Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter VI - Bath


"Pintu ini memang kedap suara. Mungkin dia belum selesai," kata Phillip.


"Tapi kami sudah menunggu lebih dari satu jam, Yang Mulia."


Phillip ikut mengetuk pintu dan memanggil nama Jane. Tetap tidak ada sahutan. "Jangan-jangan... Berikan kunci cadangan!" perintahnya kepada pelayan.


Pelayan itu berlari menuju tempat penyimpanan kunci yang berjarak puluhan meter dari tempat mereka berdiri. Setelah kembali dengan napas seadanya, dia memberikan kunci cadangannya kepada Phillip.


Pintu kamar terbuka dan mereka berhamburan masuk menuju kamar mandi yang ternyata tertutup rapat. Phillip tak lagi mengetuk. Pria itu memutar gagang pintu dan mendapati Jane masih berada di dalam bak mandi dengan tubuh telanjang. "Jane," panggilnya.


Seketika, mata Jane terbelalak. Melihat Phillip, dia segera memutar tubuhnya agar membelakangi pria itu. "Apa yang kau lakukan?" pekiknya.


Phillip sendiri terkejut dan berbalik. "I'm sorry, Jane," ucapnya malu sendiri.


"Miss Watson, silakan," pelayan melebarkan kimono handuk berwarna putih agar Jane dapat menutup tubuhnya.


Jane keluar dari bak mandi dan segera mengenakan kimono itu dan mengikat tali di pinggangnya dengan cepat. Setelah selesai, dia menghadap Phillip. Ditatapnya pria itu dengan tajam. Air mukanya mengeras. "Kau sudah gila?" tanyanya sambil mendongak karena Phillip lebih tinggi darinya.


"Maafkan aku, Jane. Para pelayan berkata sudah satu jam kau tidak keluar dan pintu kamarmu dikunci. Jadi kukira terjadi sesuatu padamu."


"Memangnya apa yang akan terjadi padaku?"


"Well... Bi-bisa saja kau melompat dari jendela untuk kabur," Phillip tergagap.


"Kau takut aku kabur? Aku bukan orang yang tidak menghargai orang lain. Aku menghargaimu, mister. Kalau kau bilang akan mengantarku besok, aku menghormati keputusanmu. Kecuali... kau yang ingin ingkar," Jane bertolak pinggang menantang Phillip.


"Aku selalu menepati janjiku, Jane. Janji seorang pangeran tidak sembarangan diucapkan," ujar Phillip bangga. "Lagipula aku sudah meminta maaf. Aku hanya khawatir kau pergi dari sini, lalu kau tersesat."


"Aku sudah besar, Dad," ejek Jane, membuat para pelayan di belakang Phillip menahan tawa.


Mendengar gelakan para pelayan, Phillip berbalik secepat kilat. "Kalian boleh keluar," katanya.


"Baik, Yang Mulia. Kami permisi." Para pelayan memberi hormat, lalu pergi.


Phillip dapat menangkap ledakan tawa mereka di depan pintu yang belum tertutup rapat. Setelah kembali kedap suara, Phillip melanjutkan urusannya dengan Jane. "Aku selalu ingin tamu-tamuku nyaman menginap di sini. Jadi, kuharap kejadian ini tidak berbuntut panjang. Aku minta maaf, Jane," ucapnya sopan.


Jane menerima permohonan maaf Phillip dengan anggukan kepala. Tidak ingin lama berdua dan diam-diam saja di kamar mandi dengan pangeran itu, dia beranjak ke kamar tidurnya untuk mengecek ponsel. Tidak ada yang menghubunginya sama sekali. Dia menghela napas, lalu menekan beberapa tombol. Nada sambung terdengar di telinganya.


"Kau menelepon siapa?" tanya Phillip yang merasa tidak dipedulikan oleh Jane.


"My mom," jawab Jane meski menganggap Phillip terlalu ingin tahu urusannya. "Hi, Mom!" serunya begitu Natasha menyapa dari New York. Sengaja dia mengambil nada tinggi agar terkesan ceria. "Oh, I'm fine, don't worry about me. Di sini sangat menyenangkan. Bahkan, aku disambut dengan marching band."


Phillip tertawa kecil.


"Itu suara sang pangeran. Ya, dia sedang bersamaku. Apa? Kau ingin bicara dengannya? Kau pikir aku berbohong?" tanya Jane tak percaya ibundanya sendiri mencurigainya. "Memangnya kau kira aku wanita murahan yang mau diajak sembarang pria?" Jane mendengus kasar. Dia terpaksa memberikan ponselnya yang masih terhubung dengan charger kepada Phillip.


Phillip mencabut kabelnya karena khawatir ponsel itu akan meledak. Hal itu membuat Jane memutar bola matanya. "Good morning, Mrs. Watson," sapanya kepada Natasha.


"Good morning, Tom. Tidak perlu sopan begitu," balas Natasha.


Phillip baru sadar Natasha mengira Jane sedang bersama Thomas, sehingga dia memilih berpura-pura menjadi sepupunya. "How are you, Natasha?"


"Luar biasa seperti tidak ada hari lain yang seindah ini. Apakah Jane merepotkanmu?"


"Tentu tidak. Kami sangat senang dia mau datang kemari," ujar Phillip.


Phillip menuruti keinginan si pemilik ponsel.


"Anakku itu agak keras kepala, tidak seperti adiknya," kata Natasha.


Mendengar ibunya membandingkannya lagi dengan Jill, membuat Jane kesal. Ya, dia memang bukan Jill. Jane adalah Jane, bukan orang lain.


"Menurutku, setiap orang berbeda-beda. Bahkan saudara kembar sekalipun," kata Phillip. "Meski memiliki wajah sama, namun karakter mereka pasti berbeda. Jane dan Jill berasal dari orangtua yang sama. Tidak sepantasnya Anda membandingkan mereka."


Jane terkejut karena Phillip seolah menceramahi ibunya. Di satu sisi, wanita itu merasa Phillip bersikap kurang ajar karena menasihati orang yang lebih tua. Namun, di sisi lain, dia puas dan bersyukur sekaligus senang ada orang yang mau membelanya.


Natasha sendiri terdiam selama beberapa detik. "Jill is pregnant," katanya.


"What?" Jane makin terbelalak oleh informasi baru yang didengarnya. "Dia baru saja menikah!"


"I know, honey," kata Natasha. "Dia sengaja merahasiakan ini sejak dua bulan lalu karena khawatir kau akan membencinya."


"Dan sekarang kau yang membocorkan rahasia ini! You know what, Mom? Kaulah yang membuatku membenci Jill. Goodbye, Mom. Aku tidak akan pulang," Jane memutuskan sambungan telepon. Dia membanting ponselnya ke lantai sampai layarnya retak.


"Hey! Tidak seharusnya kau..." Phillip berniat memprotes sikap Jane.


"Shut up!" potong Jane. "Aku tidak mau mendengar ceramahmu." Wanita itu duduk di pinggir ranjang. Kepalanya tertunduk. Dia mencoba mengatur napasnya agar lebih teratur karena sadar tekanan darahnya sedang naik.


Phillip mengambil ponsel Jane di lantai dan menaruhnya di meja rias. "Kau... benar-benar tidak mau pulang?" tanyanya pelan.


"Aku tidak tahu," jawab Jane. "Dulu kami pernah berjanji tidak akan menikah sebelum umur tigapuluh."


"Kau dan adikmu?"


"Ya. Kurasa hanya aku yang terus berpegang pada perjanjian itu, karena Jill bertemu dengan Harry dan melupakan semuanya. Awalnya kukira mereka main-main saja, tetapi rupanya mereka serius sampai menutupi kehamilan Jill."


"Kau sayang pada adikmu?"


"Tentu saja!" Jane berdiri dan berbalik menatap Phillip. "Selama ini aku berpura-pura bahagia, seolah aku nyaman dengan hidupku. Itu semua kulakukan supaya dia tidak mengkhawatirkan aku. Dia pasti merasa bersalah karena dipikirnya aku akan marah kalau tahu dia hamil. Mungkin dianggapnya aku ini monster yang siap menghalangi pernikahannya," Jane tertawa, lebih kepada menertawakan kebodohannya sendiri. Butiran air mata meluncur di pipinya, membuatnya tersadar bahwa dirinya sedang berbicara ngawur kepada orang asing. "Sorry," ucapnya sambil mengelap air matanya.


Phillip tersenyum. Dia mendekati Jane dan meletakkan kedua tangannya di pundak wanita itu. "Kau tak perlu sungkan padaku. Kau bisa tinggal di sini selama yang kau suka. Ini adalah istanaku. Tidak ada yang dapat mengganggumu," katanya lembut. Sungguh dia ingin menghapus kegelisahan Jane saat ini.


"Thanks," Jane tersenyum malu-malu.


"No problem. Sekarang, beristirahatlah. Akan selalu ada pelayan yang bisa kau panggil."


"Yes, Your Majesty," ledek Jane, berhasil membuat Phillip tertawa.


🐱🐱🐱🐱🐱


**bersambung ke chapter selanjutnya!


hai, guys..gimana chapter ini menurut kalian? mamanya jane rese gak sih wkwkwk~


minta like dan comment yg banyak yaaahh 😁😁


see ya**...