
Setelah selesai mengganti semua perban pasien-pasiennya, Anastasia langsung melangkah menuju ke ruang makan. Di mana siang ini, sesuai permintaan Bernadeth, mereka semua para suster dan perawat barus berkumpul di sana
"An, sebenarnya kenapa kita harus berkumpul hari ini?"
Anastasia hanya tersenyum pada Nora, sambil terus melangkah. Dirinya tidak bisa menjelaskan apapun sekarang.
Saat langkah mereka sudah ada di ruang makan, ternyata di sana mereka sudah berkumpul dengan Bernadeth yang sedang berbicara di depan meja panjang ruang makan.
Anastasia menatap sekitar untuk mencari kursi kosong, dan arah pandangnnya langsung menatap Ferdinand dan Solar yang langsung berdiri dari kursi mereka.
Dengan membalas senyum Ferdinand dengan bibirnya yang juga ikut tersenyum, Anastasia menarik Nora agar mengikutinya.
"Jadi, seperti itulah yang harus kalian lakukan teman-temanku. Dan tolong ingatalah, jika di sini ada pasangan suami istri yang baru bertemu dan sedang berusaha berbaikan"
Ucapan Bernadeth membuat semua kepala langsung menoleh pada Anastasia. Pada Anastasia yang langsung melotot pada Bernadeth.
Bernadeth yang mendapatkan pelototan protes dari Anastasia, hanya terkekeh geli sambil mengangguk sopan pada Ferdinand yang sudah mengacungkan satu jempolnya pada Bernadeth.
"Aku tidak terkejut lagi jika mereka punya hubungan"
Keren berucap sambil mencibik sebal, lalu menatap Nora yang juga langsung berdecak kesal.
"Kau benar Keren, sepertinya kita harus pindah kamar kan?"
Kepala Keren mengangguk dramatis lalu menatap semua orang yang ada di ruangan.
"Siapa yang bersedia menampung kami?"
"Keren, Nora.... tidak perlu seperti itu"
Anastasia yang terus mendengar ucapan teman-teman sekamarnya akhirnya ikut membuka suaranya. Dirinya merasa sangat tidak enak.
"Mana bisa kami tidur di tempat bekas kalian bercin- eemmpp!!"
Ucapan Nora terhenti saat tangan Anastasia dengan cepat langsung menutup mulutnya. Anastasia pikir itu berguna untuk menghentikan laju ucapan Nora, tapi dia salah, karna semua orang di sana sudah terkekeh geli sambil menatapnya dengan mengerling menyebalkan.
Di sela-sela kekehan gelinya, Bernadeth akhirnya kembali bersuara
"Sudah-sudah teman-teman. Jangan menggoda Ana lagi"
"Benar, wajahnya seperti sudah hampir meledak karna malu"
Ucapan Keren yang langsung menimpali ucapan Bernadeth, langsung kembali membuat suara tawa ceria di ruangan itu menggema.
Anastasia yang terus mendapat sindirian, tatapan menggoda, dan sesekali ucapan selamat dari teman-temannya, hanya bisa menggaruki pipinya yang tidak gatal sambil menahan rasa panas di wajahnya.
Melihat Anastasia yang sudah tidak sanggup menaham malu, Ferdinand terkekeh geli. Tangannya langsung terulur, menarik kepala istrinya agar bisa bersembunyi di dada kokohnya. Dan tentu saja, perbuatan Ferdinand langsung kembali membuat suara-suara sindirian dan ejekan dari teman-teman Anastasia kembali memenuhi isi ruangan.
"MEREKA DATANG!!"
Semua kepala di sana langsung menoleh ke arah pintu saat seorang pemuda pengantar makanan langsung berteriak.
Bernadeth dan Solar yang juga bisa sangat mendengar suara panik itu, langsung melangkah mendekati pemuda pengantar pesan
"Berapa banyak?"
Solar bertanya sambil menatap Ferdinand dan Anastasia yang sudah menunjukkan raut wajah serius
"Empat kuda, dan mereka mencari yang memimpin rumah sakit"
Dengan tenang Bernadeth mengangguk paham, dirinya menoleh untuk menatap semua orang yang sudah bungkam, lalu menatap Ferdinand
"Your...." Bernadeth berdehem beberapa kali, lalu memperbaiki ucapannya. "Tuan Ferdinand?"
"Temuilah Bernadeth" Melihat Bernadeth yang sudah mengangguk lalu mulai melangkah mengikuti pemuda pengantar pesan, arah pandang Ferdinand menatap semua orang yang sudah berdiri dari kursi mereka dengan menunjukkan raut wajah yang berbeda-beda. "Bekerja seperti biasa dan jangan melakukan provokasi apapun. Anggap mereka tamu seperti biasa"
Setelah melihat semua kepala mengangguk mengerti, Ferdinand menatap Anastasia. Menatap Anastasia yang sudah memasang wajah datarnya
"Aku akan melakukan peranku"
Anastasia mengangguk sambil tersenyum tipis
"Aku juga Dinand"
Langkah mereka mulai keluar dari pintu dan segera menyebar.
Solar yang masih berdiri di depan pintu melirik Ferdinand yang sudah menatap jauh ke depan, ke arah tenda-tenda
"Bantuan belum juga tiba Your Highness"
"Biarkan saja, kita berikan apa yang mereka inginkan Sol"
Kepala Solar mengangguk paham, lalu mulai bergerak mengikuti langkah Ferdinand.
Saat langkah mereka sudah di tenda-tenda pasien. Di arah masuk ke tenda-tenda sudah terikat empat kuda tangguh tanpa pemilik. Ferdinand dan Solar kembali melangkah untuk mencari keberadaan 'tamu' mereka, hingga yang mereka cari terlihat.
Terlihat sedang bertemu dengan Bernadeth yang tampak menunjukkan raut wajah ramah dan tenang.
Ferdinand dan Solar langsung mengamati di balik sebuah tenda dalam diam dan terlatih.
"Kami memang mempunyai obat bius untuk pasien tuan-tuan"
"Di mana suster?"
Bernadeth kembali tersenyum ramah pada seorang pria bersurai pekat yang tampak mengerikan dan kejam, pria yang sedari tadi selalu membuka suaranya. Tidak seperti dua orang pria lain yang hanya diam sambil memghisap cerutu mereka dan menatap sekitar
"Ada di tempat penyimpanan obat tuan. Kalau boleh saya tahu, apakah di antara anda ada yang terluka?"
Pria bersurai pekat itu mengabaikan pertanyaan Bernadeth, dirinya langsung menoleh pada seorang pria yang terus menghisap cerutunya.
Pria dengan surai coklat keemasaan, dengan gaya berdiri, cara menatap, gerak-gerik, dan bentuk wajah. Jelas menunjukkan jika dia bukanlah orang biasa. Gambaran aristrokat seorang bangsawan sangat kendal terlihat padanya, walaupun dirinya juga terlihat seperti bandit perampok. Ferdinand, Solar, dan Bernadeth sudah bisa menemukan, siapa pemimpin mereka tanpa perlu repot berpikir dan mencari tahu. Terlebih saat pria itu sudah menatap Bernadeth, menatapnya sekilas dengan tatapan biasa tapi penuh dengan hawa ketidak pedulian.
"Kumpulkan saja Benji, jangan bertele-tele"
Pemimpin mereka langsung memberikan perintah, yang juga langsung di angguki pria bersurai hitam itu.
"Ok kapt"
Bernadeth kembali memasang wajahnya pada 'Benji' yang sudah kembali menatapnya dengan dingin
"Berapa banyak gadis dan wanita di sini?"
Pernyaan itu akhirnya membuat Bernadeth cukup terlejut. Dirinya yang tidak mengenal kelompok itu hanya bisa menjawab dengan polos dan jujur
"Di sini ada enam perawat dan enam orang suster lain, tuan"
Pria itu menyeringai, Benji menyeringai sambil melirik 'kampten' mereka, lalu kembali menatap Bernadeth
"Kumpulkan mereka semua di sini, dan bawa semua obat penenang dan obat bius"
Senyum Bernadeth akhirnya luntur, dirinya menatap Benji dengan kegugupan yang mulai menyapannya
"Tuan-"
SRANGG!!
Mulut Bernadeth langsung mengatup, saat sebuah pedang sudah menyentuh lehernya yang tertutup kerah gaunnya. Meski lehernya tertutup kain dengan sempurna, tapi Bernadeth sangat bisa merasakan dengan jelas ketegasan di penekanan pedang untuk lehernya. Hingga Bernadeth harus menarik nafas dalam untuk meraup semua ketenangannya
"Ba-baik tuan-tuan"
Saat pedang Benji sudah kembali masuk ke sarungnya, Bernadeth langsung memberikan anggukan pada pemudah yang tadi, pemuda yang mengantarkan pesan mereka.
Tanpa ingin mengulur waktu, pemuda itu, Lauren, langsung berlarian ke semua tenda-tenda.
Ferdinand yang juga sudah melihat pergerakan itu langsung mengangguk singkat pada Solar. Solar yang sudah mendapatkan perintah, langsung pergi menuju ke arah tenda mereka.
Bermenit-menit mereka menunggu hingga setiap menit yang terlewati, menjadi menit-menit para suster dan perawat berdatangan.
Benji mulai menghitungi dan menatapi semua wajah para wanita dan gadis-gadis yang datang. Tidak hanya Benji, tapi semua 'tamu' itu juga sudah menatapi mereka dengan penilaian penuh.
Anastasia dan seorang suster akhirnya juga ikut datang berkumpul di sana, sambil membawa nampan yang berisi tomples-toples penyimpanan tumbuh-tumbuhan obat
Dan kedatangan Anastasia itu, langsung membuat Ferdinand berdiri dari posisinya, arah pandangnya semakin menatap ke arah mereka dengan penuh siaga.
"Halo para suster dan perawat yang cantik"
Benji berucap, saat hitungannya sudah pas pada angka dua belas. Arah pandangnya terus menilai dengan bibirnya yang terus mencetak senyum seringai menjijikkan.
Para perempuan di sana hanya diam sambil saling melirik dengan hati-hati, hingga suara Benji kembali terdengar
"Perkenalkan, nama saya Benji" Benji menunjuk ke arah satu pria bersurai coklat pekat. "Dia Basco" Jari Benji akhirnya menunjuk satu pria lain di sana, pria yang wajahnya terlihat cukup bagus meskipun tetap menunjukkan tampang menakutkan. "Dan ini kapten kami. Duke Ryes"
Tangan Anastasia merasakan jika suster yang datang bersamanya, mengeratkan tangan mereka. Anastasia melirik ke sebelahnya sambil mengucapkan 'tenanglah suster Teresa' tanpa suara
Suster Teresa hanya bisa mengangguk, dan menuruti gerakan Anastasia yang langsung menyembunyikannya di balik punggung Anastasia.
Anastasia harus menyembunyikan Teresa, karna dia tahu, Teresa pasti akan menjadi target paling menggiurkan untuk 'tamu-tamu' bajingan mereka
Benji dan Basco mulai melangkah mendekati para suster yang sudah berjajar, lalu menuju ke arah Anastasia yang memegang nampan, dengan wajahnya yang tertutupi separuh kain.
"Apa ini obatnya?"
Dengan ragu-ragu, Anastasia mengangguk. Tangannya langsung menyodorkan nampan pada Basco dan Benji.
Basco dan Benji langsung meraih tiga botol yang penuh dengan obat pesanan mereka. Lalu menyimpan apa yang mereka raih ke dalam saku mantel mereka
"Hanya ini?"
"Iya tuan, kami sebenarnya memang sudah hampir kehabisan obat bius dan obat penenang"
Anastasia berucap tenang, meski rasa gugup dan jijik sudah memenuhi perasaannya.
Kepala Anastasia langsung bergerak mundur, saat tiba-tiba tangan Basco menarik penutup wajahnya. Tapi tercuma, karna sekarang wajah Anastasia sudah terbuka seluruhanya
"Wow! Dia cantik sekali!"
Sorakan Basco membuat Benji memutar bola matanya dengan malas.
"Jangan sembarangan Basco"
"Aku hanya bilang jika dia sangat cantik Ben" Kepala Basco menoleh saat di belakang mereka, langkah seseorang mendekat. "Kapt?"
Ryes yang juga ikut melihat apa yang di peributkan pada anak buahnya, langsung mendekat pada Anastasia.
Semua orang di sana langsung menahan nafas mereka. Saat tangan Ryes, dengan cepat terulur untuk meraih dagu Anastasia. Kepala Ryes mendekat, bola mata sebiru lautannya menatap bola mata sebiru langsit Anastasia. Bibirnya terbuka dan akhhirnya bersuara
"Apa kau masih perawan?"
Dengan tenang, dan membalas tatapan penuh penilaian Ryes dengan tatapan penuh ketegasan. Mulut Anastasia menjawab tanpa keraguan
"Saya sudah pernah menikah dan sudah memiliki anak"
"Aahh begitu"
Aroma tembakau dan mint yang keluar dari nafas Ryes membuat Anastasia bergindik. Rasa merinding yang bukan di sebabkan karna rasa jijik atau terganggu. Karna Ryes Alexander Hansting, memang cukup mengejutkan untuknya.
Pesona pria berhaya dan kejamnya sangat kuat tapi, hal itu malah semakin membuat Ryes terlihat sangat di minati untuk mata para perempuan normal. Seperti yang sering Anastasia dengar dari desas desus yang beredar, jika Duke Hasting, memang memiliki pesonannya sendiri.
Jawaban jujur Anastasia membuat tangan Ryes langsung melepaskan dagu Anastasia. Arah pandangnya kembali menatap sekitar, lebih tepatnya pada para suster-suster muda di sana, suster-suster yang pasti sesuai dengan kriteria pilihannya, perawan. Hingga mata Ryes menangkap sesosok gadis yang berdiri di belakang Anastasia. Senyum bajingannya terbit dan dengan sedikit kuat, tangannya langsung menggeser tubuh Anastasia ke samping, yang membuat Ryes bisa melihat dengan jelas suster Teresa
Teresa yang hanya bisa memejamkan matanya dengan pasrah dan penuh doa.
"Kemarilah suster"
Basco dan Benji yang juga akhirnya bisa melihat Teresa langsung ikut menyeringai menjijikkan. Teresa yang sudah paham jika ucapan itu tertuju untukknya, langsung membuka kedua matanya dan menoleh.
Dan benar saja. Wajah lembut dan sangat cantik Teresa langsung membuat Basco dan Benji terkekeh bajingan.
"Kapt, para perempuan di sini ternyata sangat spesial"
Ucapan Benji membuat kedua tangan Anastasia terkepal sambil menatap Teresa.
"Jangan sampai kami mengulai ucapan lagi suster, kemarilah"
Dengan doa di dalam hatinya, Teresa akhirnya langsung melangkah mendekat pada Ryes saat Basco sudah memperingatinya.
Dengan raut wajah yang sudah kembali datar, Ryes menatap lekat kedua bola mata hazel Teresa. Kedua bola mata tenang dan lembut yang sangat membuatnya ikut merasa tenang dan terpesona.
"Berapa umur anda suster?"
Pertanyaan Ryes langsung di jawab Teresa dengan tenang
"Dua puluh dua tahun tuan"
Kepala Ryes mengangguk puas, lalu kembali menatap sekitar.
"Sediakan kamar untuk kami"
Bernadeth yang terus menahan diri, akhirnya dengan terpaksa kembali memberik anggukan pasrah pada Lauren. Lauren yang mengerti langsung kembali pergi dari sana menuju bangunan kecil tempat kamar-kamar
"Kapt, apa kami sudah bisa memilih?"
Pertanyaan Benji langsung membuat kepala Ryes mengangguk singkat, sambil berucap datar
"Jangan ganggu seorang ibu"
Jawaban dan peringatan Ryes, langsung membuat Basco menarik Nora, dan Benji menarik Keren. Pekikan dan penolakan Nora dan Keren mulai membuat keadaan sekitar tidak terkontrol. Hingga Benji harus melayangkan tangannya pada wajah Keren, dan Basco menarik pedangnya yang langsung menempel pada leher Nora. Arah pandang Basco dan Benji langsung menatap penuh peringatan pada kumpulan para perawat dan suster-suster yang masih mencoba untuk menolong teman mereka tapi,
"Ribut dan beranilah bergerak, maka teman kalian akan langsung di jemput maut"
Ucapan tajam Basco langsung membuat keadaan ramai di sana mulai tenang, dan tergantikan dengan suara isakan para teman-teman perawat dan suster yang pasrah dan tidak rela
Ryes yang juga bisa melihat keadaan yang mulai terkontrol, kembali menatp Teresa. Menatap Teresa dengan datar tapi juga penuh minat.
"Suster, aku berutahu sesuatu" Kepala Teresa terangkat, arah pandangnya yang lembut dan tenang menatap Ryes dengan tatapan kasihan. Ryes yang melihat tatapan itu cukup terganggu, hingga alisnya mengerut. "Kau harus mengikuti semua keinginanku, jika tidak ingin semua nyawa di sini mati"
Dengan tenang, Teresa terus menatap Ryes. Hingga bibirnya kembali terbuka dan bersuara lembut.
"Apakah yang anda inginkan dari pelayan Tuhan Seperti saya tuan?"
Dengan acuh, Ryes mengedipkan kedua bahunya, lalu menatap sekitar dan bersuara
"Melayani dan memuaskan kami, termasuk di atas ranjang"
Dan ucapan bajingan Ryes itu, langsung membuat semua orang tersentak. Termasuk Anastasia yang langsung menjatuhkan nampannya
\=\=\=💚💚💚💚
Silahlan jejaknyaa....