
"Kalian, mau kemana.?" Suara lembut nan dingin itu, membuat dua pria yang mengendap-endap menuju pintu Mansion terloncat kaget.
Mereka bergeming di balik pintu, membelakangi wanita yang hanya memakai kaos polos milik sang suami.
"Honey,!" Panggilnya dingin kepada salah satu pria yang masih bergeming itu.
"Honey,!! Panggil Kim lagi dengan intonasi nada panggilan yang meninggi 1 oktaf.
Arthur pun dengan terpaksa membalikkan badannya dengan cengiran kaku. Begitu juga dengan Natan ikut membalikkan badannya dengan wajah cegah.
"Cepatlah, kita tidak punya waktu lagi, dude. Kau mau markas kita hancur, sebelum kita sampai." Decak Natan malas.
"Pelankan suaramu, sialan.!" Bisik Arthur geram.
"Markas.?" Kim membeo, dengan manik yang menyelidik kearah suaminya.
Arthur menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan. Ia mengangkuk kepada istrinya.
"Kami mau ke markas kakak ipar! Ada hal sangat genting saat ini, mungkin markas kami sudah hancur sekarang." Ujar Natan dengan mulut tanpa filteran ini.
"Aku ikut." Sela Kim.
"No, okusan, disana sangat berbahaya." larang Arthur.
"Tapi aku mau ikut. Aku bisa pergi tanpa dirimu," sahut Kim yang bersekeras ingin ikut.
"Tap, …"
"Aku tetap ikut, atau kau tidak akan mendapatkan mochi mu selama sebulan." Ancam Kim yang berhasil membuat Arthur kelabakan.
"Glek, baiklah." Jawab Arthur pasrah. Apa yang bisa ia lakukan kalau penambahan imun-nya di pertaruhkan di sini.
"Mochi, apa.?" Sela Natan dengan wajah binggung.
"Kau. Sejak kapan kau menyukai mochi.?" Tanya pemuda tampan bermata empat ini.
"Sejak menikah dengan istriku dan berkenalan langsung dengan mochi kesayangan ku." Celutuk Arthur.
" Istri mu pendangan mochi.?"
"Bukan tapi dia pemilik sang Mochi indah ku."
Natan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar ucapan ambigo sepupunya itu. Sepupu beda rupa dan juga beda kulit. Yang satu sipit dan yang satu memilik mata lebar.
"Nanti juga kau tau sendiri, setelah menikah. Atau kau bisa memintanya kepada para kekasih mu, upz, aku lupa kalau kau masih perjaka kadaluarsa, hahah." Ejek Arthur, yang membuat Natan memicingkan matanya kesal.
"Setidaknya aku memiliki beberapa koleksi wanita, walaupun aku belum melihat isi dalam dari mereka," sahut Natan kesal.
"Asal kau tau saja, isi dalam wanita itu begitu menyilaukan mata, apalagi mata hati dan mata bathin." Ujar Arthur memanas-manasi sepupunya itu dengan nada pongah.
"Cih! Natan hanya berdecih.
"Ayo,! Ajak Kim yang sudah bersiap dengan tampilan yang begitu santai tapi memukau.
Sebuah stelan berwarna hitam. Celana panjang jeans hitam dan sebuah taktop yang memamerkan perut ratanya yang akan dilapisi jaket kulit yang berwarna hitam dan sepatu hitam juga.
Arthur dan Natan hanya bisa menganga melihat penampilan memukau Kimberly.
"Tutup, mata mu sialan." Pekik Arthur sambil menutup mata Natan yang begitu kagum kepada istrinya.
"Okusan, kenakan jaket mu. Aku tidak ingin pria mesum ini melihat perut indahmu." Perintah Arthur.
Kim pun menuruti perintah suaminya mengenakan jaket kulitnya yang ia lampirkan di tangannya.
Arthur melepaskan tangannya di mata empat Natan. Dan menghampiri istrinya, membantu sang istri merapikan jaket yang di kenakan Kim. Ia ingin memastikan kalau jaket itu telah terpasang dengan benar.
"Ck! Natan hanya berdecak melihat sikap fosesif sepupu sipitnya itu.
Pria bermata empat itupun mendahului pasangan suami-istri itu kedalam mobil.
"CEPATLAH.! Teriaknya.
"Kau siap." Seru Arthur setelah memberikan kecupan di kening sang istri.
"Hm, siap." Sahut Kim yakin.
"Baiklah, mari kita berangkat sekarang." Ajak Arthur sambil mengandeng tangan istrinya ke arah mobil yang akan mereka pakai.
"Lamban." Dengus Natan di balik kemudi.
Kim dan Arthur, tak menghiraukan wajah kesal Natan. Mereka kini duduk tenang di kursi belakang.
"Dasar pasangan suami-istri tidak peka. Mereka tidak mengasihi jiwa jombloku ini, dia kira aku ini supir mereka, cih." Gerutu pria tampan itu.
"Cepatlah, perintah Arthur."
Natan pun menghidupkan mobil dan bersiap menginjak padel gas, tapi tiba-tiba pintu mobil yang berada di sampingnya, terbuka kasar dan tertutup sangat kasar pula.
"Brakkk." Pintu mobil tertutup kasar itu membuat, para manusia di dalam mobil terloncat kaget.
"Jenny.! Cicit Kim terkejut.
"Cih. Kau selalu saja meninggalkan ku, untuk bersenang-senang." Cebik jenny sambil memperbaiki letak kacamata bulatnya.
"Aku kira kau sudah tidur."
"Apa kau lupa kalau telinga ku sangatlah peka."
"Hm."
"Hay, … bidadari berkacamata bulat." Sapa Natan sambil melajukan mobilnya.
Jenny melirik sebentar dan kembali menatap lurus kedepan.
"Kami ingin mengahadapi lawan, bukan mau bersenang-senang di club, bidadari bermata empat."
"Kami mau menghadapi musuh, apa kau tau itu.?
Jenny hanya diam dan menulikan perkataan, Natan yang membuat telinganya sakit.
"Diamlah. Kau begitu cerewet." Sela Arthur sambil menepuk kuat bahu sepupunya.
Akhirnya Natan terdiam tapi ekor matanya masih melirik kearah samping, dimana Jenny duduk dengan Sebuah iPad mini ditangannya. Tanpa sengaja ekor mata Natan menangkap sebuah pemandangan yang begitu indah, yaitu sebuah gundukan milik jenny yang begitu menantang di balik kaos ketat yang wanita mungil dan manis itu kenakan.
"Wow, itu terlihat menantang." Batin Natan yang sesekali melirik kearah Jenny.
*
*
*
Tidak butuh waktu lama kini mobil yang mereka telah tiba di sebuah mansion yang lumayan besar yang berada di pinggiran kota Los Angeles.
Kim keluar terlebih dahulu dan menatap sekeliling markas suaminya. Mansion ini terletak di tengah-tengah pohon Pinus yang begitu lebat yang mampu menutupi letak markas suaminya.
"Ayo kita masuk,!" Ajak Arthur dan menarik tangan istrinya lembut dan membawanya, masuk kedalam mansion di ikuti oleh Natan dan jenny di belakang mereka.
"Apa begitu terpesonanya dirimu pada benda itu? Sehingga kau melupakan keberadaan seorang pangeran tampan samping mu.?" Bisik Natan di telinga jenny.
Jenny menolehkan kepalanya saat mendengar bisikan di telinganya, hampir saja bibir mereka bertemu jika jenny tidak memundurkan kepalanya cepat. Kini mereka saling menatap dengan tajam dengan jarak wajah yang begitu sangat dekat, hanya hidung mancung mereka yang menjadi jarak.
Jenny menatap Natan dengan permusuhan, terbalik dengan Natan yang mengagumi kejernihan mata coklat Jenny yang dihiasi bulu mata lentik.
"Kenapa kau menutupi mata indah mu dengan benda ini.?" Bisik Natan lagi di atas wajah Jenny, ia menyentuh kacamata bulat milik jenny dan sengaja menghembuskan nafas segarnya di atas wajah wanita datar di hadapannya.
Jenny menyoroti wajah Natan tajam dibalik benda berbulat dua itu di atas mata bulatnya.
"Bukan urusan mu, dasar pria mesum culun."
"Aku suka nafasmu, baby." Bisik Natan lagi. Ia masih memandangi wajah imut jenny dengan mata teduhnya yang bisa membuat para wanita terlena.
Sedikit demi sedikit, wajah Natan maju mendekati kearah bibir mungil Jenny. Dan saat bibirnya sudah setengah ibu jari, sebuah pukulan lutut mengenai senjata perjuangannya.
"Akhh." Pekik Natan ketika Jenny menghantam senjata pria itu dengan keras
"Dasar pria mesum culun." Sinis Jenny dan meninggalkan Natan yang masih meringis sambil memegang senjata perjuangannya.
"Ternyata dia bidadari ku yang bar-bar." Cicit Natan sambil menahan rasa ngilu pada senjatanya.
*
*
*
" Ini semua milikmu sayang.?" Kim bertanya kepada suaminya saat manik biru kehijau-hijauan melihat pemandangan yang mampu membuat manik indahnya berbinar.
"Hu'um, apa kau menyukainya.? Tanya Arthur balik. Pria itu memeluk tubuh ramping istri dari belakang dan mengecup bahu indah istrinya.
"Sangat, aku sangat menyukainya." Sahut Kim bahagia. Dia seakan menemukan barang berharga.
Arthur terkekeh di atas bahu istrinya yang begitu terlihat bahagia.
"Kau aneh, okusan. Wanita akan merasa bahagia bila di berikan sebuah benda yang berkilau dan mahal, tapi lihat dirimu, kau begitu bahagia hanya melihat benda mengerikan ini." Ujar Arthur lagi.
Kim menengok sekilas kearah suaminya mencium sebentar bibir tipis menggoda sang suami.
"Aku tidak pernah tertarik dengan benda-benda seperti itu, aku hanya tertarik dengan benda ini." Sahut Kim dan mengambil sebuah senjata api dari ruangan penyimpanan senjata miliki suaminya."
"Kau memang istriku yang tangguh."
"Kau suamiku yang pengertian dan manis."
"Sekarang bersiaplah, sebentar lagi kita akan menghadapi musuh kita."
"Siapa?
"Kelompok pembunuh bayaran yang menyerang kita."
"Oke,"
"Kau siap, okusan? Malam ini kau akan puas menghadapi lawan."
"Benarkah,?
"Hm, apa kau bahagia.?
"Iya, aku sangat bahagia."
Mereka pun tertawa sambil bersiap, memilah beberapa senjata untuk mereka gunakan melawan musuh para geng pembunuh bayaran yang sudah berani mengusik mereka.
jangan lupa meninggalkan jari jempol kalian teman-teman, dan juga komentar kalian, terserah mau komentar apa ajah.
kalau masih ada kembang kalian, bolehlah diri ini meminta dengan seikhlasnya saja,☺️☺️☺️☺️