Marrying The Prince

Marrying The Prince
61


Siang ini, di ruang makan castle Chasembord, para tamu yang baru datang sudah mengisi tiap-tiap kursi di meja makan. Anastasia yang siang ini memimpin di kursi meja makan terus melirik para aunty-nya yang mungkin mulai kesal namun tetap terlihat anggun. Hingga akhirnya, Anastasia yang juga sudah muak, mulai menggenggam tangan Monalisa. Dan sinyal dari pemimpin meja makan membuat mereka semua segera saling menautkan tangan untuk berdoa.


Setelah selesai dengan doannya, Anastasia dengan sopan segera membuka table manner yang langsung di ikuti para tamu. Keheningan siang itu kembali, pemandangan elegant dan penuh tatakrama kembali. Semua pisau, sendok, garpu yang sudah di susun pelayan akhirnya terpakai semua.


Para pelayan akhirnya kembali tersenyum saat bisa melihat kembali pemandangan yang 'seharusnya' memang harus terjadi di meja makan milik bangsawan terhormat di sana. Dan mereka semakin tersenyum saat menyadari Anastasia yang tidak ingin mengunggu lama dua orang lain yang selalu mereka gunjing secara terang-terangan selama kedatangan mereka.


Tapi, saat ruang makan mulai di isi dengan alunan dentingan instrumen meja makan terdengar, dua orang yang sempat di gadang-gadang tidak akan berani muncul, terlebih karna sudah cukup di permalukan di ruang tamu, ternyata tetap datang ke ruang makan.


Tanpa basa basi, tanpa ancang-ancang, tanpa malu, dan tanpa menghiraukan semua mata yang sudah memandang mereka, Kenna dengan tenang menarik kursinya sendiri bersama Elsa yang juga langsung mengikuti jejak kakaknya.


Monalisa dengan anggun terus menjalankan ritualnya saat makan, sambil saling melirik pada Charlotte saat Kenna dan Elsa mulai mengangkat pisau dan garpu mereka. Monalisa benar-benar ingin memberikan penghargaan pada kedua orang yang sudah di capnya sebagai manusia paling berani dan tidak tahu diri itu. Jujur saja, Monalisa tidak pernah bertemu dengan manusia yang paling tidak tahu diri seperti mereka di usiannya yang sebentar lagi menginjak angka empat puluh.


Aktifitas di ruang makan terus berlanjut dengan Chatlotte yang sebenarnya tidak bisa lagi benar-benar menikmati makannya, dan sebuah kekhawatiran tentang Anastasia melintas di dalam kepalanya. Jika dirinya saja merasa tidak bisa lagi menikmati makan ketika kedua orang di sana hadir, lalu bagaimana dengan Anastasia? Kedua mata Charlotte terpejam sejenak, dia berdoa semoga kesehatan Anastasia tidak terganggu karna kekacauan di pernikan mereka.


Setelah Anastasia menyelesaikan sisa terakhir di piringnya, dirinya segera menutup jamuan makan siang mereka. Para tamu dan yang lain juga langsung ikut menutup makan mereka. Anastasia tersenyum saat semua aunty dan Michael sudah selesai makan, mengabaikan dua orang lain yang masih sibuk dengan cara makan asal mereka


"Bagaimana hidangannya?"


Monalisa dan Charlotte mengangguk singkat sambil tersenyum menatap Anastasia.


"Terimakasih Your Highness atas jamuannya. Semuannya sangat nikmat"


Monalisa menjawab dengan sopan dan penuh dusta, karna sebenarnya, dirinya juga merasakan apa yang di rasakan Charlotte. Anastasia mengangguk dan menatap Michael.


"Dan bagaimana dengan anda Marquess Michael?"


Dengan sopan Micael mengangguk singkat sambil tersenyum


"Semua sangat lezat. Terimakasih, Your Highness"


Setelah mendengar respon dari para tamunya, Anastasia segera beranjak dari kursi. Mengabaikan dan meninggalkan dua orang yang menatapnya dengan tatapan kesal? tidak terima? Ohh yang benar saja, mereka pikir Anastasia peduli.


Langkah Anastasia yang mulai ke luar dari ruang makan di ikuti oleh para tamu, dalam langkah mereka untuk menuju ke ruang perpustakaan, suara Charlotte terdengar


"Dalam diamnya, dia mengamati dan mempelajari setiap gerak gerik kita"


Monalisa mengangguk setuju dengan ucapan Charlotte, sedangkan Aanstasia terkekeh pelan sambil berucap


"Dia memang selalu mempelajari setiap apa yang kami lakukan aunty, ahh... lebih tepatnya apa yang di lakukan para bangsawan"


Ucapan santai Anastasia membuat Charlotte dan Monalisa saling melirik.


--000--


Dari siang hingga sore hari, Anastasia dan para tamunya menghabisakan waktu di dalam perpustakaan Anastasia. Anastasia dan Charlotte sangat sibuk dengan buku-buku hingga mereka sudah terduduk tidak elegant di lantai di balik rak buku sudut ruangan tanpa bisa sadar dengan keadaan sekitar lagi.


Monalisa dan Michael sudah berdiri menatap jendela yang mengarah pada taman. Menunjukkan pemandangan taman dan kebun bunga botak yang sedang di bersihkan


"Mereka tidak memberikan kamar ku Mike"


Arah pandang Michael masih menatap ke luar jendela sambil mengangguk


"Aku dengar jika kamar nomer tiga di castle yang biasa menjadi milik Duke, milik auncle dan aunty, di pakai wanita itu"


"Hmm... Benar-benar luar biasa"


Ekor mata Michael melirik aunty-nya yang masih menatap ke luar jendela.


"Sebenarnya aku kenal dengan wanita itu aunty, dan dia juga pasti mengenalku"


Kekehan halus meluncur dari mulut Monalisa


"Tentu saja. Aku melihat bagaimana dia yang sempat melirikmu sebentar sebelum dia memberikan gelar 'Lady' untuk adik dan dirinya tadi"


Michael pun ikut terkekeh halus, lalu menyuarakan pertanyaan yang sebenarnya selalu ingin dia tahu jawabannya.


"Dia berubah aunty. Wanita itu berubah banyak" Michael menjedah dan kembali melirik Monalisa sejenak, lalu kembali berucap. "Harusnya His Majesty mengirim aunty Juliet atau aunty Rebecka untuk membunuh 'mukanya'. Ibu dan kau terlalu lembut aunty"


Monalisa mengangguk setuju. Sebenarnya dia juga setuju dengan ucapan Michael. Para sepupu Victoria, anak-anak dari Thomas Rubens dan Charles Wood adalah contoh wanita-wanita yang sangat cocok untuk menginjak wajah manusia tidak tahu diri seperti mereka. Juliet Rubens dan Rebecka Wood akan menjadi memipi buruk untuk Kenna jika mereka sudah membuka mulut atau bahkan, tidak segan untuk membalikkan meja. Tapi, Monalisa yakin jika Raja Fredrick punya alasan dan perhitungannya sendiri.


"Sepertinya, Ferdinand sangat menjaga dan terlalu berhati-hati Mike. Jika yang di kirim untuk menjenguk Anatasia adalah kedua aunty mu yang itu. Aku yakin saat ini wanita itu pasti sudah keguguran dan adiknya sudah tenggelam di danau belakang. Tapi yang paling aku yakini, Dinand tidak akan membiarkan aunty mu yang itu masuk ke sini dengan bebas" Monalisa melirik Michael yang mengangguk paham. Lalu kembali berucap. "Karna kami yang datang, karna itu Dinand tenang untuk membiarkan kami di sini. Jika bukan, sekarang dia pasti sudah muncul di castle. Nama Juliet dan Rebecka pasti masuk dalam daftar berbahayanya, dan sepertinya semua itu sudah terpikirkan oleh His Majesty"


Kepala Michael kembali mengangguk paham. Ternyata itu yang terjadi, ternyata semua hal kecil sudah di genggam Raja Fredrick. Lalu, apakah Raja Fredrick juga sudah melakukan hal lain? Karna jelas, sekarang Michael sudah bisa mencium dengan baik aroma rencana yang sedang berjalan, permainan Raja Fredrick.


TOK TOK TOK


"Your Highness"


Ruth yang mendengar suara pintu di ketuk segera menatap Anastasia, Anastasia mengangguk singkat yang membuat Ruth segera membukakan pintu.


Saat pintu di buka, seorang pelayan muncul dan segera memberitahukan jika Ferdinand sudah pulang. Anastasia yang mendengar itu segera beranjak dari lantai dan menatap para aunty-nya


"Aunty, aku turun sebentar"


Charlotte dan Monalisa mengangguk singkat, sedangkan Michael mengikuti Anastasia untuk turun.


Ferdinand memberikan mantelnya pada seorang pelayan saat dirinya baru memasukki pintu utama castle, dirinya menatap ke arah tangga di mana Kenna dan Elsa terlihat seperti baru akan turun. Melihat Kenna yang sudah tersenyum padanya, Ferdinand membalas dengan tersenyum hangat. Lalu melirik pelayan yang sedang melampirkan mantel di tangannya


"Di mana para tamu?"


"Sedang di perpustakaan bersama Her Highness, Your Highness"


Satu alis Ferdinand terangkat


"Tidak di taman?"


Pelayan itu menggeleng sambil menunduk gusar. Ferdinand yang melihat kegusaran pelayan itu ingin bertanya, tapi tidak meneruskan ucapannya saat Kenna sudah berdiri di depannya


"Akhirnya kau pulang Dinand"


Dengan lekat, Ferdinand menatap wajah Kenna yang terlihat muram dengan kedua mata membengkak. Tangan Ferdinand segera terangkat untuk menangkup wajah Kenna


"Kau menangis?"


Sambil tersenyum kecut, Kenna menggeleng singkat, lalu memegang lembut kedua tangan Ferdinand yang masih berada di wajahnya


"Tidak Dinand, aku tidak menangis"


Dahi Ferdinand mengeryit saat mendengar suara Kenna yang terdengar serak


"Ada apa? apa terjadi sesuatu?"


Kali ini, perhatian Ferdinand membuat segala rasa buruk di hari Kenna mengahangat hingga senyum lembutnya terbit


"Hanya sedikit salah paham dengan tamu-tamu yang baru datang Dinand"


Dan setelah berucap, isakan pelan tertahan Kenna membuat dahi Ferdinand semakin mengeryit. Dia tahu pasti sudah terjadi hal buruk untuk Kenna. Karna itu Ferdinand melirik Elsa yang ternyata sudah menatapnya dengan tajam


"Ada apa Elsa?"


Elsa mendengus kasar, dan melangkah semakin mendekat pada Ferdinand


"Para nyonya itu menghina kami. Terlebih istrimu yang membiarkan kami di hina Dinand! Kenna jadi menangis terus dan-"


"Elsa!"


Bentakan Kenna membuat Elsa menghentikan ucapannya dan kembali mendengus kasar. Ferdinand yang sudah mengerti situasi kembali menatap wajah yang masih ada di dalam kedua tangannya


"Maaf Kenna. Jangan menangis karna itu tidak baik untuk kandunganmu"


Kepala Kenna mengangguk patuh, hatinya semakin terasa hangat, dan dengan gerakan cepat segera melepas tangan yang ada di wajahnya. Ferdinand menatap Kenna dengan bingung tapi, segera tersenyum saat Kenna mendekat dan langsung memelukkan.


"Aku baik-baik saja Dinand. Aku tidak akan pernah membahayakan anak kita hanya karna sebuah situasi yang sedikit kurang nyaman"


Kepala Ferdinand mengangguk sambil membalas pelukan Kenna, dan saat arah pandangnya menatap ke balik punggung Kenna.


Disanalah, Anastasia sudah berdiri tegap sambil menatap mereka dengan datar. Ferdinand menegang, dengan cepat menarik kedua bahu Kenna untuk memisahkan tubuh mereka. Ferdinand tidak bisa melihat apapun, tidak bisa menyadari apapun lagi di sekitar mereka termasuk Michael, Michael yang juga berdiri di balik punggung Kenna di sebelah Anastasia


Michael bersiul nyaring lalu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Menatap drama menjijikan yang sedang tersaji nyata di depan matanya.


"Luar biasa"


Bukan.... itu bukan suara seseorang yang sedang ada di sekitar Ferdinand ataupun suara Anastasia. Itu suara milik wanita yang sudah membulatkan matanya sambil menatap Ferdinand dengan jijik.


Charlotte, melihat semua hal yang terjadi di depan pintu dari atas tangga. Mulutnya terbuka dengan mata membulat.


Keheningan di ruangan itu terasa mencekam, mata-mata keluarganya menatap Ferdinand dengan pandangan yang membuat Ferdinand seperti di adili di tempat.


"Ana, kita belum selesai membahas buku tadi"


Suara Monalisa akhirnya memutuskan semua fokus yang tadinya hanya berpusat pada Ferdinand.


Michael segera berjalan lurus ke depan untuk menuju pintu keluar dengan suaranya yang terdengar.


"Aku akan ke tempat Carl"


Langkah Michael terus bergerak lebar hingga, saat tubuhnya berada di sebelah Ferdinand, bisikan pelannya meluncur dingin dari bibirnya.


"Suami bajingan dan pelacurnya hina, kalian terlihat cocok bersama"


Kedua tangan Ferdinand mengepal dengan arah pandang yang terus menatap punggung Anastasia yang sudah di seret Monalisa untuk naik ke atas tangga.


Elsa dan Kenna yang bisa mendengar ucapan Michael hanya bisa menahan diri mereka untuk tidak menjerit membalas hinaan Michael. Hingga suara Ferdinand terdengar


"Kembali ke kamar kalian dan jangan berkeliaran jika tidak ku ijinkan"


Kenna hanya bisa menunduk sambil menahan kekesalannya, sedangkan Elsa,


"Apa-apaan Dinand! kami i-"


Ucapan Elsa terhenti saat Ferdinand sudah melangkah melewati mereka untuk menuju tangga. Ferdinand butuh mendinginkan kepalanya terlebih isi dadanya. Terlalu banyak hal yang perlu dia pikirkan untuk memperbaiki segalanya termasuk, bagaimana cara menghadapi Charlotte yang masih berdiri di tangga dan hanya menatap Kenna dengan raut wajah jijik.


"Aun-"


Mulut Ferdinand mengatup saat Charlotte langsung berjalan meninggalkan ucapan Ferdinand. Charlotte berjalan lurus menuju pintu keluar, sepertinya akan mengikuti jejak Michael.


--000--


Suara dentingan instrumen peralatan makan terus mengalun lembut. Para tamu dan para tuan rumah makan dengan elegant dalam keheningan. Terus berlanjut hingga mereka semua selesai makan.


Ferdinand yang memimpin kursi meja makan mulai membuka percakapan


"Berapa lama aunty di sini?"


Monalisa melirik Charlotte yang hanya diam sambil menatap ke depan, lalu kembali menatap Ferdinand


"Jujur saja, saya dan Lady Charlotte sebenarnya ingin di sini selama beberapa hari tapi, karna kamar yang di berikan padaku terasa kurang nyaman, kami akan pulang besok saja"


Ucapan lembut dengan isi perkataan yang penuh dengan teguran kerasl Monalisa membuat Ferdinand membuang nafas panjang


"Aku akan meminta Stefan untuk memberikan kamar utama"


"Itu milik His Majesty dan Her Majesty. Jangan membuat kami menjadi bangswan dan keluarga yang lancang"


Ucapan keras tapi dengan nada halus Charlotte kembali membuat Ferdinand membuang nafas panjang, lagi. Sialan! dia harus bagaimana sekarang?


"Sebaiknya kita melanjutkan obrolan ke ruang keluarga aunty"


"Maaf Your Highness, tapi kami sangat lelah dan ingin istirahat. Tolong ijinkan kami pamit terlebih dahulu"


Mau tidak mau, suka tidak suka, tersinggung tidak tersinggung, Ferdinand hanya bisa mengangguk singkat. Anggukan singkat untuk ucapan Charlotte, yang langsung membuat kedua aunty-nya segera berdiri


"Selamat malam Your highness"


Setelah para wanita anggun itu pergi, tiggallah Anastasia dan Ferdinand di sana. Ferdinand melirik Anastasia sejenak lalu bangkit berdiri yang langsung di ikuti Anastasia.


"Aku ingin bicara Ana"


Anastasia hanya diam sambil mengikuti langkah Ferdinand yang menuju ke ruang kerja di kamarnya.


Saat sudah di sana, Ferdinand segera menarikkan kursi untuk Anastasia. Dirinya juga mengambil posisi duduk di depan meja Anastasia.


Tanpa ingin berbasa basi, Ferdinand segera membuka percakapan.


"Apa yang terjadi?"


Satu alis Anastasia menukik. Dia sangat tahu kemana saja arah pembicaraan Ferdinand akan tertuju tapi, Anastasia memiliki pertanyaannya sendiri.


"Sebenarnya, apa yang anda rencanakan Your Highness?"


Pertanyaannya yang di jawab dengan pertanyaan lain dari Anastasia membuat alis Ferdinand mengerut


"Rencana apa?"


"Sampai kapan, dan sampai sejauh mana anda akan meletakkan aib kalian di dalam pernikahan ini?"


Ferdinand tahu, jika secepatnya pertanyaan ini akan keluar dari mulut seseorang, tapi dia cukup terkejut karna Anastasia lah yang mengeluarkan pertanyaan ini. Tapi... Bukankah, memang sudah seharusnya seperti itu?


"Aku berencana akan menjaga mereka sampai anak itu lahir"


"Jari sampai anak itu lahir mereka akan ada di sini?"


Kepala Ferdinand mengangguk lemah sambil menatap Anastasia dengan pandangan menyesal. Anastasia yang di tatap hanya memberikan tatapan datarnya.


"Jika begitu, berarti kita kembali ke perjanjian awal kita"


Dahi Ferdinand mengeryit


"Perjanjian awal kita?"


Dengan kedua tangan terkepal, Anastasia membuang arah pandangnya ke arah pintu penghubung


"Pernikahan kotor kita"


Kedua mata Ferdinand membulat


"Tidak!!"


"Apanya yang tidak Your Highness?"


Merasa mulai gusar, Ferdinand menarik nafas dalam untuk meraup ketenangannya


"Aku sudah berjanji akan menjadi suami yang baik Ana. Ini semua di luar keinginanku. Janin itu ada sebelum pernikahan kita. Aku bersumpah tidak pernah melakukan apapun hal hina setelah kita menikah. Itu kesalahan yang tidak bisa ku abaikan"


Anastasia semakin mencengkam gaunnya dengan kuat. Dia tahu jika janin haram itu hadir karna perbuatan hina beberapa minggu sebelum pernikahan mereka berlangsung tapi, tetap saja. Tidak ada hal benar dan tidak ada hal yang bisa di maklumi Anastasia. Anak itu telah hidup dan ada, anak itu ada bukan karna di buat oleh satu orang, anak itu petaka di dalam pernikahan mereka terlebih, saat Anastasia yang melihat dengan jelas jika Ferdinand sudah menjalankam niatnya untuk menerima anak haram itu


"Anda bukan tidak bisa, tapi memang tidak ingin mengabaikannya, Your Highness"


"An-"


"Sebaiknya kita sudahi percakapan omong kosong ini, Your Highness"


"Jangan memotong ucapanku Ana! jangan melupakan siapa aku dan jaga tata kramamu!"


Bentakan Ferdinand membuat Anastasia tersenyum kecut. Tatakrama? posisi? kehormatan?


Anastasia akhirnya menatap Ferdinand, menatap Ferdinand yang sudah menatapnya dengan kesal


"Saya muak, Your Highness. Saya muak melihat dan mendengar segala omong kosong dan kesalahan anda" Anastasia menjedah, arah pandangnya menatap kedua manik Ferdinand dengan dingin. "Sebenarnya, apakah anda pernah merasa bersalah? apakah anda merasa menyesal? adakah ada sedikit rasa bersalah dan menyesal untuk saya?"


Ferdinand mengepalkan tangannya saat untuk pertama kalinya, dirinya melihat tatapan dingin Anastasia untuknya. Tatapan yang langsung membuat perasaan Ferdinand menjadi buruk, sangat buruk. Dengan kasar Ferdinand mengusap wajahnya, lalu membuang nafas panjang.


"Seperti yang sudah ku katakan, jika ini di luar dari keinginanku Ana. Mengertilah"


Dan jawaban Ferdinand, sudah lebih dari cukup untuk membuat Anastasia tersenyum pedih.


Rasanya pedih, Karna Ferdinand jelas tidak menyesal dan tidak merasa bersalah padanya.


Apapun yang akan terjadi, Ferdinand akan tetap mempertahankan anak itu atau bahkan kekasihnya.


Anastasia menggigit kuat bibir dalamnya. Setelah melewati masa kecil dan tumbuh dewasa dengan terus melihat dan merasakan pernikahan yang rusak dan kotor, akhirnya jenis pernikahan seperti itu juga sampai pada Anastasia. Kedua mata Anastasia tepejam sejenak, lalu kembali terbuka untuk menatap Ferdinand dengan arah pandang buram. Rasa perih di dada, rasa menyesakkan di dada, dan rasa injakan kuat di dalam hatinya, membuat senyum menyakitkan Anastasia terbit.


"Lakukanlah apa yang ingin anda lakukan, Your Highness"


Karna Anastasia.... sudah tidak peduli lagi.


\=\=\=❤❤❤❤


Silahkan jejaknya...