Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 148


Kim yang sedang berdiri di depan pintu ruangan ICU dengan sang suami yang senantiasa berada di sisinya.


Sementara Larry, mondar-mandir di depan pintu ruangan ICU. Mereka semua kini berada di salah satu rumah sakit terkenal di kota Paris.


Wajah mereka kini terlihat khawatir. Mommy Gabriela tak henti-hentinya merapalkan doa untuk mommy dan Daddy Kim.


Kim hanya bisa meneteskan air mata dalam diam. Ia hanya bisa berharap, semoga kedua orang tuanya bisa disembuhkan. Ia akan melakukan apapun dan rela menukar semua kekayaannya demi, kesembuhan mommy dan Daddy nya.


Jenny mendekat dan mengusap pagi Kim lembut. Jenny mencoba untuk menghibur sahabatnya itu. Dan menenangkan sahabatnya dengan kata-kata yang bisa membuat perasaan Kim membaik.


"Sabar lah, okusan. Aku yakin, daddy dan mommy pasti bisa disembuhkan." Bisik Arthur yang tidak sekalipun membiarkan istrinya menjauh darinya.


"Aku hanya takut," cicit Kim.


"Shut! Tidak akan terjadi apapun, pada mereka, okusan." Ucap Arthur mencoba menenangkan perasaan istrinya itu.


"Semoga, sayang." Lirih Kim.


"Sekarang, yang harus kita lakukan adalah berdoa dan berjuang untuk kesembuhan mereka. Kau harus kuat dan jangan bersedih. Kau harus bisa membuat, mommy dan Daddy kembali pulih dengan memperlihatkan senyuman mu dan jangan menampilkan wajah sedih mu pada mereka, okusan. Itu akan membuat mereka semakin menderita." Perkataan Arthur membuat Kim tertohok. Suaminya benar ia tidak boleh terlihat rapuh. Ia seharusnya memperlihatkan wajah baik-baik saja kepada mommy dan Daddy.


"Kau benar, sayang. Aku tidak boleh terlihat rapuh," jawab Kim menghapus air matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Hum. Kau pasti, okusan." Bisik Arthur dan kembali memeluk erat tubuh istrinya.


*


*


*


"Minumlah." Lusi menyerahkan sebuah minuman mineral kepada Larry yang terduduk lesu di kursi tunggu.


"Tidak, terimakasih," tolak Larry.


"Ambillah, kau butuh ini untuk menetralisir perasaan mu." Paksa Lusi. Ia membuka tutup botol tersebut dan memberikannya kepada Larry.


Larry pun akhirnya menerima air mineral pemberi Lusi. Ia meneguk air tersebut hingga menyisakan setengahnya.


"Terimakasih." Ujar Larry dan menyerahkan sisi minumannya kepada Lusi.


"Hum! Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Hibur Lusi, entah sengaja atau tidak sengaja ia menggenggam tangan Larry.


Ini lah yang sekarang Larry butuhkan sebuah dukungan dan juga pelukan hangat.


Lusi mengusap-usap punggung belakang Larry yang terasa bergetar. Dan Lusi dapat mendengar isakan pria arogan itu.


"Menangislah, tapi setelah ini jangan lagi. Kau harus kuat dan bersabar, yakinlah semuanya akan membaik." Hibur Lusi dan mengusap punggung kokoh Larry penuh kelembutan.


"Terima Kasih," sahut Larry dan lebih mengencangkan pelukannya kepada Lusi


"Hum!


"Nyonya? Seru asisten Haruka.


"Minumlah, nyonya." Ujar Haruka memberi sebotol air mineral kepada nyonyanya.


"Terimakasih." Sahut mommy Gabriela.


"Seharusnya, aku menyembuhkan mereka dulu." Ucap mommy sendu.


"Aku terlalu buru-buru,"


"Dan membuat menantuku sedih."


"Apa menurutmu keputusan ku ini tepat buat menantu ku.?" Tanya mommy dan memandangi asistennya itu lekat.


"Seharusnya, setelah menemukan mereka aku menyembuhkan mereka dulu."


"Semuanya sudah terlanjur, nyonya. Yang harus kita lakukan adalah memberikan pengobatan terbaik buat mereka." Balas asisten Haruka.


"Kau benar. Aku harus memberi perawatan terbaik buat mereka."


"Iya, nyonya."


"Terimakasih. Atas semua yang sudah kau lakukan pada keluarga ku."


"Terimakasih, sudah menemukan mereka. Meskipun keadaan keduanya sangat tidak baik, tapi kami tetap bersyukur mereka masih hidup."


"sekali lagi terimakasih," ucap mommy Gabriela.


"ini sudah tugas saya, nyonya." sahut asisten Haruka.