Marrying The Prince

Marrying The Prince
43


Ferdinand membuka pintu kamar penghubung mereka sambil memijat pelipisnya yang kembali berdenyut. Saat pintu terbuka, Ruth ternyata masih di sana.


"Yo-"


Ucapan Ruth langsung terhenti saat Ferdinand langsung menempelkan telunjukkan ke bibir, lalu memberikan perintah dengan tatapannya agar Ruth keluar.


Ruth yang paham langsung mengangguk patuh dan segera menuju ke pintu keluar kamar.


Setelah pintu keluar tertutup, Ferdinand yang masih berdiri di depan pintu penghubung mulai melangkah untuk mendekat pada ranjang Anastasia. Ke pinggir ranjang tempat Anstasia tertidur.


Tubuhnya tampak kecil karna tenggelam di dalam selimut tebal. Pemandangan itu membuat Ferdinand tersenyum gemas dan semakin melangkah menuju ke samping ranjang. Dengan sangat pelan, Ferdinand mendaratkan bokongnya di kursi tempat Ruh duduk tadi.


Tadi, saat di meja makan dan Anastasia yang tiba-tiba ketakutan lalu menangis hingga tertidur, Ferdinand sendiri yang membawanya langsung ke kamar. Membaringkannya lalu meminta Ruth untuk menemaninnya.


Ferdinand kembali tersenyum saat menatap wajah tertidur Anastasia.


Cantik, Anatasia sangat cantik bahkan saat dia tertidur. Rasanya sangat gemas ingin menyentuh dan menjamah wajah tenang dan lembut itu.


Kenapa? kenapa bisa mereka memperlakukan Anastasia sekejam itu? Memang apa yang di lakukan gadis ini hingga dia berhak mendapatkan semua kekejaman itu?


"Katakan, di mana yang sakit Ana?"


Tanpa sadar Ferdinand berguman lemah dan lirih, sangat pelan hingga menyerupai bisikan. Tangannya juga tanpa sadar terulur menyentuh dahi Anastasia yang tertumpuk rambut.


Lembut, halus, dan menyenangkan. Menyentuh wajah Anastasia sangat menyenangkan hingga membuat usapan Ferdinand turun untuk menyentuh hidung, tulang rahang, dagu, lalu bibir.


Bibir, bibir manis yang di cecapnya saat pernikahan. Bibir manis yang sangat cantik ketika di tatap terlebih ketika di pangut. Bayangan tentang rasa bibir Anastasia membuat ibu jari Ferdinand terus mengusap bibir ranum itu. Dengan sangat hati-hati, Ferdinand membelai tekstur dan bentuk bibir cantik yang sekarang sangat menggodanya.


Ferdinand menggigit bibirnya saat Anastasia menggerakan bibirnya, tangannya terangkat dan melayang di atas wajah Anatasia saat kepala Anastasia sedikit bergerak. Tapi tangan itu kembali lagi saat Anastasia sudah kembali tenang.


Kembali, jemari Ferdinand membelai pipi Anatasia. Rasa kulit Anastasia yang di rasakan indra perabannya sungguh membuat Ferdinand ingin terus menyentuhnya.


Entah berapa menit Ferdinand habis kan untuk menatap dan menyentuh wajah Anatasia hingga akhirnya dia tersadar. Dengan pelan, Ferdinand menarik tangannya, lalu bokongnya.


"Mimpi indah, Ana"


Setelah ucapan selamat malamnya, Ferdinand menaikkan bibirnya dari telinga ke dahi Anastasia. Mendaratkan satu ciuman lembut di pelipis, lalu benar-benar menegakkan kakinya untuk kembali ke kamarnya.


--000--


Sarapan di pagi hari pertama mereka kali ini di penuhi dengan pergerakan tangan dan pergerakan mulut yang penuh pemikiran. Anastasia sibuk dengan pemikirannya dan Ferdinand sibuk dengan pemikirannya. Hingga akhirnya, mereka selesai makan dan Anastasia memulai percakapan.


"Maaf, semalam aku kembali duluan karna sedikit sakit kepala"


Dengan santai Ferdinand mengangguk sambil tersenyum.


"Tidak masalah, kau mungkin kelelahan Ana"


Ferdinand menjawab santai dan seolah memang sudah tahu. Sudah tahu dengan apa yang akan di bicarakan Anastasia karna dialah yang memang meminta Ruth untuk menyembunyikan apa yang terjadi pada Anstasia semalam.


Ruth sudah menceritakan pada Ferdinand jika dirinya juga pernah mendapati Anastasia yang seperti itu, dan esok harinya, Anastasia akan melupakan semua, karna itu Ferdinand akan mengikuti kemauan Anastasia. Kemauan Anatasia yang ingin menyembunyikan masalah ketakutannya.


Sambil menatap ke jendela yang menunjukkan langit pagi musim semi yang cerah, Ferdinand tersenyum dan mengalihkan pandangnya pada Anastasia.


"Ingin jalan-jalan?"


Tawaran Ferdinand membuat Anastasia menatapnya dengan bingung


"Bukankah kau harus ke camp kesatria?"


Sambil menegakkan bokongnya dari kursi, tanpa basa basi Ferdinand langsung meminta tangan Anastasia.


"Aku baru menikah dan tidak bisa langsung bekerja Ana"


Tangan yang sudah meminta dan ucapan Ferdinand membuat Anastasia tersenyum sambil memberikan tangannya. Kedua mata sebiru langit cerahnya berbinar senang.


"Terimakasih"


Sambil membawa tangan Anastasia, Ferdinand kembali tersenyum tampan.


"Ada yang ingin ku tunjukkan padamu"


Kepala Anastasia mengangguk sambil membiarkan Ferdinand membawa langkah mereka.


"Apa?"


"Sesuatu yang tidak terlalu spesial, tapi ku harap cukup cantik dan...." Ferdinand menjedah untuk menoleh pada Anastasia yang sudah menatapnya dengan tersenyum lebar. "Ku harap kau menyukainya"


Mereka berjalan menuju ke taman belakang castle, sesekali Ferdinand membuka obrolan dan sesekali Anastasia ikut membuka obrolan, hingga pemandangan cantik di depannya menghentikan langkah Anastasia.



"Kebun bunga?"


Binar bahagia, kedua mata berkaca-kaca, dengan rona pipi yang tertepa cahaya pagi hari membuat Anastasia sangat mempesona.


Anastasia masih terus menikmati pemandangan di depannya hingga tidak menyadari tangan Ferdinand yang sudah terulur untuk menyelipkan rambutnya yang berterbangan.


Anastasia membeku saat jemari Ferdinand menyentuh telinganya, menyelipkan helaian rambutnya yang terterpa angin. Dengan jantung yang menjadi berdegup cepat, Anastasia memberanikan diri untuk menoleh, untuk menatap kedua bola mata sehijau daun mempesona Ferdinand. Saat arah pandang mereka bertemu, jemari Ferdinand bergerak mengusap pipi Anastasia.


"Cantik"


Dengan degupan jantung yang semakin menggila, Anastasia mengangguk singkat


"Iya, kebun ini cantik Ferdinand"


Ferdinand menggigit pipi dalamnya, karna sebenarnya apa yang dia ucapkan bukan untuk kebun itu. Ucapan spontan itu untuk menggambarkan apa yang di tatapnya sekarang, Anastasia yang cantik.


"Ingin masuk ke sana?"


"Iya"


Akhirnya Ferdinand menurunkan tangannya dari wajah Anastasia dan kembali menuntun langkah mereka. Ferdinand langsung membawa Anastasia untuk masuk ke dalam kebun bunga



"Woah... ini sangat indah Ferdinand"


Sekarang, Ferdinand kembali menikmati binar bahagia wajah Anastasia. Dan dia sangat menyukainya, binar bahagia dan raut wajah tepukau Anastasia. Padahal ini hanya kebun bunga.


"Sebenarnya aku ingin menunjukkan ini kemarin, tapi seperti yang kau tahu, aku malah tertidur hingga sore hari dan ku rasa bukan ide yang bagus untuk melihat ini di sore hari yang mulai gelap"


Dengan arah pandang yang mulai buram dan terus menatap sekeliling yang penuh dengan bunga, Anastasia berucap lirih yang keluar dari seluruh perasaan hatinya.


"Terimakasih Ferdinand"


"Ini hanya hal kecil Ana"


Anastasia menggeleng kuat


"Ini hal kecil terindah yang pernah ku dapatkan"


Ferdinand tersenyum sendu. Bahkan hanya karna sebuah kebun bunga yang dia buat dengan memerintahkan orang secara asal, Anastasia sudah hampir menangis haru.


"Ayo kita telusuri"


Dengan Antusias, Anastasia mengangguk kuat dan melangkah penuh semangat. Ferdinand merasakan itu, semangat dalam gerak gerik Anastasia, dan sekali lagi dia sangat menyukai gerakan girang itu.


Hingga saat di pertengahan goa bunga, Anastasia menghentikan langkahnya. Ferdinand ikut menghentikan langkahnya untuk menatap Anastasia.


"Kenapa?"


Kepala Anastasia menoleh ke samping, untuk membalas tatap penuh pertanyaan Ferdinand


"Ferdinand, aku ingat percakapan terakhir kita sebelum aku kembali ke kamar semalam. Soal itu-"


"Jangan di pikirkan An, aku mengingat jawaban mu dan aku juga setuju dengan itu"


"Setuju?"


Dengan tanpa keraguan Ferdinand mengangguk, tubuhnya bergerak sambil menarik kedua bahu Anastasia, untuk membuat posisi mereka menjadi berhadapan.


"Dengar Ana" Pandangan Ferdinand berubah serius sambil menatap Anastasia yang terlihat gugup untuk menunggu ucapannya. "Aku memang bukan pria baik, tapi aku berjanji akan mencoba untuk belajar menjadi suami yang baik untukmu"


Setelah Ferdinand berucap, keheningan menyelimuti mereka. Anastasia mencoba mencari-cari maksut di dalam perkataan Ferdinand, dan Ferdinand dengan tanpa keraguan menunggu jawaban Anastasia. Hingga hembusan nafas Anastasia terdengar


"Apa kau mengerti arti dari 'suami yang baik' Ferdinand?"


Ferdinand mengangguk singkat, arah pandangnya menatap Anastasia dengan lekat dan penuh tekat.


"Aku tahu Ana, karna itu aku butuh bantuanmu, tolong bantu aku. Kau mengerti kan dengan maksutku?"


Cinta.... Anastasia butuh itu untuk menolong Ferdinand agar bisa menjadi suami yang baik, agar dirinya mau terus menjaga pernikahan suci mereka, agar Ferdinand....... bisa melupakan kekasihnya.


Tapi.... Apa Anastasia bisa?


Apa Ferdinand benar-benar sudah berniat untuk melupakan kekasihnya? Apa dia salah dalam memaknai maksut Ferdinand?


Anastasia kembali membuang nafas panjang.


"Maaf Ferdinand, tapi aku tidak terlalu mengerti 'maksut' yang kau maksut"


\=\=\=💚💚💚💚


Silahkan jejaknya.....