Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 88


Kimberly menatap pantulan dirinya di cermin. Malam ini dia harus menjalankan kewajibannya sebagai, seorang istri yang patuh dan menurut kepada suaminya. Yang paling penting ingin memberikan kepuasan bathin pada sang suami.


Malam ini Kim, memakai sebuah lingerie berwarna hitam, yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sebuah lingerie yang terbuat dari kain serba tipis yang sangat menerawang. Sebuah kain yang melihatkan keindahan aset berharga Kim. Dan juga pusat tubuh wanita itu yang begitu nampak menggodanya.


Terakhir, Kim menyemprotkan parfum terbaiknya di bagian tertentu. Wanita itu menelisik penampilannya kembali. Rambut pendek yang sudah berganti model itu, sengaja di buat berantakan.


"Ok. Sempurna."


"Astaga, kenapa aku seperti seorang pelakor, yang menggoda suaminya sendiri.?" Gumam Kim lirih.


"Baiklah, mari kita mulai. Semoga saja aku bersabar, karena lawanku kali ini adalah pria yang sangat polos dan sedikit oon soal peranjangan." Monolog Kim. Dia menarik nafas sesaat dan menghembuskannya secara perlahan pula.


Kimberly pun, berjalan meninggalkan ruangan ganti dengan keadaan yang sangat menantang imam dan imun sang suami polos sedikit oon itu.


"Kenapa, dia lama sekali.?" Seru Arthur, tidak sabar.


"Ck." Arthur berdecak kesal.


Pria itupun meraih gelas yang berisi air putih di atas nakes disamping ranjang milik mereka sekarang.


Arthur merasa haus karena kelamaan menunggu datangnya susu spesial yang di maksud sang mommy.


"Apa sepesial itu? Sehingga dia lama." Gerutu Arthur dan meneguk air putih tersebut.


"Byurr."


"Huhk."


Air yang ada di dalam mulut Arthur menyembur keluar dan ia terbatuk-batuk, saat netra coklatnya menangkap sosok seksi menggoda sedang berdiri di depan pintu ruangan ganti.


"Bug."


Arthur pun tanpa sadar terjungkal kedepan, sangking shock-nya melihat penampilan istrinya.


"Akh, shi*t." Umpat pria itu meringis saat keningnya mencium ujung nakes yang ada di sampingnya.


"Kau, tidak apa-apa.?" Kim mendekati suaminya dan melihat kening Arthur yang berdarah.


"A-aku tidak apa-, "glek." Arthur tidak mampu meneruskan ucapannya saat di hadapkan oleh pemandangan yang menghijaukan mata coklatnya dan juga mata bathin pria itu.


"Glek." Sekali lagi pria yang belum ada 24 jam menjadi suami itu.


"Kening mu terluka." Ujar Kim.


"I-ini hanya luka kecil," glek." Sahut Arthur, yang tidak pernah melepaskan manik coklatnya dari objek keindahan di depan wajahnya.


"Berdirilah." Pinta Kim sambil membantu suaminya itu berbaring di atas ranjang. Wanita itu tidak menyadari kegugupan dan juga rasa kagumnya pada keindahan asetnya yang menggantung indah.


"Astaga," batin Arthur berteriak, saat aset Kim yang ia gelari mochi itu, mengenai wajahnya.


"Oh, Tuhan. Aku bisa gila." Batinnya lagi, sambil mendegus kasar. Wajahnya pun kini berubah merah merona sampai ke kedua telinganya.


"Tunggu sebentar, aku akan mengobati lukamu." Sentak Kim, membuat Arthur tersadar.


"Tidak perlu, ini hanya luka kecil." Sela Arthur yang sekuat tenaga melawan rasa gugupnya.


"Apa kau yakin.?" Kim bertanya untuk menyakinkan suaminya.


"Hu'um." Sahut Arthur sambil mengangguk.


"Apa tidak sakit.?" Tanya Kim lagi, dengan tangan kirinya menyentuh bahkan meniup kening suaminya.


"T-tidak." Jawab Arthur singkat.


Pria itu kembali gugup, bahkan tubuhnya sudah gemetar, antara gugup dan berusaha menahan sesuatu yang mulai bangkit dari tidur panjangnya. Apa lagi sang mochi menggoda itu kini berada pas di depan wajah.


Arthur menghirup aroma manis dari tubuh istrinya, yang membuat sesuatu benda yang mengeras, tapi bukan batu ataupun balok. Benda yang kini sudah mengembang hingga nampak menjulang di balik kain yang menutupi kegagahan benda tersebut.


Dada Arthur terlihat kembang kempis, seperti seseorang yang sedang sekarat, berusaha menahan gejolak dan juga hawa panas yang baru ia rasakan.


Tengkorokannya pun tiba-tiba kering. Seluruh tubuhnya bahkan kini berubah merah dan mengeluarkan keringat dingin.


"S-sudah." Ujarnya yang menjauhkan tubuhnya dari Kim.


"Kau, kenapa.?"


"T-tidak apa-apa." Jawabnya dengan intonasi kegugupan yang sangat parah.


"Biar aku ambilkan."


Kim pun meraih gelas yang terdapat sisa minuman Arthur tadi. Wanita itu menyerah gelas itu pada suaminya yang terlihat mengipasi tubuhnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ini, minumlah." Seru Kim.


Arthur segera meraih gelas yang di berikan istrinya dan langsung meneguknya hingga tandas tak tersisa.


"Kau, baik-baik saja.?"


"Iya, aku baik-baik saja. Cuma aku merasa kepanasan, apa AC di kamar ini tidak berfungsi lagi? Kenapa terasa panas sekali.?" Racau Arthur.


Pria itu membuka kaos yang ia kenakan, dan memamerkan penampakan otot-otot perut yang sangat menggoda dan juga punggung kokoh pria itu yang sekarang berubah warna menjadi merah.


Pria itu juga membuka celananya tanpa sadar, karena kepanasan yang melandanya. Celana pun sudah terlepas dan kini nampaklah, benda ajaib yang kini sudah sangat mengembang sempurna, bahkan dalaman pria itupun tak mampu menampung benda ajaib yang sudah mengeras.


"Astaga, kenapa ini semakin panas." Racaunya lagi.


Sedangkan Kim hanya membisu dengan mulut terbuka saat melihat penampakan yang sungguh sangat sempurna.


"Ehem." Kim sengaja berdehem untuk menghilangkan sebuah sengatan hasraat yang tiba-tiba melandanya.


"Mari, kita tidur." Ujar Kim dan segera naik keatas ranjang.


Arthur yang mendengar deheman istrinya langsung tersadar. Ia pun segera menutup tubuhnya yang setengah telanjang.


"Maaf." Selanya dan ikut naik keatas ranjang, segera saja pria itu menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Santai saja. Itu hal wajar buat kita." Sahut Kim dan memiringkan tubuhnya menghadap sang suami.


Arthur hanya melirik dengan tubuh yang mulai kaku dan menegang, saat ujung jari Kim bermain di kulit lengannya.


"Aku, tidak menyangka suamiku memiliki tubuh yang begitu menggoda." Bisik Kim di telinga suaminya.


"G-geli." Cicit Arthur.


"Kau sangat sensitif ternyata." Bisik Kim lagi.


"A-apa yang kau lakukan." Ujar Arthur saat jari-jari mulus Kim sudah bermain-main di dada keras miliknya.


"Menyentuh suamiku." Bisik Kim lagi dan dia sengaja mengembuskan nafas hangatnya di ceruk leher suaminya.


"A-aku merasa kegelian." Cicit sang suami dengan nada malu-malu, minta di tabok.


"Bukankah, kau tadi meminta susu padaku.?" Ujar Kim dengan nada menggoda. Jari-jari Kim mulai menjadi, yang tadinya mengelitik kini jari-jari itu, menyentuh kulit halus mulus suaminya dengan sangat menggoda.


"A-ah iya aku lupa." Sahut Arthur dengan intonasi suara berat dan serak dengan di campuri dengan intonasi suara kegugupan. Ah iya dengan sedikit campuran desahaan tertahan.


"Kau, mendesaah.?"


"T-tidak."


"Rileks saja, honey."


"Aku tidak bisa."


"Rileks, santai dan jangan tegang begitu."


"Apa, kau tidak kasihan dengan benda ajaib mu yang sudah berteriak." Bisikan Kim, kali ini membuat Arthur menjadi lebih memanas, pria itu mengarahkan pandangannya kebawah saat ujung jari istrinya menyusuri bendanya yang sudah mengembang bagaikan adonan yang siap goreng.


"Mana, susunya.?"


"Ini."


"A-apa.?


"Ini susu yang di maksud mommy."


"Apa kau siap, honey.?"


"Siap apa.?"


"Bertempur,"


"Ber-"