
Ruangan luas dan mewah itu, masih terlihat hening.
Saat sosok wanita cantik dan seksi memasuki ruangan big boss, di perusahaan Kato group.
Arthur dan Jhonatan masih saling berdekatan, yang terlihat seperti, sepasang kekasih yang saling berpelukan. Jangan lupa tangan Jhonatan yang masih menggantung di udara pas di depan area terlarang Arthur.
Wanita itu masih dengan wajah shock dan mulut menganga melihat pemandangan yang menurutnya begitu mengelikan. Dua pria tampan saling melakukan adengan mesum.
"M-maaf menganggu kesenangan anda, tuan-tuan." Lirih wanita itu dengan nada gugup. Dengan segera, wanita yang bernama Cleopatra, sekestaris baru buat Arthur itu meninggalkan dua pria yang masih saling membeku di tempatnya.
1 detik masih sunyi. 2 detik masih hening dan 5 later kemudian.
"JHONATAN SIALAN.!!! Teriak Arthur dan mendorong kuat, asisten kurang di hajar itu kebelakang.
"Shi*t! Umpat Jhonatan saat bokong indahnya mendarat sempurna di atas marmer.
"Apa yang kau lakukan." Gerutu Jhonatan, bangkit dan merapikan kacamata beningnya.
"Menjauhkan mu dariku."
"Kau begitu menjijikkan." Sinis Arthur.
"Lihatlah, wanita itu wajahnya berubah pucat."
"Menjauhlah bedebah." Sentak Arthur kembali, saat Natan mulai mendekat lagi padanya."
"Cih! Aku tidak mungkin berubah haluan. Aku tetap tim pecinta keindahan gua ajaib." Sahut Natan dengan wajah minta di tabok.
"Cepatlah, jadwal ku mana.?!
"Sabar. Ini semua salah mu,"
"Cleopatra. Kemarilah."
"Aku tidak ingin dia disini."
"Kenapa.?"
"Aku, tidak membutuhkan sekestaris, wanita. Apalagi model seperti wanita tadi."
"Ayolah, dude. Anggap saja kau cuci mata setiap hari."
"Ck! Aku tidak butuh."
"Jadi, apa yang kau butuhkan.?"
"Susu."
"Susu? Pria tampan berkacamata itu membeo.
"Hum, lupakan." Sela Arthur gugup.
Pria yang tidak perjaka ting-ting itu lagi, menggapai gawaiannya yang ada di saku celana kain yang ia kenakan.
Arthur mengerakkan jari-jari panjangnya di atas benda pipih yang berada di tangannya.
Ia lalu menempelkan benda pipih itu, saat mendapatkan nomor yang akan membuat imun dan moodnya kembali stabil.
Arthur tersenyum untuk mengusir kegugupan yang melandanya, saat terdengar suara deringan di seberang sana.
Tingkah asing pria itu, tidak luput dari empat mata dari sang asisten. Mata birunya dan juga mata kacanya. Dia memicingkan manik birunya di balik mata kaca yang ia kenakan. Ia merasa ada yang salah dari raut malu-malu minta di keplek dari big boss-nya itu.
"Mencurigakan." Gumam pria tampan itu, sambil meletakkan jari telunjuk dan mama jarinya di dagu lancip nan terbelah yang ditumbuhi tunas-tunas halus.
"Ini, aku okusan." Seru Arthur saat mendengar sapa seorang wanita di seberang sana.
"Okusan.? Cicit Natan.
"Sejak kapan pria ini memiliki, okusan.?" Gumam Natan.
"Bay, okusan."
"Tut."
Arthur menjauhkan ponselnya dari telinga saat obralan dengan istrinya selesai. Arthur menatap potret sang istri dalam keadaan tertidur. Ia mengusap benda pipih itu dengan senyum manis tercetak dari bibir tipisnya.
Arthur tidak menyadari sosok menjulang yang ada di belakangnya. Natan diam-diam mendekati big boss-nya itu yang sedang tersenyum kasmaran. Ia menatap lekat foto yang ada di ponsel bos-nya dengan wajah penasaran.
"Sejak kapan kau memiliki, okusan.?" Bisik Natan, yang membuat Arthur terloncat kaget dan terhuyung kebelakang saat Arthur tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Akibatnya Arthur jatuh menimpa tubuh kekar Natan yang juga ikut terjatuh.
Jadilah, posisi mereka sekarang saling menindih, kalau diliat dari jauh seakan mereka bercumbu. Yang lagi-lagi di saksikan oleh sekestaris baru Arthur, yang kembali melihat adengan mengelikan. Tapi baginya kali ini sangat ekstrim. Dengan wajah pucat karena rasa mual yang tiba-tiba menyerang wanita seksi ini.
Diapun meninggalkan ruangan Bos-nya, dengan perut yang tiba-tiba mual.
"Apa, mereka sengaja memperlihatkan perbuatan menjijikan ini." Gurutu Cleopatra, yang berlari keluar dari ruangan Arthur. Dan bertepatan juga seorang gadis manis dan imut ingin memasuki ruangan sang bos.
"Apa, Arthur ada di dalam.?" Tanya Calista sombong.
Cleopatra tidak menghiraukan Calista, dia segera berlari kearah toilet.
"Ada apa dengannya.?" Cibir Calista.
Iapun memasuki ruangan Arthur, dengan memasang wajah menyedihkan.
"Hon, …." Sapaan Calista terjeda saat menyaksikan adengan tindih-menindih yang dilakukan oleh Arthur dan Natan.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN.!" Pekik Calista.
Arthur dan dan Natan menengok ke arah pintu. Mereka melihat wajah merah Calista di sana.
Arthur dan Natan saling berpandangan, dan detik berikutnya mereka saling mendorong.
"Dasar Natan, sialan." Maki Arthur.
"Kau yang menimpa ku, brengsek." Maki Natan tak mau kalah.
Mereka berdua sama-sama bangkit dan merapikan penampilan mereka masing-masing.
*
*
*
Kim yang sudah bersiap dengan tampilan yang begitu memukau, dirinya bagaikan seorang remaja berumur 24 tahun, dengan pakaian casual yang nyaman, tapi tidak meninggalkan kesan elegan dan seksi.
Kaki panjang indahnya di biar terbuka hingga batas diatas paha di gabungkan dengan kemeja berwarna hitam yang dua anak kancing di biarkan terbuka.
Penampilan Kim di sempurnakan oleh sepasang sepatu Kets putih dan sebuah tas selempang kecil mungil.
"Perfect." Puji-nya sendiri.
Kim berjalan kearah pintu dan keluar dari kamar menuju lantai bawah.
"Kau, akan pergi.?" Suara sapaan yang sangat ia kenali menghentikan langkahnya.
"Kemana.?" Tanya Jenny penasaran.
"Ke perusahaan." Sahut Kim pendek.
"Kato group." Sahut Kim Kembali.
"Ada apa.?"
"Tidak. Aku hanya ingin menemui, suamiku."
"Cih!
"Terserah."
"Aku pergi, katakan pada mommy aku keluar."
"Dah."
"Cih, dasar bucin."
Kimberly memasuki mobil yang sudah siap di depan Mansion. Seorang sopir sudah menunggunya sejak tadi, yang diperintahkan oleh tuan muda Arthur untuk menjemput istrinya itu.
"Terimakasih, paman." Ucapnya ramah.
"Sama-sama, nona muda." Balas sang sopir tak kalah ramahnya.
"Kita, langsung ke Kato group, paman." Perintah, Kim.
"Baik nona, muda."
Mobil Bugatti merah itupun meninggalkan kawasan Mansion elit milik keluarga Kato. Bugatti Veyron itu ikut mebelah jalanan ramai akan para pejalan kaki di kota yang terkenal kota metropolitan.
Kim memandangi setiap jalanan kota Los Angeles dengan binar kagum.
Tidak butuh waktu lama, Kim sudah berada di basement perusahaan suaminya. Dengan sigap salah satu keamanan di perusahaan itu membuka pintu mobil yang sangat ia kenali.
"Selamat siang, nona." Sapa seorang wanita yang memiliki tubuh tambun.
"Selamat siang juga, nyonya." Balas Kim ramah.
"OH Tuhan, istri tuan muda, Kato begitu cantik sekali." Puji wanita itu dengan pandangan kagum.
"Saya di tugaskan untuk menunggu dan mengantar anda untuk menemui, tuan muda Kato, nona." Ujar wanita tambun itu.
"Siapa nama anda.?" Tanya kim ramah.
"E-elisa nona." Jawab wanita itu gugup.
"Baiklah, nyonya Elisa. Antarkan aku menemui suamiku." Pinta Kim.
"Silakan nona, ikuti saya." Sahut Elisa.
Kimberly dan nyonya Elisa pun, berjalan kearah lobby perusahaan, Kato group.
Semua mata menatap kagum pada sosok Kimberly, yang begitu cantik dan memukau.
Kim membalas senyuman para karyawan yang berpasan dengannya. Kim memperhatikan sekeliling lobby itu dengan mata jelinya.
Maniknya bertabrakan dengan manik seorang wanita yang menatap sinis. Kim tak menghiraukannya, ia terus melangkah dan memasuki lobby khusus yang akan mengantarkannya ke ruangan Arthur suaminya.
*
*
*
"Kenapa kau disini.?! Arthur yang kini duduk kembali di atas kursinya dengan gaya khasnya.
"Apa maksud kamu, honey.?" Sahut Calista, dengan wajah memelas.
"Pergilah.!" Perintah Arthur dingin.
"Honey, aku minta maaf soal kemarin." Rengek Calista dan ia mencoba mendekati Arthur.
"Jangan mendekat.!" Sentak Arthur, yang menghentikan langkah Calista.
"Honey." Ujar Calista manja, senjata yang biasa ia gunakan untuk merayu pria yang menatapnya datar itu.
"Jangan mendekat.!" Pekik Arthur. Membuat Calista dan Natan menyengit kaget.
"Why.?"
"Aku tidak ingin di kotori oleh, tubuh murahan mu itu." Jawab Arthur sarkas.
Yang membuat gadis itu bergeming di tempatnya.
Sedangkan Natan hanya diam menyimak perdebatan Arthur dan Calista, sambil sesekali mencibir kearah gadis itu.
"A-apa maksud kamu, honey.?" Ucap Calista gugup.
"Cih! Mateo."
Perkataan Arthur kembali membuat Calista terhenyak.
"M-mateo.?" Cicit Calista.
"Apa maksud kamu, honey." Ujar Calista dengan wajah pura-pura binggung.
"Jangan mendekat.!" Pekik Arthur.
Tapi Calista tidak menghiraukan tolakan Arthur. Gadis itu tetap mendekati pria yang menjadi ATM berjalannya itu.
"Jhonatan." Teriak Arthur, bermaksud meminta bantuan tapi pria sialan itu sudah menghilang dari ruangan itu dan meninggalkan dirinya dan Calista di dalam sana.
"Ada apa dengan mu, honey." Tanya Calista.
"Menjauhlah."
"Ayolah, Honey."
"Singkirkan tangan kotormu.!"
"Honey."
"Jangan mendekat.!"
"Hus, jangan sentuh aku.!"
"Brakk."
"Okusan."
"Dia mau menodaiku, okusan."