Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 137


"Ingat, jangan ceroboh, jangan jauh-jauh dari ku dan kau harus berhati-hati," mengerti.!" Lusi mengangguk dengan wajah polosnya saat mendengar semua pesan kesan pria di hadapannya ini.


"Sekarang ayo turun! Ajak Larry ketika mereka sudah berada di tempat para tim nya berkumpul.


"Kita mau kemana.? Lusi bertanya sambil memindai tempat lokasi mereka yang minim pencahayaan.


"Diam dan ikuti saja kemana aku melangkah."


"aku hanya bertanya, tuan. siapa tahu anda melangkah ke tepi jurang lalu mendorongku." celetuk Lusi.


"Kau ingin aku mendorongmu?" Larry menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh tingginya dengan tiba-tiba, dan tanpa di luar dugaan, tubuh mereka kini saling bertabrakan dan menempel bagaikan, amplop dan perekatnya. Lusi yang sibuk memindai sekitarnya tanpa memperhatikan arah depan. Ia pun hanya bisa terkejut dan secara refleks ia mengalungkan tangannya di ceruk leher Larry. Mereka kini saling pandang memandang, mengagumi keindahan rupa mereka. Manik hijau yang dihiasi bulu mata lentik itu berkedip-kedip lucu, memandangi wajah Larry yang begitu tampan. Sedangkan Larry hanya bisa menelan ludahnya kasar, ketika pandangannya hanya tertuju pada satu objek yaitu, bibi mungil Lusi yang begitu menggoda. Karena terbawa suasana yang sepi dan remang-remang, Larry lebih mendekatkan wajah tegasnya ke wajah Lusi, dan membuang jauh-jauh jarak wajah mereka, yang terasa kini hanya, hembusan nafas hangat mereka yang masing-masing menyapa wajah keduanya.


"Apa, kau ingin aku mendorongmu.?" Bisik Larry di atas bibir mungil Lusi.


"Bisakah, kau mendorongku ke dalam hatimu.?" Jawab Lusi pelan.


Larry hanya bisa memejamkan matanya dan menahan dirinya agar tidak menyerang gadis mungil di dalam dekapannya ini.


"Hatiku tidak ada ruang untuk seorang, wanita." Bisik Larry dengan nada tegas dan penuh tekanan.


Pria itu masih tetap di posisinya menikmati wajah imut di hadapannya.


"Benarkah?! Tanya Lusi, sambil menggoda bibir Larry.


Larry mengerang dalam hati, ia harus bisa mengontrol dirinya. Ia tidak ingin terbawa suasana yang sangat dibencinya ini.


"Jangan, menggoda ku, Lusi." Erang Larry.


"Aku, tidak menggodamu," sahut Lusi, dengan sengaja menempelkan bibir mereka sebentar, lalu Lusi menjauhkan wajahnya dari wajah Larry.


Larry yang sudah tidak tahan, lantas menarik lembut tengkuk leher Lusi dan menabrakkan bibir mereka. Larry menyesap lembut bibir bawah Lusi yang mampu membuat Larry mengerang akan kemanisan dan kemurnian bibir Lusi.


Sementara Lusi hanya bisa melongo dan membeku di tempatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa,. Gara-gara keusilannya bibir original dan perawan nya hilang. Lusi hanya bisa menutup mata menikmati secara perlahan permainan Larry yang lembut dan membuatnya merasakan perasaan aneh. Ia merasakan bagaikan ribuan kupu-kupu menggelitik di sekitar perutnya.


Larry yang lupa diri akan kemanisan bibir Lusi, mengangkat tubuh mungil itu ala anak koala dan membawanya ke body mobilnya dan mendudukkan tubuh mungil itu disana. Larry memperdalam cumbuannya dan menikmati penyatuan bibir mereka.


"Apa, ini pertama buat mu.?" Larry bertanya setelah melepaskan penyatuan bibir mereka. Ia mengusap bibir basah Lusi yang terlihat membengkak.


"Hu'um." Gumam Lusi diikuti anggukan kepala. Gadis itu masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Larry terkekeh melihat keadaan Lusi yang terlihat menggemaskan.


"Lain kali bernafas lah, kalau kau sedang berciuman." Ujar Larry, yang masih mengusap bibir mungil gadis imut dihadapannya.


"Cih! Lusi hanya berdecih dan menepis tangan Larry.


"Dasar pencuri.!" Ketus Lusi sambil melompat dari body mobil.


"Pencuri? Larry membeo.


"Iya. Kau sudah mencuri kemurnian bibirku." Ketus gadis itu lagi.


"Bagaimana, kalau nanti kekasihku bertanya.?


"Kau punya kekasih.? Tanya Larry dengan nada dingin dan tangannya mengepal dibawah sana.


"Punya. Tuan Julio." Sahut Lusi kesal.


Jawaban Lusi membuat Larry membeku dan terkesiap. Ia hanya bisa terdiam dan mendadak membisu.


"Sudahlah. Ayo.!"


"Kemana?"


"Dasar, pria dingin menyebalkan,"


"Apa yang kau katakan?"


"Tidak ada, lupakan."


"Dasar gadis aneh."


*


*


*


"Nona, Kim.!!! Pekik Lusi. Membuat semua orang yang ada disana tersentak kaget.


Larry membungkam mulut Lusi dengan telapak tangannya. Lusi bisa saja membuat mereka gagal bersembunyi.


"Jaga sikapmu, Lusi.!" Bisik Larry. Gadis itu pun mengangguk patuh.


"Ck! Kenapa kau membawanya,! Ketus Kim.


"Entahlah!


"Kakak!


"Maaf, aku yang memaksanya." Lirih Lusi.


"OH Tuhan. Apa kau tau kalau di sini sangatlah berbahaya, Lusi." Erang Kim.


"Aku kesepian di mansion. Aku juga tidak masalah berada di sini. Apa kau lupa kalau, aku pernah menghadapi bahaya yang sangat menyakitkan." Lirihnya lagi.


"Lusi, maafkan aku," ucap Kim lembut.


"Aku cuma khawatir, Lusi. Percaya bukan maksudku kami menyuruh mu kembali, tapi tempat ini sungguh berbahaya.


"Aku, tidak masalah." Sahut Lusi.


"Terserah! Ucap Kim pasrahkan.


"Tetaplah di sisi kami." Pesan Kim.


"Hum."


*


*


*


"Kita kesana sekarang, kakak.?! Kim yang sedang siap dengan beberapa senjata dan juga beberapa belati yang disematkan di bagian tertentu.


"Oke. Kalian bersiaplah." Perintah Nathan melalui alat yang ia kenakan di telinganya.


Kim dan Arthur menganggukkan kepala mereka pelan. dan melangkah ke arah gerbang tinggi di depannya. tanpa basa-basi, Kim mengeluarkan senjata api tanpa suara. ia mengarahkan moncong senjatanya ke arah, bodyguard yang berjejer untuk menjaga keamanan mansion Lincol.


Arthur pun melakukan hal yang sama seperti sang Istri, menembaki para anak buah Lincol.