
Thomas tidak mengenakan pakaian formal, tapi hanya kemeja, jeans, serta boots. Penampilannya seperti layaknya peternak. Dia duduk santai di atas tumpukan jerami sambil memegang sebuah cangkir. "Coffee?" tanyanya, menawari Jane secangkir kopi sembari tersenyum jahil.
"No, thanks," jawab Jane. "Kau tidak ikut perayaan?"
"Aku mengikutinya dari awal. Kau pasti tidak menyadari kehadiranku karena terlalu sibuk dengan Granny dan Phillip."
"Oh...," Jane hanya mengangguk karena tidak tahu harus berkata apa.
Thomas meletakkan cangkirnya di lantai, kemudian berdiri. "Tadi aku duduk di barisan belakang, lalu berjalan dengan ibuku, Sir Becket dan Lady Mary, juga para tamu undangan lainnya," ceritanya.
"Karena kau datang terlambat?"
Pertanyaan itu membuat Thomas tertawa. "Ya, bisa dibilang begitu," jawabnya.
"Tak kusangka seorang pangeran diperbolehkan terlambat," ejek Jane.
"Hei, pangeran juga manusia. Lagipula, aku tidak mau menganggu kalian."
"Apa maksudmu?"
"Kalian terlihat bahagia sekali. Jadi, kupikir aku hanya akan menjadi orang tidak penting bila sengaja bergabung dengan kalian."
Jane merasa tidak enak pada Thomas. Dirinya yang bukan siapa-siapa malah mengambil posisi pria itu. "Sorry," ucapnya, membuat tawa Thomas bertambah keras. "What?" tanyanya tidak mengerti.
"Kau tidak seperti biasanya."
"Memangnya aku seperti apa?"
Thomas mengangkat bahu. "Biasanya kau selalu mendebatku, tapi kali ini kau lebih pendiam. Apa Phillip sudah mengajarimu tata krama kerajaan?"
"Phillip tidak mengajariku apa-apa."
"Berarti kau menunjukkan sikap sopanmu saja."
"Lalu, kenapa kalau aku bersikap sopan?"
"Tidak cocok untukmu."
Jane menggeram tidak tahan lagi. "Dengar, Tom! Kurasa aku tidak bersalah jika tidak meladeni segala ucapanmu. Aku cuma mencoba agar kita tidak selalu mendebatkan hal-hal kecil. Tapi ternyata kau memang ingin membuatku naik darah setiap kali kita bertemu. Sekarang, aku tanya padamu, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Tom?"
Thomas diam selama beberapa detik, kemudian tersenyum. "Apa kau ingat awal pertemuan kita?" tanya Thomas tanpa menjawab Jane. Pria itu maju selangkah. Kini jarak mereka hanya tinggal setengah meter.
Jane terkejut atas pertanyaan dan sikap Thomas. "What are you doing?" Wanita itu waspada.
"Aku hanya menyegarkan kembali ingatanmu," jawab Thomas. "Kau masih ingin ke toilet?"
Memori tentang Thomas dan toilet merupakan hal buruk bagi Jane. Di situlah pertama kalinya Thomas menciumnya ketika sedang mabuk. Semakin lama Jane berpikir, maka jarak antara dirinya dengan Thomas semakin sempit, sehingga dia memutuskan untuk mundur.
Tetapi hal itu agaknya menjadi menarik bagi Thomas. Dia terus melangkah maju tanpa melepaskan tatapannya dari mata bulat Jane.
"Aku tidak punya waktu untuk ini. Tom, stop!"seru Jane hampir berteriak. Kaki Jane tetap mundur meski gemetar. Beberapa kali dia menginjak permukaan tidak rata di belakangnya, hingga akhirnya punggungnya merasakan dinding kayu. Otomatis langkahnya terhenti. Dia menelan ludah.
"Nampaknya rutemu sudah habis," bisik Thomas, membuat Jane merinding. "Kau bertanya apa yang kuinginkan darimu. Aku ingin kau menyadari posisimu bahwa kau tidak sepadan dengan Phillip. Dia adalah seorang pangeran, sedangkan kau hanya rakyat biasa."
"Apa tujuanmu mengatakan itu? Ingin merendahkan aku lagi?"
"Tom, kau..."
"Apa? Aku apa?" tantang Thomas.
"Aku tidak mengerti mengapa kau marah padaku seolah-olah aku berniat menjadi bagian dari keluargamu."
"Kau tidak berniat? Lalu, kenapa kau masih di sini? Kenapa kau tidak ikut pulang saja ke Amerika?"
Jane menghela napas. "Kau mengusirku? Bahkan pemilik Fadar Palace tidak melakukannya," katanya sinis.
"Yang kau lakukan itu sia-sia, Jane. Phillip tidak mungkin mau menikahimu."
"Aku tahu itu. Aku memang rakyat biasa, bukan keturunan darah biru seperti kau dan Phillip. Tapi aku manusia. Aku memiliki hak di mana pun aku berada. Kau tidak bisa merendahkan aku! Excuse me, aku tidak jadi ke toilet," Jane mendorong bahu Thomas dan berlalu melewatinya. "I hate you!" teriaknya sambil berjalan keluar dari tempat penyimpanan jerami itu.
🔥🔥🔥🔥🔥
Jane bersungut-sungut seraya kakinya melangkah di atas tanah lembap. Wanita cantik itu berniat kembali ke tempat pemerahan susu, di mana dia meminta izin untuk membersihkan pakaiannya ke toilet.
Namun, rupanya rombongan Phillip sudah tidak ada. Di sana hanya tersisa bapak peternak yang mengajarkannya memerah sapi. "Sir, ke mana Queen Charlotte dan rombongannya pergi?" tanyanya kepada peternak itu.
"Mereka sudah kembali ke gedung utama untuk acara minum teh," jawab bapak itu ramah.
"Okay, aku akan ke sana. Terima kasih."
Jane melangkah mengikuti jalan setapak di area peternakan. Tanah lembap tidak memperlambat kecepatan tungkainya. Sesekali dia menarik napas panjang agar detak jantungnya kembali normal. Dia memang masih marah kepada Thomas dan menyesali kebodohannya telah mengotori pakaian pemberian Phillip, sehingga harus ke toilet.
"Dia benar-benar menyusahkan!" gerutu Jane. "Sekarang aku harus menyusul sendirian dan pasti terlambat untuk acara minum teh! This is a disaster!" Sengaja dia menapakkan kakinya keras-keras ke tanah, melampiaskan emosi.
Jane Watson telah keluar dari area peternakan. Namun, instingnya untuk berbelok ke kiri tidaklah tepat. Jalan setapak itu malah membuatnya semakin jauh dari gedung utama dan membawanya ke area belakang perkebunan. Dirinya terjebak di antara pepohonan anggur. Dia seharusnya senang melihat anggur-anggur gemuk di kanan-kirinya. Namun, sekarang bukanlah saat tepat untuk mengagumi hasil bumi negara Vlada.
"Oh crap! Aku harus berbalik arah!" Jane mengumpat berkali-kali sambil berjalan cepat ke arah berlawanan. Tetapi semua barisan pohon nampak sama, sehingga dia makin bingung dan tersesat. Wanita cantik itu mulai berkeringat karena panik. Diraihnya ponsel di dalam tas kecilnya. "Aku harus menelepon Phillip," gumamnya sembari membuka kunci layar. "No signal? Damn!"
Jane menarik napas dalam-dalam, ingin menenangkan diri agar dapat berpikir jernih. "Tenang, Jane. Kau harus tenang." Wanita itu melangkah lagi. "Semoga signal ponselku segera muncul," katanya, masih mengawasi indikator signal pada pojok kanan atas layar ponsel.
Tiba-tiba, wanita berambut ginger itu mendengar suara langkah kaki. Dia terdiam, lalu terpikir untuk mendekati sumber suara itu, berharap ada orang yang datang mencarinya. "Hello? Can you hear me? I'm here!" serunya.
Jantungnya berpacu dengan cepat, selaras dengan pergerakan tungkainya. Di antara barisan pohon anggur yang lebih tinggi darinya, dia memasang mata dan telinganya lebar-lebar. Suara itu menghilang. Dia hampir putus asa hingga akhirnya menemukan seorang pria yang dikenalnya.
"Jane!" seru pria itu sambil tersengal-sengal. Dia menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan. "Sudah kuduga kau tersesat."
🍇🍇🍇🍇🍇
Bersambung ke chapter selanjutnya!
Maaf ya aku kelamaan lagi update-nya hehehe...
Gimana chapter ini? Aku pengen banget tau komentar kalian supaya aku bisa lanjutin lagi.
Jangan lupa vote yah gaess..
See ya...
09APRIL2020