
Semilir angin yang cukup kencang kembali menerbangkan rambut Anastasia. Hembusan angin dingin malam hari ini rasanya tetap terasa hangat ketika Ferdinand terus menempel padanya.
Ferdinand menarik tali kekangnya dan langsung melompat dari kuda. Tanganya terulur untuk membantu Anastasia yang sebenarnya akan memilih menginjak pelana kuda tapi, bantuan dari Ferdinand tidak mungkin bisa di tolaknya walaupun hal itu bisa membuat jantungnya meronta hebat.
Dengan anggun, Anastasia mulai bergerak dan melempar tubuhnya yang langsung di tangkap Ferdinand. Lengan kokoh Ferdinand dengan sigap dan penuh kekuatan meraih pinggang ramping Anastasia.
Ferdinand bergerak lembut untuk mendaratkan kaki Anastasia ke tanah sambil menghirup dalam-dalam ceruk leher Anastasia. Ferdinand meleguk ludahnya dengan kasar. Ohh tidak... posisi mereka yang masih menempel sangat berbahaya.
Anastasia menggeliat pelan saat kedua tangan Ferdinand masih merengkuh pinggangnya, dan pergerakan singkat itu akhirnya membuat Ferdinand tahu diri.
Dengan mencoba memasang raut wajah tidak terjadi apapun, Ferdinand memulai percakapan untuk mencairkan suasana.
"Di sini padang rumput tempat kami biasa berlatih" Ferdinand menjedah sambil membuka mantelnya, dengan gerakan cepat mantel itu sudah mendarat di kedua bahu Anastasia. "Saat pagi hari, di sini sering menjadi tempat kami berlomba memacu kuda. Saat siang hari, para kesatria sering menjadikan tempat ini untuk bermain apapun, dan saat malam hari seperti ini, tempat ini sering ku jadikan tempat untuk berpikir"
Ferdinand mendaratkan bokongnya ke atas rumput. Anastasia mengeratkan mantel hangat yang penuh aroma Ferdinand sambil ikut mengambil posisi duduknya saat Ferdinand menepuk-nepuk tanah di sebelahnya.
"Di sini sangat segar dan penuh aroma rumput" Senyum hangat Ferdinand terbit saat Anastasia berucap dengan arah wajahnya yang sudah menatap sebuah pohon yang berkelap kelip. Anastasia melebarkan kedua mata dengan takjub. "Kunang-kunang?"
"Iya... di pohon itu selalu penuh dengan kunang-kunang. Terlebih saat musim semi seperti ini"
Senyum hangat Anastasia terbit, kepalanya menoleh untuk menatap Ferdinand yang ternyata masih terus menatapnya.
"Terimakasih Ferdinand"
Ferdinand tersenyum kecut
"Berhentilah berterimakasih Ana. Aku tidak memberikan apapun padamu"
Sambil kembali menatap pohon yang berkelap kelip, Anastasia menggeleng singkat.
"Semua hal yang berhubungan dengan mu adalah hal terbaik yang pernah ku rasakan. Apapun yang berhubungan denganmu membuatku bahagia" Anastasia kembali mengeratkan mantel Ferdinand sambil melanjutkan ucapan dari hatinya. "Kerajaan ini, istana Francia, rakyat Francia, keluargamu serta pernikahan ini. Semuanya membuatku bahagia Ferdinand" Arah pandang Anastasia mulai buram, tangannya terkepal kuat untuk menahan segala perasaannya. "Sekarang, castle kita juga menjadi tempat yang paling menyenangkan untukku, aku-"
Anastasia menghentikan ucapannya saat Ferdinand meraih kedua tangangannya yang terkepal. Belum cukup mengejutkan, Ferdinand mengambil posisi untuk duduk di belakang Anastasia, mengukung tubuh Anatasia di depannya.
"Fer-"
"Sstt.. Kau cengeng sekali Ana" Dengan pelan, masih dengan menggengam tangan Anastasia Ferdinand membawa tangan mereka untuk memeluk Anastasia. Anastasia menggigit bibirnya saat punggungnya menempel pada dada Ferdinand. Ferdinand yang bisa merasakan tubuh menegang Anastasia terkekeh sambil berucap. "Jangan menangis Ana. Ck! wajah jelekmu saat menangis bisa menakuti kunang-kunang"
Kekehan halus Anastasia membuat Ferdinand semakin merapatkan tubuh mereka. Kedua lengan dan kaki kokohnya semakin mengukung Anastasia yang semakin menegang. Ferdinand tersenyum geli sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Anastasia.
"Rileks Ana... kau terlalu tegang"
"Berhentilah menggodaku Ferdinand!"
Kembali, Ferdinand terkekeh gemas. Wajahnya mendekat pada samping wajah Anastasia, bibirnya berbisik lembut.
"Aku suka menggodamu. Aku suka melihat wajah malu-malu mu"
Dan ucapan jujur Ferdinand berhasil membuat degupan jantung Anastasia semakin bertalu-talu tidak tahu malu. Darahnya berdesir saat nafas Ferdinand berhembus sangat dekat di samping wajahnya. Anastasia tahu, jika arah wajah Ferdinand sudah menatapnya, dia merasakan nafas hangat itu yang terus menerpa pipinya tapi, dia tidak berani untuk menoleh. Anastasia dengan cepat membuang wajahnya ke arah berlawanan, dan itu kembali membuat Ferdinand terkekeh gemas.
"Kau sangat pemalu Ana"
"Ku bilang berhentilah Ferdinand!"
"Mana mungkin, ini menyenangkan"
Anastasia yang merasa tidak tahan karna terus di goda bergerak cepat menarik tubuhnya untuk menjauh dari kukungan Ferdinand tapi, Ferdinand dengan cepat menarik perut Anastasia hingga punggung Anatasia menabrak tubuh Ferdinand.
"Aw! kau menyakitiku Ana"
Dengan malas Anastasia membuang nafas malas, dan itu kembali membuat Ferdinand terkekh gemas.
Keheningan kembali mengisi malam mereka. Anastasia sedang sangat menikmati waktu mereka dan Ferdinand yang sibuk menahan gejolak semangatnya karna posisi mereka.
Bukankah Ferdinand hanya mempersulit dirinya sendiri. Ahh sial! Aroma Anastasia yang bercampur dengan aroma mantelnya membuat pikiran liar Ferdinand terbang bebas.
"Apa di Youksire semua akan berkumpul?"
"Tentu saja, Putri Francesca dan Putri Summer juga ikut kan?"
"Ck!"
Decakan Ferdinand kembali membuat Anastasia menoleh
"Kenapa?"
Dengan acuh dan dengan tidak tahu diri, Ferdinand mengeratkan tanganya. Anastasia menahan nafasnya saat Ferdinand mendekatkan wajah mereka, ohh tidak... jantung Anastasia sangat tidak baik-baik saja.
"Jangan terlalu menempel bersama mereka Ana. Kau bisa tertular seperti mereka" Wajah Ferdinand yang secara lambat tapi pasti semakin mendekat pada wajah Anastasia. Anastasia dengan sigap ingin kembali membuang wajahnya ke depan tapi....
"Biarkan aku mencium mu, sedikit saja"
Kedua mata Anastasia melebar dengan seluruh rasa gugup yang langsung merayap di setiap nafasnya
"Fe-Ferdinand...."
"Hm?" Anstasia kembali ingin membuang wajahnya tapi Ferdinand kembali menahan kepala Anastasia agar tetap menoleh padanya. "Sebentar saja, ya?"
Ferdinand menatap lekat dan memabukkan kedua mata Anstasia. Menatap dengan cara yang membuat sekujur tubuh Anastasia terbakar dan mematung. Sesekali arah pandang Ferdinand bergerak turun untuk menatap bibir Anatasia yang selalu meracuni otaknya setiap kali bibir itu bergerak. Sialan! Ferdinand benar-benar ingin melumtt lagi bibir itu.
Tanpa ingin mendengar dan menunggu lagi jawaban Anastasia, Ferdinand langsung mengejar bibir ranum itu. Sebelah tangannya menahan tengkuk Anastasia agar tidak menghindar, tangannya yang lain melingkar di perut Anastasia saat dia merasakan tubuh Anastasia yang tersentak.
Anastasia membeku dan terjebak tidak bisa berlari dan menolak. Gerakan Ferdinand seperti serigala kepalaran. Menyesap, melumtt, menggigit kecil, dan mengecup dengan cara yang bisa membuat Anastasia meleleh tidak tertolong.
Ferdinand memperdalam dan semakin memperdalam ciumannya hingga dia semakin serakah dan memancing Anastasia, mengigit gemas bibir Anastasia. Dan tepat! Anastasia langsung membuka mulutnya. Dengan cepat tanpa ingin berbasa basi, lidah Ferdinand segera menyusup masuk.
Sekali lagi, Anastasia tersentak saat lidah panas itu mengabil alih segala kewarasan Anastasia. Sama halnya dengan Ferdinand yang kewarasannya entah sudah terbang melayang kemana.
Rasa panas yang melelehkan setiap aliran darahnya, membuat Anastasia mencengkam kuat baju Ferdinand. Tubuhnya terasa terbakah dan lemas, dirinya seperti akan kehilangan nafas jika ciuman menggila Ferdinand tidak di hentikan.
Hingga tepukan yang entah sudah keberapa di kedua bahunya, membuat Ferdinand menarik paksa kewarasannya. Dengan sangat enggan Ferdinand mengerang kesal tapi tetap menarik melepaskan diri.
Nafas Anastasia terengah, sekujur tubuhnya terasa lemas, kedua tangannya masih mencengkam baju Ferdinand dengan erat, seolah dengan itu hidup Anastasia bertopang.
"Kau baik-baik saja Ana?"
Di tengah penarikan nyawanya, Anastasia langsung memunduk malu. Ferdinand terkekeh sambil memutar tubuh Anastasia. Kekehannya terus menggema sambil membawa tubuh Anastasia ke dalam dekapannya.
"Kau bilang hanya sedikit Ferdinand"
"Uhh.. my bad!"
Dan kembali, suara kekehan geli Ferdinand menggema kuat ketika Anstasia memukul dadanya dengan wajah yang masih tenggelam di sana.
Solar kembali melirik Carl yang terus menonton tanpa dosa sambil menggaruki bakal janggutnya. Saat Carl mambalas lirikkannya, Solar menaikkan satu alisnya. Carl berucap santai.
"Hm.. ini bahkan belum satu minggu"
Kepala Solar mengangguk-angguk dramatis dengan senyum separuhnya yang syarat akan ejekan.
"Baru dua malam Carl" Kepala Carl ikut mengangguk-angguk dengan dramatis. Solar kembali menatap pemandangan manis sepasang suami istri di depannya sambil kembali berucap. "Aku menunggu apa saja yang akan mereka lakukan saat sudah satu bulan"
Dengan acuh, Carl mengeratkan mantelnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas rumput.
"Kita lihat saja, tapi jangan ikut campur jika tidak ada perintah"
Solar ikut menjatuhkan tubuhnya ke atas rumput.
"Tentu saja, aku juga tidak ingin repot Carl"
\=\=\=💚💚💚💚
Silahkan jejaknya...