Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 87


"Hm, awasi terus mereka."


" …


" Ok, jangan sampai mereka melakukan sesuatu kepada suamiku."


" …


"Baiklah."


" …


"Tut."


Kimberly menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Wanita itu baru saja mendapatkan informasinya dari anak buahnya, bahwa seseorang telah mengawasi gerak-gerik nya, sejak ia tiba di Los Angeles. Kimberly pun tau siapa di balik semua ini.


Kimberly menghirup udara segar di malam hari di teras kamar suaminya. sambil memandangi langit malam yang terlihat di penuhi awan hitam. Sesekali kilat terlihat samar-samar, yang membuat pemandangan di langit luas itu tampak terlihat memukau.


Kim, menengadahkan kepalanya keatas sambil memejamkan kedua mata bulat bermanik biru kehijau-hijauan milikinya.


Kimberly sekali lagi menghirup udara dan terdengar membuangnya secara kasar.


"Kenapa, hidupku begitu rumit sekarang." Gumam wanita yang belum sehari menjadi seorang istri dari, keluarga konglomerat terkenal di kota metropolitan ini.


Kimberly, membalikkan badannya dan berjalan kearah pintu yang menghubungkan kamar dan balkon.


Kim menyengit, saat ia belum melihat keberadaan sang suami di dalam kamar. yang mulai sekarang dirinya menjadi penghuni baru di kamar Arthur.


"Clek."


Pintu kamar mewah yang menuansa maskulin itu terbuka. Kim mengarahkan pandangannya ke pintu yang terbuka dan dia melihat suaminya yang berjalan kearahnya setelah menutup pintu kamar Kembali.


"Kau, darimana.?" Kim, menyapa suami barunya dengan pertanyaan, yang membuat sang suami terloncat kaget.


Sedangkan Arthur yang tidak mengetahui, kalau istrinya sejak tadi memperhatikannya menjadi terkejut. Pria itu memasuki kamar dengan ponsel di tangannya, begitupun pandangannya yang hanya tertuju pada benda pipih yang ia pegang.


"Astaga, kau membuatku terkejut." Sahut Arthur, sambil mengusap-usap dada yang terlihat bidang dan seksi itu.


"Tunggu. Kenapa kau ada di sini.?" Pria itu bertanya kepada sang istri dengan dahi mengerut berlapis-lapis.


Kim menatap suaminya dengan hidung mancungnya yang terlihat mengerut, tanda wanita itu terlihat binggung.


" Jadi, kau ingin aku tidur dimana.?" Tanya balik Kim sambil menaiki ranjang suaminya.


"Bukankah, kau memiliki kamar sendiri.?"


"Ck." Kim hanya berdecak sambil menarik nafas panjang.


"Mulai, sekarang kita akan berbagi ranjang." Pungkas Kim, membuat Arthur membolakan matanya.


"Berbagi ranjang.?! Pekik Arthur.


"Kemarilah." Panggil Kim dan menepuk sisi sebelahnya yang kosong.


Arthur hanya memandangi ranjangnya dengan wajah binggung dan di campuri kegugupan yang mulai melandanya.


"A-apakah kita harus berbagi ranjang.?"


"Jadi, kau ingin kita pisah ranjang.?"


Dengan polosnya Arthur, mengangkukkan kepalanya.


"Kau, ingin aku disebut istri durhaka? atau kau mau di sebut suami durhaka, yang meninggalkan pasangannya di malam pertama mereka.?"


"Ayolah, kita belum 24 jam, menjadi pasangan suami-istri dan kau ingin membuat gosip perpisahan kita." Seloroh Kim dengan tangan di lipat didada sambil menatap suaminya yang hanya terbengong.


"Jadi kita satu kamar sekarang.?"


"Yap begitulah."


"Mulai, sekarang kita harus terbiasa bersama. Pasangan suami-istri seharusnya tidur bersama, makan bersama, duduk bersama, pergi bersama, dan kita akan selalu bersama intinya," apa, kau mengerti, suamiku." Terang Kim, sambil menahan geramannya.


Athur kembali mengangkuk patuh dan dia masih menatap wajah cantik istrinya yang tanpa makeup itu.


"Cepatlah kemari, aku sudah lelah dan ingin istirahat." Panggil Kim, kembali menepuk sisi ranjang di sebelahnya.


Arthur pun dengan patuh mendekati ranjang yang sekarang milik mereka bersama.


Dengan perasaan ragu, Arthur menaiki ranjangnya. Dia melirik sekilas kearah sang istri yang sudah merebahkan tubuhnya.


Arthur mengambilkan dua buah bantal kecil yang terdapat di ranjangnya dan menyusunnya di antara dirinya dan Kim. Kim yang merasakan pergerakan suaminya langsung membuka mata indah miliknya dan dia menyengit saat melihat sebuah pembatas diantara ranjang mereka.


"Apa yang kau lakukan.!" Geram Kim tertahan.


"Membagi ranjangnya." Jawab Arthur enteng, dan bermaksud membuka kaos yang ia kenakan, tapi niatnya terhenti saat menyadari keberadaan istrinya.


"Membagi.?" Tanya Kim membeo.


"Iya. Bukankah kau mengatakan, mulai sekarang kita akan berbagi ranjang.?" Sahut Arthur dengan wajah tanpa dosa.


Kim hanya bisa merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba melemas. Dia tidak menyangka kalau suaminya begitu polos, lugu dan di tambahi bumbu oon sedikit.


"Astaga. Mommy.!! Teriak Kim dalam hati.


Kim, bangkit dan duduk menghadap sang suami yang melihatnya heran.


"Bangunlah." Perintah Kim dingin.


Arthur dengan sifat lugu dan polosnya, menurut dan segera mengikuti perintah istrinya yang terlihat cantik.


Kim menggeser tubuh suaminya yang mendadak kaku saat ia menyentuhnya. Kini mereka saling berhadapan dan saling memandang.


"Dengar." Ucap Kim memulai berbicaran.


Arthur pun kembali mengangkuk.


"Coba lihat aku." Pinta Kim. Dan suaminya itupun melihat istrinya.


"Aku siapa.?"


"Kimberly."


"Astaga, iya aku tahu. Tapi Kimberly itu siapa.?"


"Istriku,"


"Istri siapa.?"


"Istri, Arthur Cedrik kato."


"Terus kamu siapa.?"


Alis tebal pria itu terangkat dengan tatapan binggung yang menghunus kearah Kim.


"Apa maksud kamu."


"Jawablah cepat,"


"Kamu, siapa.?" Tanya Kim yang mulai kehilangan kesabaran.


"Arthur. Suami kamu." Balas Arthur binggung.


"Jadi kita adalah, ….!"


"Pasang suami-istri," sahut Arthur bangga.


"Yap. Benar."


"Jadi, bukankah suami istri itu, harus saling berbagi.?"


"Iya,"


"Jadi mulai sekarang kita akan saling berbagi, segala hal. Entah itu kesedihan, kebahagiaan, masalah ataupun rahasia apapun, kita akan selalu berbagi. Termaksud berbagi ranjang, tapi tidak harus memberikan batasan seperti ini, Kim menunjukkan batal yang tersusun di antara mereka. "Apa kau sudah mengerti? Kita harus saling terbuka dan kita harus saling terbiasa bersama-sama mulai sekarang, agar menghilangkan kecanggungan diantara kita, terutama kau." Ujar Kim panjang kali lebar, yang mengajarkan suaminya itu.


Arthur pun hanya mengangguk patuh, meskipun ia tidak mengerti. Pria ini tidak terbiasa hidup seperti ini. Kebiasaannya hanya sibuk mengurus bisnis kedua orang tuanya dan dia tidak punya banyak waktu buntuk bersenang-senang. Arthur semenjak kecil sudah di didik dengan sangat ketat oleh sang Daddy, di tambah sikap posesif sang mommy, yang mengharuskan Arthur harus menghabiskan masa remajanya hanya di kantor dan kamar. Pria itu tidak memilik waktu untuk bersenang-senang atau pun bergaul bersama remaja seumurannya, karena sifat posesif mommy yang mendidik Arthur sangat ketat. Pria itu hanya menghabiskan waktunya belajar dan belajar, hingga dia mendapatkan gelar pembisnis muda terhebat. Arthur tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan lawan jenis ataupun teman laki-lakinya yang hanya bisa di hitung jari.


"Hei, … kenapa kau melamun.?" Sentak Kim, membuat suaminya terkejut.


"T-tidak apa-apa." Jawab Arthur gugup.


"Baiklah, mari kita tidur." Ajak Kim dan segera merebahkan kembali tubuhnya, setelah menyingkirkan bantal penghalang mereka.


Arthur pun langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Kau, tidak ingin melakukan sesuatu.?" Tanya Kim menghilangkan kecanggungan dia antara mereka, lebih tepatnya menghilangkan kecanggungan pada diri suaminya.


"Melakukan, apa.?" Tanya Arthur balik.


"Melakukan hal menyenangkan." Sahut Kim.


"Sebentar, aku melupakan sesuatu.?" Sentak Arthur dan langsung bangkit dan turun dari ranjang.


"Melupakan apa.?" Kim juga ikut bangkit dan melihat suaminya sedang mencari sesuatu.


"Susu." Jawab Arthur singkat.


"Susu.?" Kim membeo.


"Iya, tadi aku meminta mommy untuk membuatkan ku susu, tapi mommy menolak dan dia berkata kalau aku memiliki dua susu nikmat dan sangat bergizi di kamar. Mommy juga bilang aku harus bertanya padamu."


"Apa kau tau dimana mommy menyimpannya.?" Tanya pria itu yang masih mencari kesana kemari.


"Apa kau masih meminum susu."


"Iya. Aku tidak bisa tertidur, kalau mommy belum membuatkan aku susu."


"Biar, aku membuatnya untuk mu." Kim bangkit dan berniat menuju pintu kamar tapi perkataan suaminya membuatnya terperangah.


"Tidak usah. Soalnya mommy bilang, aku harus memintanya pada mu." Seru Arthur dan mendekati istrinya.


"Sekarang, katakan di mana susunya." Tanya Arthur antusias.


"Apa kau ingin sekarang.?" Kim bertanya dengan wajah yang pasrah.


"Iya, sekarang."


" cepatlah, aku sudah tidak sabar ingin merasainya. Kata mommy kau memiliki dua susu yang sangat nikmat, yang bisa membuat tubuh panas dan bisa terbang. Apa nama susu yang kau miliki.?"


Kim hanya bisa menarik nafas atas kepolosan suaminya, entahlah suaminya itu polos atau bodoh.


Kalau suaminya itu bodoh, mana mungkin dia bisa memimpin perusahaan dan menjadi pengusaha muda sukses.


Kalau di katakan polos, masa iya. Tubuh kekar, maskulin dan macho. Semua wanita pasti akan tertipu dengan penampilan suaminya, yang ternyata seorang pemuda manja dan polos di tambahi bumbu oon sedikit saja.


"kau serius ingin sekarang.?" Tanya Kim lagi untuk menyakinkan sang suami.


"Iya, cepatlah." Sahut Arthur dengan tidak sabarannya.


"Tunggulah, di ranjang. Aku akan bersiap." Ujar Kim, pasrah dan melangkah kearah ruangan ganti.


"Kenapa dia kearah ruangan ganti? Apa dia menaruhnya di sana? Entahlah.?" Monolog Arthur dan ia mengikuti perintah istrinya.


Beberapa menit kemudian.


"A-apa yang kau lakukan.?"


"Apa yang kau pakai."


"Astaga, dua moci bulat, besar, padat dan kenyal."


"Bukankah kau menginginkan susu? Inilah susunya."


"Susu rasa moci.?"