Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter IX - Job


Diurutkan bagaimana pun, Jane benar-benar kalah posisi. Pertama dan paling penting, dia sedang berada di negeri orang. Dia tidak tahu sama sekali tentang Vlada beserta kerajaannya, sehingga tidak dapat mengantisipasi langkah selanjutnya yang ingin dia rencanakan. Kedua, dia hanya mengenal beberapa orang di sana. Meskipun mereka adalah anggota kerajaan, tetapi mereka menginginkan Jane tetap tinggal di istana. Jadi, sama sekali tidak berguna. Ketiga, Jane sudah menyatakan tidak akan pulang kepada ibunya, Natasha. Ibunya pasti senang kalau Jane betah tinggal di Vlada. Bahkan, sekarang Phillip akan mendatangkan Natasha dan keluarga Jill.


"This is horrible!" teriak Jane di kamar. Kedua matanya memandang berkeliling. Seluruh isi kamarnya sangat indah. Dia yakin tak ada perempuan yang tidak ingin berada di posisinya. Apalagi dengan 2 pangeran tampan yang memperebutkannya untuk dijadikan istri. Namun, ini sangat jauh dari bayangan.


Dia sudah lega karena Thomas menolak pertunangan ini, tapi kemudian muncul Phillip yang berniat menggantikan Thomas menjadi tunangan Jane. Malah sekarang, entah apa yang Thomas pikirkan, mereka berdua bersaing untuk mendapatkan cinta Jane.


Boleh saja Jane menuruti orangtua dan kedua pangeran itu, tapi tentu dia tidak bisa sembarangan karena ini menyangkut hidup dan masa depannya.


Jane teringat pada pekerjaannya yang telah hilang akibat ulah Phillip. Dia juga ingat pada teman-teman, juga Ally, atasannya yang selama ini selalu membuatnya kesal. "Aku tidak akan bertemu kalian lagi," katanya pelan. "Dan aku pengangguran!" Dilemparnya bantal ke lantai. Untuk orang yang terbiasa bekerja, dilayani seperti seorang putri terasa jengah dan kaku.


Ketukan pintu terdengar, membuyarkan lamunan Jane. Dia bangkit dari ranjangnya untuk membuka pintu.


Seorang pelayan yang tadi siang mengisi baterai ponselnya datang dengan membawa nampan berisi satu set makanan di kedua tangannya. "Makan malam Anda, Miss Watson," katanya seraya tersenyum.


"Sebenarnya aku bisa jalan sendiri ke ruang makan," kata Jane.


"Prince Phillip tidak dapat menemani Anda makan malam karena ada urusan penting, sehingga beliau memintaku membawakannya," pelayan itu tersenyum lagi, memamerkan lesung pipinya.


Jane baru menyadari manisnya pelayan wanita berambut ikal pendek serta berponi di dahinya itu. Seragam pelayan berwarna pink-putih menambah keluguannya.


"Akan kutaruh di meja," lanjut pelayan itu.


"Terima kasih. Aku belum tahu namamu," kata Jane.


"Namaku Chloe."


"Nice to meet you, Chloe," Jane ikut tersenyum ramah. "Masuklah."


Chloe melangkah tegap ke dalam kamar Jane dan meletakkan nampan berat itu di meja rias. "Panggil saja aku bila Anda menginginkan sesuatu."


"Chloe... maukah kau menemaniku makan malam?"


"Tentu," jawab Chloe, lalu mengambil piring kosong dan mulai menyendok makanan. "Apa yang Anda inginkan?"


"No, no," cegah Jane.


Chloe bingung. Dihentikannya kegiatan menyiapkan makanan Jane. "Ada apa, Miss Watson?"


Jane menghampiri Chloe dan mengambil piring dari tangannya. "Biar aku sendiri saja," ucapnya.


"Baik," Chloe membungkukkan badan, lalu segera menyingkir dari depan nampan makanan. Dia berdiri di samping pintu.


Jane menggantikan Chloe menyendok makanan pembuka ke piringnya, yaitu bacon gulung dengan kurma. "Kau sudah makan?"



"Baiklah. Kau sudah lama bekerja di sini?" Jane mengambil bacon di piringnya, lalu memasukkannya ke mulut.


"Sudah sekitar lima tahun, Miss."


"Berapa umurmu?"


"Duapuluh lima."


"Kau setahun lebih muda dariku, tapi wajahmu manis sekali," Jane tidak tahan untuk memuji.


Chloe malu dibilang manis. Dia tertunduk. "Terima kasih, Miss Watson. Anda pun sangat cantik. Prince Thomas dan Prince Phillip sangat beruntung."


Jane menghela napas. "Aku tidak tahu mereka serius atau tidak," katanya sambil mengunyah. "Ini sangat enak. Apa kau yang memasaknya?"


"Bukan, Miss. Temanku yang membuatnya. Dia pintar memasak."


"Oh, kau benar. Istana pasti memiliki koki profesional. Di New York, biasanya aku hanya memesan makanan cepat saji atau chinese food. Kalau tidak lapar, aku tidak makan."


"Benarkah? Pantas saja Anda kurus... Ah! Maafkan aku," Chloe keceplosan dan segera meminta maaf. Ekspresinya menunjukkan penyesalan. "Bukan maksudku mengatai Anda, tapi aku mengagumi kecantikan dan bentuk tubuh Anda, Miss."


Jane tertawa. "Tidak apa-apa, Chloe. Aku memang kurus, tapi sebaiknya kau tidak meniruku karena sangat tidak sehat," ujarnya seraya menepuk pundak Chloe. "Apa kau bisa menyimpan rahasia?"


Chloe gelisah, tapi menjawab, "Rahasiamu aman denganku, Miss Watson." Wanita itu menyilangkan kedua telunjuknya di depan bibir.


Jane mendekatkan wajahnya ke wajah Chloe. "Aku tidak ingin dinikahkan dengan orang yang tidak kukenal. Tidak Thomas, juga tidak Phillip."


"Kenapa?" Mata Chloe membelalak.


Jane meletakkan piringnya di lantai, melipat lengannya di depan dada, dan menegakkan badannya. "Ibu dan temanku bilang aku akan bahagia hidup di istana serta memiliki segalanya. Tapi coba kau pikir, apa ada orang luar yang mau hidup terkekang oleh semua aturan kerajaan?" Dipicingkan matanya menatap Chloe.


"Ayahanda Prince Thomas merupakan orang biasa, Miss. Memang sulit pada awalnya, tapi kurasa Anda akan cepat terbiasa," Chloe tersenyum bijak.


"Apakah ayah Thomas menuruti semua aturan kerajaan?"


"Peraturan di Kerajaan Vlada tidak serumit dan seberat yang Anda pikirkan, Miss. Seperti contohnya Prince Thomas. Dia tidak dilarang untuk bekerja layaknya orang biasa. Di samping kegiatan amalnya, beliau juga berprofesi sebagai penulis. Sebagian dari buku-buku di perpustakaan adalah karyanya."


Sekarang Jane yang terbelalak. "Wow!" serunya. "Jadi, seandainya aku menjadi orang kerajaan pun, aku boleh tetap bekerja?"


Chloe mengangguk.


"Kalau begitu, besok aku akan meminta izin Phillip untuk pergi mencari lowongan. Pekerjaan apapun akan kulakukan. Kau tahu, aku tidak suka berdiam diri di dalam istana seperti ini."


"Tetapi Anda harus mempersiapkan diri untuk menjadi menantu kerajaan, Miss."


"Kalau Thomas boleh bekerja, kenapa aku tidak boleh?" protes Jane.


"Well..." Chloe tidak tahu harus menjawab apa karena perkataan Jane ada benarnya.


Kata orang, wanita harus mandiri, tidak boleh bergantung pada orang lain. Wanita kuat adalah wanita yang tahu apa yang diinginkannya dan berusaha untuk mewujudkan segala impiannya.


Sejak dulu, Jane hidup dengan prinsip seperti itu. Dia tidak betah jika hanya berpangku tangan, apalagi dilayani oleh banyak orang seolah dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan orang lumpuh pun tidak seharusnya cuma berbaring di ranjang karena mereka masih memiliki banyak kelebihan di balik kekurangannya.


Itulah yang ingin Jane perjuangkan di hari kedua dirinya di Vlada. Dia telah menyiapkan argumentasinya di dalam kepala untuk dituangkan jika berdebat dengan Phillip nanti.


Namun, yang ditemuinya di ruang makan adalah Phillip dan Thomas. Kedua pria tampan itu telah menunggunya dan mereka segera berdiri ketika Jane masuk.


"Good morning, Jane," sapa keduanya.


"Morning," sahut Jane, lalu mengambil tempat duduk di seberang Thomas. Seperti biasa, Phillip menempati ujung meja.


"Mari kita berdoa," ajak Thomas, membuat Phillip terkejut.


"Tak biasanya kau berdoa, Tom," sindir Phillip.


Thomas memasang ekspresi datar. "Kita mulai," katanya. Pria tampan itu bahkan memimpin doa sebelum makan. Selesai berdoa, dia mengambil sepotong roti gandum dan meletakkannya di piring Jane. "Untukmu," ujarnya kepada Jane sambil tersenyum semanis yang dia bisa.


Merasa canggung, Jane mengucapkan terima kasih.


Phillip memperhatikan tingkah laku Thomas. "Boleh aku bertanya?" Kalimatnya membuat kedua orang di hadapannya menoleh. "Untuk apa kau ke sini?" tanyanya kepada Thomas.


"Apa tidak boleh aku bertemu dengan calon tunanganku?" balas Thomas.


"Tentu boleh, tapi apa maksudmu bersikap manis seperti tadi?"


Thomas sengaja memasang tampang bingung. "Kurasa itu tidak dilarang. Kalau kau mau, silakan saja, bro," katanya cuek.


Jane berdeham, mencoba melerai kesengitan di antara kedua jantan itu. "Phillip, ada yang ingin kutanyakan."


"Sure, love," sahut Phillip. Ditatapnya Jane dengan penuh kelembutan.


Dipanggil dengan sebutan 'love' saja sudah menerbangkan pikiran Jane, apalagi dipandangi seperti itu. "Bolehkah aku bekerja?" tanyanya gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat bukan karena mengungkapkan keinginannya, melainkan tersihir oleh mata biru langit Phillip.


"Maksudmu bekerja seperti apa?"


"Seperti yang kulakukan sejak dulu, bekerja," tegas Jane.


"Oh..." Phillip terlihat berpikir. "Tidak," jawabnya.


"Why?"


"Kau tidak perlu bekerja, Jane. Aku bisa menyediakan semua yang kau butuhkan. Tempat tinggal, makanan, pakaian. Sebut saja."


"Aku ingin memenuhi kebutuhanku sendiri."


Phillip meraih tangan Jane. "Dengar aku. Bila memilihku, kau akan menjadi calon istriku. Itu berarti kau adalah tanggung jawabku."


"Apa aku tidak boleh melakukan apa yang kuinginkan? Bukankah suami seharusnya mendukung istrinya?"


"Ya, tapi..."


"Kau ingin bekerja padaku?" potong Thomas.


"Kau bisa memberiku pekerjaan?" balas Jane. Matanya memancarkan kegembiraan begitu menatap Thomas seolah pria itu adalah penyelamatnya.


"Kau bisa menjadi asistenku kalau kau mau."


"Apa kau akan membayarku?"


"Hey!" Phillip melepaskan tangannya dari tangan Jane. "Kau tidak bisa seenaknya, Tom," protesnya. "Ini tidak adil."


"Kau mau adil? Mari kita tanya Jane. Kau mau bekerja padaku atau tetap memohon pada Phillip agar diberikan izin?" tanya Thomas yang sudah memasang senyuman kemenangan.


"Tentu saja aku mau bekerja padamu! Tapi kau harus menggajiku sesuai dengan pekerjaanku, bukan karena aku calon tunanganmu," jawab Jane.


"Deal!" Thomas memberikan tangannya.


Jane mantap menyambut jabatan tangan Thomas. "Thank you, Sir!"


Phillip gregetan dengan sikap Jane dan Thomas. "Kau tahu apa akibatnya kalau kau bekerja padanya, Jane?" tanya Phillip.


"Apa?" Jane kembali menghadap Phillip.


"Kau harus pindah ke istana Tom, terpisah dari ibumu dan Jill."


🐘🐘🐘🐘🐘


**bersambung ke chapter selanjutnya!


hey guys! maaf kelamaan..beberapa hari ini aku gak bisa nulis karena ada acara malam tahun baru dan... banjir! wkwkwk~


Happy New Year 2020!


siapa yg tinggal di jakarta dan sekitarnya yg kebanjiran? semoga kalian semua sehat dan selamat yah. kebetulan aku nginap di rumah orangtua. di sana gak banjir sama sekali, tapi aku gak bisa pulang karena akses ke sana ditutup 😆


syukurlah sekarang udah surut. bagi yg masih berjibaku dengan air, semoga segera diberikan bantuan dan selamat bersih-bersih 😆😆


gimana chapter kali ini? aku minta like dan comment yg banyak yah.. semoga aku bisa up lagi secepatnya 🙏 makasih banyak buat yg udah nungguin hehehe.. see ya 😘**