
Pakaian yang disiapkan oleh Kerajaan Vlada untuk Jane tak seburuk perkiraannya. Pelayan telah menyediakan dress pendek berbahan tebal namun halus yang digantung di depan pintu lemari pakaian. Dress itu bermotif polos dan berwarna coklat muda. Telah disediakan juga sepatu hak pendek berwarna senada dengan dress itu di lantai. Dua-duanya terlihat masih baru.
Jane mengenakan dress itu dan langsung menyukainya. Sepatunya pun pas sekali di kakinya. Seketika, dia merasa seperti Cinderella yang berputar-putar di depan cermin.
Kemudian, dia berlari dan melompat ke atas ranjang besar tempatnya akan tidur malam ini. Menyenangkan sekali jika tak ada yang membebani pikiran. Yang dia inginkan saat ini hanyalah bersantai. Wanita itu pun memejamkan mata, mencoba menikmati tinggal di istana megah nan indah.
🏰🏰🏰🏰🏰
Ketukan pintu melonjakkan pundak Jane yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dia membukakan pintu. Sudah ada pelayan yang mengajaknya turun untuk makan siang. Merasa tenaganya telah pulih, Jane mengikuti pelayan itu menuruni anak tangga dan masuk ke ruang makan.
Lukisan buah-buahan serta pemandangan terpampang di dindingnya. Lemari piring berukuran besar turut menghiasi ruangan tersebut.
Di ujung meja makan panjang untuk 10 orang, sudah menunggu Phillip yang buru-buru berdiri begitu melihat Jane. "Maukah kau menemaniku makan siang?" tanyanya sopan.
"Absolutely," jawab Jane, terpesona oleh tampilan hidangan yang tersedia. Ayam panggang, salad kalkun, kentang tumbuk, dan buah-buahan.
"Please take a seat," Phillip menunjuk kursi di sebelah kanannya. "Kau terlihat cantik," pujinya.
Jane merasa gugup dipuji seperti itu meski tahu Phillip hanya berbasa-basi. Dia mengambil tempat di sebelah pria itu.
Phillip baru duduk setelah Jane. Pria sopan itu mengulurkan sebelah tangannya. "Kita berdoa dulu," ajaknya.
"Oh... Ya, tentu saja," Jane mengambil tangan Phillip. Dia tidak pernah berdoa sebelum makan. Bahkan, dia hanya ke Gereja pada saat Natal dan Paskah. Dia malu sekali.
"Kami bersyukur atas makanan yang dihidangkan di meja ini, Tuhan. Berkatilah orang-orang yang telah menyediakannya, juga berkati makanan ini agar dapat menjadi sumber kekuatan bagi kami. Amin."
"Amin," sahut Jane.
"Shall we?"
Jane mengangguk. Dia mengambil makanan secukupnya ke atas piring makannya, tidak ingin berlebihan karena dia sadar tidak sedang berada di rumahnya sendiri. Biasanya dia sanggup menghabiskan setengah ekor ayam panggang beserta semangkuk kentang tumbuk. Kali ini, dia tidak berani melakukannya.
"Kau tidak mengambil salad?" tanya Phillip.
"Sebenarnya bentuknya menarik, tapi aku tidak begitu suka sayuran," aku Jane.
"Kau harus makan sayur, Jane."
"Aku tahu, tapi aku tidak doyan," Jane mengangkat bahu.
"Pantas saja kau kurus."
"Hey!" protes Jane. "Bukankah para pria lebih suka wanita kurus?"
"Tidak juga," kata Phillip sambil mengunyah ayam. "Aku tentu menginginkan istriku bertubuh seksi, tapi bukan kurus." Dia tertawa.
"Kalau aku seksi, apa kau akan tertarik? Ah..." Jane menutup mulut. Dia sungguh ingin menarik kembali kata-katanya karena kalimat spontan itu terkesan seperti godaan. Sekarang dia mengutuk dirinya sendiri. "Maaf, aku tidak bermaksud..."
"Tentu," potong Phillip. Pria itu tersenyum.
Tentu? Tentu apa? Tentu Jane dimaafkan atau tentu Phillip akan tertarik? Jawaban yang membingungkan. Jane ingin tahu kelanjutannya, tapi tidak mungkin dia bertanya. "Kalau boleh tahu, apa saja kegiatanmu?" tanyanya mengganti topik.
"Setiap pagi aku membaca dan menjawab surat dari publik yang ditujukkan kepada kerajaan. Lalu, biasanya aku mewakili keluarga kerajaan untuk bertemu dengan para petinggi luar negeri," jawab Phillip.
"Berarti waktu aku baru tiba di sini, kau sedang menjawab surat-surat itu di ruang kerjamu?"
"Ya."
"Kalau kau begitu sibuk, lalu apa kegiatan ayah dan ibumu?"
"Kami tak hanya berteman dan bekerja sama dengan beberapa negara, tapi banyak sekali. Kami selalu membagi tugas yang akan dijadwalkan setiap minggunya. Carrie, wanita yang mengantarmu ke sini, dialah yang mengatur jadwalku dan memastikan segalanya berjalan lancar. Masing-masing dari kami memiliki orang seperti dia."
"Setelah ini, kau mau ke mana?"
Phillip menggelengkan kepala. "Beruntung Perdana Menteri Inggris menunda pertemuan kami, sehingga aku bisa menemanimu di sini," katanya.
Jane tersenyum. "Bagaimana dengan Tom?" Mau tak mau dia bertanya karena ada rasa ingin tahu. Mengingat Thomas tidak berperilaku layaknya seorang pangeran pada pesta Jill, mabuk di toilet wanita, Jane pikir Thomas kurang kegiatan.
"Seperti yang sudah kubilang, Tom sibuk dengan kegiatan kemanusiaan. Dia mengunjungi para pengungsi perang juga rumah sakit anak. Dia bahkan menyumbangkan seluruh pendapatannya bagi korban bencana di berbagai negara."
"Prince Thomas Geller has arrived!" seru penjaga pintu istana dari luar.
"Jane Watson," panggil seorang pria yang baru memasuki ruang makan.
Phillip dan Jane segera menoleh ke sumber suara. Mereka menemukan pria tampan yang sedang dibicarakan.
"Bergosip tentangku?" tanya Thomas. Pria itu mengenakan setelan jas, lengkap dengan kemeja dan dasi. Dia menghampiri kedua orang itu di meja makan. "Ini tampak lezat," katanya sambil melirik potongan ayam panggang, mengambilnya, lalu memakannya.
"Tom, kau sudah kembali," kata Phillip.
"Yes, brother. Apa kabar, Jane?" Thomas menatap Jane.
Jane berdiri, ingin bersalaman dengan Thomas. Hal itu memancing Phillip untuk ikut berdiri. "Baik. Kau sendiri?" balasnya.
"Lady Grace has arrived!" seru penjaga pintu istana, lagi.
"Oh, great!" umpat Thomas.
"Jane," panggil Grace. Wanita paruh baya itu nampak rapi dengan blouse kerja, dipadukan dengan blazer dan rok selututnya. Senyumnya ramah dan keibuan.
"Lady Grace," Jane menekuk lutut dan membungkuk untuk memberi hormat. "So nice to see you again."
"You too. Bagaimana kabarmu, dear?"
"Kabarku baik, My Lady."
"Phillip," sapa Grace.
"Aunt Grace. Apa yang membawamu kemari?" tanya Phillip.
"Tentu saja Jane."
"Aku?" Jane tidak mengerti.
"Aku telah membatalkan rapatku siang ini hanya untuk menemui kalian. Apakah ada yang dapat menjelaskan kenapa Jane bisa berada di sini?" Grace menatap Jane, Phillip, dan Thomas bergantian.
"Oh, Aunt Grace, ini gara-gara aku," jawab Phillip sejujurnya. "Akulah yang membawanya ke sini."
"Bisakah kau ceritakan lebih detail?"
"Aku meminta Carrie mengurus penjemputan Jane dari New York sampai tiba di sini pagi tadi. Tenang saja, Aunt Grace, Jane sudah mandi dan makan siang bersamaku."
"Bukan itu yang kucemaskan, melainkan..." Tatapan Grace beralih ke putranya. "Thomas Geller," katanya.
Thomas tidak suka bila ibunya memanggilnya dengan nama lengkap. Itu artinya dirinya akan dimarahi. "What, Mother?"
"Kenapa bukan kau yang membawa Jane ke sini?"
"Kenapa harus aku?" Thomas balas bertanya.
"Karena kau adalah calon tunangannya."
"Tunggu..." Jane mencoba menjelaskan.
"Aku sudah menolaknya," potong Thomas.
"Ya, waktu itu..."
"Kau harus berpikir ulang, Tom," debat Grace.
"Aunt Grace, kurasa..." Phillip ikut menengahi.
"Shut it, Phillip!" cegah Thomas. "Mother, aku tidak mau memikirkan hal itu sekarang."
"Lalu, bagaimana dengan Jane? Dia sudah jauh-jauh datang ke sini," tanya Grace.
"Aku tidak..." Jane kembali mencoba menjawab.
"Phillip yang menculiknya. Dia bisa berbuat apa saja dengannya," jawab Thomas tidak peduli.
"Thomas!" pekik Grace seraya memelototi putranya. Dia melangkah ke hadapan Thomas. "Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kau yang harus bertanggung jawab!"
Thomas menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak mau membahas ini, Mother, setidaknya bukan sekarang," katanya tenang.
"Lady Grace, I'm so sorry," ucap Jane. Dia berhasil menurunkan tensi Grace yang berbalik menatapnya. "Kalau menjadi rumit seperti ini, aku akan pulang besok."
"No, dear. Kamilah yang harus meminta maaf padamu," Grace meletakkan tangannya di pipi Jane, mengagumi kecantikan wanita berambut ginger itu. "Tinggallah di istanaku, Jane," pintanya.
"Yang benar saja!" protes Thomas.
"Tidak ada bantahan lagi, Tom. Kau harus menuruti perkataanku!" tegas Grace. Sorot tajam matanya terasa menusuk.
"Kalau boleh aku berbicara, Aunt Grace...," sergah Phillip. "Jane stays here."
"Ya! Dukung aku, Phillip," pinta Thomas. "Please."
Phillip melirik Thomas. "Aku membawa Jane Watson ke istanaku bukan tanpa tujuan. Ketika mendengar soal perjodohan antara Tom dan Jane, aku merasa harus bertemu dengannya. Namun, setelah mereka saling menolak satu sama lain, kini aku tertarik mengajukan diri untuk menjadi tunangan Jane," Phillip tersenyum percaya diri.
"What?" Sekarang Jane yang melotot.
😱😱😱😱😱
**bersambung ke chapter selanjutnya!
minta vote dan comment yah.. semoga kalian suka guys... 😁**