
Musim gugur sudah memasuki bulan ke dua. Warna hijau pohon-pohon terus berguguran, warna warni bunga-bunga di taman sudah mengering, rumput-rumput di padang rumput sudah menguning.
Malam ini, Anastasia kembali mentap ke luar jendela kamarnya. Terpaan kuat angin malam terus menerbangkan rambut tergerainya. Pergerakan kuat angin yang masuk ke dalam kamar terus membuat tirai ranjang berkibar dan mengalum mengikuti arah angin.
Dinginnya malam di musim gugur pada bulan kedua, membuat kamar Anastasia semakin dingin. Hembusan kuat angin malam, mengisi kesepian di kamar itu.
Arah pandang Anastasia menatap jauh ke depan, sangat jauh. Isi pikirannya terus mengenang dan berputar pada masa lalu. Hingga cairan sebening kristal itu kembali tumpah.
Tangan Anastasia terus mengusap pipinya sambil tersenyum getir, dirinya mengingat kembali bagaimana suaminya yang dengan sangat egois terus dan terus melukai harga dirinya. Bagaimana suaminya yang selalu saja mengabaikan setiap luka menganga di harga dirinya.
Kembali, Anastasia mengusap pipinya yang kembali di aliri cairan hangat saat ingatannya kembali di saat Ferdinand yang tetap akan mendebutkan Elsa dengan menggunakan namanya. Sekeras apapun Anastasia menolak dan bahkan sudah mengancam, suaminya itu tetap melakukannya. Betapa kejamnya Ferdinand yang kembali menancapkan belati di dalam hati dan di dalam harga diri Anastasia.
Tangan Anastasia memegangi dadanya yang semakin nyeri. Sampai kapan dia bisa bertahan? apa dia masih bisa bertahan memperjuangkan semua ini? memperjuangakan pernikahannya dengan pondasi yang sudah hancur tidak bersisah?
Anastasia terus terisak sendirian di dalam kamarnya yang dingin. Kamarnya yang selama satu bulan ini sudah tidak pernah sekalipun di injak suaminya lagi.
Ferdinand... sudah membuangnya.
Hingga Anastasia sudah mulai lelah menangis, dengan langkah berat, dirinya segera mengambil mantel. Dia butuh udara segar yang lebih banyak, dia butuh keluar.
Keadaan castle sudah sepi saat Anastasia keluar dari kamarnya. Sambil mengeratkan mantelnya, Anastasia melangkah menuju ke arah pintu taman.
Dalam kesunyian, langkah Anastasia terus bergerak hingga menuju pintu taman yang masih terbuka? Alis Anastasia mengerut. Tidak ingin banyak berpikir, Anastasia mengabaikan alasan kenapa pintu taman masih terbuka. Dirinya yang sedang butuh ketenangan hanya ingin menikmati terpaan angin malam yang menusuk.
Tapi, segala ketenangan yang di harapkan Anastasia bisa dirinya dapatkan dengan menuju taman, menjadi pisau bermata dua untuknya. Karna pemandangan di depan matanya sekarang, langsung menusuk tembus hatinya.
Kekehan bahagia, ucapan-ucapan yang menyenangkan, pelukan yang penuh kasih sayang, sentuhan-sentuhan kenyamanan, dan tatapan penuh cinta di depan arah pandang Anastasia, langsung menghantarkan rasa dingin yang membekukan hatinya.
Di sana, di bangku tamam. Ferdiand sedang duduk dengan Kenna yang berada di dalam pangkuannya, dengan anak mereka yang terus tumbuh di dalam perut Kenna yang mulai terlihat nyata dengan gaun tidurnya, dengan tangan Kenna yang terus melingkar di leher Ferdinand, dengan tangan Ferdinand yang terus mengusap perut dan kulit bagian lain di tubuh Kenna
Aahhh... jadi bgini rasanya ketika hatimu sudah membeku Anastasia? jadi begini rasanya ketika es di dalam hatimu terus menjalar hingga ikut membekukan tulang punggungmu?
Tanpa ingin berlama-lama dan langsung membatalkan niatnya, langkah Anastasia segera berbalik. Kali ini, tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi nafas yang terhimpit, tidak ada lagi hati yang terasa nyeri.
Karna hati Anastasia, sudah membeku.
Setelah melihat kepergian Anastasia, Kenna kembali mencoba mempertemukan bibir mereka. Tapi lagi, Ferdinand kembali menghindar dan hanya fokus pada perutnya dengan sesekali berucap dan menggosok tangan Kenna yang terbuka terkena terpaan angin. Apa kenna tidak tahu dengan yang di namakan mantel?
"Ayo kembali Ken"
Kenna mencibik sambil memeluk Ferdinand
"Aku masih ingin bersamamu"
Nafas Ferdinand berhembus panjang, ini sudah kesekian kalinya Ferdinand mengajak Kenna untuk masuk ke dalam, tapi untuk yang kesekian kaliannya juga Kenna menolak.
"Malam semakin dingin dan kau bahkan tidak memakai mantelmu"
Ucapan Ferdinand membuat seringai nakal Kenna terbit. Dirinya menatap Ferdinand dengan menggoda, dan berbisik di depan bibir Ferdinand
"Katanya sekarang janin kita sudah cukup kuat. Kita bisa menghangatkan diri di dalam Dinand-" Kenna menjedah dengan tangannya yang sudah membelai dada Ferdinand, lalu kembali berbisik menggoda. "Aku sangat merindukan saat kau di dalamku dan bergerak dengan kasar"
Kenna tersentak saat tangannya yang hampir mendarat di milik Ferdinand, di cekal dengan kuat. Kenna menaikkan arah pandangnya untuk menatap raut wajah Ferdinand yang sudah menatapnya dengan datar
"Jangan macam-macam Kenna. Jangan melanggar perjanjian kita, ini peringatan kedua setelah liburan kita, dan ini akan menjadi peringatan terakhirku"
Dengan rasa kesal yang luar biasa membara hingga rasanya Kenna ingin menampar Ferdinand, Kenna segera bangun dari kedua paha Ferdinand. arah pamdangnya menatap Ferdinand dengan penuh luka
"Kenapa? kenapa kau menolakku?! kenapa kau lakukan ini Dinand?! Apa karna kau selalu tidur dengan istrimu? apa dia lebih hebat? apa dia bisa melakukan lebih dari yang bisa ku berikan? apa j*l*ng itu lebih bisa memuaskanmu? Apa j*l*ng it-"
"KENNA!"
Mulut Kenna terkatup, kedua matanya yang mulai buram menatap Ferdinand dengan terluka.
"Di-"
"Masuk! Anak itu bisa ikut sakit jika kau sakit"
Kenna pikir setelah mendengar ucapan Ferdinand, saat Ferdinand melihat dirinya yang tetap tidak bergerak dan sudah meneteskan air mata, Ferdinand akan membujuk atau berbicara dengan baik untuk merayunya seperti biasa. Tapi Kenna salah, karna Ferdinand yang sudah muak, langsung pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang masih berdiri di dinginnya angin malam. Pergi tanpa menoleh dan peduli.
Kedua tangan Kenna terkepal, air matanya terus tumpah membasahi kedua pipinya. Dia tahu jika selama ini kebaikan dan perhatian Ferdinand hanya di sadari karna tanggung jawab untuk janin yang ada di perutnya, Ferdinand selalu mencoba menjaga perasaannya hanya untuk kebaikan janin yang ada di perutnya, hanya karna janin di perutnyalah Ferdinand menuruti semua pemintaannya.
Kenna tahu jika selama ini Ferdinand sudah tidak pernah menatapnya dengan penuh cinta lagi, Kenna juga tahu jika sekarang pikiran Ferdinand sudah tidak pernah tertuju padanya lagi. Ferdinand, di dalam diamnya, dalam kesedihannya, dalam kekecewaannya, dan dalam seluruh kerinduaannya, Kenna bisa melihat kemana arah pandang dan arah hati Ferdinand sekarang. Dia selalu bisa melihat dan mendapati ke mana diam-diam Ferdinand akan menatap dan tersenyum, sekali lagi, Kenna bisa melihat dan merasakan dengan sangat jelas. Dan semua pemikiran yang kembali terulang di dalam kepala Kenna itu, membuat tangannya semakin terkepal kuat.
"Aku tidak akan membiarkanmu Anastasia. Aku tidak akan membuatmu bisa melihat semua kenyataannya, kau harus terus menjauh dan membenci Ferdinand, kau harus selalu buta dan tuli akan perasaan Ferdinand. Aku bersumpah akan melakukan apapun agar Ferdinand juga membencimu, membuatnya juga menjadi buta dan tuli"
Dengan langkah malas, Ferdinand menutup kembali pintu kamarnya. Dirinya memilih akan menyelesaikan sedikit pekerjaannya dulu, lalu akan pergi tidur.
Bermenit-menit terus terlewati, puluhan menit terus terjalani, dan berjam-jam sudah berjalan dengan malam yang semakin pekat. Ferdinand menutup dan merapikan segala buku yang ada di atas meja kerjannya, lalu merenggangkan otot-ototnya yang lelah. Langkahnya seperti setiap malam yang selalu di lakukannya, bergerak menuju pintu penghubung.
Dengan pelan Ferdinand kembali menutup pintu saat dirinya sudah masuk ke kamar Anastasia dengan sebelumnya memastikan terlebih dahulu jika Anastasia sudah telelap. Langkahnya kembali bergerak dengan pelan menuju ranjang, lalu naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati.
Dengan tubuh yang di miringkan, Ferdinand menumpukan satu tangannya sambil menatap Anastasia yang terlelap tenang. Tangannya terulur untuk mengusap seluruh wajah Anastasia.
Wanita itu sangat dekat, tapi juga sangat jauh. Wanita itu selalu memasang senyum, tapi juga selalu menyimpan tangis.
Ferdinand tahu jika entah sudah berapa kali dia melukai Anastasia, tapi dia tetap ingin Anastasia bersabar. Bersabar sedikit lagi sampai Ferdinand menyelesaikan janji-janjinya pada Kenna dan Elsa.
Kenna dan Elsa adalah tanggung jawabnya, saat dia membawa dan menyelamatkan kedua saudari itu dari pengasingan, Ferdinand sudah mematrikan janji dan sumpahnya yang akan menjadi penanggung jawab mereka. Karna itu Ferdinand memaksakan diri untuk membuat debut Elsa yang akan orang-orang sebut dengan gila, karna itu Ferdinand terus memberikan perhatian dan juga menjaga perasaan Kenna selama dia hamil.
Karna itu, Ferdinand sangat memohon agar Anastasia bersabar sedikit lagi. Karna, setelah Elsa debut dan ada seorang gentleman baik yang melamar, Elsa akan bisa selamat dari Raja dan Ferdinand bisa terlepas dari satu sumpahnya. Lalu setelah anaknya lahir, Ferdinand sudah bisa benar-benar kembali pada Anastasia. Karna setelah anak itu lahir, Ferdinand akan mengirim Kenna pada keluarga adiknya yang baru. Dengan begitu, Raja atau Ratu tidak akan bisa sembarangan menyentuh mereka, dan mereka juga akan punya nama baik serta keluarga yang baik juga, maka sumpah Ferdinand sudah di selesaikannya.
Setelah cukup puas menatap wajah Anastasia, Ferdinand mulai mencari posisi nyamannya. Menggenggam tangan Anastasia dengan hati-hati, lalu mulai memejamkan mata.
Setiap hari, setiap malam, setelah memastikan jika Anastasia sudah meminum obatnya dan terlelap, Ferdinand akan selalu seperti ini. Datang ke kamar Anastasia diam-diam lalu tidur di dekatnya, dan bangun sebelum Anastasia terbangun. Dia terlalu pengecut dan terlalu tidak berani untuk melakukan hal itu secara terang-terangan. Malu, dirinya terlalu malu pada Anastasia, dan dirinya juga terlalu takut untuk menerima penolakan Anastasia.
--000--
Pagi ini, dengan buku terbaru yang ada di tangannya, Anastasia duduk di tamannya sambil membaca buku dan menikmati teh paginya. Dirinya memang memilih untuk duduk di luar karna menghindar dari pamandangan kesibukan di dalam castle. Kesibukan untuk mempersiapkan acara debut Elsa tanpa pesta dansa.
Keputusan Anastasia yang tetap tidak akan pernah sudi memperkenalkan Elsa sebagai saudarinya, membuat Ferdinand sampai pada keputusannya yang tidak membuat pesta debut seperti biasanya. Ferdinand hanya akan membuat pesta pengenalan untuk Elsa. Elsa yang tetap akan Ferdinand perkenalkan sebagai keluarga jauh Anastasia tanpa membuat Anastasia harus memperkenalkan langsung.
Sambil terus membaca buku keperawatan terbaru tentang penyakit paru-paru yang baru di dapatnya, Anastasia begitu serius menyerap dan menyimpan di dalam kepalanya setiap ilmu dari dalam buku. Buku kesukaannya yang beberapa bulan ini sudah mengisi jenis-jenis baru di dalam perpustakaannya. Bahkan Ruth sempat mengatakan jika perpustakaannya sekarang sudah seperti perpustakaan kesehatan milik kerajaan.
Memperlajari penyakit dan memperlajari tentang keperawatan adalah sebuah cita-cita yang dulu Anastasia sempat miliki setelah dirinya bisa melihat jika dia tidak akan mempu menjadi seorang Ratu yang baik untuk Trancia. Karna itu, dulu dirinya membuat perjanjian baru pada Raja, jika setelah Trancia jatuh, dia meminta agar dirinya di kirim ke sebuah rumah sakit di Roman untuk menjadi biarawati yang berkerja untuk rumah sakit.
Sedari dulu Anastasia tidak pernah percaya pada pernikahan. Sedari dirinya mengenal arti keluarga untuknya, Anastasia sudah tidak ingin memiliki keluarganya sendiri karna pernikahan. Karna itu Anastasia memiliki cita-cita untuk mengabdiakan diri untuk Tuhan dan orang-orang banyak, bukan malah terjebak pada pernikahan seperti sekarang.
Well... semua cita-cita itu goyah karna salahnya sediri, karna dirinya yang terlalu lemah dan buta hingga tergoda memakan apel pemberian ular iblis Raja Fredrick. Raja licik yang setelah membohonginya, lalu menyodorkan putranya untuk Anastasia yang memang sudah menyimpan cinta untuk Ferdinand selama separuh hidupnya. Wanita lemah! bodoh! Harusnya kau tetap teguh dan bisa kabur saat pasukan Ferdinand mencarinya dulu!
"Hufftt!!!...."
Hembusan nafas berat Anastasia membuat Ruth menoleh, dirinya menatap Anastasia yang pagi ini terlihat lebih acuh dan dingin. Ada kebahagiaan di dalam hati Ruth saat tidak lagi melihat senyum miris dan tatapan penuh luka saat Anastasia mengantar dan melihat interaksi Ferdinand dan simpanannya. Apakah ini sudah waktunya? Ruth tersenyum sambil melangkah untuk meraih teko teh, dirinya dengan sigap kembali mengisi cangkir Anastasia yang sudah kosong dengan hati yang entah kenapa menjadi lebih ringan hanya karna tidak melihat lagi tatapan miris dari wajah Anastasia.
"Ruth..."
"Iya Your Highness"
"Apa kau ingin membaca buku keperawatan? ini sangat menarik Ruth"
Kedua mata Ruth mengejap-ngejap, lalu kebali menatap Anastasia.
"Novel romansa murahan lebih cocok untuk saya, Your Highness"
Dan kekehan Anastasia yang terdengar, suara girang kekehan yang membuat Ruth ikut terkekeh.
"Padahal ilmu seperti ini lebih berguna dari pada romansa Ruth"
Masih dengan kekehan yang bersisa di mulunya, Ruth menatap Anastasia dengan meringis.
"Saya terlalu bodoh untuk mengerti ilmu pengetahuan, Your Highness"
Ucapan Ruth membuat Anastasia menoleh, menatap Ruth sambil tersenyum hangat.
"Aku juga seorang wanita yang bodoh dan buta Ruth, karna itu aku ingin memperbaiki semuanya. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kebodohanmu kan? dan aku ingin kau selalu ada di dekatku saat aku memperbaiki setiap kebodohanku"
Senyum haru Ruth terbit, arah pandangnya yang mulai buram menatap Anastasia dengan penuh ketulusan
"Saya adalah subyek anda Your Highness, apa yang bisa membuat kebahagiaan untuk anda, saya akan melakukannya dengan seluruh nyawa saya"
Anastasia mengangguk sambil menyodorkan satu biskuit ke arah Ruth yang sudah hampir menangis. Ruth yang melihat sodoran biskuit dari Anastasia, menatap Anastasia dengan bingung. Anastasia yang melihat kebingungan di wajah hampir menangis Ruth terkekeh geli sambil mengerling
"Ambil lah dan jangan menangis"
Melihat wajah tertekuk Ruth saat Anastasia berhasil menggodanya, membuat Anastasia kembali terkekeh.
Berjam-jam terus terlewatkan dengan Anastasia yang terus membaca buku dan sesekali menggoda Ruth, hingga seorang pelayan datang dan memberitahukan jika sudah saatnya untuk makan siang.
Ruth dengan sigap langsung menerima buku dari tangan Anastasia. Lalu mengikuti langkah Anastasia untuk masuk ke dalam castle.
"Langsung saja simpan buku itu ke perpustakaan Ruth. Kau juga langsung saja makan siang, karna setelah makan siang aku ingin langsung ke istana. Her Highness Putri Summer pasti sudah menunggu kita"
"Baik Your Highness"
Setelah menjawab ucapan Anastasia, Ruth langsung menuju ke perpustakaan dan langkah mereka berpisah, karna Anastasia langsung menuju ke ruang makan yang di ikuti seorang pelayan lain.
Sambil tersenyum, dengan lembut Ruth menggosok sampul tebal salah satu buku kesayangan nyonyannya itu, langkahnya terus menuju ke perpustakaan. Saat sudah di sana, masih dengan senyum yang tercetak di bibirnya, Ruth menyimpan buku dengan rapih, lalu menatap semua buku-buku yang di susun rapih di dalam rak. Rak-rak yang sudah di penuhi buku-buku tentang banyak ilmu pengetahuan dan keperawatan.
Setelah itu, langkah Ruth kembali keluar perpustakaan untuk mencari seseorang agar menyiapkan kereta kuda untuk Anastasia. Setelah urusan kereta selesai, saatnya Ruth untuk menuju dapur. Karna mereka akan langsung pergi, Ruth harus makan secepat mungkin dan kembali ke ruang makan untuk melayani kenutuhan nyonyanya, lalu pergi ke istana.
Makan siang Ruth sudah selesai, dirinya harus kembali ke ruang makan dengan menyiapkan terlebih dahulu mantel dan topi nyonyannya di dalam kamar. Tapi, langkah Ruth terhenti saat Ruth baru akan membuka pintu, karna pintu kamar Anastasia sudah sedikit terbuka. Kenapa terbuka? siapa yang masuk ke dalam kamar Anastasia saat hari sudah sesiang ini?
Kepala Ruth menoleh ke arah sekitar. Keadaan koridor kamar utama sangat sepi karna semua pelayan pasti sibuk mendekor dan menyiapkan segala keperluan pesta untuk besok.
Sambil menahan nafas, dengan sangat pelan Ruth mendorong pintu yang sudah sedikit terbuka itu. Ada suara pergerakan benda-benda yang terdengar dari dalam, Ruth mengigit pipi dalamnya dengan gugup lalu mulai masuk ke dalam.
Langkah demi langkah pelan Ruth tapaki hingga kakinya memutar untuk bersembunyi di samping kabinet. Tangan Ruth memegangi dadanya yang semakin gugup saat melihat sesosok orang yang tidak bisa terlihat dengan jelas karna tertutup tirai ranjang.
Dengan menarik nafas panjang, Ruth mengepalkan kedua tangannya saat akhirnya bisa melihat sosok itu, sosok yang memakai gaun berwarna sama dengan gaun seseorang yang di lihatnya pagi ini.
"APA YANG ANDA LAKUKAN NONA KENNA!!"
Kenna yang sedang berada di depan lemari terbuka penyimpanan perhiasan kamar Anastasia tersentak saat suara Ruth menggelegar di dalam ruangan
\=\=\=💛💛💛💛
Silahlan jejaknya....