkan bridesmaid yang juga kerabat Raja dan Ratu hanya menunduk.
Henry mengedipkan satu matanya pada seorang gadis yang menjadi bridesmaid. Caroline putrinya, membalas ayahnya dengan tersenyum manis. Sebentar lagi, mungkin tidak lama lagi Henry juga akan kembali mengantar mempelai wanita menuju altar. Putri sulungnya yang sudah dewasa akan mengikuti jejak Anastasia.
Dan perasaan itu, membuat Henry langsung membawa langkahnya untuk Anastasia.
Pintu ruang rias di buka dan tepat saat pintu terbuka
TANG TANG TANG
Lonceng berbunyi yang menandakan jika mempelai wanita sudah akan menuju altar. Para tamu undangan di dalam kapel segera berdiri dari kursi mereka. Para anak kecil penabur bunga sudah mulai menaburkan bunga pada lantai tempat Anastasia menapaki jalan menuju altar. Tempat dimana Ferdinand dan para groomsmen-nya berdiri.
Gaun putih indah Anastasia mulai di angkat para bridesmaid saat langkahnya terus berjalan ke depan. Ke arah altar dan calon suaminya.
Ferdinand yang sudah terbalut gagah dan tampan dengah setelan pernikahannya hanya bisa menahan nafas sambil menatap tiap langkah Anastasia. Seluruh perhatian dan juga setiap indar di tubuh Ferdinand hanya bisa berpusat pada Anastasia. Vail yang masih menutupi wajah Anastasia membuat Ferdinand gemas ingin membuangnya.
Sungguh, saat ini entah kenapa jantung Ferdinand mulai berdebar kecang. Semakin Anastasia melangkah, semakin debaran jantungnya menggila.
Tanpa sadar dan tanpa bisa mencerna tindakannya, Ferdinand langsung memegangi dada kirinya yang seperti akan meledak.
Dengan kegugupan luar biasa, Anastasia mulai menggigit bibirnya dengan gugup. Terlebih saat dirinya yang tidak bisa melepaskan arah pandangnya dari pria yang sudah menunggunya di depan altar.
Keadaan kapel yang penuh tamu, keadaan kapel yang sudah di hias dengan sangat cantik, keadaan dirinya yang sedang memakai segala hal berat membuatnya tetap tidak bisa menyadari apapun lagi karna, Ferdinand. Ferdinand, pria yang sudah menjadi impiannya, pria yang membuatnya melakukan apa saja sebentar lagi, akan menjadi suaminya.
Langkah demi langkah Anastasia semakin mendekat pada Ferdinand. Kegugupan Anastasia semakin menjadi. Sama halnya dengan Ferdinand yang masih memegangi dadanya karna akan meledak.
Saat sudah sampai di depan Ferdinand yang masih membatu, Henry tersenyum geli dan harus berdehem beberapa kali untuk mengambil perhatian Ferdinand yang hanya terus menatap Anastasia dari balik vail-nya.
"Ahh... iya uncle"
Terdengar suara kekehan kecil dan juga senyum geli yang tercetak di bibir tiap-tiap tamu ketika Ferdinand sudah dasar. Kecuali Francesca dan Fredrick yang hanya saling melirik dalam diam.
Henry dengan penuh rasa haru, seakan memang sedang mengantar Putrinya sendiri, meraih tangan Anastasia untuk di berikan pada tangan Ferdinand tang sudah meminta.
"Dinand anakku. Mulai sekarang, aku menyerahkan Putri Anastasia padamu... Tolong Hormati anakku Anastasia seperti kau menghormati ibumu, jaga dan lindungi dia seperti kau menjaga dan melindungi para saudarimu, dan...." Henry memberikan tangan Anastasia yang sudah gemetar karna penuh rasa haru. "Bahagiakan dia seperti dia bagian dari dirimu"
Ferdinand menatap Henry dengan dalam. Kedua mata Henry sudah tampak berkaca-kaca dengan bibir yang tercetak senyum tulus. Dengan perasaan yang sudah campur aduk, kepala Ferdinand mengangguk singkat dan penuh ketegasan, bibirnya yang terasa keluh menjawab dengan seluruh isi hatinya
"Dengan seluruh hidupku uncle"
Tanpa bisa di tahan-tahan lagi, Anastasia langsung menumpahkan begitu saja air mata penuh rasa haru dan rasa terimakasihnya. Walaupun bukan ayahnya sendiri yang menjadi walinya tapi Henry, membuatnya seakan benar-benar menjadi seorang anak dari seorang ayah yang sangat mencintai putrinya. Dan semua ini, sudah jauh melebihi dari kata sempurna untuk semua mimpi-mimpi yang Anastasia bahkan tidak berani untuk harapkan.
Dengan kedua pipi yang basah, tangan yang sudah di genggam Ferdinand, Anastasia menoleh pada Henry sambil melipat bibirnya yang bergetar. Henry yang menyadari tangis tertahan Anastasia memberikan senyuman sambil menggeleng singkat. Seolah mengatakan 'jangan menangis'
Ferdinand yang juga menyadari tangis tertahan Anastasia merm*s pelan tangan Anastasia yang sudah di genggamnya.
Anastasia menarik nafas dalam, lalu dengan menguatkan diri dan dengan keteguhan hati, kepala Anastasia mengangguk singkat. Tanda jika dia sudah siap.
Ketika tangan imam pemimpin pemberkatan terangkat di atas kepala Ferdinand dan Anastasia yang sudah mengambil posisi berlutut, tanda jika doa pembukaan untuk pemberkatan... akan di mulai.
Semua proses acara pembukaan mulai berjalan, lagu puji-pujian terus melantun indah, hingga tiba saatnya untuk kedua mempelai melakukan sumpah mereka. Sumpah yang tidak hanya akan mereka ucapkan di depan para tamu, para imam, dan para orang tua tapi, sumpah suci yang akan mereka ucapkan juga pada Tuhan.
“Saya, Ferdinand Fredrick George William Castalarox mengambil engkau Anastasia Chaterina Hellena White, untuk menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Ferdinand masih terus menatap Anastasia dengan dalam. Tangannya semakin mengeratkan genggaman tangan mereka saat dengan seluruh hatinya, dia sudah mengucapkan sumpahnya. Anastasia tersenyum tipis sambil menatap Ferdinad dengan lekat dan dada bergemuruh hebat.
“Saya, Anastasia Chaterina Hellena White mengambil engkau Ferdinand Fredrick George William Castalarox, untuk menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Setelah sumpah di sebutkan, pemimpin pemberkatan segera memberkati kedua cincin pernikahan. Ferdiand dan Anastasia masih saling tersenyum dengan saling mengeratkan tangan mereka.
"Silahkan memasangkan cincin pernikahan kalian"
\=\=\=💙💙💙💙
Silahkan jejaknya....