
Tangan Ferdinand kembali mengusap peluh Anastasia yang kembali mengalir di pelipisnya. Kedua mata Ferdinand melirik tangan Anastasia yang dengan sangat hati-hati masih terus membersihkan lukannya.
"Kenapa? apa sakit?"
Anastasia bertanya lembut saat mendengar ringisan pelan Ferdinand. Ferdinand yang di tanya, langsung kembali mengeluarkan suara ringisan dramatis sambil memasang wajah sememelas mungkin
"Iya, ini sangat sakit An. Aww... ya Ampun... perih sekali"
"Tahan sebentar, sedikit lagi selesai"
Ferdinand langsung memicingkan matanya saat Anastasia tidak menyambut keluhannya. Bahkan, Anastasia terus berucap tanpa menatapnya. Isi kepala Ferdinand berputar cepat, mencari cara agar dirinya bisa mendapatkan banyak perhatian Anastasia.
"An?"
"Hm?"
Bola mata Ferdinand melirik sekitar, terus berputar sambil berpikir. Arah pandangnya menatap pada langit, ke pohon-pohon di luar jendela, pada rambut Anastasia, pada tengkuk istrinya, pada dada istrinya, lalu pada kedua tangan Anastasia. Bibir Ferdinand kembali terbuka dan berguman
"Cuaca di luar semakin panas ya..."
Masih dengan arah pandang yang terus fokus pada luka Ferdinand, Anastasia menjawab singkat
"Iya"
Jawaban Anastasia, kembali membuat Ferdinand melirik sekitar. Lalu kembali melirik kepala istirnya yang masih terus tertunduk
"Sangat gerah ya"
"Iya"
Arah pandang Ferdinand kembali melirik sekitar sambil mengulum bibirnya. Dirinya mulai kesal saat Anastasai hanya terus menajwab singkat, dan dengan sedikit ragu, Ferdinand kembali berucap
"Aku sangat gerah An, sudah dua hari aku terluka dan tidak bisa melakukan apapun, aku bahkan tidak bisa hanya sekedar keluar tenda"
Penipu kau Ferdinand! Suara hati kecil Ferdinand langsung mengumpati dirinya sendiri, tapi Ferdinand tidak peduli.
"Bukankah tadi pagi kau baru saja memukul kepala Solar dan menendangnya karna kesal?"
"Ahh iyaa.. itu..." Ferdinand meringis sambil membuang wajah ke samping "Itu hanya gerakan tidak terprediksi An, tapi percayalah jika gerakanku itu membuat lukaku sangat sakit. Bahkan sekarang semakin sakit"
Dengan senyum geli samar di bibirnya yang tersembunyi di kepalanya yang terus menunduk, Anastasia kembali bersuara.
"Benarkah?"
"Iya tentu saja! mana mungkin aku bohong kan? Suamimu ini pria yang jujur"
Senyum geli Anastasia semakin lebar di kepala tertunduknya
"Hhmm begitu ternyata ya.."
Ferdinand terus menunggu lanjutan ucapan Anastasia. Lebih tepatnya, Ferdinand berharap jika Anastasia kembali bersuara tapi, Anastasia tidak juga kembali membuka mulutnya. Nafas panjang Ferdinand berhembus
"Sayang, ak-"
"Selesai"
Ferdinand langsung mengatupkan mulutnya sambil merengut kesal saat melihat istrinya yang sangat tidak peka.
Dengan hati-hati, Anastasia mulai bergerak untuk melingkarkan perban di perut berkotak sempurna suaminya. Mulutnya terkatup rapat tanpa berniat ingin berucap apapun, hingga dengusan kasar Ferdinand yang terdengar, membuat Anastasia meliriknya sejenak
"Kenapa Dinand?"
"Kau ini An! Ahh sudahlah... lupakan saja... selesaikan saja itu dengan cepat!"
Anastasia mengulum senyum gelinya sambil mengangguk acuh tanpa berniat menyambut kekesalan Ferdinand. Dan semua perlakuan Anastasia itu, membuat wajah Ferdinand semakin tertekuk kesal.
"Oke, semua beres"
Ucapan Anastasai hanya di balas Ferdinand dengan kembali mendengus kesal. Anastasia yang akhirnya tidak tega, langsung menghentikan tangannya yang sedang membereskan peralatan. Arah pandangnya menatap wajah cemberut kesal Ferdinand
"Kau kenapa?"
"Apa sudah? jika sudah pergilah. Jangan banyak bertanya dan lupakan saja aku. Pergilah!"
Hah? apa-apaan ini?. Anastasia kembali mengulum senyum gelinya, dirinya tidak mengerti kenapa Ferdinand akhir-akhir ini snagat manja dan sangat gampang tersinggung.
Tapi, dengan sabar dan pasrah Anastasia tetap menuruti saja keinginan suaminya.
Dengan cepat Anastasia kembali membereskan alat-alatnya ke atas trolly. Lalu setelah selesai, dirinya mulai beranjak dari kursi untuk segera pergi sambil berucap pelan
"Aku pergi dulu ya"
Ferdinand mengerang kesal karna istrinya yang benar-benar tidak peka. Hingga saat gerakan Anastasia yang sudah mulai siap untuk mendorong trolly, Ferdinand yang sudah kehilangan kesabaran berteriak
"Ana!!"
Gerakan Anastasia terhenti, lalu menoleh sambil menatap Ferdinand dengan bingung
"Iya?"
"Jangan seperti ini!"
Kedua sudut bibir Anastasia kembali berkedut geli
"Seperti apa Dinand? kau perlu sesuatu?"
Bibir Ferdinand mencibik sambil menatap Anastasia dengan memelas. Sangat memelas dramatis, berharap bisa mendapatkan rasa kasihan istrinya
"Perhatikan aku, temani aku, jangan mengacuhkanku. Sesekali peluk aku, atau cium aku"
Suara memelas Ferdinand langsung membuat Solar menyembutkan air yang ada di mulutnya. Semua mata langsung menatap Solar yang dengan cepat langsung melesat pergi menuju pintu keluar. Crab! meski Solar sudah cukup cepat untuk kabur, tapi dirinya tadi sempat bisa merasakan tatapan tajam menusuk Ferdinand untuknya. Sepertinya.... Solar akan mendapat pukulan lagi nanti.
Melihat Solar yang langsung berlari terbirit-birit, Anastasia membuang nafas panjang lalu menatap Ferdinand. Menatap raut wajah Ferdinand yang terus merengut kesal
"Sebenarnya kau kenapa Dinand? Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan jika kau tidak mengatakannya"
Bibir Ferdinand mengerucut sebal, matanya menatap Anastasia dengan sangat memelas, lalu berucap lirih dan ragu
"Emm... aku... aku ingin mandi"
Satu alis Anastasia menukik
"Kan tinggal mandi. Apa masalahnya?"
Kembali, Ferdinand berdecak kesal.
"Kau kan tahu-" Tangan Ferdinand menunjuk luka di perutnya. "Ini" Jari Ferdinand kembali menunjuk perban lama yang masih terpasang di sebelah lengannya. "Ini" Lalu kembali, jari Ferdinand menunjuk ke arah kedua perban di bahunya. "Ini dan ini" Ferdinand menurunkan tangannnya dan menatap Anastasia dengan sangat memelas dramatis. "Aku pasien terluka yang tidak berdaya. Aku terluka parah dan tidak bisa bergerak sendiri"
Aahh... ternyata itu masalahnya... Anastasia akhirnya mengangguk paham. Melihat kepala Anastasia yang sudah mengangguk, sebelah sudut bibir Ferdinand berkedut ingin menyeringai tapi,
"Baiklah, aku akan mengatakan pasa Solar agar membantumu untuk mandi"
"Ana!!!"
Dan akhirnya, Anastasia terbahak kuat. Dirinya sudah tidak mampu lagi menahan raga geli saat Ferdinand sekarang, sudah benar-benar marah hingga wajahnya memerah.
Dengan sisa-sisa tawanya, Anastasia mendekat pada Ferdinand. Arah pandangnya menatap wajah cemberut Ferdinand sambil tersenyum, lalu kedua tangan Anastasia menangkup wajah suaminya.
"Besok ya..."
"Ta-"
Ferdinand langsung terdiam saat Anastasia dengan cepat memberikan kecupan singkat di bibirnya. Ohh ya ampun... yang benar saja, apa-apaan jantungnya yang langsung berdegup cepat hanya karna sebuah ciuman singkat.
Anastasia kembali mengulangi ucapannya pada Ferdinand yang sudah terlihat diam dengan wajah merona malu. Dengan mata malu-malu, Ferdinand mengangguk lemah sambil menekuk bibirnya yang masih terasa tersengat karna ciuman istrinya.
"Deal?"
Ferdinand kemabali mengangguk lemah sambil menatap Anastasia dengan malu-malu, lalu berucap lirih
"Iya"
"Ok"
Saat tangan Anastasia baru akan melepaskan wajah Ferdinand, tangan Ferdinand langsung menahan tangannya dan berucap dengan kembali memasang wajah memelas.
"Cium lagi"
Francesca yang sebenarnya sedang mencoba untuk tidur di ranjang sebelah ranjang Ferdinand, hampir muntahkan sarapan paginya di atas kasur. Uuhh... dirinya sangat menyesal berada di sana, sangat menjijikkan!
Ucapan Ferdinand membuat Anastasia langsung melirik ke ranjang sebelah, ranjang Francesca. Setelah merasa aman, dirinya dengan cepat kembali menunduk untuk mempertemukan bibir mereka. Setelah memberikan apa yang di inginkan suaminya, Anastasia langsung menarik diri untuk menjauh.
"Aku harus kembali bekerja"
Dengan senyum merekah di bibirnya, Ferdinand langsung mengangguk kuat.
"Iya..."
Setelah menunggu beberapa saat hingga suara trolly Anastasia tidak terdengar lagi, Francesca yang sedang tidur membelakangi ranjang Ferdinand langsung berguman tajam
"Kau pria yang tidak punya harga diri"
Ferdinand yang mendengar gumanan itu melirik Francesca sejenak sambil mengedipkan kedua bahunya dengan acuh. Dengan perasaan senang, Ferdinand mulai bersenandung sumbang dan melempar kuat tubuhnya ke atas ranjang. Dirinya tidak peduli dan tidak ingin peduli pada ucapan dunia untuknya
Dalam diam dan dalam kesulitan tidurnya, Francesca yang masih terus berusaha untuk tidur semakin kacau saat seisi tenda semakin terus di isi nada yang tidak indah sama sekali dari mulut Ferdinand. Nada sumbang yang semakin lama semakin membuat darah Francesca mendidih.
Akhirnya, dengan kesabaran yang sudah berada di ujung tanduk, Francesca langsung melompat dari ranjangnya sambil memegangi bantal. Arah pandangnya menatap ranjang Ferdinand, di mana di atas ranjang itu, tubuh Ferdinand sedang terbaring nyaman dengan kedua telapak kakinya yang terus bergerak-gerak mengikuti lantunan nanda sumbangnnya sendiri.
Bugh!!
"Apa-apaan!!!"
Tubuh Ferdinand langsung terlonjak sambil memegangi bantal yang baru saja mendarat kuat di wajahnya. Kedua matanya melotot tidak terima, melotot pada punggung saudari kembarnya yang sudah mulai menghilang dari pintu tenda. Bibir Ferdinand berdecak kesal sambil berguman
"Dia kenapa?"
Dan setelah berguman, Ferdinand kembali mengisi keheningan tenda dengan senandung sumbangnya.
*
*
*
Hari ini, adalah hari ke tujuh setelah kejadian penyerangan di tenda camp rumah sakit. Dan hari ini juga, adalah hari di mana Anastasia masih terus memelukki satu persatu teman-temannya sambil terisak pelan.
Keadaan salam perpisahan di sana, sangat tampak menyedihkan dan mengharu biru tapi, semua keadaan sedih di sana, tidak berlaku untuk Ferdinand yang terus tidak bisa menahan senyum puas dan bahagiaanya.
Beberapa kali Francesca terus mengingatkan Ferdinand agar setidaknya, jika Ferdinand memang tidak bisa memasang wajah sedih, Ferdinand jangan terus tersenyum semeringah di tengah-tengah keadaan rasa sedih semua orang. Tapi Ferdinand tetaplah Ferdinand, dirinya benar-benar tidak bisa pedulu dan tidak bisa mendengarkan semua ucapan saudari kembarnya.
Saat semua teman-temannya sudah memberikan peluk perpisahan, Anastasia menuju pada Bernadeth. Dengan kedua mata yang terus menangis, Anastasia langsung memeluk Bernadeth yang juga sudah terisak pelan dengan senyum bahagia di bibirnya.
Cukup lama Anastasia memeluk Bernadeth hingga akhirnya, pelukan mereka terlepas. Bernadeth kembali tersenyum hangat sambil mengambil langkahnya untuk berdiri di tengah-tengah lapangan. Bernadeth menatap semua orang sejenak, lalu kembali menatap Anastasia sambil membuka suaranya. Suara untuk ucapan perpisahan Anastasia.
"Anastasia, anakku sayang. Terimakasih karna sudah hadir di tengah-tangah kami. Terimakasih atas semua bantuanmu selama ini. Pergi dan berbahagialah nak.. pergilah ke tempat keluargamu, keluargamu yang sudah menunggu lama kepulanganmu" Bernadeth menjedah, lalu kembali menatap semua orang. "Hari ini, keluarga kita, teman kita Anastasia, akan kembali ke Francia, ke rumah keluarganya. Jangan ada kesedihan untuk kepergiaanya. Karna Anastasia keluarga kita, saudari kita, dan teman kita, akan menerima kebahagiaannya kembali" Dengan senyum yang terus tercetak di bibirnya, Bernadeth menatap Ferdinand dan Francesca bergantian. "Your Highness, terimakasih karna sudah mempercayakan Her Highness Putri Anastasia pada kami, dan terikasih karna sudah meminjamkan Her Highness Putri Anastasia untuk kami. Saya yang rendah ini memohon, tolong ijinkan kami jika sewaktu-waktu kami merindukan Her Highness, kami ingin bertemu, dan tolong ijinkan kami agar bisa bertemu dengannya"
"Tentu saja Bernadeth, keluarga dan teman Anastasia adalah keluarga dan teman kami juga. Atas nama Francia, kami akan selalu menjaga kalian dan tolong, beri tahu kami jika kalian membutuhkan sesuatu. Katakan apa saja yang kalian butuhkan dan perlukan pada kami. Dan..." Ferdinand menjedah, lalu menatap semua teman-teman Anastasia dengan tersenyum tulus. "Terimakasih karna sudah menjaga dan memperhatikan istriku selama ini. Kalian sangat orang-orang yang sangat baik"
Semua kepala di sana langsung menunduk sopan pada Francesca, Ferdinand, dan Anastasia. Mereka semua merasa tidak layak menerima ucapan terimakasih dari seorang Putri dan Pangeran kerajaan besar seperti mereka. Francesca dan Ferdinand yang bisa melihat wajah-wajah segan di sana, langsung saling melirik dan tersenyum dalam hati. Anastasia beruntung karna berada di tengah-tengah orang baik seperti teman-temannya sekarang. Francesca dan Ferdinand berjanji di dalam hati mereka untuk menjaga dengan baik semua teman-teman Anastasia.
Setelah perpisahan mengaharu biru Anastasia, tidak lama setelahnya Solar datang dan mengatakan jika transportasi mereka sudah tiba.
Sekali lagi, Anastasia kembali memeluki singkat para teman-temanya dengan terisak pelan sambil sekali lagi mengatakan perpisahan mereka. Perpisahan yang hanya di pisahkan oleh jarak, bukan karna hati mereka, karna selamanya, para teman-teman Anastasia di sana juga adalah keluarganya.
"Ana...."
Panggilan Ferdinand membuat Anastasia dengan cepat mengusap wajahnya. Sekali lagi, dirinya menatap lekat semua wajah-wajah di sana hingga akhirnya, Anastasia melangkah pergi dengan bibir tersenyum.
Tangannya terulur untuk menerima tangan Ferdinand yang sudah menengadah untuk menyambutnya. Menyambut dirinya yang penuh luka, menerima dirinya yang tidak sempurna
--000--
Di sisi lain, Raja Fredrick yang selalu tampak menunjukkan raut wajah tenang itu, sudah kehilangan raut wajah tenangnya. Rahang Fredrick mengeras, dengan kedua matanya yang sudah mengkilap tajam. Sedangkan Ratu Francia, juga sama. Ratu Francia yang selalu berwajah datar itu sudah tidak bisa lagi memasang wajah datarnya karna, informasi yang baru saja di katakan oleh Lucas dan Keelf, sudah membuat darah mereka berdesir hebat.
Tidak hanya kemarahan, tapi juga ada rasa takut yang sangat jelas bisa di lihat Victoria di wajah Raja Fredrick karna. Victoria pun sama. Dirinya juga sama-sama sedang merasakan amarah dan rasa takut yang sangat mencekam di dalam hati mereka
"Jer"
Jeremmy yang masih tergucang, dengan cepat maju dan menarik nafas dalam. Menarik nafas sangat dalam seolah sedang mencoba untuk meraup segala ketenangannya.
"Iya Your Majesty"
"Kirim surat kesemua parlement Vancia, dan Trancia. Minta mereka menyediakan pasukan yang besar dan kabarkan semua informasi ini kepada mereka"
Kepala Jeremmy langsung mengangguk paham
"Baik Your Majesty"
"Dan juga-" Fredrick menjedah saat merasakan genggaman erat tangan istrinya pada sebelah lengan jubahnya. "Langsung antar kepulangan Francesca, Ferdinand, dan Anastasia ke Yorksire. Jangan biarkan mereka medekati ibukota. Jangan pernah 'sedikitpun' Jer"
Jeremmy menggigit bibirnya dengan kuat sambil mengangguk
"Baik Your Majesty"
"Pergilah"
Setelah mendapatkan perintah, dengan cepat Jeremmy langsung pergi menuju pintu keluar. Saat pintu sudah tertutup, Victoria semakin mengeraskan rahangnya dan berguman tajam
"Aku akan berbicara pada Duke Thomas, aku akan mengurus parlement"
Kepala Fredrick hanya mengangguk singkat, dan dengan cepat segera melepaskan tangan istrinya yang masih menggantung di sebelah lengan jubahnya. Fredrick sedang memberikan perintah tegas agar istrinya segera pergi, secepatnya.
Victoria yang mengerti, tanpa bisa memikirkan apapun lagi langsung melesat menuju pintu keluar.
Saat semua orang yang memiliki perintah sudah pergi, di dalam ruangan itu hanya tertinggal Henry dan Fredrick. Henry terus memejamkan kedua matanya dengan ketakutan yang semakin menggerogoti isi hatinya.
"Hen"
Kedua mata Henry langsung terbuka, dan mulutnya segera menjawab cepat
"Iya Your Majesty"
"Siapkan rapat besar untuk membahas ini. Kau pimpin rapat dan lakukan yang terbaik. Kau mengerti?"
Dengan patuh Henry langsung berdiri dan segera menunduk dalam
"Baik Your Majesty"
Dan setelah Henry juga keluar dari ruangan itu, Fredrick yang berada di dalam ruangan sendirian, langsung melangkah menuju ke depan jendela. Arah pandangnya menatap jauh keluar jendela, sangat jauh sambil menikmati langit cerah musim panas yang indah. Beberapa saat dirinya termenung, hingga bibir Fredrick mencetak senyum getir. Senyum yang penuh dengan ketakutan, senyum yang menyimpan banyak rasa takut, rasa ketakutan yang tidak pernah di rasakan Fredrick selama seumur hidupnya. Dengan arah pandang yang masih terus menatap langit musim panas, bibir Fredrick yang bergetar berucap lirih
"Tuhan... Tolong aku, tolong keluarga dan kerajaanku"
\=\=\=❤❤❤❤
Silahkan jejaknya....