Marrying The Prince

Marrying The Prince
42


"Aku memikirkannya"


"Aku memikirkannya"


"Aku memikirkanya Ana"


Ferdinand kembali membuang nafas panjang sambil kembali memainkan air di dalam bak mandi yang menggenangi tubuhnya. Berulang-ulang dia bisa mengucapkannya sekarang tapi tidak saat Anastasia bertanya langsung padanya. Entah kenapa, saat tadi Anastasia bertanya dengan lirih, dia hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab.


"Arrgh sial! Apa yang harus ku lakukan!"


---000---


Anastasia melirik lilin-lilin yang menjadi penerang di dinding-dinding castle malam ini. Tangannya dengan anggun membalik sendok dan garpu, meminum air, lalu mengelap sudut bibirnya. Tanda jika dia sudah selesai makan malam.


Ferdinand yang melihat gerakan penutup itu langsung membuka suaranya.


"Kita harus melakukan pengesahan pernikahan"


Ucapan tanpa aba-aba dan tanpa basa basi Ferdinand membuat Anastasia kembali meraih gelasnya, menyesap isi gelas hingga tandas, dan menatap Ferdinand dengan mata membulat. Ohh astaga... bisa-bisanya di saat mereka masih dalam keadaan yang kembali canggung Ferdinand membicarakan tentang pengesahan pernikahan.


Raut wajah dan gerak gerik Anastasia membuat Ferdinand gemas tapi, dengan sekuat tenaga Ferdinand menahan rasa gemasnya. Ferdinand berdehem beberapa kali


"Kita tidak bisa lari dari ini An. Kita harus melakukan pengesahan, kita harus melakukannya"


"Kenapa?"


"Ya??"


Dengan kedua mata terpejam Anastasia kembali membuka suaranya


"Kenapa kita harus melakukannya?"


Bibir Ferdinand tiba-tiba terasa keluh. Kenapa Anastasia bertanya? Jelas mereka harus melakukannya karna mereka sudah menikah kan? Memangnya bagian mana yang perlu di jelaskan lagi? Ahh sial! Kenapa Anastasia harus bertanya.


Dengan gusar, Ferdinand melirik Anastasia yang sudah kembali membuka matanya.


"Di bagian mana yang tidak kau mengerti? maksutku..." Kembali, Ferdinand melirik Anastasia. "Kita sudah menikah Ana, tentu saja ki-"


"Aku belum siap"


Tiga kata yang di ucapkan Anastasia, langsung membuat Ferdinand menelan segala ucapan yang akan di keluarkannya.


Anastasia menggigit kuat pipi dalamnya, dia benar-benar bingung harus bagaimana. Bohong dan munafik jika dia mengatakan tidak menginginkan Ferdinand tapi... Pemikiran tentang Ferdinand yang tidak mencintainya dan bahkan tidak pernah memikirkan sedikitpun tentang pernikahan mereka membuatnya takut.


Dan, setelah mereka melakukan pengesahan lalu apa? Setelah mereka melakukannya lalu bagaimana? Pernikahan mereka yang belum menunjukkan kejelasan bisa saja membuat Ferdinand kembali pada kekasihnya, kapan saja, setiap detik setiap menit kapan saja itu bisa terjadi.


Anastasia sangat mencintai Ferdinand, dia sudah melakukan dan mengorbankan apa saja untuk bisa bersama Ferdinand tapi, dia tidak siap untuk menyerahkan dirinya sekarang.


Banyak keraguan, banyak ketakutan yang di rasakan Anastasia, tapi yang paling nyata adalah...


Dia paling takut untuk menunjukkan.... tubuhnya.


Dia sangat takut untuk membayangkan bagaimana reaksi jijik Ferdinand saat melihat tubuhnya yang cacat.


Tidak! tidak! Anastasia tidak sanggup membayangkannya.


Tidak! dia tidak bisa menunjukkan tubuhnya yang buruk! dia tidak bisa menunjukkan kecacatannya! dia tidak bisa! Seperti seluruh keluarganya Ferdinand akan jijik padanya! Ferdinand akan membencinya! Ferdinand akan marah dan memukulinya seperti keluarganya yang lain! Ferdinand akan memperlakukannya seperti kelurganya yang jijik padanya!


"ANASTASIA!!!!"


"Jangan membenciku... Jangan memukulku.... Tolong ini sakit..... Kumohon ini sakit... jangan memukul ku lagi..."


Ferdinand masih memegangi kedua bahu Anastasia yang gemetar hebat. Kedua mata Anastasia masih terpejam kuat dengan kedua tangannya yang masih menutup kuat kedua telinganya.


"Ana...."


Anastasia terisak kuat...


Tanpa bisa mengerti apa yang terjadi, Ferdinand yang masih terkejut dengan perubahan tiba-tiba Anastasia langsung merengkuh tubuh gadis yang masih gemetar hebat itu. Kedua tangan Anastasia masih menutupi kedua telingannya dengan kuat, matanya masih terpejam kuat, isakannya semakin hebat dan tubuhnya semakin gemetar ketakutan.


"Jangan... jangan... tolong... tolong selamatkan aku... ku mohon ini sakit..."


"Ana..."


Entah apa yang terjadi pada Anastasia yang tiba-tiba saja bereaksi seperti itu, Ferdinand tidak mengerti.


"Jangan takut, tidak akan ada yang menyakitimu... aku di sini... Aku bersamamu Ana...."


"Tidak akan ada yang bisa menyakitimu Ana...."


--000--


Ferdinand masih berdiam diri di kursi meja kerja kamarnya, jari telunjukkan terus menggaruki meja kayu. Sesekali matanya melirik pintu penghubung, sesekali matanya melirik ke arah jendela kamarnya yang masih terbuka lebar. Hingga suara ketukan pintu terdengar, yang di tunggunya tiba.


"Masukalah Carl"


Dengan sopan, Carl langsung masuk dan menutup kembali pintu kamar Ferdinand. Kepalanya menuntuk sopan.


"Your Highness"


Carl kembali mengangkat kepalanya dan menatap Ferdinand yang terus menatap pintu penghubung kamarnya. Entah apa yang terjadi tapi, garukan jari telunjuk Ferdinand menunjukkan jika dia tidak sedang dalam keadaan santai.


Kebiasaan ayahnya menurun nyata pada Ferdinand


"Kapan kau tiba?"


"Baru saja Your Highness"


"Apa yang kau ketahui tentang Putri Anastasia?"


Alis Carl berkedut kuat ingin terangkat,tapi dengan sekuat tenaga, Carl menahan alisnya agar tidak naik.


Tahan Carl, tahan... Ferdinand sedang serius... Anak nakal ini sedang serius...


"Apa yang anda ingin ketahui Your Highness?"


"Sesuatu yang membuatnya ketakutan"


Setelah mengerti arah ucapan Ferdinand, Carl mengangguk lalu membuka suaranya


"Saya hanya tahu beberapa cerita Your Highness, tidak tahu banyak"


Ferdinand melirik Carl sejenak.


"Lanjutkan Carl"


"Semenjak eksekusi mendiang Ratu Marry dan Raja James menikah lagi, beberapa kali Her Highness hampir merenggang nyawa di dalam istana" Carl menjedah untuk melirik Ferdinand yang belum menunjukkan perubahan raut wajah. "Tepat setelah eksekusi selesai, Her Highness di masukkan ke dalam penjara umum oleh mendiang Raja James"


"Apa?"


Carl mengangguk yakin sambil menahan kedutan di sudut bibirnya yang ingin terangkat.


"Rumor yang pernah saya dengar, itu mereka lakukan agar Her Highness tidak mengacau saat pernikahan Raja James berlangsung dan yang terpenting, untuk menekan pihak mendiang Ratu Marry agar tidak melakukan sesuatu pada pernikahan terburu-buru mendiang Raja James" Carl kembali menjedah ucapannya, dan kali ini dia bisa menikmati pemandangan kedua mata Ferdinand yang melebar dengan raut wajah terkejutnya yang membuat Carl menahan tawa. Carl menarik nafas untuk menenangkan rasa tergelitiknya dan melanjutkan ucapannya "Saya juga mendengar jika Putri Anastasia pernah hampir meninggal karna di tenggelamkan di danau dekat istana Eden. Dan itu atas perintah mendiang Ratu Sofia, ibu tirinya. Her Highness juga pernah hampir meninggal karna di masukkan ke dalam peti selama berhari-hari"


Bagi Ferdinand sekarang, apa yang di katakan Carl sangat tidak masuk akal untuk di dengarnya. Ferdinand tidak tahu jika kemalangan Anastasia lebih dari yang pernah dia bayangkan. Ferdinand menegakkan kakinya sambil menarik nafas, menarik nafas untuk dadanya yang mulai sesak


"Lalu?"


Carl menatap Ferdinand yang sudah berdiri dari kursinya untuk menuju ke jendela kamar. Raut wajah menyebalkan Ferdinand sudah berubah dingin, dan Carl tahu, jika dia sekarang sudah benar-bebar harus serius.


"Yang saya dengar, semenjak mendiang Ratu Marry di eksekusi karna perselingkuhan, keluarga besar Raja James mengklaim jika Her Highness adalah anak haram. Mereka selalu berusaha menggeser mahkota Her Highness untuk orang lain yang saya tidak tahu siapa. Tapi, para bangsawan pendukung dan keluarga Mendiang Ratu Marry cukup kuat hingga Raja James tidak bisa gegabah. Bertahun-tahun mendiang Raja James mencoba mencari 'hal' yang bisa menunjukkan jika Her Highness bukanlah putrinya tapi semua ciri-ciri menunjukkan jika Her Highness memanglah putri seorang Raja James dan Ratu Marry. Dan itu juga akhirnya yang membuat mereka hanya bisa melakukan kecacatan untuk Her Highness"


"Cacat?"


Kepala Carl kembali mengangguk yakin sambil memandang punggung Ferdinand


"Mereka menyebut Her Highness sebagai Putri cacat dan menjijikkan. Julukan itu sudah biasa terdengar di istana saat kami dulu beberapa kali pernah ke Trancia. Tapi kami tidak tahu, kecacatan seperti apa yang mereka maksut, terlebih saat bertemu Her Highness kami hanya melihatnya seperti gadis biasa" Helaan nafas panjang Ferdinand berhembus, Carl kembali melirik punggung Ferdinand yang tetap diam. "Hanya itu yang saya ketahui Your Highness"


"Keluarlah"


Dengan patuh Carl mengangguk dan menunduk sopan


"Selamat malam Your Highness"


Setelah Carl pergi dari kamarnya, tangan Ferdinand terangkat untuk memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.


"Kepalaku sakittt"


\=\=\=💙💙💙💙


Happy sunday... Happy weekend....


Silahkan jejaknya...