Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 70


Sepi dan hening sejak keadaan di dalam ballroom hotel Kim, yang tadinya ramai kini tiba-tiba berubah sunyi saat, Kimberly memasuki ruangan yang sudah di tata semewah mungkin.


Wajah-wajah para model dan para staf, Kim. Masih terbengong-bengong dengan mulut mereka masih terbuka lebar dan mata mereka menatap tidak percaya pada sosok yang berdiri dengan anggun di atas medium. Mata mereka berkedip-kedip, untuk menyakinkan penglihatan para model yang dulu menjadi rival Kim.


"Kim-kimberly." Cicit model yang duduk di meja paling depan dengan wajah berubah pucat karena terkejut.


Kim menelisik penampilan modelnya itu, yang bernama Maria.


"Kenapa, apa kalian berharap aku seorang pria dewasa? Agar kalian bisa mengeluarkan bakat terpendam kalian? Yaitu, bakat jaalang kalian.! Sarkas Kim dingin dan menyorot penampilan Maria yang bagaikan setengah telanjang.


Maria yang mendapatkan sorotan tajam dan sindiran itu, menarik turun bagian bawah gaunnya.


"Langsung saja kita mulai." Ucapan Kim di atas sana, membuat para manusia di dalam ballroom itu kembali ke alam sadar mereka.


Mereka semua kini, menyimak semua salam dan juga kata sambutan dari Kim, juga alasan dia menyembunyikan identitasnya.


Semua orang begitu tertekun dan tidak menyangka, kalau seorang mantan model terkenal, Kimberly, adalah seorang konglomerat terkenal di kota Paris.


Para model yang menjadi rival Kim dulu, hanya bisa terdiam dan membisu. Mereka menyembunyikan wajah mereka dengan menundukkan kepala. Mereka pasti sangat malu dan merasa takut, ketika Kim mengenali mereka dan mengeluarkan mereka dari agensi model yang terkenal di Paris itu.


"Jadi, yang merasa memiliki bakat jaalang di sini, dengan senang hati, akan saya keluarkan dari agensi saya dan semua kontrak kerja yang sudah di tandatangani dengan hati lega saya batalkan. Ujar Kim di atas sana dengan wajah tenang.


Semua para model pun menjadi heboh dan suara berisik pun mulai terdengar di ruangan itu.


"Saya tidak akan memberi kesempatan kepada model murahan, yang hany bisa mencoreng nama baik perusahaan." Lanjut Kim lagi dan memandangi Maria yang sudah menegang.


"Maka, persiapkan diri kalian mulai besok. Karena kalian akan mendapatkan kabar, siapa saja yang akan di depak dari agensi saya. Saya ajah ingin membersihkan, para hama yang hanya bisa memanfaatkan ketenaran agensi saya. Jadi tidak ada toleransi bagi kalian para model dengan bakat murahan kalian." Sarkas Kim tegas dengan wajah datar dan dingin.


Semua para model pun, mulai merasa tidak tenang dan hati mereka sudah deg-degan.


"Baiklah, sekian penyampaian saya malam hari ini. Dan nikmatlah pesta untuk kalian. Entah ini pesta perpisahan atau pesta keberhasilan kalian. Ujar Kim, dengan tersenyum miring.


Kim pun turun dari atas panggung dan langsung kembali kebelakang di ruang tunggu.


Kim terus berjalan sendiri kearah ruangan tunggu yang tidak jauh dari ballroom. Tanpa Kim sadari seseorang mengikutinya dari belakang.


Maria yang melihat Kim, berjalan kearah pintu samping ballroom dengan segera ia bangkit dan berjalan mengikuti langkah Kim.


Maria yang tidak terima di cibir dan di hina itu, ia begitu meradang dan ingin memberikan pelajaran kepada Kim.


Maria mengeluarkan pisau dari tas tangannya dan mengarahkannya kearah Kim yang masih berjalan dengan santainya. Kim hanya tersenyum menyeringai saat menyadari seseorang mengikuti dirinya.


"Sepertinya, kau akan menjadi sasaran ku kali." Gumam Kim dan sengaja membelokkan dirinya untuk naik keatas rooftop hotel itu.


Maria yang di kuasai rasa kesal dan marah itu, tidak mengetahui sinyal bahaya yang akan menerpanya.


Maria menaiki anak tangga, yang akan membawanya keatas rooftop. Dengan lautan amarah Maria membuka kasar pintu menuju puncak gedung hotel itu.


"Kemana, wanita sialan itu." Geram Maria, saat tidak menemukan Kim di sana.


Wanita itupun berjalan kearah tembok pembatas di rooftop itu dan menelisik kesana-kemari, tapi nihil wanita yang ia cari tidak ada di sana.


"Kimberly, … keluar kau, wanita sialan.!!" Teriak


Maria kencang.


"Kimberly.!!!


"Keluar kau."


"Kimbe-" ucapan Maria terhenti saat seseorang menyela ucapannya.


"Kau, mencariku, Maria.?" ujar Kim, yang berjalan santai mendekati Maria.


Maria membalikkan badannya dan sorotan matanya ia tujukan kepada Kim yang berjalan kearahnya dengan melipat kedua tangannya dada.


"Cih, rasakan ini wanita sialan." Maria mendecih dan mengarahkan benda tajam kearah Kim.


Dengan segera Kim, menghindar dari serangan yang di lakukan Maria.


"Dasar, perempuan murahan." Pekik Maria dan kembali lagi menyerang Kim. Dengan segera Kim menghindar kesamping sehingga serang Maria hanya mengenai udara saja.


"Dasar, kau wanita sialan. Berani-beraninya kau menghinaku. Aku akan menghabisimu, Kim sialan." Teriak dan maki Maria.


"Jadi, aku harus mengatakan apa? Apa aku harus memberimu pujian? Dan selamat atas bakat murahan mu.?" Cibir Kim, dan melangkah sedikit demi sedikit kearah Maria.


"Jangan mendekat." Pekik Maria, ketakutan saat melihat senyum mengerikannya Kim, sambil mengarahkan benda tajam itu kepada Kim.


Kimberly yang tidak takut itu, tetap melangkah. Hingga kini Kim sudah berada di hadapan Maria tanpa jarak.


"Menjauhlah, sialan." Perintah Maria lagi.


"Why, bukankah, kau yang menyuruhku mendekat, Maria.!? Seringai licik muncul di wajah Kim.


"M-menjauhlah." Pekik Maria gugup.


"Menjauhlah, sialan.!" Teriaknya dan mengarahkan benda itu pada Kim. Tapi kembali benda itu, hanya mengatung di udara saat, Kim dengan santainya menahan benda itu, sehingga melukai telapak tangannya.


"Kau, tidak akan bisa membunuhku, jaalang.!" Bisik Kim, dingin.


Wajah Maria kini berubah pucat, saat melihat wajah mengerikan, Kim.


Maria mencoba untuk melarikan diri, tapi gerakannya kalah dengan kegesitan Kim, yang dengan cepat menahan telapak tangan Maria.


"Lepaskan aku, please." Mohon Maria, dengan suara gemetar.


"Hei, kenapa kau takut. Bukankah tadi kau sendiri yang menantang ku.?


"Ku mohon lepaskan aku, Kim." Mohon Maria dengan wajah yang sudah di penuhi keringat dingin dan air mata.


"Tidak semudah itu, Maria.!"


"Apa, kau salah satu jaalang, Malvin.?"


Maria tidak menjawab, tapi raut wajahnya bertambah pucat.


"Cih, jadi benar kau salah satu, jaalangnya." Sinis Kim dan terkekeh mengerikan.


"T-tapi, bukan hanya aku yang pernah tidur dengan suami mu, Kim. Masih banyak modelmu yang pernah menjadi penghangat ranjang suami mu." Ungkap Maria dengan nada takut.


"Hehehe." Kim terkekeh pelan.


"Kim, lepaskan aku." Pinta Maria lagi.


"Tidak, akan sayang." Saut Kim, senyum miring terlihat di wajah cantik wanita itu.


Maria pun meronta-ronta, untuk bisa lepas dari himpitan Kim diantara pembatas rooftop yang hanya setinggi paha orang dewasa itu.


Kim masih berusaha menggunci pergerakan Maria sambil menakut-nakuti wanita seksi yang ada di hadapannya.


Saat Maria sempat lepas dari kuncian tubuh Kim, tiba-tiba sepatu high heels-nya tergilir, sehingga keseimbangan tubuh Maria goyang dan wanita itu akhirnya terjun bebas di atas pucuk bangunan hotel itu. Kim melambai kan tangannya saat melihat wajah pasrah Maria menghadap dirinya.


"Selamat jalan, Maria yang malang. Bukankah aku sudah memberimu kesempatan? Tapi ternyata kau adalah wanita penuh ambisi dan obsesi. Gumam Kim saat menunduk kebawah dan melihat keadaan Maria yang sudah terbujur kaku dengan bersimpah darah di kepalanya.


Kim pun meninggalkan rooftop itu, setelah membersihkan jejak dirinya disana. Dengan tenang Kim memasuki lift, untuk menuju mobil mewahnya di basement hotel khusus dirinya.


Kim hanya tersenyum miring saat sudah banyak kerumunan orang-orang yang melihat, jasat Maria, yang tidak jauh darinya.